
Ayla dan Mina berjalan beriringan menuju ruangan kerja mereka dan saat sampai di depan pintu mereka berpapasan dengan Nola dan Dira
Nola menatap Ayla dengan sinis apalagi melihat penampilan Ayla yang semakin hari terlihat bertambah cantik dan berisi tidak heran jika banyak sebagian karyawan pria yang diam-diam memuja kecantikan Ayla
Nola yang sempat mendengar pujian-pujian para karyawan terhadap Ayla di lobi kantor semakin dibuat terbakar dan panas, sejak di bangku sekolah sampai kuliah semua laki-laki selalu condong menatap ke Ayla sedangkan dia hanya bisa mendengus kesal dan semakin membenci Ayla karena selalu diabaikan ditambah lagi saat magang di kantor yang sama perhatian semua orang pun seperti terpusat ke arahnya saja, Nola selalu berasumsi kalau selama ini Ayla memang sengaja mencari simpatik dan perhatian semua orang padahal pada kenyataannya Ayla hanyalah gadis biasa yang selalu bersikap ramah dan sopan kepada siapa saja hingga hal itulah yang membuat orang-orang menyukainya kecuali mereka yang iri dengan kebaikan Ayla.
" Ishhh.... enggak ada capeknya ya jadi cewek selalu aja tebar pesona cari muka sana sini biar apa coba kalau bukan ingin jadi pusat perhatian para laki-laki hidung belang atau jangan-jangan penampilannya yang sekarang karena hasil dari menggaet om-om hidung belang juga "ucap Nola seraya tertawa mengejek menatap Ayla dari ujung kepala sampai kaki
Ayla hanya menanggapi ucapan Nola dengan senyuman, rasanya malas jika pagi harinya dikotori dengan meladeni mulut unfaedah Nola.
Mina yang mendengar ocehan tak berguna Nola merasa geram ingin rasanya dia mengatakan yang sebenarnya agar si Nola si biang ribut bungkam selamanya setelah tahu siapa wanita yang baru saja dihinanya kalau Al tahu isteri tercintanya diperlakukan hina seperti itu sudah dipastikan Nola akan terhempas ke dasar jurang yang paling dalam.
" Eh cewek gatel jaga tuh mulut jangan sampai mulut loe yang pandai nyerocos gak berfaedah itu enggak bisa nyerocos lagi kalau loe tahu si_!" ucapan Mina langsung di potong oleh Ayla yang sudah merangkul bahunya
" Tidak usah di ladenin, kita disini itu untuk bekerja menyelesaikan tugas kuliah kita sebagai mahasiswi magang jadi enggak usah melakukan sesuatu yang tidak ada manfaatnya termasuk gibahin orang" Ayla menarik bahu Mina dan keduanya masuk ke dalam ruang kerja mereka.
" Assalamualaikum Sasa!" ucap Ayla saat memasuki ruangan dan hanya ada Sasa yang sudah duduk di meja kerjanya
" Wa'alaikum salam, tumben barengan ada gerangan apa nih?" tanya Sasa menyipitkan matanya
Ayla dan Mina tertawa lalu mendudukan diri di kursinya masing-masing
" Enggak ada gerangan apa-apa Sasa sayang cuma kebetulan berjodoh aja tadi ketemu di kedai bubur ayamnya pakde Indro" sahut Ayla dengan senyum yang tulus
" Iya Sa, loe sih gue ajakin enggak mau tadi nyesel deh loe enggak ikut, jadi enggak liat kan loe kalau Ayla tadi makan buburnya itu ba_"
" Iya gue tahu kalau itu sih, Ayla mah biasa kalau makan bubur ayam pakde Indro itu ba_nyak banget sampai nambah, iya kan Ay?" Sasa mengedipkan matanya lalu menggerakkan ke arah pintu masuk
Sasa tahu arah pembicaraan Mina maka dengan cepat ia langsung memotong ucapannya, Ayla yang menoleh kearah tatapan mata Sasa langsung mengiyakan ucapan Sasa
" Tentu dong, enggak nendang rasanya kalau enggak banyak tuh" Sasa tertawa mendengar jawaban Ayla
" Pantes badan loe makin melar, lama-lama jadi gentong " cibir Nola yang sudah menempati meja kerjanya bersama Dira
" Loe enggak liat La, itu badannya udah mekar , gendut gitu mukanya aja udah kayak bakpao" Dira ikut menimpali cibiran Dira lalu keduanya tertawa mengejek
Deg
Ayla merasa sedikit tersindir hormon kehamilannya seakan enggak terima jika ada orang yang bilang dirinya gendut
Sasa yang tahu kalau ibu hamil itu sangat sensitif dengan kata gendut langsung cepat-cepat meralat ucapan Nola dan Dira karena Sasa dapat melihat kalau Ayla sedikit termakan oleh ucapan kedua wanita itu dengan wajahnya yang terlihat sendu
" Eh Nola.. Dira.. Loe enggak usah munafik deh sebenarnya loe itu iri kan karena sekarang Ayla terlihat lebih cantik lebih glowing karena semakin berisi dan semakin seksi!" ucap Sasa yang sudah beranjak dari duduknya merasa geram dengan Nola dan Dira yang enggak ada habisnya mencari masalah dengan Ayla
" Dih gue iri sama dia, enggak level!" ketus Nola menunjuk ke arah Ayla
" Sa udah enggak baik pagi-pagi ribut, enggak usah di ladenin udah daripada nanti kena semprot mba Nia mending kita kerja aja!" ucap Ayla yang takut Sasa kena marah mba Nia gara-gara membela dirinya
__ADS_1
Ayla bekerja seperti biasa, beruntungnya kehamilannya tidak rewel jadi dia masih bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
Sesekali Ayla tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata, rasanya sudah tidak sabar ingin segera menimangnya tapi sedetik kemudian wajahnya berubah pias saat membayangkan perutnya yang semakin lama semakin besar dan lambat laun orang-orang pun pasti akan mengetahui tentang kehamilannya.
Di ruangan lain seorang pria tidak henti-hentinya bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi didalam perutnya yang bergejolak sejak sekretarisnya masuk ke dalam ruangannya dan memakai parfum yang sangat menggangu indera penciumannya.
" Huek.... Huekk..." entah sudah keberapa kalinya Al memuntahkan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya dan ingin segera dikeluarkan
Ceklek
Arlan terkejut bukan main saat melihat Al berjalan gontai dari arah kamar mandi dengan wajah yang sudah pucat seperti mayat hidup.
" Al Loe kenapa? sakit? muka Loe pucat banget Al" Arlan terlihat khawatir dengan keadaan sahabat sekaligus atasannya itu apalagi belum sempat menjawab pertanyaannya Al sudah kembali masuk ke dalam kamar mandi dan terdengar muntah-muntah
" Al Loe kenapa sih?" Arlan nampak panik melihat wajah Al yang semakin pucat, dia pun membantu memapah Al untuk duduk di sofa karena keadaannya yang sangat lemas.
" Gue juga enggak tahu, bisa loe panggilin Ayla!" pinta Al dengan suara yang sangat pelan
" Ayla?" Tanya Arlan memastikan dan Al mengangguk
" Sebentar biar gue suruh Monik buat memanggil isteri loe" Arlan keluar dari ruangan Al dan menghampiri meja Monik
" Apa ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Monik yang langsung beranjak dari duduknya saat melihat Arlan berjalan ke arah meja kerjanya apalagi terlihat asisten atasannya itu sedikit panik
" Monik kamu ke bagian pemasaran dan penjualan sekarang dan panggilkan Ayla suruh datang ke ruangan bos, katakan kalau bos sedang sakit dan jangan lupa juga telpon dokter Reno suruh dia segera kemari !" ucap Arlan tegas
" Baik pak!" ucap Monik yang langsung menghubungi dokter Reno sementara Arlan sudah masuk kembali ke ruangan Al
Ceklek
Monik masuk ke dalam ruangan tempat Ayla bekerja dan saat memasuki ruangan itu semua pandangan tertuju kearahnya karena tidak biasanya sekretaris Alveer datang ke ruangan itu
Monik langsung melangkah menuju meja kerja Ayla, sementara Nola dan Dira yang melihat kedatangan Monik ke ruangan mereka siap memasang kuping untuk mencari tahu tujuan kedatangan sekretaris bosnya itu.
" Ayla!" panggil Monik saat sudah berada di depan meja kerja Ayla
" Iya ada apa mba Monik?" Ayla menoleh ke arah Monik dengan tatapan bingung karena tidak biasa sekertaris suaminya itu datang mencarinya
" Kamu dipanggil bos disuruh ke ruangannya sekarang juga" ucap Monik
" Keruangan bos sekarang? ada hal apa ya mba sampai bos panggil saja di jam segini?" tanya Ayla
" Kata pak Arlan bos sedang sakit" bisik Monik
" Apaaa?" Ayla terkejut dan langsung beranjak dari duduknya
" Yaudah ayok kita pergi sekarang mbak!" ucap Ayla
__ADS_1
Ayla yang pergi bersama mba Monik dengan tergesa-gesa membuat Mina dan Sasa saling melirik begitu juga dengan Nola dan Dira yang menjadi sangat penasaran karena tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
" Kenapa mereka tergesa-gesa kayak gitu ya?" ucap Nola si biang kepo
" Mungkin dia udah melakukan kesalahan fatal yang membuat pak Al marah besar, loe liat sendiri kan mukanya aja kayak panik ketakutan gitu" ucap Dira yang sok tahu
" Iya juga sih" Nola setuju dengan ucapan Dira
Setelah sampai di depan pintu ruangan Al tanpa mengetuk pintu terlebih dulu Ayla langsung masuk ke dalam. sementara Monik kembali ke meja kerjanya
Ceklek
" Mas!" Ayla setengah berlari menghampiri Al yang sedang rebahan di atas sofa.
" Mas kenapa?" tanya Ayla yang nampak jelas penuh kekhawatiran
" Aku baik-baik aja sayang" Ucap Al tidak ingin membuat isterinya terlalu mencemaskannya
" Bagaimana tidak apa-apa, muka mas aja pucat gitu" Ayla menyentuh kening Al untuk memastikan keadaannya
" Aku enggak apa-apa sayang, cuma mual sedikit" Al sedikit menggeser duduknya agar lebih tegak
Pandangan mereka lalu teralihkan ketika ada seseorang yang mengetuk pintu, Arlan beranjak dari duduknya dan membuka pintu
" Cepat juga loe sampai!" ucap Arlan ketika seorang pria seumuran dengannya berdiri di depan pintu
" Kebetulan pas di telpon gue lewat daerah sini " sahut Reno seraya melangkah masuk
" Kenapa Al?" tanyanya
" Enggak tau tuh, sejak tadi muntah-muntah terus" Sahut Arlan
Reno menghampiri Al yang berada di sofa dan menatap penuh tanya seorang gadis yang duduk di dekat Al
" Al bagaimana kondisi Loe sekarang?" tanyanya
Al mendengus kesal karena sejak masuk kedalam ruangannya pandangan mata Reno selalu saja mencuri pandang ke arah Ayla.
" Kalau kondisi gue baik-baik aja mana mungkin gue menyuruh loe kesini, dasar dokter abal-abal!" sungut Al
" Sakit aja loe masih bisa marah-marah Al, heran gue" celetuk dokter Reno
" Bawel loe ya, mending enggak usah banyak tanya deh, loe itu dibayar buat kerja bukan banyak tanya" kesal Al
" Mas !" Ayla menggeleng pelan menyuruh Al untuk tidak lagi banyak bicara dan membiarkan dokter Reno memeriksanya
Al menoleh dan melihat Ayla menggelengkan kepalanya Al seketika langsung diam.
__ADS_1
Dokter Reno mengerutkan keningnya baru kali ini ia melihat Al begitu patuh, dan didalam hati dokter Reno bertanya-tanya siapa gerangan wanita yang berada di samping Al
" Cantik" Batin dokter Reno