
Ezio yang sudah puas menggendong dan memeluk Zarina, dia langsung saja mengajak Zarina untuk duduk di pangkuannya.
Senyum Ezio masih terlihat jelas di mata semua orang, terutama Alzam dan Syahlaa.
Bahkan, di wajah Ezio masih terlihat jelas bekas air mata di pipinya.
" Daripada kita nanti terlalu larut ke rumah sakitnya, bagaimana jika kita ke rumah sakitnya sekarang saja Tuan Alzam Chafik ",, kata Ezio kepada Alzam.
" Iya baiklah, ayo kalau begitu Tuan Ezio ",, jawab Alzam kepada Ezio.
" Emm, bolehkah Zarina ikut satu mobil dengan saya Tuan ",, kata Ezio dengan ragu-ragu kepada Alzam.
" Tidak boleh,!! Zarina ikut satu mobil bersama kami!! ",, jawab tegas Syahlaa kepada Ezio.
Walau merasa bersedih, Ezio tetap memaklumi keputusan Syahlaa, karena Ezio juga tidak bisa memaksakan kehendak.
Dan Syahlaa tentu saja tidak mengijinkannya, karena dia masih merasa takut, jika Ezio mengingkari janjinya.
" Baiklah ",, jawab Ezio kepada Syahlaa.
" Zarina, sini sayang, ayo Zarina cuci muka dulu sama Mama ",, kata Syahlaa kepada Zarina.
Zarina pun langsung saja turun dari pangkuan Ezio, untuk mencuci muka terlebih dahulu.
Sedangkan yang lainnya, langsung saja berlalu masuk ke dalam mobil mereka masing-masing, sambil menunggu Syahlaa dan Zarina selesai cuci muka.
Singkat cerita, saat ini mereka semua sudah pada masuk ke dalam mobil milik mereka masing-masing, dengan Zarina berada di dalam satu mobil bersama Alzam dan Syahlaa.
Sedang Rain, berada di dalam mobilnya sendiri, begitupun dengan Ezio dan juga Lionel, yang berada di dalam mobil milik Ezio.
Ezio berada di barisan paling depan untuk menuntun jalannya menuju ke rumah sakit.
Dan mobil milik Alzam serta Rain, ada di barisan belakang.
Mereka saling beriringan menuju ke rumah sakitnya, dengan Ezio yang sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah sakit, dan memperlihatkan kepada sang Papa, siapakah orang yang sudah di ajaknya berkunjung.
Di sisi lain, tepatnya di rumah mewah milik Emmy, saat ini rumah tersebut sudah di penuhi oleh para tamu undangan yang hadir.
Karena Emmy dan Casper, malam ini akan melangsungkan acara pertunangan mereka.
Ingin sekali Emmy melihat Syahlaa hadir di pesta pertunangannya, akan tetapi keadaan yang tidak memungkinkan.
Alhasil, walau Emmy dan Casper merasa bahagia malam ini, tapi di sisi lain, mereka juga merasa ada yang kurang, sebab sahabat baik mereka tidak ada yang datang sama sekali di acara bahagia mereka.
Walau Syahlaa, Alzam dan juga Rain, tidak bisa datang malam itu, namun mereka bertiga juga dengan tulus mendoakan kelancaran dari acara pertunangan Emmy dan Casper.
Kembali ke Ezio dan Alzam lagi.
Tidak terasa, setelah bermenit-menit lamanya berada di jalan untuk menuju ke rumah sakit.
Saat ini mobil mereka semua sudah sampai di parkiran rumah sakit, dan ketika mobil sudah terparkir rapi, mereka semua langsung saja ke luar dari dalam mobil.
" Ayo Tuan Alzam Chafik, Syahlaa ",, ajak Ezio kepada Alzam dan Syahlaa.
" Maukah Zarina Papi gendong lagi sampai ke ruangan Kakek?? ",, tanya Ezio kepada Zarina yang sedang di gandeng oleh Alzam.
" Mau ",, jawab lucu dari Zarina kepada Ezio.
" Ayo sini sama Papi ",, kata Ezio langsung menggendong Zarina.
Di dalam perjalanan menuju ke ruang perawatan Papa Fransisco, Ezio selain menggendong Zarina, dia juga sambil mengajak bermain Zarina.
Apapun yang Ezio lakukan, menjadi sorotan dari Alzam, Syahlaa, Rain maupun Lionel.
__ADS_1
" Sungguh aku tidak mengenal siapa kamu malam ini Ezio ",, kata batin Lionel untuk Ezio.
" Tapi apapun yang kamu lakukan malam ini demi Zarina, aku merasa bangga kepadamu ",, lanjut lagi perkataan Lionel untuk Ezio.
Ezio mengajak Zarina bermain pesawat, mengambil bunga yang tumbuh di sekitar situ, berlari kecil, apapun itu, yang terpenting Zarina bisa tertawa di dalam pelukannya.
Semua Ezio lakukan untuk melihat Zarina tertawa dan tidak takut lagi ketika bersamanya.
Alzam dan Syahlaa pun yang sedang berjalan beriringan, mereka hanya tersenyum saja melihat apa yang sedang di lakukan oleh Ezio kepada Zarina.
Hingga tidak terasa, akhirnya langkah kaki mereka sudah sampai di depan ruang perawatan Papa Fransisco.
Ezio langsung saja membuka pintu ruangan tersebut, dan dia langsung melihat sang Mama yang sudah tua, wajahnya terlihat cukup lelah sekali, karena seharian menunggu sang Papa.
Mama Ingrid yang melihat kedatangan Ezio bersama Zarina, dia langsung saja beranjak bangun dari duduknya, sambil tersenyum manis sekali.
Pandangan Mama Ingrid juga teralihkan ke arah Alzam, Syahlaa, Rain dan juga Lionel, yang juga ikut masuk ke dalam ruang perawatan Papa Fransisco.
" Cucu Nenek ",, kata Mama Ingrid kepada Zarina.
" Sini peluk Nenek dulu sayang ",, kata Mama Ingrid kepada Zarina.
Ezio langsung saja menurunkan Zarina dari gendongannya, supaya sang Mama bisa memeluk dan mencium cucu satu-satunya itu.
" Kalian semua, mari silahkan duduk ",, kata ramah Mama Ingrid kepada semua orang.
Semua orang pun langsung saja duduk di sofa yang tersedia di situ.
" Ma, bagaimana keadaan dari Papa?? ",, tanya Ezio kepada Mama Ingrid.
" Papa tadi mengalami sesak nafas lagi Ezio, tapi setelah di tangani oleh Dokter, dia langsung tertidur dan belum terbangun sampai sekarang ",, jawab Mama Ingrid kepada Ezio, dan masih di dengar oleh semua orang.
" Biar Papa Mama bangunkan sekarang, dia pasti sangat senang sekali, siapa yang datang berkunjung malam ini ",, kata Mama Ingrid kepada Ezio.
" Tidak apa-apa Tuan, lagi pula suami saya sudah tertidur sejak tadi, dan sekarang ada Zarina di sini, pasti dia akan sangat senang sekali ",, jawab Mama Ingrid kepada Alzam.
" Baiklah kalau begitu ",, jawab Alzam juga kepada Mama Ingrid.
" Dia siapa Paman?? ",, tanya Zarina kepada Ezio.
" Bisakah Zarina berbicara menggunakan Bahasa Inggris atau Prancis,?? karena Papi tidak mengerti apa yang Zarina katakan ",, jawab Ezio kepada Zarina.
Karena Zarina memang sedang menggunakan Bahasa Indonesia tadi ketika bertanya kepada Ezio.
" Dia siapa?? ",, tanya Zarina menggunakan Bahasa Prancis, sambil menunjuk Papa Fransisco.
" Dia Kakek Fransisco sayang, ayo sini Papi gendong lagi untuk melihat Kakek ",, jawab Ezio kepada Zarina.
Mama Ingrid tadi sudah mencoba membangunkan Papa Fransisco, dan Papa Fransisco akhirnya terbangun dari tidurnya yang lelap, ketika sudah di panggil sebanyak empat kali oleh Mama Ingrid.
" Papa, lihatlah siapa yang sedang datang berkunjung ",, kata Mama Ingrid kepada Papa Fransisco.
" Za za ri rina ",, kata Papa Fransisco ketika sudah melihat Zarina.
Alzam, Syahlaa dan Rain, ketika mendengar suara Papa Fransisco yang seperti itu, di dalam hati mereka merasa sangat kasihan sekali.
" A apa kah i ini benar ka kamu sa sa yang?? ",, kata Papa Fransisco lagi kepada Zarina.
" To to long, pang gil sa sa ya Ka ka kek ",, kata Papa Fransisco lagi.
" Ayo sayang panggil Kakek ",, kata Ezio kepada Zarina.
" Kakek ",, jawab Zarina kepada Ezio dan Papa Fransisco.
__ADS_1
Papa Fransisco langsung saja meneteskan air matanya, mendengar Zarina mau memanggilnya dengan sebutan Kakek.
Karena sejak kemarin, Zarina sangat susah sekali jika di suruh memanggil Kakek, Nenek atau Papi, kepada Ezio, Papa Fransisco dan juga Mama Ingrid.
" Kata Mama, jika sakit hayus banyak makan, bial cepat cembuh, dan juga minum obat, apakah Kakek tidak makan, kenapa di sana makanannya belum di makan?? ",, kata Zarina kepada Papa Fransisco sambil menunjuk meja samping ranjang pasien.
Dan perkataan itu adalah perkataan terpanjang yang pernah Zarina katakan kepada Papa Fransisco.
Semakin deraslah air mata Papa Fransisco mendengar perkataan dari Zarina.
Begitupun dengan Mama Ingrid, yang juga tidak bisa menahan perasaan harunya, ketika mendengar perkataan Zarina.
Sedangkan Syahlaa bersama Alzam, malah tersenyum lucu mendengar perkataan dari Zarina tadi.
" Ma ma ukah Za ri rina me menyu nyuap in ma kan Ka ka kek sa sayang?? ",, kata Papa Fransisco kepada Zarina.
Zarina kecil langsung menganggukkan kepalanya mendengar perkataan dari Papa Fransisco.
Ezio yang melihat anggukan dari Zarina, dia langsung saja segera mengambilkan makanan tersebut, dan memeganginya, supaya Zarina bisa menyuapin Papa Fransisco makan.
Ada kebahagiaan yang tidak pernah Ezio, Mama Ingrid dan Papa Fransisco rasakan kali ini.
Walau mereka hidup bergelimang harta, tapi kebahagiaan malam ini yang mereka rasakan, rasanya sepertinya mereka belum pernah merasakannya sama sekali.
" Sudah ya Kakek, Zalina capek ",, kata Zarina kepada Papa Fransisco.
Semua orang langsung saja tertawa mendengar perkataan polos dari Zarina tadi.
" Di di mana I isa bell la E ezi zio?? ",, tanya Papa Fransisco kepada Ezio.
Ezio langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah Syahlaa, yang sedang duduk bersama Alzam.
Alzam lalu menuntun Syahlaa untuk mendekat ke arah ranjang pasiennya Papa Fransisco.
Dan Papa Fransisco yang melihat kehadiran Syahlaa bersama Alzam, dia pun langsung saja mencoba tersenyum tipis sekali.
" I i sa bell la ",, kata Papa Fransisco kepada Syahlaa.
Syahlaa hanya tersenyum tipis saja sambil menganggukkan kepalanya.
" Ma maafkan se se mu mua ke kesala lahan sa saya, yang su sudah me na brak A ayah ka kamu du dulu ",, kata Papa Fransisco kepada Syahlaa.
" Sa sa ya me nyesal, ma aaf kan sa sa saya Nak ",, kata Papa Fransisco lagi kepada Syahlaa.
" Iya Tuan, saya sudah memaafkannya, Tuan cepatlah sembuh, karena saya sudah tidak mau mengingatnya lagi, yang lalu biarlah berlalu ",, jawab Syahlaa kepada Papa Fransisco sambil tersenyum formal.
" Sa sa ya su su dah me mera rasa le ga se seka rang ",, kata Papa Fransisco kepada Syahlaa.
" Dan to to long ja ja ngan pi pisah kan sa saya da ri Za ri rina Nak, am billah se mua har ta sa sa ya se ba banyak yang ka ka mu mau, a sal ja jangan pi pisahkan sa saya dengan cu cu sa ya sa tu satunya i ni ",, kata Papa Fransisco lagi kepada Syahlaa.
Sebelum menjawab perkataan dari Papa Fransisco, Syahlaa pun tersenyum manis terlebih dahulu kepada Papa Fransisco.
Hingga membuat Papa Fransisco langsung meneteskan air matanya lagi melihat senyuman tulus dari Syahlaa kepadanya.
" Saya tidak mau mengambilnya sama sekali Tuan, semuanya akan saya kembalikan lagi kepada anda dan Tuan Ezio ",, jawab tulus Syahlaa kepada Papa Fransisco.
Perkataan dari Syahlaa membuat Ezio terkejut, begitupun dengan Papa Fransisco, hingga membuat dada Papa Fransisco terasa sesak lagi.
Dan hal itu, membuat semua orang langsung merasa sangat khawatir melihat keadaan dari Papa Fransisco.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...
__ADS_1