DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Di rumah sakit


__ADS_3

Arlan melangkahkan kakinya dengan setengah berlari, ia melewati setiap lorong rumah sakit dengan degup jantung yang sudah tidak terkendali


Pikiran Arlan sudah tidak tenang, fokusnya hanya satu yaitu keadaan Dira


Arlan berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan wanita yang akan dijadikan ibu dari anak-anaknya kelak walaupun perasaannya saat ini begitu takut tapi sekuat hati ia berusaha untuk mengendalikan pikirannya dan berharap Dira dalam keadaan baik-baik saja


Sesampainya di depan ruang yang pintunya bertuliskan ruang IGD pandangan Arlan langsung menyorot ke satu titik yaitu keberadaan seorang gadis yang tengah duduk dilantai bersandar pada dinding dengan air mata yang mengalir di pipinya


Sasa dan Mina sudah membujuknya untuk berdiri tapi gadis itu tak bergeming, ketakutan dan kekhawatirannya terhadap keadaan kakeknya membuat gadis itu nampak begitu terpuruk, ditambah lagi dengan keadaan neneknya yang juga tiba-tiba jatuh pingsan dan tengah berada di ruangan yang berbeda tengah mendapatkan penanganan ditemani oleh Sasa dan Mina


" Dira!" panggil Arlan yang tengah berlari ke arahnya dengan napas yang memburu


Dira yang mendengar suara Arlan pun langsung berdiri dengan air mata yang kembali berderai


" Sayang" Arlan langsung menarik Dira kedalam pelukannya


Tangis Dira semakin menjadi ketika berada di dalam pelukan Arlan


Arlan mengusap punggung Dira berusaha untuk menenangkan gadis itu dan setelah Dira terlihat lebih tenang Arlan pun mengurai pelukannya dan mengangkup kedua bahunya menatap Dira dari ujung kepala sampai ujung kaki


" Apa kamu tidak apa-apa?" Dira menggeleng pelan


" Lalu siapa yang sakit? kenapa kamu sendirian di sini?" tanya Arlan dengan penuh kecemasan.


" Kakek mas, kakek penyakit jantungnya kumat dan aku takut mas aku takut kakek kenapa-napa" ucap Dira disela Isak tangisnya


" Kamu enggak usah takut sayang, kakek pasti akan baik-baik aja, kakek itu kuat pasti kakek bisa bertahan apalagi kakek belum menyaksikan cucu kesayangannya menikah" ucap Arlan berusaha untuk menghibur wanita yang merupakan calon isterinya itu


" Iya mas, semoga kakek kuat dan tidak terjadi apa-apa dengan kakek"


" Iya sayang, jadi sekarang kamu jangan menangis lagi ya kita berdoa saja semoga kakek akan segera sembuh dan bisa menyaksikan pernikahan kita" Arlan mengusap lembut pipi Dira


" Amin, semoga ya mas" Arlan kembali memeluk Dira dan menguatkan gadis itu


Setelah hampir satu jam kakek Dira berada di dalam penanganan dokter pintu ruang IGD pun akhirnya terbuka


Dira yang melihat seorang berjas putih keluar dari ruangan tersebut langsung bergegas menghampirinya


" Dokter bagaimana keadaan kakek saya?" tanya Dira dengan wajah khawatir apalagi keadaan nenek juga dalam keadaan tidak baik-baik saja dan sedang dalam pemeriksaan juga


" Alhamdulillah, keadaan kakek anda sudah jauh lebih baik, setelah tadi sempat mengalami kritis tapi sekarang sudah stabil" jawab dokter tersebut


" Alhamdulillah, terima kasih dokter" ucap Dira dengan perasaan yang sedikit lega


" Sama-sama, itu memang sudah menjadi tugas kami" ucap dokter dengan ramah


Kini kakeknya Dira sudah berada di ruang perawatan dan nenek pun keadaannya sudah jauh lebih baik dan kini tengah menemani kakek yang masih belum sadarkan diri, sementara Mina dan Sasa sudah pulang karena waktu juga sudah cukup malam


Arlan dan Dira kini sedang berada di ruangan kakek, Arlan menempatkan kakek di ruang VVIP, awalnya Dira menolak tapi Arlan tidak menerima penolakan karena baginya sekarang kakeknya Dira adalah kakeknya juga


" Mas terimakasih ya" ucap Dira dengan tulus


Arlan Dira saat ini sedang duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut tempat untuk keluarga menunggui pasien


" Terima kasih untuk apa sayang?"tanya Arlan menautkan alisnya


" Terima kasih untuk semuanya yang sudah mas berikan untuk kakek" jawab Dira


" Tidak perlu berterima kasih sayang karena kakek kamu sekarang kan sudah menjadi tanggung jawab aku juga, jadi tidak perlu berterima kasih, hem" ucap Arlan seraya tersenyum


" Tapi mas tetap saja aku harus berterima kasih karena mas sudah sangat baik dan_" Dira menundukkan wajahnya

__ADS_1


" Dan apa?" tanya Arlan karena Dira menjeda kalimatnya


" Emmm.... aku juga mau meminta maaf mas karena aku sudah menggagalkan rencana mas malam ini " ucap Dira yang sontak saja ucapan Dira membuat Arlan terperanjat kaget dan langsung berdiri


" Astaghfirullah.." ucap Arlan seraya mengusap wajahnya


" Ada apa mas, mas marah dan kecewa ya sama aku?" tanya Dira yang terkejut dengan reaksi Arlan


" Bukan itu sayang, tapi aku lupa sayang, aku tadi sudah meninggalkan papa, mama, Ayla dan juga Al di rumah kamu" ucap Arlan tegang sekilas terlintas kemarahan Al karena sudah ditinggalkan begitu saja olehnya


" Ya Allah mas kok bisa ? terus sekarang mereka bagaimana mas?" tanya Dira yang ikutan cemas dan takut kena marah juga


" Alhamdulillah, kami baik-baik saja sayang. tidak usah khawatir " jawab seseorang yang tiba-tiba menyembul masuk ke dalam ruangan tersebut


" Mama... papa..." ucap keduanya bersamaan nampak begitu terkejut dengan kedatangan sepasang suami isteri paruh baya yang masih terlihat romantis meskipun usianya sudah tidak muda lagi


" Kamu itu saking paniknya sampai kami semuanya di tinggal begitu saja Lan" ucap papa Kusuma menepuk bahu Arlan seraya geleng-geleng kepala


" Maaf pah, mah..." ucap Arlan merasa sangat bersalah


" Tidak apa-apa mama mengerti kok, enggak apa-apa" ucap mama Ambar dengan lembut lalu menghampiri Dira


" Terus bagaimana dengan Al dan Ayla mah?" tanya Arlan khawatir


" Mereka langsung pulang karena tidak mungkin ikut ke sini membawa Aliza" jawab mama Ambar


" Iya mah, rumah sakit memang tidak baik untuk Aliza" Dira menimpali


" Iya sayang" balas mama Ambar tersenyum ramah


" Al pasti marah banget ya mah?" Tanya Arlan yang masih kepikiran sahabatnya itu pasti sempat marah-marah


" Syukurlah mah jika Al tidak marah" Arlan bernapas lega walaupun besok pasti akan ada drama dari Al


" Tidak usah kamu pikirkan soal Al, dia juga pasti mengerti karena dia juga kan pernah merasakan apa yang kamu rasakan sekarang" ucap papa Kusuma


" Oh iya Dira bagaimana keadaan kakek kamu?" tanya mama Ambar


" Alhamdulillah sudah melewati masa kritisnya mah, tapi sekarang masih belum sadar" tutur Dira


" Mungkin karena pengaruh obat kali, kamu yang sabar aja ya, kakek kamu pasti akan segera sembuh" ucap mama Ambar memberi semangat untuk Dira


" Iya mah, terima kasih ya mah" ucap Dira dan mama Ambar langsung menarik Dira kedalam pelukannya


" Apa boleh kami melihat keadaan kakek kamu Dira?" tanya papa Kusuma


" Tentu saja boleh pah" jawab Dira setelah mama Ambar mengurai pelukannya


" Mari pah... mah.." seru Dira lalu berjalan lebih dulu menuju kamar yang berada di ruangan tersebut


" Nek!" panggil Dira yang melihat sang nenek ketiduran di kursi yang berada di samping tempat tidur kakek


" Nek" Dira menepuk pelan bahu sang nenek


" Nenek ketiduran ya?" ucap nenek pelan saat terbangun dari tidurnya


" Iya nek, enggak baik tidur di kursi sebaiknya nenek tidur di tempat tidur nek itu disana" ucap Dira menunjuk ke tempat tidur yang memang tersedia di ruangan tersebut


" Iya, nenek juga sudah merasa sangat lelah" jawab nenek Dira seraya beranjak dari duduknya


" Oiya, nek ini ada papa Kusuma dan mama Ambar " terang Dira memberitahu kedatangan papa Kusuma dan mama Ambar

__ADS_1


" Nek!" sapa mama Ambar lalu salam takzim kepada wanita renta itu di ikuti oleh papa Kusuma


" Nyonya" ucap nenek Dira


" Panggil Ambar saja nek" ucap mama Ambar


" Iya nak Ambar, terima kasih karena sudah datang kemari" ucap nenek Dira


" Iya nek, kami juga ingin tahu keadaan kakeknya Dira" ucap mama Ambar


" Kakek Dira tadi tiba-tiba saja mengeluh dadanya sakit terus jatuh pingsan jadi kami membawanya kesini, dan maaf membuat acara lamaran nak Arlan gagal" ucap sang nenek


" Tidak apa-apa nek yang terpenting saat ini adalah kesembuhan kakek, kalau soal itu saya yakin Arlan akan bersabar menunggu sampai kakek sembuh" tutur mama Ambar


" Iya nek, yang terpenting adalah kesembuhan kakek" ucap papa Kusuma menimpali ucapan mama Ambar


" Nek, sebaiknya sekarang nenek istirahat aja ya, biar Dira yang menjaga kakek!" ucap Dira membantu sang nenek berjalan dan menuju tempat tidur yang tidak jauh


Dan sebelum pergi tidur nenek pamit terlebih dahulu kepada papa Kusuma dan mama Ambar


Karena sudah malam papa Kusuma dan mama Ambar pun akhirnya pamit pulang, sementara Arlan lebih memilih untuk tetap tinggal menemani Dira


" Mas, sebaiknya pulang saja istirahat di rumah biar lebih nyaman. mas pastinya lelah seharian bekerja!" ucap Dira


" Enggak apa-apa, aku enggak lelah kok. masih aman biasanya malah lebih lelah dari ini kalau Al mengalihkan semua pekerjaannya" tutur Arlan


" Tapi mas_"


" Enggak ada tapi-tapian, udah sebaiknya kamu istirahat aja sana " seru Arlan


" Aku belum mengantuk mas, lagipula kalau aku tidur nanti takut kakek sadar "


Arlan tersenyum lalu tiba-tiba terdiam saat mendengar suara yang membuat Dira langsung mendongak ke arahnya


Krukuk... kukkk....


" Mas kamu belum makan?" tanya Dira yang mendengar suara yang berasal dari perut Arlan


Arlan cengar-cengir seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal


" Aku yakin kamu juga belum makan, iyakan?" Arlan balik bertanya


" Iya sih mas, aku tadi belum sempat makan" Dira kini yang gantian cengar-cengir


" Yaudah kalau gitu aku keluar dulu ya, mau beli makan" ucap Arlan


" Iya mas"


" Kamu mau makan apa?"


" Apa aja mas, terserah mas Arlan aja!"


" Kalau pecal ayam mau?" tanya Arlan


" Emmm... boleh deh mas, lalapnya yang banyak ya mas, dan sekalian teh hangatnya ya mas " pesan Dira


" Siap, tunggu ya!"


Arlan lalu pergi mencari makan untuk dirinya dan juga dira


Sementara Dira yang merasa lelah tanpa sengaja akhirnya terlelap dengan posisi duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur sang kakek

__ADS_1


__ADS_2