
Baru juga tertidur sejenak cuma beberapa jam saja, Mama Ingrid tiba-tiba mendengar suara sang suami yang sedang memanggil-manggil nama Zarina.
Mama Ingrid pun tentu saja langsung terbangun dari tidurnya untuk mengecek kondisi dari sang suami.
" Papa ",, panggil Mama Ingrid kepada Papa Fransisco.
" Zza ri rina ",, hanya kata itu yang terus terucap dari mulut Papa Fransisco, dengan mata yang masih terpejam.
" Papa, sadarlah Pa, ini Mama ",, kata Mama Ingrid lagi kepada Papa Fransisco.
Namun, Papa Fransisco tidak merespon dan hanya nama Zarina saja yang dia ucapkan.
Mama Ingrid yang tidak mendapatkan tanggapan dari sang suami, dia langsung saja beranjak menuju ke dalam kamar pribadi yang ada di situ untuk memanggil Ezio.
Sama seperti sang Mama, bahkan Ezio baru bisa tidur sekitar dua jam saja, dia langsung terkejut, ketika sang Mama tiba-tiba membangunkannya seperti itu.
" Ada apa Ma,?? Papa kenapa?? ",, tanya Ezio kepada Mama Ingrid.
" Papa terus memanggil nama Zarina Ezio, ayo sini cepat ",, jawab Mama Ingrid kepada Ezio.
Ezio pun langsung bergegas ke luar dari dalam kamar, untuk melihat keadaan sang Papa.
" Za za rina ",, kata Papa Fransisco lagi yang di dengar oleh Ezio.
" Pa, bangun Pa, ini Ezio Pa ",, kata Ezio sambil mengguncangkan sedikit tubuh sang Papa.
" Papa sadarlah Pa ",, kata Ezio lagi.
Dan akhirnya, Papa Fransisco pun tersadar dengan membuka matanya.
" Ee e zio, di ma na Zza ri na?? ",, tanya Papa Fransisco kepada Ezio.
" Zarina sudah pulang Papa, besok dia akan ke sini lagi ",, jawab Ezio kepada Papa Fransisco.
" Iya Pa, semua sudah membaik seperti harapan Papa, Papa tenang saja, besok mereka akan ke sini lagi ",, kata Mama Ingrid juga kepada Papa Fransisco.
" Pa pa i ingin me me li hat Za za rina lala gi E zi o ",, kata Papa Fransisco kepada Ezio.
" Iya, tunggu besok ya Pa, biar Zarina sekarang tidur dulu, kasihan nanti jika dia sakit lagi ",, kata Ezio kepada Papa Fransisco.
Papa Fransisco langsung mengangguk pelan kepada Ezio.
" Apa Papa membutuhkan sesuatu, akan Ezio ambilkan?? ",, tanya Ezio kepada Papa Fransisco.
" Haus ",, jawab Papa Fransisco kepada Ezio.
" Biar Mama saja Ezio yang mengambilkan minum, kamu beristirahatlah lagi, pasti kamu masih sangat capek ",, kata Mama Ingrid kepada Ezio.
" Baiklah Ma, kalau ada apa-apa lagi, Mama panggil saja Ezio ",, jawab Ezio kepada sang Mama.
Mama Ingrid hanya mengangguk saja kepada Ezio.
Setelah itu, Ezio pun langsung berlalu masuk ke dalam kamar pribadi yang tadi untuk dia tidur.
Di dalam kamar itu, Ezio mencoba ingin memejamkan matanya, namun entah kenapa malah semakin susah saja.
Dan waktu pun sudah menunjukkan pukul lima pagi, akan nanggung sekali jika untuknya tidur.
Ezio takut, jika dia tidur lagi, nanti dia akan ketiduran dan tidak akan bisa melihat Zarina ketika sedang menjenguk Papa Fransisco.
Akhirnya, Ezio memutuskan ijin kepada sang Mama, untuk kembali pulang ke apartemennya sebentar, dan Mama Ingrid pun langsung mengijinkan Ezio pergi.
Begitupun dengan Syahlaa, Alzam dan juga Rain yang sudah pada bangun dari tidur mereka, untuk menunaikan sholat subuh.
Mereka bertiga yang sudah menunaikan sholat subuh berjamaah, saat ini sedang duduk bersama di ruang Keluarga yang ada di rumah Emmy.
__ADS_1
" Rain, apakah kamu masih yakin ingin merebut Perusahaan dan semua aset milik mereka?? ",, tanya Alzam kepada Rain.
" Tidak, ini semua berkas-berkas aset milik mereka, sudah aku siapkan sejak semalam ",, jawab Rain kepada Alzam.
" Mungkin aku juga akan mengundurkan diri dari Perusahaan Tuan Ezio, karena aku ingin benar-benar berubah dan menikahi Faiha ",, kata Rain lagi kepada Alzam dan Syahlaa.
" Jika Kakak mau bekerja di sana kami juga tidak mempermasalahkannya ko Ka, lagi pula kerja di sana kan juga halal ",, kata Syahlaa kepada Rain.
" Entahlah Syahlaa, Kakak masih bimbang di antara pilihan itu, karena di sisi lain, Kakak setelah menikah dengan Faiha, Kakak tidak ingin jauh darinya ",, jawab Rain kepada Syahlaa.
" Apakah nanti kamu jadi ikut pulang bersama kami Rain, lalu bagaimana dengan semua Keluarga kamu di sini?? ",, tanya Alzam kepada Rain.
" Mereka semua baik-baik saja Afnan, kamu tenang saja, aku akan terus memberi kabar kepada mereka setiap waktu dan setiap saat ",, jawab Rain kepada Alzam.
" Baiklah terserah kamu saja, jika itu keputusan yang terbaik yang sudah kamu ambil ",, kata Alzam kepada Rain.
Rain langsung mengangguk membenarkan perkataan Alzam tadi.
" Lalu, kapan kita akan menjenguk Tuan Fransisco lagi Afnan?? ",, tanya Rain kepada Alzam.
" Penerbangan kita masih jam dua siang, nanti setelah selesai sarapan kita ke rumah sakit Rain ",, jawab Alzam kepada Rain.
" Kenapa pagi-pagi sekali Ayah?? ",, tanya Syahlaa kepada Alzam.
" Tidak apa-apa Ma, sengaja, biar Tuan Ezio bisa bermain sedikit lebih lama dengan Zarina ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
" Ayah bisa melihat ketulusan dan kesungguhan di matanya, ketika dia ingin memperbaiki kesalahannya ",, kata Alzam lagi kepada Syahlaa.
" Walau seumpama Tuan Ezio tidak tulus dalam meminta maaf kepada kita, setidaknya kasih sayang dan cinta yang dia berikan kepada Zarina itu tulus Mama, itu yang Ayah hargai dari dia, karena Ayah juga sebagai seorang Ayah, jadi Ayah tahu bagaimana rasanya berjauhan dengan anak sendiri ",, lanjut lagi perkataan Alzam kepada Syahlaa dan masih di dengar oleh Rain.
Syahlaa langsung tersenyum dan mengangguk kepada Alzam.
" Baiklah, aku setuju, kalau begitu aku mau membereskan semua barang-barangku dulu di dalam kamar ",, jawab Rain kepada Alzam.
Singkat cerita, mereka semua saat ini sudah sampai di rumah sakit tempat Papa Fransisco sedang di rawat.
Ezio pun juga sudah kembali ke rumah sakit lagi, sejak lima belas menit yang lalu sambil membawakan sarapan, makanan, serta camilan untuk sang Mama.
Ezio terus menatap ke arah pintu, karena dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Zarina.
Dan ketika pintu ruang perawatan Papa Fransisco di ketuk, Ezio langsung bergegas membukanya.
Tapi sayang, yang mengetuk pintunya adalah para tim medis yang sedang visit, untuk mengontrol keadaan dari Papa Fransisco.
Setelah kepergian dari tim medis, Ezio berdiam diri lagi sambil terus memandangi pintu masuk.
Mama Ingrid yang melihat ketidaksabaran dari Ezio, membuat hatinya menjadi bersedih.
" Ezio, apa kamu tidak bosan menatap pintu itu terus, makanlah dulu Ezio, supaya kamu tidak sakit ",, kata Mama Ingrid kepada Ezio.
" Tidak Ma, Ezio yakin sebentar lagi mereka akan segera sampai, karena Ezio bisa merasakan kehadiran Zarina di dekat sini ",, jawab Ezio kepada sang Mama.
Jawaban Ezio membuat Mama Ingrid semakin bersedih saja, karena Mama Ingrid menjadi takut, jika Ezio akan menjadi gila jika berpisah lagi dengan Zarina.
Dan benar saja apa yang di katakan oleh Ezio, karena tiba-tiba pintu ruang perawatan Papa Fransisco pun di ketuk dari luar.
Ketika sudah di buka oleh Ezio, yang datang adalah orang yang sudah di tunggunya sejak tadi.
" Zarina sayang, hmm cantik sekali anak Papi ",, kata Ezio langsung menggendong Zarina.
" Selamat pagi Paman ",, kata Zarina kepada Ezio.
" Pagi juga anak Papi, ayo sini kalian semua silahkan masuk dan silahkan duduk ",, kata Ezio kepada Syahlaa, Alzam dan juga Rain.
Mama Ingrid pun langsung tersenyum dengan sangat lebar sekali, melihat kedatangannya Zarina.
__ADS_1
" Papa, Zarina sudah datang ",, kata Mama Ingrid kepada Papa Fransisco.
" Ayo sayang, kita lihat Kakek dulu ",, kata Ezio kepada Zarina.
Ezio lalu membawa Zarina untuk menemui Papa Fransisco.
" Za za ri na, cu cu Ka ka kek ",, kata Papa Fransisco kepada Zarina.
Zarina hanya diam saja sambil terus menatap ke arah Papa Fransisco.
" Zarina sama Nenek dulu yuk, mau?? ",, kata Mama Ingrid kepada Zarina.
" Zarina main sama Nenek dan Kakek dulu ya sayang, Papi mau menemui Ayah sama Mama dulu ",, kata Ezio kepada Zarina.
Zarina langsung mengangguk kepada Ezio, dan Ezio langsung menurunkan Zarina di pinggir ranjang Papa Fransisco, untuk di jaga oleh Mama Ingrid.
Ezio lalu meninggalkan Zarina bersama ke dua orang tuanya, untuk menghibur sang Papa.
Dan dia sendiri langsung berjalan menuju ke arah Syahlaa, Alzam, dan juga Rain, yang sedang duduk di sofa sambil memperhatikannya sejak tadi.
" Apakah kalian sebentar lagi akan berangkat ke Bandara?? ",, tanya Ezio sambil langsung duduk di sofa seberang Rain.
" Tidak Tuan Ezio, jadwal penerbangan kami masih jam dua siang nanti ",, jawab Alzam kepada Ezio.
" Kami sengaja datang lebih awal, karena ada yang ingin kami sampaikan kepada anda, sekaligus supaya anda bisa bermain lebih lama bersama Zarina ",, kata Alzam lagi kepada Ezio.
" Terimakasih banyak Tuan Alzam Chafik, anda begitu sangat baik sekali dan mengerti sekali apa yang saya inginkan ",, jawab Ezio sambil tersenyum senang.
" Dan lalu hal apakah yang ingin anda sampaikan kepada saya?? ",, tanya Ezio kepada Alzam.
Alzam dan Rain lalu saling pandang, dan Rain yang mengerti kode dari Alzam, dia langsung saja mengeluarkan semua berkas-berkas penting milik Keluarga Dwayn, dari kepemilikan Perusahaan, serta aset-aset yang lainnya.
" Ini Tuan Ezio, semuanya saya kembalikan lagi kepada anda, kami belum mengambil apapun dari semua ini ",, kata Rain sambil menyerahkan semua berkas-berkas yang di bawanya.
" Semua ini bagi saya sudah tidak penting lagi Rain, jika kalian tidak mau mengembalikannya pun, saya sudah tidak ada niatan untuk merebutnya kembali dari tangan kalian ",, jawab Ezio kepada Alzam dan Rain.
" Tidak Tuan Ezio, ini masih milik anda, dan kami tidak sekejam itu untuk menghancurkan anda ",, kata Alzam kepada Ezio.
" Ambillah Tuan ",, kata Alzam lagi kepada Ezio.
" Baiklah Tuan Alzam Chafik, saya mau mengambil semua ini, tapi ada syaratnya dan kalian wajib menyetujuinya ",, jawab Ezio kepada Alzam.
" Iya baiklah, katakanlah Tuan Ezio ",, jawab Alzam kepada Ezio.
Sedangkan Syahlaa, dia memilih diam saja sambil terus mendengarkan semua percakapan dari semua orang.
" Saya akan memberikan saham Perusahaan kepada Zarina sebanyak dua puluh lima persen, dan itu berlaku untuk semua Perusahaan saya Tuan Alzam Chafik ",, jawab Ezio kepada Alzam.
Alzam, Syahlaa dan juga Rain, mereka bertiga langsung terkejut mendengar perkataan dari Ezio.
Namun, rasa terkejut yang mereka rasakan, belum selesai, karena ezio ternyata belum selesai berbicara.
" Rumah mewah milik saya, mansion megah milik Papa, serta cabang Perusahaan yang ada di Indonesia, akan saya ganti atas nama Zarina, dan semua keuntungan dari Perusahaan itu, akan langsung masuk ke dalam rekening tabungannya Zarina, karena semua apa yang saya dan Papa miliki, itu semua nantinya akan menjadi milik Zarina ",, lanjut lagi perkataan Ezio.
" Dan ini ",, kata Ezio sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.
" Tolong ambil ini Tuan Alzam Chafik, untuk memenuhi kebutuhan Zarina, dan saya akan mentransferkan lagi di setiap bulannya untuk Zarina ",, kata Ezio sambil menyerahkan black card miliknya.
Alzam, Syahlaa dan juga Rain, sampai speechless mendengar perkataan dari Ezio, yang memberikan sangat banyak sekali harta kekayaan untuk Zarina yang masih sangat kecil sekali.
Dan mungkin di kemudian harinya, kekayaan serta gelimang harta yang di berikan Ezio kepada Zarina, bisa bertambah lagi tanpa kita ketahui.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...
__ADS_1