
Masih tentang Faiha sejenak ya guys
Hati Faiha rasanya hancur, dadanya terasa sesak, dan pikiran dia terasa kalut sekali, memikirkan sikap sang Abi yang menurutnya begitu sangat egois sekali kepadanya.
Sedangkan, Abi Aasim yang tadi sudah masuk ke dalam kamar, dan melihat sikap dingin dari sang istri, dia hanya diam, karena dia tidak mau mencari keributan dengan Umi Anum.
Padahal niat hati, Abi Aasim ingin mengajak berbicara sang istri, namun malah mendapatkan sambutan wajah dingin dari Umi Anum.
Akhirnya, Abi Aasim memilih untuk ke luar lagi dari dalam kamar, menuju ke dalam ruang kerjanya untuk menghubungi seseorang.
Entah siapa yang akan di hubungi oleh Abi Aasim, namun Abi Aasim ingin menenangkan diri, supaya bisa berpikir dengan jernih, sekaligus meminta pendapat kepada orang yang dia segani.
Meninggalkan Abi Aasim, kita beralih ke Faiha lagi yang saat ini sedang mencoba menghubungi sang Kakak Alzam.
Berbeda waktu yang cukup banyak, saat ini Alzam bersama Syahlaa dan juga Rain, yang sudah menjadi seorang mualaf plus di khitan, mereka bertiga sedang asik makan malam bersama di ruang makan.
Jangan lupakan Zarina yang juga sudah mau makan dengan lahap, walau tidak selahap biasanya.
Alzam tadi sudah mengatakan dengan jujur kepada Syahlaa, siapapun jodohnya Faiha nanti, dia akan tetap mendukung, walau itu Rain sekaligus.
Yang terpenting bagi Alzam, laki-laki itu bisa membahagiakan Faiha dan menuntun Faiha menjadi lebih baik lagi menuju ke surganya Allah.
Syahlaa begitu sangat terimakasih sekali kepada Alzam, karena dia sudah mau merestui cintanya Rain kepada Faiha.
Sekarang saatnya, mereka berdua harus kembali pada kenyataan untuk menghadapi Keluarga Dwayn yang masih terus mencari mereka.
Syahlaa dan Alzam sudah salah sangka dengan Keluarga Dwayn, mereka masih berpikir jika Keluarga Dwayn akan memisahkan mereka dengan Zarina.
Padahal Ezio sekarang gencar mencari Syahlaa dan Zarina, karena ingin meminta maaf dengan tulus dan memperbaiki kesalahannya yang dulu.
Semoga saja, jika Syahlaa maupun Alzam nanti bertemu dengan Ezio, mereka berdua tidak salah paham lagi atau meragukan ketulusan dari Ezio dalam meminta maaf.
Karena berhubung Syahlaa dan Alzam belum beristirahat pada waktu itu, akhirnya sambil menunggu Rain selesai di khitan dan mengucapkan dua kalimat syahadat, Syahlaa dan Alzam memilih untuk beristirahat sejenak di dalam kamar mereka.
Cukup lama Rain pergi bersama Malik, dan ketika pukul setengah enam sore, barulah Rain sampai di rumah di antarkan oleh Malik.
" Assa la mu alaikum ",, kata Rain mencoba mengucapkan kata salam ketika akan masuk rumah.
Alzam yang sedang berada di ruang Keluarga, mendengar ada orang yang mengucapkan kata salam, dia pun langsung saja menjawab salam tersebut.
Melihat Rain yang datang, Alzam langsung tersenyum sangat senang sekali, sambil memeluk khas orang laki-laki.
Karena Alzam melihat penampilan yang berbeda dari Rain, yaitu Rain sedang memakai baju koko beserta sarung dan juga peci yang menutupi rambut kepalanya.
" Masyaallah, apakah benar ini kamu Rain, sungguh kamu terlihat lebih tampan sekarang ",, pujian tulus Alzam lontarkan kepada Rain.
" Iya benar ini aku Afnan, apakah aku sudah terlihat seperti orang muslim?? ",, kata Rain kepada Alzam.
" Kamu sekarang sudah terlihat sama sepertiku Rain ",, jawab Alzam kepada Rain sambil tersenyum.
Dan senyuman tulus dari Alzam menular kepada Rain, karena dia juga membalas senyuman dari Alzam.
Ketika Rain dan Alzam sedang saling berbincang, tiba-tiba Malik menyela pembicaraan mereka.
" Tuan Rain, sungguh saya juga merasa sangat senang sekali melihat perubahan anda ",, kata Malik kepada Rain.
" Dan jika di ijinkan, bolehkah saya untuk pulang sekarang Tuan?? ",, kata Malik lagi kepada Rain.
__ADS_1
" Oh, tentu saja boleh Malik, sebentar ",, jawab Rain sambil mengeluarkan dompet dari saku kemeja kokonya.
" Ini, ambillah, hadiah dari saya, sebagai tanda terimakasih saya, karena kamu sudah membantu saya, dan saya akan memberikanmu cuti satu minggu Malik, ambillah ",, kata Rain sambil memberikan beberapa lembar uang kepada Malik.
Dan uang yang di berikan kepada Malik, jika di rupiahkan sebesar dua puluh juta rupiah.
" Untuk apa uang ini Tuan, dan uang ini terlalu banyak untuk saya?? ",, tanya Malik kepada Rain dengan ekspresi kebingungan.
" Ambil saja, ini sebagai tanda terimakasih dan rasa senang saya dengan perubahan saya sekarang ",, jawab Rain kepada Malik.
" Ambil saja Tuan, mungkin ini memang rejeki untuk anda sekeluarga, melalui perantara Rain ",, kata Alzam ikut menyahuti pembicaraan.
" Baik Tuan Rain, baik, terimakasih banyak atas rejeki yang anda berikan kepada saya, terimakasih ",, kata Malik dengan sangat senang sekali.
" Iya sama-sama, sekarang pulanglah, bawa saja mobil saya, dan ajaklah Keluarga kamu untuk jalan-jalan sementara waktu ",, jawab Rain kepada Malik.
" Sungguh Tuan,?? Tuan mengijinkan saya membawa mobil anda?? ",, tanya Malik masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
" Iya sungguh ",, jawab Rain sambil mengangguk kepada Malik.
" Sekali lagi terimakasih Tuan Rain, semoga rejeki anda semakin melimpah, kalau begitu saya permisi ",, kata Malik lagi kepada Rain.
Rain hanya mengangguk saja sambil tersenyum manis kepada Malik.
Setelahnya, Malik langsung segera pulang ke rumahnya menggunakan mobil milik Rain, dan dia sudah tidak sabar ingin segera memberikan rejeki yang di dapatkannya itu dari Rain kepada istri dan juga anak-anaknya.
Sepeninggalan dari Malik, Alzam lalu mengajak Rain untuk duduk di sofa yang tadi dia duduki.
Dan ketika Alzam melihat cara berjalan Rain, yang yaaa kalian tahu sendirilah bagaimana cara berjalannya laki-laki yang baru saja di khitan.
Alzam terus tersenyum supaya dia tidak kelepasan mengeluarkan suara tawanya.
" Aku tidak mau mentertawakanmu Rain, hanya saja aku jadi teringat di waktu aku kecil dulu ketika selesai di khitan ",, kata Alzam kepada Rain sambil tertawa pelan.
Ketika Alzam dan Rain sedang berbincang seperti itu, tiba-tiba pandangan mereka berdua teralihkan dengan kedatangan Syahlaa bersama Zarina yang baru saja ke luar dari dalam kamar.
Syahlaa yang melihat penampilannya Rain yang sudah berubah, dia begitu sangat terkejut sekali, bahkan Syahlaa sangat pangling sekali dengan perubahan barunya Rain.
" Kak Rain?? ",, kata Syahlaa kepada Rain.
" Iya Syahlaa, aku Rain, dan sekarang kita sama, aku sudah memeluk Agama Islam sama seperti mu ",, kata Rain kepada Syahlaa sambil tersenyum.
" Sungguh?? ",, kata Syahlaa dengan ekspresi yang terlihat benar-benar sangat bahagia sekali.
" Iya, kamu dan Afnan, tolong ajari aku untuk menjadi seorang muslim yang sejati dan bisa membimbing Faiha untuk ke depannya nanti ",, kata Rain kepada Syahlaa dan Alzam.
" Apakah Kakak bersungguh-sungguh ingin menikahi Faiha?? ",, goda Syahlaa sambil duduk di sofa sebelah Alzam.
Belum sempat Rain menjawab, tiba-tiba mereka mendengar perkataan dari Zarina.
" Apakah Paman adalah Paman Rain?? ",, tanya Zarina kepada Rain.
" Iya sayang, ini Paman, bagaimana penampilan dari Paman?? ",, jawab Rain kepada Zarina.
" Salung yang di pakai Paman warnanya milip punya Ayah ",, jawab Zarina dengan sangat plos sekali.
Rain, Alzam dan juga Syahlaa, langsung saja tertawa mendengar jawaban dari Zarina tadi.
__ADS_1
Dan tidak terasa juga makan malam pun tiba, mereka semua di meja makan itu membicarakan soal kisah cintanya Rain bersama Faiha.
Syahlaa banyak bertanya kepada Rain tentang perasaannya kepada Faiha, namun ketika sedang asik-asiknya berbincang.
Tiba-tiba pandangan mereka semua teralihkan ke arah ponsel milik Alzam, yang sedang berdering dengan sangat kencang sekali.
Baru saja di bicarakan, orang yang sedang menjadi topik pembicaraan mereka sedang menelpon Alzam.
" Assalamu'alaikum Faiha ",, kata Alzam sambil melirik Rain.
Rain yang mendengar Alzam memanggil nama Faiha, dia langsung saja menyuruh mengloudspeaker panggilan tersebut.
Alzam langsung saja menurut dengan perkataan dari Rain, dan akhirnya Syahlaa pun juga ikut mendengar semua perkataan dari Faiha kepada Alzam.
" Wa'alaikumussalam Kak ",, jawab Faiha kepada Alzam.
Dan suara Faiha terdengar sangat jelas sekali, jika dia sedang menangis.
" Kamu menangis Faiha?? ",, tanya Alzam kepada Faiha.
Rain dan Syahlaa pun sampai sangat fokus sekali mendengarkan suara ponsel yang di letakkan di atas meja itu.
Sampai-sampai mereka semua tidak mempedulikan Zarina yang sedang asik bermain sendiri dengan bonekanya di samping Syahlaa.
Faiha bukannya menjawab perkataan dari sang Kakak, dia tidak sengaja malah menangis lagi, karena tidak kuat menahan rasa sesak di dada.
Rain yang mendengar Faiha menangis, hatinya terasa sangat teriris sekali.
" Kamu kenapa menangis Fai, cerita sama Kakak, siapa tahu Kakak bisa membantu kamu ",, kata Alzam kepada Faiha.
" Abi Kak, Abi sudah tahu jika Faiha mencintai Tuan Rain ",, kata Faiha kepada Alzam.
Sayang sekali, Rain belum banyak mengerti bahasa Indonesia, andai Rain mengerti, pasti saat ini hatinya akan berbunga-bunga mendengar Faiha ternyata mencintainya.
Dan untuk lebih meyakinkan lagi aktingnya, Alzam berpura-pura terkejut mendengar jawaban dari Faiha.
" Apaa,!! kamu mencintai Tuan Rain Fai?? ",, kata Alzam kepada Faiha.
Syahlaa yang melihat sang suami sedang berakting, dia langsung memutar bola matanya, karena menahan rasa gemas.
" Iya Kak, maafkan Fai, Fai tidak bisa menahan rasa ini, walau Tuan Rain terlalu dewasa untuk Fai ",, jawab Faiha dengan jujur kepada Alzam.
" Ok, kamu harus bercerita nanti kepada Kakak jika Kakak sudah pulang, sekarang kamu cerita kepada Kakak, apa yang membuatmu menangis sekarang?? ",, kata Alzam kepada Faiha.
Walau Rain masih belum mengerti, namun dia sangat serius sekali mendengarkan setiap kalimat yang di ucapkan oleh Alzam maupun Faiha.
" Abi juga sudah tahu, jika Tuan Rain sudah melamar Fai, dan Fai menerimanya Kak ",, jawab Faiha kepada Alzam.
" Abi tidak setuju Kak, dan sekarang Abi ingin menjodohkan Fai dengan salah satu Pengurus Pondok yang ada di sini, Fai tidak mau Kak, Fai tidak mau, tolong Kakak, bantu Fai untuk berbicara kepada Abi ",, lanjut lagi cerita dari Faiha sambil menangis.
Syahlaa dan Alzam, sangat terkejut sekali mendengar cerita dari Faiha, yang akan di jodohkan dengan salah satu Pengurus Pondok Pesantren.
Alzam dan Syahlaa, sampai reflek langsung saling pandang, dengan tatapan yang membuat Rain menjadi sangat penasaran sekali, dengan apa yang sebenarnya di katakan oleh Faiha tadi.
Alzam terdiam sejenak, karena dia tidak tahu mau menjawab apa kepada sang adik, sebab dia benar-benar merasa sangat terkejut sekali mendengar cerita dari Faiha tadi.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
__ADS_1
...***TBC***...