DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Ikhlaskan


__ADS_3

Suasana di depan pintu ruang ICU terlihat begitu menegangkan, tangis dari orang-orang terkasih pun tidak terelakkan lagi


Wajah pucat, mata sembab dan tubuh lemas akibat terlalu banyak menangis membuat tubuh seorang gadis tidak kuasa lagi menahan bobot tubuhnya sehingga ia pun kembali tidak sadarkan diri


Bunda Tia yang tengah memeluk tubuh ringkih itu pun tak sanggup menahan tangisnya, berusaha untuk kuat tapi ternyata ia lebur juga


Ibu mana yang kuat menahan kesedihannya melihat putra satu-satunya dalam keadaan seperti itu


Andi membopong Sasa dan membawanya ke ruang tindakan, Mina turut menemaninya karena dia khawatir dengan keadaan Sasa yang terlihat begitu pucat.


Awalnya mereka tidak ada yang mengabarkan tentang keadaan Sasa yang masuk rumah sakit kepada ibunya tapi melihat keadaan Sasa yang semakin tidak baik-baik saja akhirnya mau tidak mau Mina pun harus mengabarkan tentang keadaan Sasa kepada bu Rahma ibunya Sasa


Sementara di ruang ICU ayah Hendra pun tidak kuasa membendung air matanya, apalagi saat semua alat-alat medis yang ada di tubuh putranya satu persatu tengah di lepas


Bunda Tia yang masih setia menunggu di depan pintu ruang ICU pun sudah terkulai lemas, Ayla dan Al membantunya untuk duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan tersebut


Mereka nampak tegang saat melihat beberapa dokter masuk ke dalam ruangan tersebut dengan tergopoh-gopoh dan kepanikan pun seketika mencuat.


Tangis mereka pun pecah saat mendengar suara raungan dari dalam ruangan, siapa lagi kalau bukan dari suara tangis ayah Hendra


Sasa yang sudah dalam keadaan lemah pun tidak sanggup lagi bila harus mendengar kabar buruk tentang Hendrik laki-laki yang sangat ia cintai sehingga membuat pandangannya perlahan menjadi gelap dan seketika tidak sadarkan diri


Sekarang Sasa dalam penanganan medis, melihat keadaan Sasa yang begitu memperihatinkan membuat Mina menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan sang suami


" Bagaimana keadaan Sasa, apa yang terjadi sebenarnya kenapa dia bisa masuk rumah sakit?" tanya bu Rahma yang baru saja tiba di rumah sakit dan langsung memberondong pasangan suami isteri itu dengan pertanyaan


Mina mengurai pelukannya pada sang suami lalu menyalami punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzim


" Sasa masih ada di dalam tante, kami belum tau bagaimana keadaannya sekarang" jawab Mina


" Memangnya apa yang terjadi dengannya?" tanya bu Rahma


" Kenapa Sasa sampai bisa masuk rumah sakit?" lanjutnya


Mina pun akhirnya menceritakan kejadian yang menimpa Hendrik kepada bu Rahma yang membuat Sasa pingsan berkali-kali


Setelah mendengar cerita Mina, bu Rahma pun tidak kuasa menahan air matanya ia merasa sangat sedih memikirkan nasib putrinya yang pastinya sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa sang kekasih.


_____


Sehari sudah berlalu


Sasa masih dalam keadaan yang sama , entah kenapa gadis itu masih setia memejamkan matanya, merasa nyaman berada di dunia alam bawah sadar membuatnya enggan untuk membuka mata


Bu Rahma merasa sangat sedih dengan keadaan putrinya yang malah memilih hidup dalam dunianya sendiri


Setiap waktu wanita paruh baya itu tak pernah putus berdoa untuk kesembuhan sang putri, ia berharap Sasa akan segera sadar dan bisa ceria seperti dulu lagi


" Sa ayo dong bangun, Loe enggak kasihan apa sama nyokap loe?" ucap Ayla yang saat itu tengah datang menjenguk Sasa bersama sang suami


" Sa Loe jangan kayak gini, Leo enggak kasihan sama orang-orang yang tulus sayang sama loe, katanya Loe mau menikah dan berdamai dengan masa lalu loe, tapi kenapa loe sekarang malah diam kayak gini terus" Ayla menitikkan air matanya


" Sa, bangun Sa... hiks... hiks...!" tangis Ayla pun pecah tak kuasa lagi menahan kesedihannya melihat sahabat baiknya dalam keadaan tidak berdaya seperti itu


Al pun tidak tega melihat isterinya menangis lalu menariknya dalam pelukan


" Mas!" lirih Ayla


" Kita doakan aja ya, yakin Sasa pasti akan baik-baik saja, sebentar lagi juga dia akan sadar. Sasa hanya butuh waktu sayang!" ucap Al memenangkan hati sang isteri


Karena sudah terlalu lama meninggalkan Aliza di rumah Al pun akhirnya mengajak Ayla untuk pulang


Setelah Ayla dan Al pulang seorang pria kini tengah duduk di bangku yang berada di samping tempat tidur Sasa


Netranya menatap lekat wajah pucat gadis yang masih menutup mata dan seketika ada rasa sakit yang menjalar ke relung hatinya


Tangannya terulur menyentuh wajah pucat Sasa dan air matanya pun tak kuasa lagi ia bendung, ia mencium kening Sasa cukup lama hingga tanpa ia sadar tetesan air matanya pun jatuh mengenai mata Sasa


Sasa seketika merasakan ada sesuatu yang basah mengenai matanya dan seketika mata itupun terbuka sempurna


Deg

__ADS_1


Mata Sasa membulat sempurna saat netranya menangkap wajah seseorang yang berada tepat di depan matanya


" *Apakah aku sudah mati, apakah akhirnya kita dapat bersama lagi... aku bahagia ya aku sangat bahagia karena bisa melihat wajah mu kembali, melihat senyummu yang indah ini..."


" jika aku benar-benar sudah mati aku bahagia karena aku bisa kembali bersama mu Hendrik... aku mencintaimu....!" batin Sasa*


" Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi Hendrik, aku sudah menyadari betapa bodohnya aku selama ini karena sudah mengabaikan perasaan mu dan sering membuat mu serba salah menghadapi ku... mulai sekarang aku akan berusaha untuk melawan rasa takutku dan aku yakin dengan keputusan ku untuk menerima pinangan mu... tapi apakah kita bisa menikah di saat kita sudah mati seperti ini.... ? Tapi Hendrik aku mohon jangan pergi lagi... dan jangan tinggalkan aku lagi."


" Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga Sa!" Ucap seseorang yang kini berada di dekat tempat tidur Sasa


Deg


Sasa terkejut bukan main, melihat wajah seseorang yang kini tengah tersenyum lega melihatnya


Sasa seketika melihat kesekeliling ruangan, matanya terus mengedar mencari keberadaan seseorang yang sangat ia rindukan


" Kamu sudah sadar sayang, Alhamdulillah ibu sangat senang akhirnya kami sadar juga" ucap Bu Rahma yang berada di dekat Andi pria yang berada di samping tempat tidur Sasa karena tadi bu Rahma sedang sholat jadi dia yang duduk di bangku samping Sasa dan setelah selesai sholat bu Rahma yang mendengar Andi mengatakan Sasa sudah sadar ia pun bergegas menghampirinya


" Kamu kenapa? cari siapa?" tanya bu Rahma karena melihat Sasa yang matanya celingukan kesana kemari seperti sedang mencari seseorang


Deg


Sasa tiba-tiba teringat tentang kejadian di depan pintu ruang ICU dimana ia mendengar suara tangisan ayah Hendra dan seketika ia mengingat kembali kejadian yang menimpa sang kekasih


Sasa menggelengkan kepalanya " Tidak... tidak...ini tidak mungkin terjadi." rancau Sasa dan sontak saja hal itu membuat Andi dan bu Rahma panik


" Sa kamu kenapa!"tanya Andi


" Sasa kamu kenapa sayang?" tanya Bu Rahma


Bukan menjawab Sasa malah menangis sejadi-jadinya


" Sa...!" Mina yang baru saja masuk ke ruangan tersebut dan melihat sahabatnya itu sudah sadar merasa sangat senang tapi ia juga merasa terhenyak melihat Sasa yang tengah menangis


"Aku panggilin dokter ya?" tanya Andi namun Sasa menggeleng


" Tapi kenapa kamu nangis kayak gini sayang?" tanya bu Rahma


" Bu... He.... Hendrik Bu... hiks.... hiks....!" jawab Sasa dengan tangis pilunya


Setelah merasa lebih tenang Mina memberikan air minum kepada Sasa dan Bu Rahma pun mengurai pelukannya dan membantu sang putri untuk minum


" Sudah jangan nangis lagi, jelek tau muka loe sekarang enggak ada cantik-cantiknya!" ledek Mina


" Mi... !" lirih Sasa


Mina tersenyum, dia paham apa yang di butuhkan sahabatnya itu


" Loe harus sabar Sa, dan harus ikhlas menerima_." ucap Mina terpotong karena Sasa tidak sanggup mendengar ucapan Mina yang pasti akan mengatakan tentang kepergian Hendrik


Sasa terhenyak mendengar kata ikhlas yang Mina ucapkan rasanya begitu sakit


" Mi...!" Sasa kembali menitikkan air matanya


" Sa jodoh itu sudah ada yang mengatur dan kamu harus ikhlas menerimanya, buka lembaran baru Sa dan belajarlah menerima dengan hati yang lapang dalam menghadapi setiap masa lalu pahit yang pernah kamu lewati" tutur Andi


" Iya Sa dan cukup jadikan hal itu sebagai sebuah kenangan yang cukup loe simpan tapi bukan untuk Loe kenang-kenang, jadikan sebagai pelajaran berharga bukan sebagai trauma yang menyakitkan" ucap Mina menimpali


" Gu... gue_!" Sasa tidak sanggup bicara lagi karena air matanya terus saja mengalir


" Sa, loe katanya mau berdamai dengan masa lalu loe kan? jadi mulai sekarang bahagiakanlah diri loe sendiri dan jangan terus larut dalam kesedihan loe ya!" ucap Mina


" Ini saatnya kamu bahagia Sa!" ucap Andi


" Hiks... Hiks.... bagaimana gue bisa bahagia, disaat gue baru aja ingin memulai tapi takdir seolah tidak berpihak pada gue!" lirih Sasa


" Gue enggak sanggup... rasanya ini terlalu berat, gue enggak sanggup bila harus menghadapinya sendirian "lanjutnya lagi seraya menundukkan wajahnya


" Siapa bilang kamu akan menghadapinya sendirian?" tanya seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu


Deg

__ADS_1


Mendengar suara yang sangat tidak asing itu membuat Sasa yang tadinya menunduk pun langsung mendongak


Seketika mata Sasa melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Sasa menggeleng-gelengkan kepalanya meyakini apa yang ada di hadapinya adalah halusinasinya semata.... ya Sasa berpikir kalau saat ini dia hanya berhalusinasi seperti saat ia baru tersadar ia melihat pria yang sangat dicintainya ada di hadapannya tapi setelah ia tersadar dari lamunannya tiba-tiba bayangan itu pun berubah


Sasa tersenyum getir, tidak ingin percaya dengan apa yang ada di depan matanya


Pria yang tidak lain adalah Hendrik itu pun perlahan berjalan mendekati brankar Sasa


Sasa yang masih tidak ingin percaya dengan halusinasinya itu langsung membuang pandangannya melihat ke sembarang arah, ia tidak ingin terluka lagi dengan kenyataan yang telah terjadi


Hendrik meraih tangan Sasa dan hal itu sontak membuat Sasa seketika menatap tangannya yang tengah di pegang oleh Hendrik


Perlahan tatapan mata Sasa melihat ke pemilik tangan yang tengah menggenggam tangannya...


Deg


Sasa mematung, matanya membola melihat pria yang ada di hadapannya itu terlihat begitu nyata


" Apa aku sedang bermimpi?" tanya Sasa


Hendrik menggeleng sambil tersenyum


" Ini nyata sayang, kamu tidak sedang bermimpi" sahut Hendrik


" Ti .. tidak mungkin... ini tidak mungkin!"


" Tidak mungkin kenapa sayang, hem?"


" Hen ... Hendrik? benarkah ini kamu?" tanya Sasa dengan suara parau


Hendrik tersenyum lalu meraih sesuatu dari saku celananya


" Iya sayang, ini Hendrik. dan kamu tidak sedang bermimpi" ucap bunda Tia


" Bunda!" Sasa terkejut ternyata sudah ada bunda Tia dan juga ayah Hendra


" Kamu bilang kamu mau berdamai dengan masa lalu mu dan akan membenciku jika aku tidak juga sadar, dan kamu juga bilang akan menikah dengan laki-laki lain, oh tidak sayang mana sanggup aku hidup jika kau menikah dengan orang lain, karena itulah aku segera terbangun dan saat tahu kau yang tidak sadarkan diri karena aku barulah aku tahu bagaimana perasaan mu saat aku yang berada di posisi mu"


" Karena itu, takut kamu berubah pikiran lagi maka hari ini aku akan kembali melamar mu" ucap Hendrik


Sasa membungkam mulutnya sendiri setelah mendengar ucapan Hendrik


" Sasa maukah kamu menikah dengan ku?" tanya Hendrik dengan lantang


Serrrr


Sasa berdesir rasanya ini sungguh di luar dugaan


Sasa hanya bisa membeku di tempat menatap tak percaya dengan apa yang Hendrik ucapkan


" Apa kamu masih ragu?" tanya Hendrik dan dengan gerakan cepat Sasa pun menggeleng


" Tidak bukan itu, rasanya aku masih tidak percaya aja" sahut Sasa


" Lalu apa jawaban mu sekarang sayang?" bukan Hendrik yang bertanya tapi kali ini bunda Tia yang bertanya


" Emmm... iya bunda Sasa mau!" jawab Sasa


" Mau apa sayang?" goda Hendrik


" Ishh... apaan sih!" Sasa mengerucutkan bibirnya


Semua yang ada di ruangan itu tergelak melihat tingkah lucu Sasa


" Jadi kamu mau menikah dengan ku?" tanya Hendrik


Sasa mengangguk " Iya aku mau menikah dengan mu!" jawab Sasa


" Alhamdulillah....!" ucap Hendrik bersamaan dengan semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut


Sasa dan Hendrik pun saling tatap tatapan dan entah siapa yang mulai lebih dulu keduanya sudah begitu dekat sampai akhirnya suara semuanya membuat mereka tersadar

__ADS_1


" Belum muhrim!"


Jlep


__ADS_2