
Masih di rumah Abi Aasim.
Sepeninggalan dari ke tiga laki-laki tadi, Umi Anum langsung saja duduk di sofa yang tadi di duduki oleh para ke tiga Pengurus Pondok Pesantren.
" Abi ",, panggil Umi Anum kepada sang suami.
" Iya ",, jawab singkat dari Abi Aasim kepada Umi Anum.
" Apa tadi Umi tidak salah mendengar?? ",, tanya Umi Anum kepada Abi Aasim.
" Tidak Umi, apa yang tadi Umi dengar adalah benar ",, jawab Abi Aasim kepada Umi Anum.
" Jadi, apakah Abi benar-benar akan menjodohkan Faiha dengan Ismail?? ",, tanya Umi Anum lagi kepada Abi.
" Iya, jika Ismail mau Umi ",, jawab Abi Aasim kepada Umi Anum.
" Kalau Ismail mau, tapi Faiha tidak mau, apakah Abi akan tetap menjodohkan mereka?? ",, tanya dari Umi Anum kepada Abi Aasim.
" Iya, Abi akan tetap menjodohkan mereka berdua ",, jawab Abi Aasim kepada sang istri.
" Tidak Umi sangka, ternyata Abi mempunyai sifat yang egois, karena mementingkan diri sendiri ",, kata Umi Anum kepada Abi Aasim.
" Egois bagaimana Umi, ini semua juga demi kebaikan Faiha, bukan kebaikan Abi ",, kata Abi Aasim kepada Umi Anum.
" Kebaikan Faiha darimana,?? dia saja tidak menyukai Ismail, tapi akan Abi paksa untuk menikah dengannya ",, jawab Umi Anum kepada Abi Aasim.
" Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu Umi, walau sekarang Faiha tidak mencintai Ismail, tapi Abi yakin, jika mereka sudah di satukan dengan ikatan tali pernikahan, Faiha akan bisa mencintai Ismail dengan tulus, sebab Ismail adalah ladang pahala untuknya ",, kata Abi Aasim kepada Umi Anum.
" Apa yang Abi katakan itu memang benar, tapi sampai kapan pun Umi tidak akan menyetujui perjodohan ini ",, kata Umi Anum kepada Abi Aasim.
" Dan tidak Umi sangka, Abi bisa ceramah kepada semua orang, tapi tidak bisa mempraktekkannya kepada Keluarga sendiri, ingat Abi, balasan menyakitkan dari Allah bagi orang yang suka berceramah tapi tidak bisa mempraktekkannya ",, kata Umi Anum lagi kepada Abi Aasim.
Setelah mengatakan itu semua, Umi Anum langsung saja beranjak berdiri dari duduknya, untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan Abi Aasim yang sedang diam saja daritadi.
Umi Anum benar-benar merasa sangat kecewa sekali dengan keputusan dari Abi Aasim, yang tidak berbicara terlebih dahulu kepadanya.
Kecuali Faiha belum mempunyai tambatan hati, boleh-boleh saja mereka jodohkan, dan siapa tahu mereka memang benar-benar akan berjodoh.
Namun, sekarang lain halnya ceritanya, Faiha sudah mempunyai tambatan hati, yang siapa tahu Rain adalah ladang pahala untuk Faiha, karena Faiha sudah dengan ikhlas membimbing dan mengajari Rain untuk menjadi imam yang baik untuknya.
Sungguh Umi Anum merasa bingung sekali harus berbicara bagaimana lagi dengan sang suami, tentang cinta tulus dari Rain kepada Faiha.
Faiha setelah mendengarkan perkataan dari sang Abi tadi, dia langsung masuk ke dalam kamarnya dengan air mata yang mengalir cukup deras.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar, Faiha langsung saja menumpahkan air matanya, yang rasanya dadanya begitu terasa sangat sesak sekali.
" Tuhan, kenapa sakit sekali rasanya hati hamba ",, kata Faiha dengan suara lirihnya.
" Apakah hamba terlalu mencintai Tuan Rain, hingga Engkau memberikan cobaan begitu sakit sekali di dalam dada hamba ",, kata Faiha lagi dengan air mata yang masih berurai.
" Ya Allah, ampunilah hamba, ampunilah hamba jika hamba terlalu mencintai ciptaan-Mu ya Rabbi ",, kata Faiha lagi dengan menangis tersedu-sedu.
Cukup lama Faiha menangis, meratapi hatinya yang sedang sakit, karena penolakan dari Abi Aasim tentang rasa cintanya untuk Rain, di tambah dengan perjodohan secara diam-diam yang ingin di lakukan oleh sang Abi kepadanya.
Di saat Faiha sedang menangis sambil menatap kosong di dalam kamarnya, tiba-tiba telinga dia mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
Dengan langkah lesu dan tanpa arah, Faiha langsung saja berjalan untuk membuka pintu kamarnya itu, yang ternyata ada Umi Anum di balik pintu.
Ketika pintu kamar sudah terbuka, Umi Anum merasa sangat tidak tega sekali, melihat wajah Faiha terlihat sedang sangat terpuruk begitu.
" Faiha,?? kamu tidak apa-apa Nak?? ",, tanya Umi Anum kepada Faiha.
" Fai, baik-baik saja, dan ijinkan Fai untuk sendirian dulu Umi ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.
" Istighfar ya Nak, perbanyak mengucap istghfar, supaya hatimu tenang dan tidak kosong pikiran kamu ",, kata Umi Anum kepada Faiha.
Faiha yang malas berbicara, dia hanya mengangguk lemas saja kepada Umi Anum.
" Iya Umi ",, jawab Faiha dengan wajah yang masih banyak bekas air matanya.
Setelahnya, Faiha langsung menutup pintu kamarnya lagi, setelah kepergian dari Umi Anum.
Baru saja Faiha duduk di pinggir ranjang sambil memandangi gelang pemberian dari Rain, tiba-tiba lagi pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Dan masih sama seperti tadi, Faiha dengan langkah malasnya, dia langsung membuka pintu kamarnya, dan kali ini yang mengetuk pintunya adalah Abi Aasim.
Abi Aasim langsung melihat wajah sedih dari anak bungsunya, karena begitu banyak bekas sisa air mata di pipinya.
" Abi ",, kata Faiha kepada Abi Aasim.
" Bolehkah Abi masuk ke dalam Fai?? ",, tanya Abi Aasim kepada Faiha.
" Jika boleh, ijinkan Fai sendirian dulu Abi, karena Fai sedang tidak mau di ganggu sama siapapun ",, jawab Faiha kepada Abi Aasim.
Marah, tentu saja Faiha merasa sangat marah sekali saat ini kepada Abi Aasim.
Walau Abi Aasim adalah Ayah kandungnya, tapi sifat marah adalah hal manusiawi dari seseorang, ketika dia sedang di sakiti.
__ADS_1
Jadi jangan salahkan Faiha, jika dia saat ini sedang tidak mau berbicara atau melihat sang Abi.
" Oh baiklah kalau begitu ",, jawab Abi Aasim kepada Faiha.
Dan tanpa banyak berbicara, Faiha langsung saja menutup pintu kamarnya, walau Abi Aasim masih berada di depan kamarnya.
Terkesan tidak sopan memang, tapi rasanya Faiha masih malas berhadap-hadapan dengan sang Abi.
Abi Aasim yang melihat sikap tidak sopan dari Faiha yang tidak pernah dilihatnya sama sekali, dia hanya bisa beristighfar saja sambil mengusap dadanya.
Karena anak akan menghargai orang tuanya, jika orang tuanya juga menghargai anaknya.
Ingin sekali Abi Aasim marah dengan sikap Faiha yang sudah tidak sopan kepadanya, tapi Abi Aasim langsung urungkan, karena sikap Faiha yang seperti itu karena sikapnya juga.
Akhirnya, Abi Aasim memutuskan untuk pergi saja dari depan kamar Faiha menuju ke dalam kamarnya.
Masuk ke dalam kamarnya sendiri, Abi Aasim langsung melihat Umi Anum sedang membaca Al-Qur'an.
Dan Umi Anum, yang melihat kedatangan dari sang suami ke dalam kamar, dia hanya menunjukkan sikap dingin yang tidak pernah dia tunjukkan juga kepada Abi Aasim.
Kepala rumah tangga atau Ayah itu ibarat kepala sekolah, dan Ibu atau Mama itu ibarat Guru, sedangkan anak-anak itu ibarat muridnya.
Jika Ibu guru sudah mengajarkan hal bagus untuk murid-muridnya, namun kepala sekolahnya memberikan aturan dan tata tertib yang melenceng jauh dari ajaran para Guru, tetap saja para murid-murid itu lebih condong dan memilih untuk mengikuti ajaran dari sang kepala sekolah merekanya.
Seperti halnya dengan gerbong kereta api, jika kepala keretanya sedang tergelincir, pasti badannya atau gerbong kereta di belakangnya juga akan ikut tergelincir.
Namun jika badannya saja yang tergelincir, kepala kereta apinya, masih bisa mempertahankan keseimbangannya.
Sebenarnya kita membicarakan apa sih, kenapa bisa sampai kereta api, tapi semua yang kita bahas, intinya sama saja.
Yang namanya kepala rumah tangga adalah panutan untuk istri dan juga anak-anaknya.
Jadi jika kepala rumah tangga sudah menyakiti salah satu hati dari anak-anak atau istrinya, rumah tersebut akan berubah menjadi neraka atau kuburan yang penuh dengan suasana mencekam, dan di jamin tidak ada kata harmonis sama sekali di dalamnya.
Dan Faiha yang sudah menutup pintu kamarnya tadi, dia langsung saja mencoba menghubungi sang Kakak, yaitu Alzam.
...π π π π π π π π π π π π π ...
Ingin tahu apa yang akan di katakan oleh Faiha kepada Alzam, lanjut part sebelahπ.
...βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ...
...***TBC***...
__ADS_1