
Alzam dan Syahlaa beserta Zarina yang sedang sarapan di ruang makan, dan melihat kedatangan Rain dengan wajah cerah dan senyum merekah.
Membuat Alzam dan Syahlaa menjadi menatap curiga ke arah Rain.
" Sepertinya ada yang sedang merasa bahagia ",, sindir Alzam kepada Rain.
Rain yang sedang meminum air putih, dia langsung saja tersenyum dengan penuh arti, mendengar godaan dari Alzam tadi.
" Kamu jangan sok tahu deh Afnan, aku sudah telat nih, aku berangkat kerja dulu ya, kamu jagain Syahlaa sama Zarina di rumah ",, kata Rain kepada Alzam.
" Lho Kakak tidak mau sarapan dulu bersama kita?? ",, tanya Syahlaa kepada Rain.
" Tidak, nanti di kantor saja ",, jawab Rain kepada Syahlaa.
" Tunggu Rain ",, cegah Alzam kepada Rain.
Rain yang sudah melangkahkan kakinya ingin ke luar dari dalam ruang makan, dia langsung saja menghentikan langkah kakinya, ketika di panggil oleh Alzam.
" Iya, ada apa Afnan,?? apa kamu mau memberikanku uang saku ",, jawab Rain sambil menggoda Alzam.
" Kamu ini, apa tidak malu sama Zarina berbicara seperti itu kepadaku?? ",, kata Alzam kepada Rain.
Dan Rain langsung saja tertawa cukup keras sekali mendengar jawaban dari Alzam.
" Ada apa, cepatlah aku sudah telat ",, kata Rain kepada Alzam.
" Kamu mau naik mobil apa, kan mobil kamu masih di bawa sama Malik, ini pakai mobilku saja ",, kata Alzam kepada Rain.
" Tidak perlu, aku sudah pesan taksi tadi, dan nanti aku pulang akan memakai mobilku yang lain ",, jawab Rain kepada Alzam.
" Kamu pakai saja mobilnya jika ingin jalan-jalan bersama Syahlaa atau Zarina, tapi tetap hati-hati, karena aku yakin Tuan Ezio masih gencar mencari kalian semua ",, kata Rain lagi kepada Alzam.
" Iya, ok baiklah, hati-hati di jalan kalau begitu ",, jawab Alzam kepada Rain.
" Assalamu'alaikum ",, salam Rain sebelum dia benar-benar berlalu pergi dari dalam rumah.
Dan Alzam beserta Syahlaa, tentu saja langsung menjawab salam dari Rain tadi.
Sepeninggalan dari Rain, Alzam dan Syahlaa langsung saja melanjutkan sarapan mereka yang sedikit tertunda tadi.
Meninggalkan Alzam sekeluarga dengan segala aktifitasnya di pagi hari.
Di Negara yang sama, lebih tepatnya untuk Ezio, saat ini dia baru saja sampai di rumah sakit tempat sang Papa sedang di rawat.
Dan semalam, Ezio memilih untuk tidur di dalam kamar apartemen pribadinya.
Sudah lama Ezio tidak menginjakkan kakinya ke dalam apartemennya itu dan seingat dia terakhir kali Ezio datang ke apartemennya, ketika dia memp3rk054 Syahlaa dulu.
Dan di dalam apartemen itu, setiap kejadian masih sangat membekas sekali di ingatan, ketika Ezio semalam masuk ke dalam apartemen miliknya.
Ezio bahkan masih menyimpan file rekaman dirinya, ketika sedang memp3rk054 Syahlaa dulu.
Di dalam kamarnya, Ezio seperti mengenang kelakuan 6374tnya dulu dengan Syahlaa.
__ADS_1
Dia memutar rekamannya dengan Syahlaa dulu, dan saat ini Ezio melihatnya dengan sangat sadar sekali, jika pada saat itu, memang dirinyalah yang memaksa dan mengancam Syahlaa untuk melayaninya, hingga Syahlaa tidak bisa berkutik sama sekali.
Gara-gara rekaman CCTV itu, semalam Ezio menjadi tidak bisa tidur sama sekali, dan pagi ini dia sudah harus segera datang ke rumah sakit, karena pagi-pagi sekali, dia mendapat telepon dari Mama Ingrid, jika kesehatan dari sang Papa semakin sangat menurun drastis sekali.
" Ma, bagaimana dengan keadaannya Papa?? ",, tanya Ezio ketika sudah sampai di depan Mama Ingrid.
" Tidak tahu, Papa kamu masih berada di dalam sana, masih di tangani oleh Dokter, Ezio ",, jawab Mama Ingrid kepada Ezio.
Baru saja Mama Ingrid selesai menjawab pertanyaan dari Ezio, tiba-tiba saja pintu ruang perawatan Papa Fransisco terbuka dari dalam.
Ezio dan Mama Ingrid, langsung saja segera berjalan mendekati sang Dokter untuk bertanya tentang keadaannya Papa Fransisco.
" Dokter, bagaimana keadaan dari Papa saya?? ",, tanya Ezio kepada sang Dokter.
" Dia sudah sadar Tuan, hanya saja ...... ",, jawab sang Dokter sengaja menjeda perkataannya.
" Hanya apa Dokter?? ",, tanya Mama Ingrid kepada Dokter di depannya.
" Kemungkinan besar harapan hidup Tuan Fransisco tidak lama, karena jantungnya benar-benar sudah sangat lemah sekali ",, jawab sang Dokter kepada Mama Ingrid dan masih di dengar oleh Ezio.
Ezio dan Mama Ingrid merasa sangat sedih sekali mendengar jawaban dari sang Dokter.
" Dokter, bolehkah kami untuk masuk ke dalam, karena kami sangat ingin sekali melihat kondisinya Papa?? ",, tanya Ezio kepada Dokter itu.
" Boleh Tuan, tapi harus satu persatu, dan jika Tuan Fransisco meminta sesuatu kepada kalian, tolong segera di penuhi, karena siapa tahu dengan di penuhi permintaannya, ada semangat dari Tuan Fransisco untuk sembuh ",, jawab sang Dokter kepada Ezio.
" Baik Dokter, terimakasih atas penjelasannya ",, kata Ezio kepada Dokter itu.
Mama Ingrid dan Ezio hanya mengangguk dan tersenyum formal saja kepada Dokter itu.
" Ma, Mama atau Ezio dulu yang masuk ke dalam?? ",, tanya Ezio kepada sang Mama.
" Mama dulu saja Ezio, karena Mama sudah sangat ingin sekali melihat keadaan dari Papa kamu ",, jawab Mama Ingrid kepada Ezio.
" Baiklah ",, jawab Ezio kepada Mama Ingrid.
Baru saja Mama Ingrid, ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang perawatan Papa Fransisco, tiba-tiba saja pandangannya dan pandangan dari Ezio teralihkan ke arah orang yang baru saja ke luar dari dalam kamar perawatan sebelah.
Dan orang itu adalah Papa Ducan, Mama Julia, dan satu orang laki-laki yang terlihat lebih tua dari Ezio.
Papa Ducan dan yang lainnya sudah pada tahu cerita dari Klara, jika Papa Fransisco sedang di rawat di ruang sebelah mereka.
Dan saat ini, Papa Ducan sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter yang menanganinya, sebab Papa Ducan kondisinya dinyatakan sudah berangsur membaik.
Laki-laki yang bersama Papa Ducan itu adalah suaminya Klara yang sekarang, dan dia sudah tahu jika laki-laki yang sedang di lihatnya saat ini adalah mantan suami dari Klara.
Mencoba tidak mau menanggapi, dan Mama Ingrid sudah tidak sabar ingin segera melihat sang suami, dia langsung saja berlalu masuk ke dalam ruang perawatan Papa Fransisco, tanpa mau menyapa Keluarga mantan besannya itu.
Sedangkan Ezio, dia memilih diam saja sambil terus menatap Keluarga dari mantan istrinya.
Begitupun dengan Keluarga Galaxy, Papa Ducan langsung saja mengajak pergi istri dan menantunya, untuk pergi dari situ dan tidak mau menghiraukan Ezio sama sekali.
Papa Ducan sudah lelah bertengkar dengan Ezio, dan dia sedang membutuhkan ketenangan, jadi dia memilih pergi saja dari hadapan Ezio.
__ADS_1
Dulu Keluarga, sekarang musuh, dulu dekat sekarang menjauh, dulu di benci sekarang di cari, dan dulu di sakiti sekarang dia yang akan mengobati.
Garis takdir sudah di tetapkan, dan roda itu terus berputar, tidak selamanya orang akan berada di atas, dan tidak selamanya pula orang akan terus berada di bawah.
Dan di situ tidak ada Klara, karena dia sedang menyambut kedatangan dari sang Papa di rumah, serta juga mempersiapkan masakan untuk menyambut kepulangan sang Papa dari rumah sakit setelah bisa melewati masa kritisnya.
Setelah kepergian dari Keluarga dari mantan istrinya, Ezio memilih diam duduk di kursi tunggu, menunggu sang Mama selesai berbicara dengan sang Papa.
Tidak lama, cuma sekitar lima belas menit kemudian, Mama Ingrid sudah ke luar dari dalam ruang perawatan sang Papa.
Namun, Mama Ingrid yang ke luar sambil menangis, membuat Ezio menjadi semakin bingung dan juga khawatir sekali.
" Mama,!! Mama kenapa menangis?? ",, tanya Ezio kepada sang Mama.
" Kamu masuklah Ezio, nanti kamu akan tahu, hal apa saja yang akan di katakan oleh Papa kamu ",, jawab Mama Ingrid kepada Ezio.
Tanpa banyak berbicara lagi, Ezio langsung bergegas masuk ke dalam ruang perawatan Papa Fransisco.
Banyak selang yang menempel di seluruh tubuh Papa Fransisco, dengan wajah pucat dan terlihat sedikit kurus di sertai banyak kerutan di wajah, membuat hati Ezio merasa sangat kasihan sekali ketika melihatnya.
" E e ezi o ",, kata Papa Fransisco ketika melihat Ezio.
" Iya Pa, ini Ezio ",, jawab Ezio kepada sang Papa.
" Papa ingin apa,?? Ezio akan berusaha semaksimal mungkin mengabulkan semua keinginannya Papa?? ",, tanya Ezio kepada Papa Fransisco.
" E ezi o, Pa pa cu cu ma ma u Za ri rina, Pa pa i ngin me li lihat dia sa tu ka ka li saja, se be be lum Papa me me ning ning gal du nia ",, jawab Papa Fransisco dengan sangat susah sekali berbicara.
Ezio langsung saja terdiam mendengar permintaan dari sang Papa yang entahlah, dia sendiri tidak yakin bisa mengabulkannya apa tidak.
" Baik Pa, segera Ezio akan mengajak Zarina untuk datang ke sini ",, jawab mantap Ezio kepada sang Papa.
" Te ri ri ma ka kasih E zio ",, kata Papa Fransisco kepada Ezio.
" Dan se se mua a aset Pa pa, Pa pa su sudah i ikh las jika di a atas na na ma kan I isa sa bel la ",, lanjut lagi perkataan dari Papa Fransisco kepada Ezio.
" Su su pa pa ya Za ri rina bi bisa hi hi dup de dengan la yak, dan Pa pa ju ju ga mau me mene bus ke ke sala han Pa pa yang du dulu ",, kata Papa Fransisco lagi kepada Ezio.
" Iya Pa, Ezio juga sudah tidak mempedulikan itu semua, yang terpenting Papa sehat sekarang, dan Ezio berjanji secepatnya akan membawa Zarina ke sini ",, jawab Ezio kepada Papa Fransisco.
" Ezio, ijin pergi dulu ya Pa, doakan Ezio supaya bisa segera menemukan mereka secepatnya ",, kata Ezio lagi kepada Papa Fransisco.
Dan Papa Fransisco hanya mengangguk saja kepada Ezio.
Setelah itu, Ezio pun langsung berlalu pergi dari ruang perawatan sang Papa, untuk segera mencari keberadaannya Syahlaa maupun Zarina.
Ketika Ezio sudah ke luar dari dalam ruang perawatan Papa Fransisco, dia langsung saja menyuruh sang Mama untuk menunggui sang Papa.
Dan Mama Ingrid yang sudah tahu tujuan Ezio pergi, dia mendoakan dengan tulus, supaya apa yang sedang Ezio kerjakan membuahkan hasil yang bagus.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...
__ADS_1