
Di beda Negara, Ezio setelah dari rumah sakit, dia memutuskan untuk kembali ke Perusahaannya lagi.
Tapi entah kenapa niat awal yang menggebu-gebu ingin menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba menjadi menghilang, karena dia jadi teringat dengan Syahlaa terus.
Ezio tanpa sadar tersenyum sendiri dalam diamnya, ketika teringat Syahlaa sedang bermain dengan Zarina kemarin.
Apakah Ezio mencintai Syahlaa, jika iya, Ezio harus mengubur perasaannya dalam-dalam, karena itu pasti tidak akan mungkin terbalaskan.
Setelah mengetahui jika makanan yang sering dia makan itu adalah resep milik Syahlaa, ada rasa di dalam dada yang tidak bisa di ungkapkan oleh Ezio.
Dan ketika mengetahui jika Cafe yang dia kunjungi ternyata milik sahabat baik Syahlaa, serta ada andil besar nama Syahlaa di dalamnya, di dalam perasaannya ada rasa bangga tersendiri.
" Syahlaa, Syahlaa, Syahlaa ",, kata Ezio berbicara sendiri.
" Sepertinya aku baru sadar, jika selama ini aku mencintai kamu ",, kata Ezio berbicara sendiri.
" Tapi kebodohanku, malah menjauhkanmu dengan diriku ",, kata Ezio sambil mengusap wajahnya.
" Andai waktu bisa di putar kembali ",, kata Ezio lagi.
" Semuanya sudah terjadi, apa yang harus aku lakukan sekarang ",, kata Ezio masih berbicara sendiri.
" Aku harus sekuat tenaga membuang perasaan ini untuk Syahlaa, karena aku tidak mau merusak rumah tangganya, sudah cukup penderitaan yang aku berikan kepadanya selama ini ",, kata Ezio.
" Lebih baik aku menyibukkan diri untuk menghilangkan perasaan ini, daripada aku terpuruk dengan perasaan yang tak pasti ",, kata Ezio lagi dan lagi.
Ezio lalu mencoba memfokuskan pikirannya ke semua berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.
Kemarin ketika Ezio kembali ke Perusahaannya untuk bekerja, Barry sedikit terkejut, sebab dia sangat tahu sekali, jika sang atasan sedang menghadapi masalah sulit dengan Alzam, Rain maupun Syahlaa.
Dan setahu Barry, jika Perusahaan tempatnya bekerja, sudah menjadi atas nama Syahlaa.
Tapi bagi Barry, siapapun atasannya, dia akan bekerja sepenuh hati dan siap membantu dalam pekerjaan apa saja.
Di seberang pulau sana, saat ini setelah Rain dan yang lainnya selesai sarapan.
Sesuai janji Alzam tadi, dia akan mengajari Rain untuk naik sepeda motor.
Rain begitu sangat takut sekali, sampai-sampai membuatnya dan Alzam, yang sedang membonceng hampir saja terjatuh, jika Alzam tidak sigap.
Mempunyai halaman yang luas, membuat Rain dan Alzam, memilih berlatih mengendarai motor di halaman Yayasan saja.
Faiha yang memperhatikan dari teras pendopo di temani Syahlaa dan Zarina, dia terus menahan suara tawanya, ketika melihat ekspresi Rain yang sangat jelek sekali dalam mengendarai motor.
__ADS_1
" Aaah kamu payah Rain ",, kata Alzam mengejek Rain.
" Bukan payah, hanya saja motornya tidak mau diam tegak, kenapa selalu miring mau jatuh ",, kata mengelak dari Rain.
" Halah, alasan kamu saja ",, kata Alzam kepada Rain.
" Jadi, sekarang lanjut tidak nih ",, kata Alzam lagi.
" Lanjut dong, tapi ko aku rasanya ko haus sekali ",, jawab Rain kepada Alzam.
" Ya sudah, sekarang ayo kendarai motornya sampai teras pendopo sana, nanti kita bisa minta tolong kepada Faiha untuk membuatkan minuman segar untuk kita ",, kata Alzam kepada Rain.
" Ok, baiklah, Bismillah ",, kata Rain mencoba menyalakan motor vario milik Faiha.
Pelan-pelan tapi pasti, walau Rain memegang stang motornya masih goyang-goyang, tapi pada akhirnya Rain sampai juga di teras depan pendopo yang di tinggali Abi Aasim.
Tapi sayang, ketika Rain mau memegang rem tangan, malah keliru mengegas motornya, hingga wassalam, Rain langsung menabrak tiang penyangga yang ada di situ.
Tentu saja Rain dan Alzam langsung terjatuh dengan menimbulkan suara benturan yang cukup keras sekali.
Dan hal itu membuat Syahlaa, Faiha, serta beberapa santri yang melihat, langsung merasa khawatir, dan langsung ikut membantu Rain serta Alzam yang kakinya tertimpa motor tersebut.
" Apakah Kak Rain dan Ayah tidak kenapa-kenapa?? ",, tanya Syahlaa kepada Alzam.
Sedangkan Rain, dia juga sedang dibantu berjalan oleh beberapa santri laki-laki untuk bisa duduk di kursi yang ada di teras depan.
" Ning Faiha ini kunci motornya, dan tadi saya lihat ban depan sedikit bengkok dan ada yang pecah bumper motornya ",, kata salah satu santri kepada Faiha.
" Iya tidak apa-apa, terimakasih ",, jawab Faiha kepada santri laki-laki itu.
Faiha lalu ikut bergabung duduk dengan Rain, Alzam dan juga Syahlaa.
Syahlaa sendiri sedang sibuk memeriksa keadaan Alzam, apakah ada yang terluka cukup parah, dan alhamdulillah tidak apa-apa, hanya luka lecet biasa.
Namun ketika Faiha mencoba mengecek kondisinya Rain, kaki Rain sebelah kanan, sedikit lebam, karena tertindih motor tadi.
" Aaawww sakit ",, kata Rain ketika Faiha tidak sengaja memegang luka lebam itu.
" Bengkak Kak, akan Fai panggilkan Abi sebentar ya ",, kata Faiha kepada Rain.
" Kenapa mau panggil Pak Kyai Fai?? ",, tanya Rain kepada Faiha.
" Karena Abi sangat pintar jika cuma mengurut luka lebam seperti ini Kak Rain ",, bukan Faiha yang menjawab, melainkan Syahlaa.
__ADS_1
Perkataan dari Syahlaa langsung saja dianggukin oleh Faiha, dan Faiha setelahnya langsung ijin masuk ke dalam rumah, untuk meminta tolong Abi Aasim untuk mengurut luka lebamnya si Rain.
Abi Aasim dan Umi Anum yang sedang menonton televisi, mereka berdua sedikit terkejut ketika mendengar jika Rain dan Alzam baru saja jatuh dari motor.
Tentu saja Abi Aasim serta Umi Anum, langsung bergegas ke luar untuk melihat keadaannya Rain dan Alzam.
" Astaghfirullah ",, kata Abi Aasim dan Umi Anum secara bersamaan setelah melihat keadaannya Rain dan Alzam.
" Tolong Rain, Abi, sepertinya kakinya kesleo hingga lebam membiru seperti itu ",, kata Alzam kepada Abi Aasim.
" Nak Fai, ambilkan minyak urut milik Abi ",, kata Abi Aasim kepada Faiha.
" Baik Abi ",, jawab Faiha kepada Abi Aasim.
Faiha langsung berlalu lagi ke dalam rumah untuk mengambil minyak urut milik sang Abi.
Sedangkan Abi Aasim sedang melihat luka di kaki Rain, apakah berbahaya atau tidak, dan ternyata tidak berbahaya, hanya membutuhkan diurut sebentar supaya besok lebih baik.
Walau nanti akan terasa sangat sakit, Rain harus sekuat tenaga menahan rasa sakitnya.
Dan ketika minyak urut sudah di tangan Abi Aasim, Abi Aasim, langsung saja mengoleskannya ke kaki Rain dan mengurut kaki Rain yang putih itu, dengan sangat pintar sekali.
Abi Aasim seperti sudah tahu, di mana letak saraf yang harus di urut atau tidak, dan ketika Rain sedang di urut oleh Abi Aasim, dia reflek sampai berteriak sangat kencang sekali, karena rasanya hmm sangat nikmat sekali, hahahaha, bercanda Abang Rain.
Faiha saja sampai ikut meringis melihat Rain sedang merasa kesakitan seperti itu.
" Sakiiiiit ",, kata Rain sambil terus menahan rasa sakitnya.
" Tahan Nak, sakitnya cuma sebentar, besok juga akan hilang jika sudah diurut seperti ini ",, jawab Abi Aasim kepada Rain.
" Iya Nak, di tahan dulu ",, kata Umi Anum juga kepada Rain.
" Pasti nikmat tuh rasanya ",, kata Alzam menggoda Rain.
Alzam yang duduk di sebelah Rain, membuat Rain reflek langsung memukul pundak Alzam dengan sangat keras sekali.
Dan Alzam yang di pukul oleh Rain, langsung saja tertawa dengan suara cukup keras.
Ada kebahagiaan di balik penderitaannya si Rain, yang baru saja jatuh dari atas motor.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...
__ADS_1