DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
KEGUNDAHAN RAIN


__ADS_3

Sebelum menjawab perkataannya Faiha, Alzam mencoba mengumpulkan raganya dulu, karena dia baru saja merasakan rasa terkejut yang sangat mengejutkannya sekali.


Alzam menjadi tambah bingung ingin menjawab apa kepada Faiha, ketika Rain terus mengkode dan bertanya kepadanya ada apakah yang sebenarnya terjadi.


Syahlaa yang melihat wajah kebingungan dari Alzam karena Rain, dia pun mencoba menjelaskan dengan isyarat kepada Rain untuk diam terlebih dahulu.


Setelah itu, Alzam memilih untuk menyingkir sejenak dari mereka berdua untuk melanjutkan berbicaranya kepada Faiha.


" Halo Kak, apa Kakak masih ada di situ,?? kenapa Kakak malah diam saja?? ",, kata Faiha kepada Alzam.


" Maaf Fai, Kakak tadi sedang merasa terkejut dengan cerita dari kamu ",, jawab Alzam sambil berjalan menuju ke taman samping rumah.


" Sekarang kamu coba ceritakan semuanya kepada Kakak, tentang perasaanmu dengan Tuan Rain?? ",, kata Alzam sambil duduk di kursi yang ada di situ.


Faiha lalu memberanikan diri bercerita kepada sang Kakak, apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dia rasakan kepada Rain.


Walau merasa malu, tapi mau bagaimana lagi sang Abi memang lebih dekat dengan Alzam daripada dengannya maupun Iffah.


Jadi, Faiha memilih tetap bercerita dengan jujur kepada Alzam, jika dia benar-benar mencintai Rain, dan ingin Rain menjadi suaminya nanti, bukan yang lain.


" Baik Fai, sekarang Kakak mengerti, dan Kakak akan mencoba berbicara dulu kepada Tuan Rain, lalu Kakak akan merundingkannya dengan Abi ",, kata Alzam kepada Faiha.


" Sekarang, kamu tenangkan pikiran kamu, jangan terlalu di pikirkan ya Fai, nanti kamu bisa sakit ",, kata Alzam lagi kepada Faiha.


" Iya Kakak ",, jawab Faiha kepada Alzam.


" Beristirahatlah, pasti di sana masih waktunya istirahat siang kan ",, kata Alzam kepada Faiha.


" Iya Kak ",, jawab singkat Faiha kepada Alzam.


" Baiklah, di sini sudah malam Fai, Kakak mau beristirahat dulu, Assalamu'alaikum ",, kata Alzam kepada Faiha.


" Baik Kak, Wa'alaikumussalam ",, jawab Faiha kepada Alzam.


Dan setelahnya sambungan telepon mereka pun terputus juga.


Tadi ketika Alzam berlalu dari ruang makan menuju ke taman samping rumah, Rain langsung saja mencoba bertanya kepada Syahlaa, apa yang sebenarnya Faiha katakan tadi kepada mereka.


" Nanti biar suami Syahlaa saja yang menjawab pertanyaan dari Kakak ",,


Begitulah jawaban yang di berikan oleh Syahlaa kepada Rain.


Rain hanya bisa pasrah, dia tidak mau memaksa Syahlaa lagi, akan tetapi dia sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi.


Dan ketika Rain melihat Alzam sudah selesai menerima telepon dari Faiha, Rain langsung saja segera berdiri dari duduknya, untuk mendekati Alzam untuk bertanya apa yang Faiha katakan kepadanya.


" Kita duduk saja dulu Rain ",, jawab Alzam kepada Rain.


Rain pun langsung mengangguk, dan mereka kembali duduk di kursi makan yang tadi mereka duduki.


" Cepat Afnan, ceritakan kepadaku apa yang tadi Faiha katakan kepadamu?? ",, desak Rain lagi kepada Alzam.


" Baiklah, akan aku ceritakan, tapi aku harap kamu jangan terkejut Rain ",, jawab Alzam kepada Rain.


" Iya baiklah, aku siap mendengar cerita apapun dari kamu Afnan ",, kata Rain kepada Alzam.

__ADS_1


" Faiha akan segera di jodohkan oleh Abi dengan Pengurus Pondok Pesantren Rain ..... ",, belum selesai Alzam berbicara, langsung di sela oleh Rain.


" Apaaaa!!! ",, kata Rain menyela perkataannya Alzam tadi.


" Tidak,!! Faiha tidak boleh menikah dengan laki-laki lain, dia hanya milikku dan harus menjadi istriku Afnan ",, kata Rain lagi kepada Alzam.


" Tenanglah dulu Rain, tenang ",, kata Alzam mencoba menenangkan Rain.


" Bagaimana aku bisa tenang, jika yang aku dengar soal seperti ini Afnan?? ",, jawab Rain kepada Alzam.


" Tenanglah dulu Kak, supaya Kakak bisa berpikir dengan bijak dan tidak salah mengambil keputusan ",, kata Syahlaa juga kepada Rain.


Rain pun langsung saja mencoba mengambil nafasnya dengan panjang, dan mengeluarkannya secara perlahan.


Setelah di rasa Rain cukup tenang, Alzam mencoba melanjutkan lagi perkataannya.


" Tadi, ada tiga Pengurus Pondok Pesantren yang datang ke rumah, dan salah satunya dia akan di jodohkan kepada Faiha, tapi ....... ",, kata Alzam sengaja menjeda perkataannya.


" Tapi apa Afnan?? ",, tanya Rain lagi dengan tidak sabaran.


" Tapi Faiha menolaknya, karena dia cuma ingin menikah dengan kamu Rain",, jawab Alzam kepada Rain.


" Faiha ",, kata Rain sambil tersenyum senang sekali.


" Lalu bagaimana dengan Abi kamu Afnan?? ",, tanya Rain kepada Alzam.


" Abi sudah tahu semuanya, jika kamu dan Faiha saling mencintai, dan Abi tidak merestuinya, itulah mengapa Abi ingin segera menjodohkan Faiha dengan laki-laki lain yang menurut Abi pantas untuk mendampingi Faiha ",, jawab Alzam kepada Rain.


Rain langsung merasa sangat bersedih sekali mendengar jawaban dari Alzam.


" Tidak Syahlaa,!! aku tidak bisa meninggalkan kalian berdua di sini ",, jawab Rain sambil berdiri dari duduknya.


Sambil memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku baju kokonya, Rain memilih membelakangi Alzam dan Syahlaa yang masih duduk di kursi makan.


" Tidak apa-apa Rain, aku masih bisa menghadapi ini semua sendirian, kamu pergilah kejar cintamu bersama Faiha ",, kata Alzam juga kepada Rain.


" Tidak,!! biarlah cintaku berjalan seperti ini dulu, aku yakin Faiha masih bisa menghadapinya sendirian, karena saat ini yang sedang membutuhkanku adalah kalian, bukan Faiha ",, jawab mantap Rain kepada Alzam dan Syahlaa.


" Jika Faiha di takdirkan menjadi jodohku, seberat apapun rintangan yang akan menghadang, pasti kami bisa melaluinya dengan baik ",, kata Rain lagi kepada Alzam dan Syahlaa.


Sebelum melanjutkan lagi perkataannya, Rain lalu berbalik badan untuk berjalan mendekati Alzam.


" Bolehkah aku meminta nomor teleponnya Faiha, jika boleh, tolonglah kirimkan ke nomorku Afnan ",, kata Rain kepada Alzam.


" Iya boleh, nanti akan aku kirimkan nomornya ke ponsel kamu ",, jawab Alzam sambil mengangguk.


" Terimakasih ",, kata Rain kepada Alzam.


Alzam hanya mengangguk saja kepada Rain, dan Rain pun langsung berbalik badan ingin berlalu menuju ke dalam kamarnya.


Namun, baru saja beberapa langkah berjalan, Rain tiba-tiba di panggil oleh Syahlaa.


" Iya, ada apa Syahlaa?? ",, tanya Rain kepada Syahlaa.


" Kak, belajarlah berbicara menggunakan Bahasa Indonesia, dan jika tidak tahu, belilah kamus untuk Kakak belajar ",, jawab Syahlaa kepada Rain.

__ADS_1


" Baiklah Syahlaa, nanti akan Kakak beli kamusnya, sekarang Kakak mau istirahat dulu ",, kata Rain kepada Syahlaa.


Syahlaa hanya tersenyum tipis menanggapi perkataannya Rain.


Setelahnya, Rain benar-benar berlalu pergi menuju ke dalam kamarnya sendiri, meninggalkan Alzam dan Syahlaa, yang masih bingung dengan keadaan yang sedang mereka hadapi.


Di satu sisi ada Ezio beserta Keluarganya, di sisi lain ada Abi Aasim dengan segala egonya, yang ingin menjodohkan Faiha dengan laki-laki lain.


Entahlah, apa yang akan terjadi nantinya kepada mereka semua, sebab mereka semua hanya mengikuti alurnya saja, masalah yang mana yang harus mereka hadapi terlebih dahulu.


Meninggalkan Rain yang juga sedang galau, kita beralih kepada Faiha lagi.


Faiha yang sudah selesai menelpon sang Kakak tadi, dia merasa sedikit lega.


Karena Faiha yakin, jika sang Kakak pasti akan membantunya untuk berbicara kepada Abi mereka.


Dan apapun hasilnya nanti, setidaknya Faiha sudah mencoba berjuang mempertahankan cintanya kepada Rain.


Faiha yang sedang duduk termenung sambil mengusap gelang dan memandangi gelang pemberian dari Rain, tiba-tiba telinga dia mendengar pintu kamarnya di ketuk lagi dari luar.


Faiha dengan langkah malasnya, lalu berjalan menuju ke arah pintu kamar, untuk membukakan pintunya.


Ternyata yang mengetuk pintu kamarnya adalah Umi Anum.


" Umi ",, kata Faiha kepada Umi Anum.


" Kamu belum makan siang Nak, ayo kita makan dulu, Umi baru selesai masak ",, kata Umi Anum kepada Faiha.


" Fai tidak lapar Umi, maafkan Fai, tapi saat ini Fai benar-benar sedang tidak naf5u makan ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.


" Jangan seperti ini Nak, nanti kamu bisa sakit ",, kata Umi Anum kepada Faiha.


" Tolong Umi, Fai benar-benar tidak merasa lapar sama sekali, dan Fai cuma ingin menenangkan diri dulu sampai hati ini benar-benar tenang ",, kata Faiha lagi kepada Umi Anum.


" Apa Umi bawakan saja makanannya ke sini Nak, supaya kamu bisa makan di dalam kamar?? ",, kata Umi Anum kepada Faiha.


" Tidak perlu Umi, Fai nanti bisa mengambilnya sendiri, sekarang Fai mau istirahat dulu ",, kata Faiha kepada Umi Anum.


" Baiklah, jika kamu merasa lapar, makanannya Umi simpan di tempat biasanya ya Nak ",, kata Umi Anum lagi kepada Faiha.


" Baik Umi ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.


Setelahnya, Faiha langsung menutup kembali pintu kamarnya, sedangkan Umi Anum langsung berlalu menuju ke ruang makan untuk makan siang bersama Abi Aasim.


Abi Aasim yang melihat Umi Anum datang sendirian, dia tidak mau banyak bertanya, karena Abi Aasim masih merasa sungkan kepada Umi Anum.


Sebab Abi Aasim masih melihat wajah dingin dari Umi Anum yang di perlihatkan kepadanya.


Walau Umi Anum masih merasa marah kepada Abi Aasim, tapi Umi Anum juga masih perhatian kepada Abi Aasim.


Akan tetapi segala perhatian yang di keluarkan oleh Umi Anum, Umi Anum memilih sambil diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk mengajak berbicara sang suami.


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2