
Ezio setelah pergi dari rumah sakit tadi, dia memutuskan untuk datang ke rumah Lionel saja.
Karena cuma Lionel yang bisa membantunya sekarang, dan yang siap memberikan bantuan apa saja kepadanya.
Ezio yang sudah sampai di rumah super mewah milik Lionel, dia langsung saja masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dalam kamar sang sahabat.
Sesampainya di depan kamar Lionel, Ezio langsung saja masuk dan membangunkan sahabatnya yang masih tidur nyenyak di dalam selimut tebalnya.
" Lion bangunlah!! ",, kata Ezio kepada Lionel.
" Apa sih Ezio, ini masih pagi, dan aku masih mengantuk ",, kata Lionel sambil mengeratkan selimut tebalnya.
" Ayo bangunlah, temani aku untuk mencari keberadaannya Syahlaa dan Zarina ",, kata Ezio lagi kepada Lionel.
" Nanti saja sedikit siangan, jam sepuluh atau jam sebelas ",, kata Lionel dengan mata yang masih tertutup.
" Ini sudah jam sembilan, aku tidak mau harus menunggu kamu tidur, cepat bangun Lion!! ",, kata Ezio sambil menarik selimut yang di pakai oleh Lion, hingga membuat Lion jatuh dari atas ranjang.
" 514lan kamu Ezio!! ",, kata Lionel sambil mengusap tubuhnya yang sakit.
" Cepat bangun, atau mau aku tendang!! ",, kata Ezio kepada Lionel.
Lionel langsung saja bangun dari rebahannya di atas lantai, sambil menatap Ezio dengan tatapan sebalnya.
Tubuh Lionel sangat atletis sama seperti Ezio dan Alzam, begitupun dengan Rain, mereka berempat jika di sama ratakan, hampir sama ketampanan yang mereka miliki.
Hanya saja di antara mereka, yang paling tampan tetap Alzam, ke dua Ezio, ke tiga Lionel dan ke empat baru Rain.
" Kamu ingin mencari mereka di mana Ezio?? ",, tanya Lionel sambil membuat kopi dengan mesin kopinya.
" Ke mana saja yang penting dapat, karena keadaan Papa sudah sangat mengkhawatirkan sekali Lionel ",, jawab Ezio sambil duduk di pinggir ranjang.
" Apakah Papa kamu tidak ada perkembangan sama sekali Ezio?? ",, tanya Lionel lagi sambil menyerahkan kopi buatannya tadi untuk Ezio.
" Tipis kata Dokter, karena jantung Papa sudah sangat lemah sekali ",, jawab Ezio kepada Lionel.
" Dan Papa ingin sekali melihat Zarina sebelum dia meninggal, itu yang tadi Papa katakan kepadaku Lionel ",, kata Ezio lagi kepada Lionel.
" Jadi ayo bantu aku untuk mencari mereka Lionel, aku sudah tidak tahan melihat keadaan Papa yang seperti itu ",, kata Ezio kepada Lionel.
" Baiklah akan aku bantu kamu ",, jawab Lionel sambil meminum kopi buatannya.
" Dan kamu jangan lupa, terus hubungi anak buah kamu untuk mencari informasi dari mereka ",, kata Lionel kepada Ezio.
" Iya ",, jawab Ezio sambil mengangguk.
" Sebentar aku mau mandi dulu ",, kata Lionel kepada Ezio.
Ezio hanya mengangguk saja kepada Lionel, dan Lionel setelahnya langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Ezio sendirian di situ.
Sambil menunggu Lionel selesai mandi, Ezio memilih melangkahkan kakinya menuju ke balkon kamar, sambil menikmati kopi yang tadi sudah di buatkan oleh Lionel untuknya.
Tidak lama, sekitar sepuluh menit kemudian, Lionel pun sudah selesai mandi, dan dia langsung saja berganti baju yang ada di dalam ruang walk in closet miliknya.
Ezio yang mendengar suara pintu terbuka dan tertutup dari dalam kamar, dia pun langsung saja melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar lagi.
" Ezio, apakah kamu tidak mencari tahu, apakah mereka sudah kembali ke Negara asal suaminya Isabella?? ",, tanya Lionel kepada Ezio.
" Indonesia yang kamu maksud?? ",, tanya Ezio kepada Lionel.
" Suami Isabella dari Indonesia kah?? ",, tanya balik dari Lionel kepada Ezio.
" Iya, dia dari Indonesia, dan aku sudah menyuruh anak buahku untuk mencari di setiap Bandara, apakah ada nama mereka di setiap penerbangan, tapi nama mereka tidak ada di sana Lionel ",, jawab Ezio kepada Lionel.
" Jadi aku yakin, pasti mereka masih ada di Negara ini, makanya sebelum mereka kembali ke Indonesia, aku ingin segera menemukan mereka ",, kata Ezio lagi kepada Lionel.
__ADS_1
" Baiklah ayo, aku sudah siap, tapi nanti kita mampir ke Cafe sebentar ya aku mau makan, perutku sudah butuh asupan ",, kata Lionel kepada Ezio.
" Iya baiklah ",, jawab Ezio kepada Lionel.
Mereka berdua lalu ke luar dari dalam kamar untuk menuju ke dalam mobil milik Ezio.
Ezio dan Lionel naik satu mobil saja, yaitu mobil milik Ezio, dan ketika mereka melewati sebuah Cafe, mereka berdua memutuskan untuk mampir sejenak di Cafe tersebut untuk makan.
Selesai makan, dan tanpa mereka sadari waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, mereka lalu melanjutkan pencarian, dengan terus mengelilingi kota tempat tinggal mereka, sampai Lionel merasa jenuh sendiri.
" Sampai kapan kita akan berputar-putar tidak jelas begini Ezio, bukankah kita lebih baik menunggu kabar saja dari anak buah kamu?? ",, kata Lionel kepada Ezio.
" Kita mampir di restoran itu sebentar ",, Ezio bukannya menjawab malah mengalihkan pembicaraan.
Ezio lalu memarkirkan mobilnya di parkiran mobil yang ada di restoran tersebut.
" Kamu mau pesan apa, aku mau makan dulu, perutku entah kenapa sudah merasa lapar lagi ",, kata Ezio kepada Lionel.
Lionel langsung saja menyebutkan makanan yang ingin di makannya kepada waiters, tanpa mau menjawab pertanyaan dari Ezio.
Dan sambil menunggu makanan yang mereka pesan sudah siap, mereka pun berbincang sejenak.
" Setelah ini kita pulang saja ya Ezio, sudah jam empat sore, nanti malam aku ada janji dengan temanku untuk menghadiri pestanya ",, kata Lionel kepada Ezio.
" Iya baiklah, akan aku antarkan kamu pulang, biar aku cari mereka sendiri ",, jawab Ezio kepada Lionel.
Lionel hanya mengangguk saja kepada Ezio.
Dan tidak lama pesanan makanan mereka pun di antarkan juga oleh para waiters.
Ezio dan Lionel mengisi tenaga lagi, setelah berjam-jam lamanya mencari ke berbagai pelosok kota tempat tinggal mereka.
Walau Ezio tahu rumah Syahlaa yang dulu, tapi entah kenapa hari itu dia tidak teringat dengan rumah tersebut.
Di saat Ezio dan Lionel sudah selesai makan, mereka langsung saja memutuskan untuk pulang ke rumah, lebih tepatnya Ezio mengantarkan Lionel pulang ke rumah mewahnya.
Ezio yang melihat nama anak buahnya, dia langsung segera mengangkat sambungan telepon tersebut.
Dan Lionel yang belum turun dari dalam mobil, dia pun memperhatikan Ezio yang sedang menerima telepon dari anak buahnya.
" Halo ",, kata Ezio kepada anak buahnya.
" Tuan Ezio, ada berita bagus untuk anda ",, kata sang anak buah kepada Ezio.
" Cepat katakan!! ",, jawab Ezio kepada anak buahnya.
" Kami sudah mengetahui di mana keberadaan dari Nyonya Isabella dan Nona Zarina Tuan ",, kata sang anak buah kepada Ezio.
" Cepat katakan di mana mereka!! ",, kata Ezio kepada anak buahnya dengan sangat tidak sabaran sekali.
" Apakah anak buah kamu sudah menemukan mereka Ezio?? ",, tanya Lionel kepada Ezio.
Ezio langsung mengangguk kepada Lionel.
" Mereka ada di rumah Nyonya Isabella yang dulu Tuan ",, jawab sang anak buah kepada Ezio.
" Rumah Isabella,?? apakah yang kamu maksud rumahnya yang dulu pernah dia tinggali?? ",, tanya Ezio kepada anak buahnya.
" Benar Tuan, bahkan di sana juga ada Tuan Rain yang baru saja datang ",, jawab sang anak buah kepada Ezio.
" Kalian tunggu di sana, dan awasi mereka terus, saya akan segera ke sana ",, kata Ezio kepada anak buahnya.
" Baik Tuan ",, jawab sang anak buah kepada Ezio.
Setelahnya, Ezio langsung saja mematikan sambungan telepon tersebut.
__ADS_1
" Cepat ke luar Lionel, aku mau segera menjemput mereka ",, kata Ezio kepada Lionel.
" Aku ikut ",, jawab Lionel kepada Ezio.
" Katanya kamu....?? ",, kata Ezio kepada Lionel.
" Sudahlah, itu tidak penting, ayo cepat jalan ",, jawab Lionel kepada Ezio.
Ezio hanya mengangguk saja kepada Lionel, dan Ezio langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, untuk bisa segera sampai di rumah milik Syahlaa.
Dan di sinilah mereka berdua, sudah berdiri di depan Rain yang baru saja membukakan pintu untuk mereka.
" Tuan Lionel ",, kata Rain juga ketika sudah mengalihkan pandangannya ke arah Lionel.
" Bolehkah saya masuk ke dalam ",, kata Ezio dengan nada yang terdengar sangat sopan sekali.
Sebelum menjawab, Rain langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah Alzam dan juga Syahlaa yang berdiri tidak jauh darinya.
Alzam langsung saja mengangguk kepada Rain, namun Syahlaa langsung mencegahnya dengan menarik lengan kemeja Alzam.
" Tidak apa-apa Mama, biarkan mereka masuk ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
" Baiklah, suruh mereka masuk Rain ",, kata Syahlaa kepada Rain.
" Silahkan masuk Tuan Ezio, Tuan Lionel ",, kata Rain kepada Ezio dan Lionel.
Ezio, Lionel, Rain, Alzam dan juga Syahlaa, saat ini sudah pada duduk di ruang tamu yang ada di situ.
" Pasti kalian semua terkejut melihat kedatangan saya ke sini kan, tenang, saya tidak mau membuat keributan lagi kepada kalian semua ",, kata Ezio kepada semua orang.
Setelah berkata seperti itu, Ezio langsung saja memusatkan pandangannya ke arah Syahlaa.
" Syahlaa ",, panggil Ezio kepada Syahlaa.
Syahlaa hanya diam saja sambil ikut menatap ke arah Ezio, namun hanya sekian detik saja, setelahnya, Syahlaa langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Kesalahanku yang dulu, saya tahu pasti tidak akan bisa kamu maafkan di seumur hidup kamu, tapi ketahuilah Syahlaa, aku sudah menyesal sekarang ",, kata Ezio kepada Syahlaa.
" Kamu patut membenciku di seumur hidup kamu, karena memang kesalahanku itu sudah membuatmu menderita ",, kata Ezio lagi kepada Syahlaa.
" Sekarang saya sadar, apa yang sudah saya perbuat kepada kamu dan Zarina, mungkin tidak pantas untuk kamu maafkan ",, kata Ezio kepada Syahlaa.
Semua orang masih saja diam, sambil terus mendengarkan Ezio sedang berbicara.
Mereka dibuat sangat terkejut, ketika tiba-tiba Ezio berlutut di depan Syahlaa yang sedang duduk bersama Alzam.
" Dari lubuk hatiku yang paling dalam, ampuni saya Syahlaa, maafkanlah semua kesalahan yang sudah saya perbuat kepadamu, dan saya berjanji tidak akan memisahkanmu dengan Zarina, tapi saya mohon, jangan persulit saya untuk melihat atau bertemu dengannya ",, kata Ezio sambil meneteskan air matanya.
Syahlaa sedikit risih dengan sikap Ezio, terlebih lagi ada Alzam yang sedang duduk di sampingnya.
" Semenjak ada Zarina di dalam hidupku, saya menjadi tahu apa arti kehidupan yang sebenarnya, dan apa arti Keluarga sebenarnya, jadi saya mohon kebesaran hatimu Syahlaa, tolong jangan pisahkan saya dengan Zarina ",, kata Ezio lagi kepada Syahlaa.
" Bahkan jika kamu memintaku untuk bersujud di kakimu akan saya lakukan sekarang, jika itu bisa membuatmu puas, dan mau mengijinkanku untuk bertemu dengan Zarina lagi ",, kata Ezio sambil langsung bersujud di kaki Syahlaa.
Ezio, sungguh benar-benar merasa menyesal, dan dia tidak malu untuk merendahkan harga dirinya serendah-rendahnya di hadapan Syahlaa.
Tidak cuma Syahlaa saja, tapi kepada Alzam, Rain dan juga Lionel, karena mereka semua juga menyaksikan permintaan maaf dari Ezio kepada Syahlaa.
Lionel sangat merasa terkejut sekali dengan sikap Ezio yang seperti itu, dia tidak menyangka, temannya yang sangat angkuh dan juga sombong, mau merendahkan serendah-rendahnya harga dirinya, demi sang buah hati, yaitu Zarina.
Dan Syahlaa yang melihat Ezio sedang bersujud di kakinya, dia langsung saja berdiri dengan seketika.
Sedang Alzam, dia langsung saja membangunkan Ezio untuk jangan merendah seperti itu kepadanya atau kepada Syahlaa.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
__ADS_1
...***TBC***...