
Nah benarkan, sesampainya di Yayasan, banyak para penghuni Yayasan memandang aneh ke arah Rain dan Alzam, yang sedang membawa sebegitu banyak makanan di tangan kanan dan kiri Rain.
Abi Aasim yang sedang duduk santai di teras depan di temani oleh Umi Anum, mereka berdua sampai merasa terkejut melihat barang bawaan yang di beli oleh Alzam dan Rain.
" Astaghfirullah Afnan, Nak Rain, apa saja yang kalian beli,?? kenapa banyak sekali ",, kata Abi Aasim kepada Alzam dan Rain.
" Ini Abi, Rain katanya penasaran dengan semua rasa makanan ini, jadinya dia memborong ini semua deh ",, jawab Alzam kepada Rain.
" Maaf Pak Kyai, nanti ini bisa di bagikan juga kepada para Santri jika mereka mau ",, jawab Rain juga kepada Abi Aasim.
" Besok lagi jangan seperti ini ya Nak Rain, mubadzir itu dosa, lebih baik membeli dan memakan secukupnya, jika ingin memakan lagi, kita bisa membelinya lain hari ",, nasihat Abi Aasim kepada Rain.
" Iya Pak Kyai ",, jawab Rain kepada Abi Aasim.
" Kalau begitu Afnan ijin dulu pulang sebentar ya Abi, Umi ",, pamit Alzam kepada ke dua orang tuanya.
" Syahlaa ada di sini Nak, dia sedang ada di dalam bersama Faiha ",, kata Umi Anum kepada Alzam.
" Oh, iyakah Umi ",, jawab Alzam kepada Umi Anum.
Umi Anum langsung saja mengangguk kepada Alzam.
Dan Alzam pun langsung saja berlalu masuk ke dalam rumah untuk mencari Syahlaa.
" Sini Nak, biar Umi siapkan makanannya, mana saja yang ingin kamu makan, nanti sisanya biar Afnan bagikan kepada para santri ",, kata Umi Anum kepada Rain.
" Bagaimana kalau di buka semua saja Umi, nanti biar Rain bisa mengambil yang Rain mau, setelahnya bisa di berikan kepada para santri di sini ",, jawab Rain kepada Umi Anum.
" Oh, baiklah kalau begitu ",, jawab Umi Anum kepada Rain.
" Terimakasih Umi ",, kata Rain kepada Umi Anum.
" Iya sama-sama ",, jawab Umi Anum kepada Rain.
Setelah itu, Umi Anum langsung saja berlalu masuk ke dalam rumah, untuk menyiapkan semua makanan itu.
Umi Anum yang sudah masuk ke dalam rumah, membuat Syahlaa dan Faiha merasa sangat terkejut sekali, ketika melihat Umi Anum membawa banyak sekali makanan.
" Umi banyak sekali beli makanannya, sini Faiha bantu ",, kata Faiha kepada Umi Anum.
" Bukan Umi yang beli, yang beli calon suami kamu tuh sama Kakak kamu, ini satu pasar di borong semua ",, jawab Umi Anum sambil menggoda Faiha.
Faiha yang mendengar jawaban dari Umi Anum, dia merasa malu dengan pipi yang terlihat memerah, sambil menahan perasaan gemas untuk Rain.
Alzam dan Syahlaa langsung tertawa mendengar perkataan dari Umi Anum.
__ADS_1
" Sana Fai, taruh semua makanan ini ke dalam piring, calon suami kamu sudah tidak sabar ingin mencicipi semua makanan ini, nanti jika masih sisa banyak, kamu bagi-bagikan saja kepada para santri ",, kata Umi Anum kepada Faiha.
" Baik Umi ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.
" Sini Ayah buburnya, biar Mama taruh di mangkok ",, kata Syahlaa juga kepada Alzam.
Alzam langsung menyerahkan bubur yang tadi di minta oleh Zarina kepada Syahlaa.
Sedangkan Rain tadi yang di tinggal pergi oleh Umi Anum, dan cuma duduk berdua saja bersama Abi Aasim, Rain pun mencoba berbicara kepada calon mertuanya itu.
" Pak Kyai ",, kata Rain kepada Abi Aasim.
" Iya Nak Rain ",, jawab Abi Aasim kepada Rain.
" Lusa depan, semua Keluarga besar saya dari Prancis akan datang ke sini untuk berkenalan kepada kalian semua, apakah Pak Kyai keberatan akan hal itu ",, kata Rain kepada Abi Aasim.
" Iya tidak apa-apa Nak, justru malah bagus, kami bisa berkenalan juga dengan kalian semua ",, jawab dari Abi Aasim kepada Rain.
" Tapi Pak Kyai, saya ingin melangsungkan pertunangan dengan Faiha pada saat hari itu juga, apakah Pak Kyai mengijinkannya?? ",, tanya Rain kepada Abi Aasim.
" Iya, terserah kamu saja Nak, asal masih sesuai syariat islam, karena kamu dan Faiha belum halal ",, jawab Abi Aasim kepada Rain.
Rain langsung mengangguk kepada Abi Aasim.
" Lalu setelah lamaran itu, kamu akan melangsungkan pernikahan kalian kapan pastinya?? ",, tanya Abi Aasim kepada Rain.
" Baiklah, dua minggu yang akan datang, nanti kita bisa bicarakan lagi bersama yang lain setelah sholat isya' ",, kata Abi Aasim kepada Rain.
" Dan nanti kamu makan malam saja di sini, bersama Afnan, serta Syahlaa juga ",, kata Abi Aasim lagi kepada Rain.
" Baik Pak Kyai, terimakasih, atas pengertiannya ",, jawab Rain kepada Abi Aasim.
Abi Aasim hanya mengangguk dan tersenyum saja menanggapi perkataan dari Rain tadi.
Di dalam rumah, Faiha yang sudah menata rapi semua makanan yang tadi di beli oleh Rain, dia pun langsung saja menghidangkannya di ruang Keluarga.
Umi Anum yang sedang bercanda dengan Zarina pun, langsung saja menyuruh Faiha untuk memanggil Rain dan Abi Aasim untuk masuk dulu ke dalam rumah.
" Baik Umi ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.
Faiha langsung berlalu ke luar menemui Rain dan Abi Aasim yang sedang berbincang santai.
Faiha yang sudah sampai di depan mereka berdua, Faiha merasa sangat malu sekali berhadapan dengan Rain, yang sedang menatapnya dengan penuh terpesona.
" Nak Rain, ingat, belum mahrom, sekarang kamu sudah berbeda keyakinan dengan keyakinan kamu terdahulu ",, tegur Abi Aasim kepada Rain.
__ADS_1
" Di dalam Islam, menjaga pandangan hukumnya wajib, termasuk kepada calon istri kamu sekalipun, karena dia belum termasuk mahrom kamu ",, nasihat lagi dari Abi Aasim kepada Rain.
" Maaf Pak Kyai ",, jawab Rain sambil menundukkan pandangannya.
Abi Aasim hanya mengangguk saja kepada Rain.
" Ada apa Nak?? ",, tanya Abi Aasim kepada Faiha.
" Emm, makanan tadi sudah Fai siapkan Abi, Abi dan Kak Rain di suruh masuk dulu sama Umi ",, jawab Faiha sambil menundukkan kepalanya.
" Iya baiklah, ayo Nak Rain, kita masuk ",, kata Abi Aasim.
" Baik Pak Kyai ",, jawab Rain kepada Abi Aasim.
Abi Aasim langsung beranjak berdiri dari duduknya untuk masuk ke dalam rumah.
Dan langsung di ikuti oleh Rain yang berjalan di belakangnya, bersama Faiha yang berjalan di sampingnya.
Rain dan Faiha, seperti anak remaja yang sedang kasmaran, namun itulah yang sedang terjadi kepada mereka berdua.
" Aku sudah tidak sabar ingin menikahi dia ",, kata batin Rain untuk Faiha.
" Kenapa aku jadi gerogi sekali seperti ini sih!! ",, kata batin Faiha untuk Rain.
Dan akhirnya mereka bertiga sampai juga di ruang Keluarga bergabung dengan Alzam, Syahlaa, Umi Anum dan juga Zarina.
Walau Rain masih calon suami, akan tetapi perhatian yang Faiha tunjukkan sudah terlihat dari sekarang.
Faiha mengambilkan semua makanan yang ingin di makan oleh Rain, dan itu jumlahnya sangat banyak sekali.
Faiha sampai tertegun dan berkata di dalam hatinya, apakah Rain bisa menghabiskannya, tapi Rain, tidak peduli, dan dia tidak mau jaim sama sekali di hadapan Faiha
" Kakak malu-maluin makan sebegitu banyaknya, nanti jika Faiha ilfill sama Kakak bagaimana?? ",, goda Syahlaa kepada Rain.
" Jika dia mencintai Kakak dengan tulus, sudah pasti dia akan menerima Kakak apa adanya ",, jawab Rain kepada Syahlaa.
Dan jawaban Rain, membuat Faiha langsung tersenyum malu.
Sebelum menikmati semua makanan yang ada di dalam piringnya, Rain pun mengucapkan kata basmalah terlebih dahulu.
Semua orang belum makan sama sekali, karena mereka semua sedang melihat ke arah Rain, yang sedang pertama kali menikmati semua makanan itu.
Mereka semua ingin melihat bagaimana reaksi dari Rain, ketika sudah mencoba semua makanan yang di belinya tadi.
Dan ekspresi yang di tunjukkan oleh Rain beragam, tidak bisa di tebak serta tentunya terlihat aneh di mata semua orang.
__ADS_1
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...