DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
ANFAL AGAIN


__ADS_3

Suasana di dalam ruang perawatan Papa Fransisco masih cukup mencekam.


Mencekam bukan karena ada hantu, melainkan karena hati, perasaan dan pikiran mereka semua yang sedang di kuasai amarah serta kesedihan yang cukup mendalam.


Terutama untuk Mama Ingrid, karena Mama Ingrid masih sedikit tidak percaya, dengan cerita yang tadi baru saja dia dengar dari sang suami mengenai masa lalunya, yang dulu pernah menabrak Ayah kandungnya Syahlaa hingga meninggal, namun tidak mau bertanggung jawab.


Mama Ingrid setelah mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di dalam hatinya tentang kelakuan sang anak dan sang suami, dia saat ini memilih diam.


Diam untuk meredakan rasa sedih dan marah yang tengah di rasakannya.


Sedang untuk Ezio sendiri, yang tahu jika sang Mama sedang marah kepadanya, dia juga memilih diam, karena Ezio tidak berani mengajak berbicara sang Mama terlebih dahulu.


Ezio memilih bertanya kepada sang Papa saja tentang keadaannya sekarang, walau sang Papa menjawab dengan sedikit kesusahan dan kurang jelas, karena mulutnya sedikit susah untuk dia gerakan.


Tapi setidaknya, Ezio masih mengerti dan mendengar kata demi kata yang di ucapkan oleh sang Papa.


" E zi o, maa afkan Pa pa, karena Pa pa, Ke kelu arga ki ta jadi be ran takan ",, kata Papa Fransisco dengan kesusahan berbicara.


" Iya Pa, ini tidak sepenuhnya salah Papa, ini juga salah Ezio, andai saja dulu Ezio mau mengakui juga kesalahan yang sudah Ezio perbuat, mungkin sekarang tidak seperti ini ceritanya ",, jawab Ezio kepada Papa Fransisco.


" Tapi Papa tenang saja, saat ini Ezio sedang berusaha meminta maaf kepada Syahlaa dan ingin bermain lagi bersama Zarina, walau Zarina tidak bisa Ezio dapatkan hak asuhnya, setidaknya dia tidak membenci Ezio ",, lanjut lagi perkataan dari Ezio kepada sang Papa.


Mama Ingrid yang sedang berdiri di dekat jendela dan berdiam diri membelakangi mereka semua, tapi dia masih mendengar dengan jelas percakapan antara Ezio dan Papa Fransisco.


Begitu juga dengan Lionel, yang masih setia berdiri di di samping Ezio, yang sedang berbincang dengan Papa Fransisco.


" Anda tenang saja Tuan Fransisco, saya sebagai sahabatnya Ezio, akan selalu membantu dia untuk menemukan keberadaannya Isabella dan Zarina ",, kata Lionel yang ikut berbicara.


" Bukannya mereka juga ada di rumah sakit ini, kenapa kalian ingin mencari keberadaannya mereka?? ",, kata Mama Ingrid yang tiba-tiba ikut menyahuti perkataan dari Lionel.


Mendengar Mama Ingrid ikut berbicara, namun dengan posisi yang masih sama membelakangi mereka semua, membuat atensi mereka bertiga langsung teralihkan kepada Mama Ingrid.


" Apa maksud dari perkataan kamu Lionel,?? kenapa kamu diam saja?? ",, kata Mama Ingrid sambil berbalik badan menghadap ke tiga laki-laki itu.


Lionel sebelum menjawab perkataan dari Mama Ingrid, dia langsung saling pandang ke arah Ezio yang ternyata sedang menatap ke arahnya.


" Mereka sudah pergi dari rumah sakit ini Ma, tanpa sepengetahuan dari Ezio ",, kata Ezio kepada Mama Ingrid.

__ADS_1


Baru saja Ezio selesai menjawab perkataan dari Mama Ingrid, tiba-tiba telinga mereka semua mendengar ada orang yang sedang sesak nafas, dan itu ternyata Papa Fransisco yang terkejut dan membuat jantungnya menjadi anfal lagi.


Mama Ingrid, Ezio, dan juga Lionel, langsung saja memanggil Dokter, dengan memencet tombol darurat yang ada di situ.


Walau masih merasa marah dengan sikap dari sang suami, tapi Mama Ingrid tetap tidak tega dan merasa bersedih melihat keadaan dari Papa Fransisco.


" Papa bertahanlah, jangan seperti ini terus Pa ",, kata Mama Ingrid kepada Papa Fransisco yang sedang sesak nafas.


Dan tidak berapa lama, Dokter yang mereka panggil pun akhirnya datang juga.


Semua orang langsung saja di suruh untuk ke luar sebentar oleh para asisten Dokter.


Karena Dokter dan para petugas tenaga medis lainnya, ingin memeriksa keadaan dari Papa Fransisco, yang tiba-tiba anfal lagi, sebab mendengar kabar jika Syahlaa dan Zarina sudah menghilang dari rumah sakit yang sama dengannya.


Ezio, Mama Ingrid dan juga Lionel, masih setia menunggu di depan ruangan dengan pikiran yang sangat cemas sekali.


Dan Ezio yang melihat sang Mama sedang menangis bersedih dalam diamnya, dia langsung saja mencoba mendekati sang Mama.


Selama ini Ezio tidak merasa begitu dekat dengan sang Mama, namun semenjak ada masalah demi masalah yang terjadi akhir-akhir ini di dalam Keluarganya, membuatnya menjadi dekat dengan sang Mama maupun sang Papa.


" Ma, tenanglah, jangan menangis lagi seperti ini, Ezio sedih melihatnya ",, kata Ezio kepada sang Mama.


Ezio tidak bisa memaksa sang Mama untuk menjawab perkataannya, sebab dia mengakui sendiri jika dia ada andil besar dalam semua masalah yang sedang terjadi.


Akhirnya, mereka bertiga saling pada diam dengan pikiran mereka masing-masing, ketika Ezio mengajak berbicara sang Mama namun tidak ada respon sama sekali.


Dan setelah menunggu sekitar tiga puluh menit lamanya, para tenaga medis yang menangani Papa Fransisco pun, akhirnya keluar juga dari dalam ruang perawatan.


Mama Ingrid dan Ezio langsung saja segera mendekat ke arah sang Dokter, untuk bertanya tentang keadaan dari Papa Fransisco.


" Dokter, bagaimana keadaan dari suami saya?? ",, tanya Mama Ingrid kepada sang Dokter.


" Keadaan dari Tuan Fransisco sedikit mengkhawatirkan Nyonya, Tuan, karena dia terkena serangan jantung untuk ke dua kalinya, dan dia saat ini kami nyatakan koma ",, jawab sang Dokter kepada Mama Ingrid.


Langsung menangislah Mama Ingrid, mendengar jawaban dari Dokter yang begitu mengejutkannya.


" Apakah tidak ada harapan untuk Papa saya sembuh kembali Dokter?? ",, tanya Ezio kepada Dokter tersebut.

__ADS_1


" Ada Tuan, tapi tipis, sebab jantung dari Tuan Fransisco sudah sangat lemah sekali ",, jawab Dokter itu kepada Ezio.


" Berikan perawatan yang terbaik untuk penyembuhan dari Papa saya Dokter, dan saya akan membayar berapapun biayanya ",, kata Ezio kepada sang Dokter.


" Baik Tuan Ezio, dan maaf untuk sementara waktu, Tuan Fransisco tidak bisa ditunggui dulu, karena kami akan melakukan observasi terhadap penyakit jantungnya ",, kata Dokter itu kepada Ezio dan masih di dengar oleh Mama Ingrid maupun Lionel.


" Iya Dokter tidak apa-apa, yang terpenting Papa saya sembuh dulu ",, kata Ezio kepada sang Dokter.


Dokter itu hanya mengangguk ramah serta tersenyum manis saja menanggapi Ezio.


Setelahnya, sang Dokter berpamitan pergi kepada Ezio dan lainnya untuk melanjutkan lagi pekerjaannya yang lain.


Ezio setelah kepergian dari sang Dokter, dia langsung saja duduk termenung dengan segala pikiran yang sedang memenuhi otaknya.


Dan Lionel yang melihatnya, dia pun langsung ikut duduk di samping Ezio.


" Yang sabar bro, maafkan aku, karena aku tadi keceplosan berbicara tentang Isabella dan Zarina ",, kata Lionel kepada Ezio.


" Iya, tidak apa-apa ",, jawab Ezio kepada Lionel.


" Aku yakin kamu pasti bisa dan kuat melewati semua masalah mu saat ini ",, kata Lionel kepada Ezio.


" Aku bisa melewati ini semua, tapi ...... ",, jawab Ezio menjeda perkataannya.


" Tapi apa Ezio?? ",, tanya Lionel kepada Ezio.


" Emm, Lion, bolehkah aku meminjam uang kamu dulu untuk pengobatannya Papa, karena saat ini keuanganku sedang tidak stabil ",, jawab Ezio kepada Lionel.


" Kamu kenapa malu-malu Ezio untuk meminjam uang kepadaku, sudah kamu tenang saja, untuk biaya pengobatan dari Papa kamu, aku semua yang akan menanggungnya, dan kamu bisa mengembalikannya nanti jika kamu sudah ada uang lagi ",, kata Lionel sambil merangkul pundak Ezio.


Ezio langsung saja tersenyum tipis sambil mengucapkan terimakasih kepada Lionel.


Sedangkan Mama Ingrid, dia memilih pergi menyendiri, setelah kepergian dari sang Dokter tadi tanpa berpamitan kepada Ezio terlebih dahulu.


Dan Ezio yang melihatnya, dia tidak mau banyak bertanya atau pun mencoba mencegah, karena pikir Ezio, jika sang Mama sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.


Dan jika sudah tenang, Ezio yakin Mama Ingrid akan kembali lagi menunggu Papa Fransisco, yang sedang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.

__ADS_1


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...


...***TBC***...


__ADS_2