DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Kecanggungan Dira dan Arlan


__ADS_3

Sudah hampir satu bulan Dira berada di rumah sakit dan selama itu pula Arlan meluangkan waktunya untuk menjaga dan menemani Dira. bahkan Arlan harus bisa membagi waktunya dalam pekerjaannya, memastikan kondisi kesehatan kakek dan neneknya Dira walaupun Al sudah membayar dua orang pekerja untuk menjaga dan merawat sepasang suami isteri lanjut usia tersebut


Sasa dan Mina pun sesekali datang untuk menjenguk Dira, kesehatan gadis itupun kini sudah berangsur membaik papa Kusuma dan mama Ambar pun tidak pernah absen datang ke rumah sakit untuk memastikan perkembangan kondisi kesehatan Dira


Mereka sudah menganggap Dira seperti keluarga sendiri bahkan semua biaya pengobatan Dira sudah ditanggung sepenuhnya oleh keluarga Erlangga begitu juga dengan kebutuhan kakek dan nenek Dira selama Dira dirawat


Sementara Ayla hanya sesekali saja datang mengunjungi Dira itupun hanya sebentar, Al begitu posesif dengan kehamilan Ayla yang sudah memasuki bulannya jadi Ayla hanya boleh mengunjungi Dira saat Ayla ada jadwal cek kandungan saja.


Perutnya yang semakin besar memang sering membuatnya mudah merasa lelah jadi Al benar-benar begitu ketat dalam menjaga dan mengawasi isterinya itu.


Al bahkan sudah mempekerjakan seorang art yang bertugas khusus untuk menjaga dan memenuhi semua yang Ayla butuhkan disaat dirinya tidak berada di rumah


" Ay loe beruntung banget ya bersuamikan pak Al, terlihat banget kalau dia itu sayang dan cinta banget sama loe" ucap Dira saat Ayla tengah datang menjenguknya kebetulan hari ini Ayla ada jadwal untuk mengecek kandungannya bersama Al.


" Iya loe benar, gue merasa beruntung banget karena bisa menjadi isterinya mas Al" ucap Ayla seraya menoleh ke arah Al yang sedang sibuk membicarakan pekerjaannya dengan Arlan


" Tapi loe juga bisa kok merasakan apa yang gue rasakan" lanjutnya lagi


" Maksud loe apa ?" Dira tidak mengerti arah pembicaraan Ayla


" Masa enggak ngerti!" Ayla menujuk ke arah Arlan dengan ekor matanya


Dira mengikuti arah pandang Ayla dan seketika wajahnya berubah merona


" Apaan sih Ay, enggak jelas deh loe" Dira mengalihkan pandangannya ke sembarang arah


" Enggak usah malu gitu, udah di nyatakan cinta belum?" goda Ayla membuat Dira menjadi sedikit salah tingkah


" Ihh... Ay ngomong apa sih" Dira kesal karena Ayla semakin menggodanya


Ayla tertawa melihat Dira yang menjadi salah tingkah dan tawa Ayla tentu saja membuat kedua pria yang tadinya sibuk dengan pekerjaan kantornya menjadi mengalihkan pandangannya ke arah Dira dan Ayla


Al yang merasa penasaran dengan perbincangan keduanya pun memilih menyudahi pekerjaannya dan beranjak dari duduknya berjalan menghampiri sang isteri, dan Arlan yang juga sama penasarannya dengan atasannya itu pun ikut menghampiri dua wanita yang dulu menjadi rival kini sudah bersahabat itu.


" Sepertinya seru banget nih obrolannya" ucap Al membuat tawa Ayla seketika pudar


" Mas" Ayla menoleh ke arah Al lalu beralih kepada Arlan


Ayla menatap penuh selidik kepada Arlan membuat laki-laki itu merasa bingung dengan tatapan Ayla yang seolah sedang menghakimi dirinya


" Kenapa kamu menatapku seperti itu Ay?" tanya Arlan yang nampak bingung dengan tatapan Ayla yang tidak seperti biasanya


" Kak Arlan sudah bilang belum?" tanya Ayla membuat Dira langsung melotot menatap Ayla

__ADS_1


" Bilang? bilang apa?" tanya Arlan dengan wajah bingungnya


Ayla geleng-geleng kepala membuat ketiga orang yang berada di dekatnya mengerutkan dahinya bersamaan


" Kamu ini sebenarnya mau ngomong apa sih Ay?" tanya Arlan yang bingung dengan maksud ucapannya


" Iya, kamu tuh sebenarnya mau bicara apa sih sayang, bikin orang penasaran aja" ucap Al gemas pada isterinya itu


" Itu loh mas, aku cuma ingin memastikan aja kak Arlan sebenarnya sudah menyatakan perasaannya belum sama Dira, kasihan loh anak gadis orang di kasih harapan tanpa kejelasan, iya enggak Dira?" Ayla beralih pada Dira


Deg


Seketika degup jantung Dira berpacu sangat cepat


Dira membulatkan matanya sempurna, ucapan Ayla benar-benar membuatnya mati kutu rasanya ingin sekali ia pergi dari ruangan itu detik itu juga


" Dira Loe kok diam aja sih?" Ayla menepuk bahu Dira yang terlihat melamun


" Eh? iya apaan Ay?" Dira nampak linglung lalu garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal


Sedangkan Arlan melotot merasa gugup mendengar pertanyaan Ayla yang begitu terang-terangan membuat dirinya seketika di landa serangan senam jantung


" Sayang kamu ini, lihat tuh wajah mereka jadi gugup dan malu gitu!" ucap Al seraya menarik pinggang isterinya masuk ke dalam dekapannya


Ayla tersenyum dan mengangguk lalu berpamitan kepada Dira yang terlihat sedikit salah tingkah dengan wajah yang bersemu merah


" Dira gue pamit pulang ya, ingat kabari gue kalau sudah dapat lampu hijau, jangan grogi gitu santai aja, cinta pasti akan menemukan jalannya semoga loe mendapatkan orang yang tepat dan bisa memberi loe kebahagiaan dan jangan menolak jika kebahagiaan itu sedang merangkak naik menghampiri loe!" ucap Ayla seraya berpamitan kepada Dira


" Loe ngomong apa sih Ay, tapi gue aminkan kata-kata loe tadi, terima kasih ya Ay, semoga loe dan juga kandungan loe selalu sehat diberi kemudahan dalam melahirkan nanti" timpal Dira


" Amin" ucap Ayla dan Al bersamaan


" Terima kasih do'anya" ucap Dira


" Lan, gue pulang dulu. Gue kasih loe waktu untuk mengurus masalah pribadi loe jangan bertele-tele dan terus menerus mengulur-ulur waktu, ingat di kantor masih banyak pekerjaan yang harus segera di kerjakan kalau loe belum juga menyelesaikan masalah pribadi loe dengan terpaksa gue akan mencari orang lain untuk menggantikan posisi loe" ucap Al sedikit memberi ancaman pada Arlan


" Duh bos, jangan dong masa gue dipecat sih. iya secepatnya gue akan menyelesaikan urusan gue tapi tolong lah bos beri gue waktu lagi ya!" ucap Arlan sedikit memohon


" Oke, gue kasih loe waktu sampai besok. kalau masih belum ada kabar baik yang gue dengar dan loe masih belum bisa menyelesaikan masalah pribadi loe itu dengan terpaksa gue akan mencari pengganti loe yang bisa bertindak tegas dan berani dalam mengambil sebuah keputusan" ucap Al dengan tegas membuat Arlan dilanda kegugupan dan juga kecemasan


" Gue pulang sekarang, pikirkan ucapan gue baik-baik, karena tidak baik menunda niat baik apalagi menggantungkan perasaan gadis baik-baik" Al menepuk bahu Arlan lalu pergi bersama Ayla meninggalkan dua orang yang kini nampak begitu gugup dan menjadi salah tingkah.


Ayla hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan seraya melangkah pergi bersama suaminya, Ayla cukup terkesan dengan sikap tegas Al dalam menghadapi Arlan, pria tampan yang memiliki krisis kepercayaan diri bila sudah berada di hadapan wanita yang dia cintai

__ADS_1


Setelah Ayla dan Al pulang kini hanya tinggal Dira dan Arlan yang berada di dalam ruangan itu, entah kenapa tiba-tiba keduanya nampak begitu canggung bahkan sampai-sampai mereka tidak ada yang berani memulai pembicaraan


Arlan yang nampak gugup dan grogi pun memilih menyelesaikan pekerjaannya yang sempat di tunda sedangkan Dira sendiri lebih memilih pura-pura tidur.


Arlan sesekali menoleh ke arah Dira yang tidur dengan posisi memunggungi Arlan


Dira yang pura-pura tidur pun sebenarnya merasa penasaran dengan apa yang Ayla katakan tapi menunggu pernyataan perasaan dari Arlan membuat gadis itu mendengus kesal karena Arlan malah sibuk dengan pekerjaannya


Arlan seketika berdiri saat melihat Dira yang sedang menggantungkan kakinya di atas tempat tidur, gadis itu ingin ke kamar mandi karena tidak ingin menggangu Arlan apalagi perasaannya juga saat ini sedang tidak baik-baik saja akibat dilanda kecanggungan dan kegugupan membuat Dira memilih pergi ke kamar mandi sendiri saja


" Mau kemana?" suara bariton yang terdengar dari belakang punggungnya membuat Dira terkejut


Deg


Deg


Deg


Jantung Dira seakan ingin melompat dari tempatnya, berdegup begitu kencang sampai rasanya begitu sesak untuk bernapas


Arlan sudah beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah brankar Dira


" Selesaikan saja pekerjaan pak Arlan, saya hanya ingin pergi ke toilet" ucap Dira seraya menarik napas dalam-dalam


" Aku akan membantu mu"


Deg


Dira membulatkan matanya, entah kenapa hari ini dia merasa sedikit berbeda dari biasanya, kecanggungan malah mendominasi sikap keduanya


Dira pun dengan cepat menolak bantuan Arlan


" Tidak perlu pak, terima kasih. saya sudah bisa sendiri kok " tolak Dira secara halus


Dira berusaha untuk menahan sedikit rasa sakit di punggungnya saat turun dari atas tempat tidur dan berjalan dengan perlahan ke arah kamar mandi


Arlan yang melihat Dira sedang berjalan dengan sesekali terlihat meringis menahan sakit langsung meletakkan tangannya di kedua lututnya dan seketika Dira merasa melayang di udara


" Eh?" Dira terkejut bukan main apalagi saat posisi wajah keduanya begitu dekat


Dira yang merasa takut jatuh pun dengan spontan langsung mengalungkan tangannya di leher Arlan


Jedag.... jedug.... jedag... jedug....

__ADS_1


Jantung keduanya terdengar saling bersahut-sahutan, tatapan mata keduanya saling mengunci, bersirobok dan mendalami perasaan masing-masing sampai tanpa sadar benda kenyal keduanya pun bertemu saling bertaut penuh kelembutan, entah siapa yang memulai duluan hingga keduanya larut dalam suasana


__ADS_2