
Hari berganti waktu berlalu tanpa terasa kini usia kandungan Ayla sudah memasuki usia 7 bulan.
Di kediaman keluarga Erlangga kini tengah di adakan acara syukuran 7 bulanan, acara yang diadakan cukup sederhana, dan hanya dihadiri oleh para keluarga terdekat, sahabat dan para tetangga sekitar lingkungan rumah tersebut. Ayla dan Al pun tidak lupa juga mengundang beberapa anak yatim dan kaum dhuafa.
Al yang tidak ingin membuat isterinya lelah tidak merasa keberatan jika acara sengaja dibuat sesederhana mungkin yang hanya menggelar pengajian saja.
Beruntung mama Ambar juga tidak mempermasalahkan hal itu dia tetap mendukung keputusan anak dan menantunya dalam menggelar acara 7 bulanan kehamilan Ayla
Meskipun acaranya sederhana tapi semua berjalan dengan lancar dan khidmat.
Selesai acara Al langsung menyuruh Ayla untuk beristirahat sedangkan Al dibantu dengan para kerabat lainnya membereskan rumah yang sedikit berantakan selepas acara digelar
Mina dan Sasa pun ikut membantu beres-beres begitu juga dengan Dira yang memang setelah kejadian itu menjadi sedikit akrab dengan keduanya terutama pada Ayla.
" Aaaa..!"
Brugh.. Prangg....
Seorang gadis yang sedang membawa nampan hampir saja terjerabab ke lantai saat tubuh kecilnya menabrak seorang pria bertubuh tinggi tegap yang kini ada di hadapannya.
Beruntung pria itu dengan cepat menahan pinggangnya dengan tangan kekarnya hingga gadis itu tidak mencium lantai yang pastinya akan terasa sakit
" Ma...Maaf, maafkan sa.. saya, saya tidak sengaja, saya tadi kesandung kar_pet!" ucapan gadis itu tercekat saat netra hitam itu kembali menatapnya tajam.
Lagi-lagi netra itu bertemu, degup jantung Dira seperti sedang lari maraton, matanya membelalak ketika manik hitam itu tak lepas menyorot tajam kepadanya.
Dira dengan cepat memberi jarak lalu menundukkan pandangannya begitu malu dan juga takut saat mata itu terus menatapnya seperti akan mengulitinya hidup-hidup.
" Maafkan saya pak, sungguh saya tidak sengaja!" ucap Dira membungkuk dan menundukkan pandangannya
" Dasar ceroboh!" ucap pria itu lalu menyentil kening Dira sebelum pergi meninggalkan Dira yang tercengang
Dira mengusap keningnya yang sedikit berdenyut dan tanpa sadar bibir gadis itu pun tertarik keatas
" Duh jantung gue kenapa jedag-jedug gini, jangan sampai ya tuhan, gue enggak boleh banyak bermimpi terlalu tinggi, sadar Dira sadar!" gumam Dira lalu memungut nampan yang sempat terlempar
Dira kini berada di dapur membantu bi Nani membersihkan piring dan perabotan yang kotor " Eh neng enggak usah biar bibi aja, ini udah tugas bibi!" ucap Bi Nani saat Dira ingin membantunya
" Enggak apa-apa bi dari pada di dalam saya enggak ngapa-ngapain mending di sini aja bantuin bibi" ucap Dira
" Tapi neng kan capek sudah dari pagi bantuin bibi" ucap bi Nani
" Enggak apa-apa bi, saya malah senang kok bisa bantu-bantu!" ucapnya
" Loh kamu sedang apa disini?" tanya mama Ambar sedikit ketus.
Mama Ambar memang masih tidak suka dengan Dira sejak tahu jika gadis itu pernah bersikap tidak baik dengan menantunya
" Ma..Maaf nyonya saya hanya bantu-bantu disini, saya tidak bermaksud apa-apa" jawab Dira menundukkan pandangannya merasa sedikit takut pada ibu dari atasannya itu
" Sudah tidak usah, sebaiknya kamu pul_!" ucapannya tiba-tiba terpotong
" Mah!" ucap Ayla lembut memotong ucapan mama Ambar seraya melingkarkan tangan di lengannya
__ADS_1
" Sayang!" Mama Ambar menoleh
" Duduk dulu yuk mah!" ajak Ayla menggiring mama Ambar ke arah kursi meja makan lalu duduk di sana
Keduanya kini sudah duduk dan saling berhadapan " Mah, Dira itu sudah banyak membantu Ayla loh dalam mempersiapkan acara ini dan dia juga sudah banyak berubah, Dira sebenarnya gadis yang baik mah, hanya saja karena pergaulan teman yang salah membuatnya seperti itu, dan jika bukan karena Dira mungkin juga Ayla enggak ada di sini sama mamah, secara tidak langsung Dira sudah menolong Ayla saat kejadian itu, jadi itu bukan kesalahan Dira mah, mama mau ya memaafkan Dira!" ucap Ayla
Mama Ambar terdiam lalu menatap ke arah Dira yang menunduk merasa sangat bersalah
Dan Dira yang mendengar ucapan Ayla tidak kuasa menahan air matanya agar tidak jatuh, rasanya sungguh malu jika dia mengingat kembali perbuatannya yang begitu jahat terhadap Ayla.
Dira lalu memberanikan diri untuk menghampiri Ayla dan mama Ambar
" Maafkan saya nyonya, Ayla. saya minta maaf atas semua sikap buruk saya terhadap Ayla selama ini, saya menyesal sungguh menyesal" ucap Dira seraya menunduk seraya meremas jari jemarinya ketika sudah berada di hadapan Ayla dan mama Ambar
Ayla tersenyum, Dira sudah mengakui kesalahannya dan mau meminta maaf saja itu sudah luar biasa karena banyak orang yang sudah tau melakukan kesalahan tapi gengsi untuk mengakui kesalahannya apalagi meminta maaf
" Sudahlah Dira lupakan semuanya, itu sudah berlalu dan gue tahu loe itu sebenarnya baik hanya salah berteman aja" ucap Ayla
" Terima kasih banyak Dira, loe dari pagi udah banyak banget membantu acara ini, udah sebaiknya loe istirahat aja sekarang !" ucap Ayla
Mama Ambar menghela napas panjang setelah itu beranjak dari duduknya
" Jangan panggil saya nyonya, panggil tante saja dan maaf jika tadi kata-kata saya kasar" ucap mama Ambar
" Tidak apa-apa nyonya!"
" Tante!" Tekan Ambar
" Iya, tante"
" Tidak apa-apa tante, sebentar lagi juga selesai" ucap Dira
" Ya sudah kalau begitu saya mau melihat kedepan dulu" ucap Ambar lalu melangkah pergi
" Dira aku ke kamar dulu ya" ucap Ayla
" Iya" sahut Dira setelah itu berbalik badan lalu kembali membantu bi Nani dan bi Atun
Seseorang yang sedari tadi diam-diam tengah memperhatikan Dira, tanpa sadar ia pun tersenyum melihat begitu banyak perubahan pada wanita itu
Selesai membantu bi Nani dan bi Atun Dira pergi ke ruang tamu di sana semua orang sedang berkumpul termasuk Mina dan Sasa yang kini tengah asik bercengkrama dengan Bu Dina dan juga mba Nia.
Paman Emir yang juga hadir bersama Laura dan Mira kini tengah berpamitan kepada mama Ambar dan tuan Kusuma.
Mira dan Laura kini tidak bisa berkutik lagi hanya bisa mengikuti apa yang diperintahkan paman Emir karena jika mereka berulah lagi dan sampai menyakiti Ayla paman Emir tidak akan segan-segan lagi mengusir mereka berdua bahkan jika perlu akan menjebloskan keduanya ke dalam penjara.
Al yang mengetahui paman Emir hendak pulang, langsung bergegas pergi memanggil isterinya yang berada di dalam kamar memberitahu kalau paman dan bibinya mau berpamitan pulang
Ceklek
Al membuka pintu kamar dan dilihatnya sang isteri sedang duduk di atas tempat tidur sambil bersandar
" Sayang!" ucap Al saat masuk ke dalam kamar
__ADS_1
" Ada apa mas?" tanya Ayla
" Sayang paman dan bibi mu mau pamit pulang" ucap Al
Ayla yang mendengar pamannya akan segera pulang langsung memberingsut turun dari atas tempat tidur
" Hati-hati sayang!" ucap Al yang melihat isterinya begitu tergesa-gesa
" Iya maaf mas!" ucap Ayla seraya cengengesan
Al meraih tangan Ayla lalu menggandeng tangannya berjalan keluar kamar
Setibanya di lantai bawah Ayla langsung menghampiri pamannya
" Paman!" panggil Ayla
Paman Emir yang mendengar suara sang keponakan langsung menoleh ke sumber suara
" Ayla!" ucapnya
" Kenapa buru-buru banget sih paman pulangnya?" tanya Ayla yang masih kangen dengan pamannya
" Paman masih ada kerjaan, bibimu juga kan sekarang sibuk dengan toko kelontongnya enggak bisa jika ditinggal lama-lama" sahut Paman Emir
" Ya sayang sekali paman padahal Ayla masih kangen sama paman" ucapnya
" Lain kali kita bisa main ke rumah pamanmu sayang" ucap Al
Paman Emir tersenyum, merasa bersyukur Ayla sudah mendapatkan kebahagiaannya. suami yang begitu mencintainya juga keluarga yang begitu tulus menyayanginya
" Terima kasih nak Al sudah memberikan kebahagiaan kepada Ayla, titip Ayla tolong jangan sakiti dia dan jangan pernah membuatnya menangis " Ucap paman Emir pada Al
" Paman tidak usah khawatir, insyaallah saya akan berusaha semampu saya untuk membahagiakan isteri saya" ucap Al
" Terima kasih, kalau begitu paman pamit pulang dulu!" ucap paman Emir
Mira tidak banyak bicara dia hanya tersenyum yang dipaksakan, melihat keponakan dari suaminya yang kini sudah hidup bahagia bahkan bergelimang harta membuatnya sungguh iri begitu juga yang dirasakan oleh Laura tapi untuk berbuat lebih pun mereka tidak bisa karena hidupnya terus diawasi oleh para anak buah Al
Ayla menyalami punggung tangan pamannya lalu juga bibinya
Mira hanya bisa mendengus kesal melihat sikap Ayla yang masih saja sok baik dimatanya
Sama seperti ibunya Laura juga merasakan hal yang sama, rasa bencinya terhadap Ayla semakin menjadi apalagi setelah melihat sikap keluarga Al yang begitu tulus menyayanginya, wanita itu pun merasa sangat iri terlebih setelah dia tahu kalau saat ini dirinya tengah berbadan dua tapi tidak ada sosok suami yang mendampinginya.
Mira belum menyadari kehamilan sang putri karena sebisa mungkin Laura menutupinya dengan cara memakai pakaian yang lebih longgar
Melihat perhatian Al yang begitu besar terhadap Ayla membuat Laura semakin iri dibuatnya dengan cepat ia langsung keluar begitu saja tidak ingin berlama-lama melihat kemesraan pasangan suami isteri itu yang membuatnya semakin panas saja
Al mengajak sang isteri kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dikendarai sang paman sudah pergi
" Ayok sayang kita masuk!" ucap Al merangkul pinggang sang isteri
" Iya mas!"sahut Ayla
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam rumah lalu bergabung dengan yang lainnya yang kini tengah asik bercengkrama di ruang keluarga
Tapi tidak dengan seorang gadis yang kini malah terlihat tengah meremas jemari tangannya saat netranya menatap sosok pria yang belum lama menjadi pusat perhatiannya kini tengah asik berbicara dengan seorang wanita dan mereka terlihat begitu akrab dan juga mesra