DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Dira


__ADS_3

Istirahat makan siang Al memenuhi janji pada isterinya untuk menemaninya ke rumah sakit


" Assalamualaikum" ucap Al saat masuk ke dalam rumah untuk menjemput sang isteri


" Wa'alaikum salam, neng Ayla sedang berada di kamar den"


" Apa Ayla sudah makan siang bi?" tanya Al


" Sejak paman dan bibinya pulang neng Ayla belum keluar kamar den" sahut bi Nani


" Mereka tadi datang kemari bi?"


" Iya den dan maaf den tadi bibi juga sempat mendengar sedikit keributan antara neng Ayla sama sepupunya itu"


" Laura maksud bibi?"


" Iya den"


" Neng Laura ternyata sedang hamil den dan maaf den tadi bibi sempat dengar neng Laura mengatakan kalau dia hamil dengan den Al" ucap bi Nani menceritakan kejadian pagi tadi


" Kurang ajar, berani-beraninya wanita itu bicara seperti itu" geram Al setelah mendengar cerita dari bi Nani


" Maaf ya den bukan niat bibi untuk membuat den Al marah" ucap bi Nani yang merasa tidak enak hati pada majikannya itu


" Enggak apa-apa bi, terima kasih bibi sudah memberitahu saya bi, kalau gitu saya mau lihat keadaan Ayla dulu ya bi"


" Iya den"


Al melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya berada


Ceklek


Al membuka pintu kamarnya dan saat pintu sudah terbuka ia melihat sang isteri yang sedang berbaring di atas tempat tidur


" Assalamualaikum!" ucap Al seraya melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur dimana Ayla sedang berbaring


Ayla yang mendengar suara memberi salam pun menggeser tubuhnya


" Wa'alaikum salam, kamu sudah pulang mas?" Ayla mendudukan dirinya diatas kasur


" Iya, mas kan sudah janji sama kamu sayang" ucap Al seraya duduk di tepi kasur


" Oiya, maaf mas aku sempat lupa kalau mas mau menemani ku ke rumah sakit"


" Apa kamu merasa lelah? kalau lelah sebaiknya besok saja perginya ya?"


" Tidak mas, aku sudah cukup kok istirahatnya" sahut Ayla


" Tapi kamu belum makan siang kan?" tanya Al


" He..he... belum mas, tadi aku ketiduran" jawab Ayla dengan kekehannya


" Yaudah kalau gitu kita makan siang dulu yuk, kebetulan mas juga belum makan siang setelah makan siang baru kita pergi ke rumah sakit" ucap Al


" Iya mas" jawab Ayla


Ayla dan Al bergandengan tangan keluar kamar menuju lantai bawah


"Bi" panggil Al


"Iya den" sahut bi Nani


" Apa makan siangnya sudah siap bi?" tanya Al


"Sudah den, udah bibi siapin diatas meja" Jawab bi Nani


"Terima kasih ya bi, maaf tadi Ayla enggak bantuin bibi memasak" ucap Ayla


" Enggak apa-apa neng, kan ini udah tugas bibi" sahut bi Nani


" Yaudah atuh silahkan makan neng, den Al bibi tinggal dulu kebelakang kalau butuh apa-apa panggil aja ya" seru bi Nani


" Iya bi terima kasih" ucap Ayla setelah duduk di kursi meja makan bersama Al


" Mas mau makan pakai apa?" tanya Ayla


" Emm... mas pakai ikan pindang aja sayang sama tumis kangkung" jawab Al


Dengan cekatan Ayla mengisi piring Al dengan nasi dan lauk pauk yang Al inginkan


" Ini mas!" Ayla meletakkan piring yang sudah ia isi kehadapan Al


" Terima kasih sayang" ucap Al


"Sama-sama mas" Sahut Ayla seraya mengisi piringnya sendiri


Al dan Ayla kini tengah makan siang bersama sebelum mereka pergi ke rumah sakit untuk menjenguk keadaan Dira


" Sayang"


" Iya mas"


" Apa tadi paman Emir dan keluarganya datang ke sini?" tanya Al penuh selidik


" Iya mas, paman Emir datang untuk menjenguk ku, kenapa memangnya mas?"

__ADS_1


" Apa terjadi sesuatu?"


Ayla menghentikan makannya menatap lekat sang suami " Terjadi sesuatu apa maksud mas?"


Al menarik nafas dalam-dalam " Apa Laura membuat ulah lagi dan mengatakan hal yang tidak-tidak?"


Ayla tersenyum " Mas tenang aja aku percaya kok sama mas, jadi apapun ucapan Laura itu tidak penting bagiku mas, karena aku juga kan sudah tau fakta yang sebenarnya" sahut Ayla


" Apa dia mengatakan hal itu lagi?" Ayla menjawab dengan mengangguk


" Iya tapi itu bukan masalah bagiku, justru aku kasihan sama dia mas, dia hamil tanpa adanya suami paman dan bibi pasti merasa sangat malu dengan keadaan putrinya yang hamil tanpa suami" tutur Ayla


" Ya kamu benar tapi itulah konsekuensi dari perbuatannya sendiri yang sudah berani bermain api tanpa adanya ikatan suci" jawab Al


" Maksud mas Laura itu bukan hamil akibat pemerkosaan?"


" Tuan Diego itu seorang pengusaha besar sayang baginya perempuan itu sudah seperti pakaian yang bisa kapan saja ia pakai dan di buang sesuka hatinya tapi kalau untuk masalah pemerkosaan mas rasa itu bukan tipenya karena dia bisa menggunakan uang untuk mendapatkan wanita yang ia inginkan apalagi mereka melakukannya di hotel miliknya" ucap Al


" Apa Laura memang sengaja melakukan hal itu untuk mendapatkan uang?" tebak Ayla membekap mulutnya sendiri seolah tidak percaya dengan ucapannya itu


" Mas enggak tahu kalau soal itu, hanya mereka berdua yang tahu" jawab Al


" Iya sih mas"


" Yaudah enggak usah di pikirkan masalah Laura, mas cuma takut kamu termakan ucapan wanita itu, syukurlah kamu percaya sama mas" ucap Al


" Aku percaya sama mas walaupun tetap masih was-was karena mas itu terlalu ceroboh, mungkin seandainya waktu itu aku tidak menyusul mas ke kota b dan mas terlihat berdua di dalam kamar hotel bersama Laura mungkin saat ini aku sudah termakan oleh ucapan Laura" tutur Ayla jujur


" Iya sayang, beruntungnya isteriku ini sangat posesif jadi bisa melindungi suaminya yang ceroboh ini" ucap Al seraya tertawa renyah


" Iya dasar ceroboh" keduanya kini tertawa bersama


Setelah selesai makan siang Ayla dan Al langsung bergegas pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan telpon dari Arlan


" Ada apa sih mas kok kak Arlan sampai menelpon mas segala?" tanya Ayla dengan hati cemas


" Mas juga enggak tahu sayang, semoga aja tidak terjadi sesuatu dengan Dira" sahut Al


" Iya mas semoga ada kabar yang baik ya mas"


" Kita berdoa saja sayang" ucap Al


" Iya mas" sahut Ayla


Setelah sampai di rumah sakit Al menuntun Ayla dengan hati-hati karena usia kandungan Ayla yang sudah cukup besar membuat wanita itu tidak bisa berjalan dengan leluasa


" Apa kamu capek?" tanya Al


" Tidak mas hanya enggak bisa jalan cepat-cepat aja" jawab Ayla apa adanya


Ayla tersenyum dengan tangan yang memeluk lengan Al


" Aku enggak capek selama ada mas Al disampingku" sahut Ayla membuat bibir Al langsung tertarik keatas


" Isteriku disaat seperti ini masih bisa-bisanya menggoda, seandainya berada di rumah pasti sudah mas terkam" ucap Al seraya berbisik di telinga Ayla


Ayla tergelak mendengar ucapan suaminya itu


" Kamu tuh mas pikirannya malah mesum" tawa Ayla


" Mesum sama isteri enggak dosa nambah pahala malah" sahut Al


" Iya iya terserah mas ku aja dah" ucap Ayla


Wajah bahagia mereka tiba-tiba memudar begitu saja ketika langkah mereka sudah sampai di ruangan dimana Dira dirawat


" Ada apa mas kenapa kak Arlan terlihat begitu panik?" tanya Ayla saat melihat Arlan dari kejauhan sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang ICU sedangkan Mina dan Sasa yang juga sudah berada tidak jauh dari Arlan nampak sedang menangis dan saling berpelukan


" Mas juga tidak tahu, kita samperin mereka " ucap Al dengan tangan yang tidak lepas menuntun isterinya


" A..ada apa ini kak? apa yang terjadi dengan Dira?" tanya Ayla dengan sedikit gugup karena rasa khawatirnya terhadap Dira


" Ayla!" Arlan, Mina dan Sasa langsung menoleh ke arah Ayla


" Sebaiknya loe duduk dulu Ay, enggak baik ibu hamil terlalu lama berdiri" ucap Mina setelah menghampiri Ayla dan membantunya untuk duduk


Ayla kini duduk di tengah-tengah kedua sahabatnya Sasa dan Mina


" Dira enggak kenapa-napa kan?" tanya Ayla dengan cemas


Mina dan Sasa saling melempar pandangan, entah apa yang harus mereka jawab karena untuk kondisi Dira saat ini mereka pun tidak tahu karena sejak tadi belum ada satupun dokter yang keluar dari ruangan Dira


" Sebenarnya ada apa? kenapa kalian diam ?" bentak Ayla dengan mata yang sudah menganak sungai


" Ayla loe tenang dulu, Dira pasti akan baik-baik saja kita berdoa aja ya buat Dira sekarang dokter sedang menangani Dira di dalam kita pasrahkan aja semuanya kepada Allah" ucap Sasa berusaha untuk menenangkan Ayla


" Sebenarnya ada apa Lan?" tanya Al yang kini sudah berdiri didekat sahabat sekaligus asistennya itu


" Tadi Dira sempat gagal napas, dan beberapa dokter langsung masuk ke dalam dengan panik, sampai sekarang belum ada satupun dokter yang keluar dari ruangan itu" jawab Arlan dengan lesu


" Apa loe menyukai gadis itu?" tanya Al


Arlan yang tadinya menunduk lesu langsung menoleh ke arah Al


" Enggak usah tegang gitu, gue cuma nanya doang" ucap Al seraya menepuk bahu Arlan

__ADS_1


" Loe yang sabar dan banyak-banyak berdoa semoga gadis sebaik Dira akan segera diberi kesembuhan" Al memberi semangat untuk sahabatnya itu


" Kalau Dira sadar segera lamar dia, jangan sembunyikan apa yang loe rasakan. cinta itu harus dinyatakan agar orang yang loe suka tahu apa yang loe rasakan" lanjut Al


Arlan tak menyahut tapi tersenyum tipis. hatinya masih terlalu gamang dengan perasaannya saat ini, keadaan Dira yang belum ada perkembangan dan tadi malah hampir saja semakin buruk membuat laki-laki itu tidak bisa memikirkan lagi bagaimana perasaannya terhadap Dira yang ia tahu ada rasa tidak rela jika wanita itu harus pergi meninggalkan dirinya


Ceklek


Pintu ruangan terbuka beberapa dokter keluar dengan wajah lesu


" Dokter!" panggil Arlan membuat salah satu dokter yang menangani dan bertanggungjawab atas penanganan Dira menghentikan langkahnya sementara yang lain melanjutkan langkah mereka


" Dokter bagaimana keadaan pasien?" tanya Arlan cemas


" Apa anda keluarga pasien yang bernama Dira?"


" I.. Iya dokter" jawab Arlan


" Baiklah, kalau begitu ikut saya ada yang perlu saya bicarakan dengan keluarga pasien" ucap dokter yang bernama Syarif


" Baik dokter" jawab Arlan


Arlan berjalan mengikuti dokter Syarif menuju ruangannya


Ceklek


Dokter Syarif masuk ke dalam ruangannya dan diikuti oleh Arlan yang berjalan dibelakangnya


" Silahkan duduk pak_!"


" Arlan, nama saya Arlan dokter" jawab Arlan yang tahu akan kebingungan dokter dihadapannya itu


" Iya pak Arlan, silahkan duduk!"


" Terima kasih dokter" Arlan pun duduk di kursi yang ditengahnya ada meja sebagai pemisah dengan dokter yang duduk di hadapannya


" Maaf pak Arlan sebelumnya, kalau boleh tahu apa hubungan anda dengan pasien?" tanya dokter Syarif hati-hati


Arlan nampak bingung untuk menjawab pertanyaan dari dokter dihadapannya itu


" Emm... saya calon suaminya dokter" jawab Arlan disela kebingungannya dan kata itu yang tiba-tiba meluncur begitu saja dari bibirnya


" Selain anda apa ada keluarga pasien lainnya?" tanya dokter Syarif lagi


" Dira itu anak yatim piatu dokter, sejak kecil dia hanya tinggal bersama kakek dan juga neneknya tapi_" Arlan menjeda ucapannya


" Kakek dan neneknya sampai saat ini belum tahu keadaan Dira yang sebenarnya karena saya bingung untuk memberitahu mereka. neneknya baru saja sembuh dari sakitnya sedangkan kakeknya punya penyakit jantung. saya takut kalau memberitahu keadaan Dira mereka akan syok dokter " tutur Arlan menjelaskan dengan wajah yang penuh tekanan


Dokter Syarif menghela nafasnya menatap iba pada laki-laki yang berstatus calon suami dari pasiennya itu


" Saya mengerti posisi anda saat ini pak Arlan tapi mungkin dengan keberadaan keluarga terdekatnya bisa juga membantu proses kesembuhan pasien" ucap dokter Syarif


" Apakah saya harus memberitahu Kakek dan neneknya dokter, lalu bagaimana jika mereka syok lalu jatuh sakit? ini yang selalu saya pikirkan dokter" ucap Arlan sendu


" Memang pilihan yang cukup sulit ya" ucap dokter Syarif


" Pasien saat ini sangat membutuhkan dukungan dan semangat hidup dari keluarga dan juga orang-orang terdekatnya, kondisinya tadi sempat ngedrop dan hampir saja tidak bisa melewati masa kritisnya tapi karena doa dari keluarga dan dari orang-orang tercinta Alhamdulillah keadaan pasien kini sudah stabil" ucap dokter Syarif menjelaskan


" Jika pasien bisa melewati malam ini dengan kondisi yang semakin baik, besok pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan tapi tetap akan mendapatkan perawatan dan pengawasan secara intensif tapi jika kondisinya semakin buruk kami hanya bisa membantu sebisa kami dan hanya keajaiban yang bisa menyembuhkannya" Tuturnya lagi


" Apa pasien sudah boleh di jenguk dokter?"


" Untuk saat ini belum tapi jika malam ini kondisi kesehatannya mengalami kemajuan besok sudah bisa di jenguk dan itupun hanya satu orang dan harus tetap menggunakan baju yang kami sediakan"


" Baik dokter"


" Perbanyak berdoa ya pak Arlan, karena kami sebagai dokter hanya bisa membantu dan berusaha semaksimal mungkin tapi untuk masalah kesembuhannya hanya Allah yang maha menentukan segalanya" ucap bijak dokter Syarif


" Iya dokter terima kasih banyak"


" Sama-sama pak"


" Kalau begitu saya permisi dulu dokter"


" Iya silahkan pak" Arlan pun beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan dokter Syarif


" Bagaimana keadaan Dira?" tanya Al


Ayla, Sasa dan Mina menunggu dengan cemas jawaban Arlan


Arlan menghela nafasnya berat sebelum menjawab pertanyaan Al " Kita perbanyak berdoa saja" ucapnya sendu


" Maksud kamu apa kak Arlan, kenapa bicara seperti itu?" tanya Ayla yang kini sudah berdiri menatap lekat pria yang nampak sendu itu


" Jika malam ini Dira bisa melewati masa kritisnya dan kondisinya semakin membaik Dira akan dipindahkan ke ruang perawatan tapi jika kondisinya semakin memburuk kita hanya bisa berserah diri kepada Allah" ucap Arlan dengan sendu


Tubuh Ayla lunglai untung dengan gerakan cepat Al langsung memegangi tubuhnya


" Sayang" Al memeluk Ayla yang kini sudah terisak


" Dira butuh kita butuh doa kita semua, aku yakin Dira gadis yang kuat dan dia pasti bisa bertahan dan pasti akan segera sembuh " ucap Arlan yang langsung pergi begitu saja


Sasa dan Mina menitikkan air matanya melihat Ayla yang begitu sesenggukan mereka pun tak kuasa menahan tangisnya


" Sayang berhentilah menangis, benar yang dikatakan Arlan kalau Dira butuh doa kita semua" ucap Al menenangkan Ayla

__ADS_1


Ayla berusaha untuk menghentikan tangisnya dan kini duduk di kursi tunggu dengan bibir yang tak berhenti melantunkan doa kesembuhan untuk Dira


__ADS_2