
Kembali ke Yayasan milik Abi Aasim lagi yuk readers.
Jika Abi Aasim sedang mengaji dan juga membaca kitab-kitab yang dia punya.
Umi Anum sedang menghadiri pengajian mingguan yang ada di kampungnya, begitupun dengan Faiha yang masih duduk santai, memikirkan semua perkataan dari sang Abi sambil mengusap gelang pemberian dari Rain.
" Kira-kira apa maksud dari perkataan Abi tadi ya?? ",, tanya Faiha di dalam hatinya.
Di saat Faiha sedang melamun, tiba-tiba dia di kejutkan oleh kedatangan sang Umi, yang baru saja pulang dari pengajian.
" Assalamu'alaikum ",, salam Umi Anum kepada Faiha.
" Eh Umi, Wa'alaikumussalam Umi ",, jawab Faiha sambil mencium tangan Umi Anum.
" Anak gadis melamun saja Fai, hati-hati banyak setan lewat berkeliaran ",, goda Umi Anum, sambil langsung duduk di kursi yang tadi di duduki Abi Aasim.
" Umi ini ada-ada saja berbicaranya ",, kata Faiha kepada Umi Anum.
" Cerita dong sama Umi, apa ada masalah lagi, sehingga membuatmu melamun begini?? ",, tanya Umi Anum kepada Faiha.
" Tadi, Abi berbicara kepada Faiha Umi, dan Faiha tidak mengerti apa maksud dari semua pertanyaan Abi, karena ketika Fai jawab, Abi cuma menjawab, ya baiklah saja ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.
" Jika Abi kamu menjawab demikian, itu artinya dia sedang berpikir untuk mempertimbangkannya, percayalah, Abi pasti sedang memikirkan jalan yang terbaik untuk masalah hati kamu Nak ",, kata Umi Anum kepada Faiha.
" Aamiin, semoga Abi mengambil keputusan seperti yang Fai inginkan Umi ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.
" Aamiin ",, Umi Anum mengaamiinkan perkataannya Faiha.
" Sudah Umi mau masuk dulu, mau ganti baju, gerah ",, kata Umi Anum lagi kepada Faiha.
Faiha hanya mengangguk saja kepada Umi Anum, dan Umi Anum langsung saja beranjak berdiri dari duduknya, untuk masuk ke dalam rumah.
Namun, baru saja Umi Anum akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, pandangannya dan pandangan Faiha, tiba-tiba teralihkan oleh kedatangan dua mobil yang langsung terparkir rapi di depan teras pendopo rumah mereka.
Umi Anum tentu saja langsung menghentikan langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah, karena dia ingin melihat siapa tamu yang baru saja datang itu.
Umi Anum langsung menampilkan wajah senangnya, ketika sudah melihat siapakah orang yang baru saja ke luar dari dalam mobil.
" Ya Allah Mbak Salwa ",, kata Umi Anum kepada tamu yang baru saja datang.
Sang tamu yang bernama Salwa itu langsung tersenyum dan memeluk Umi Anum dengan gaya khas perempuan.
Sedangkan Faiha dia langsung mencium tangan Umi Salwa dengan sopan.
" Sama siapa Mbak, sendirian saja?? ",, tanya Umi Anum kepada Umi Salwa.
" Sama Abi, Uzair dan Nura tuh, masih pada di dalam mobil ",, jawab Umi Salwa kepada Umi Anum.
Dan tidak lama, Pak Kyai Ghifar atau biasa di panggil Abi Ghifar, anak sulungnya yaitu Uzair dan juga Nura, ke luar dari dalam mobil.
" Ayo-ayo mari silahkan masuk semuanya ",, kata Umi Anum dengan sangat ramah sekali kepada semua tamunya.
__ADS_1
Faiha dan Uzair yang sedang saling pandang, Faiha hanya menampilkan senyum sewajarnya saja sebagai sopan santun, sedang Uzair dia tersenyum teduh seperti biasanya.
Uzair sendiri, biasa di panggil dengan panggilan Gus Uzair, karena dia anak Kyai kondang sama seperti Alzam yang ada di luar kota.
Dan Abi Ghifar adalah sahabat lama dari Abi Aasim sejak mereka masih muda dulu.
" Faiha, segera buatkan minum untuk mereka ya Nak ",, kata Umi Anum kepada Faiha.
" Baik Umi ",, jawab sopan dari Faiha kepada Umi Anum.
Faiha langsung saja berlalu masuk ke dalam dapur untuk membuatkan minum, sedangkan saat ini mereka semua sudah pada duduk di ruang tamu yang ada di rumah Abi Aasim.
" Aasim di mana Mbak Anum?? ",, tanya Abi Ghifar kepada Umi Anum.
" Oh ya sebentar Mas Ghifar, akan saya panggilkan dulu ",, jawab Umi Anum kepada Abi Ghifar.
Abi Ghifar hanya mengangguk sambil tersenyum saja kepada Umi Anum, dan Umi Anum langsung berlalu masuk ke dalam kamar untuk mencari Abi Aasim.
Ketika Umi Anum sudah sampai di dalam kamar, dia langsung melihat Abi Aasim, sedang tertidur sambil memegangi kitab yang baru saja di bacanya.
Tidak mau membuat Abi Aasim terkejut, Umi Anum pun mencoba membangunkan dengan cara lembut sekali.
" Abi, Abi ",, panggil Umi Anum sambil menggoyangkan kaki sang suami.
" Eehh ",, suara terkejut dari Abi Aasim.
" Di luar ada Mas Ghifar sama Mbak Salwa Abi, ayo segera temui mereka ",, kata Umi Anum kepada Abi Aasim.
" Iya Abi ayo, jangan membuat mereka menunggu ",, jawab Umi Anum kepada Abi Aasim.
" Umi ke luarlah dulu, Abi mau cuci muka sebentar, biar segar ",, kata Abi Aasim kepada Umi Anum.
" Baiklah ",, jawab Umi Anum kepada Abi Aasim.
Umi Anum lalu ke luar terlebih dahulu meninggalkan Abi Aasim yang ingin mencuci muka.
Setelah Abi Aasim selesai mencuci muka, dia langsung saja ikut bergabung di ruang tamu rumahnya, untuk menyambut sang sahabat baiknya.
Pelukan antar sahabat pun langsung Abi Aasim dan Abi Ghifar lakukan, karena mereka memang sudah cukup lama tidak bertemu.
" Senang bisa melihat kamu datang ke sini lagi Ghifar, ayo silahkan duduk ",, kata Abi Aasim kepada Abi Ghifar.
" Bagaimana perjalanan kalian semua hingga sampai di sini, pasti kalian capek sekali?? ",, kata Abi Aasim kepada Abi Ghifar.
" Capek pasti, tapi rasa capek itu sudah langsung terobati, ketika melihat Yayasan kamu yang tidak pernah berubah sejak dulu Aasim ",, jawab Abi Ghifar kepada Abi Aasim.
" Nanti kalian akan menginap di sini seperti biasanya kan?? ",, tanya Abi Aasim kepada Abi Ghifar.
" Jika di ijinkan dengan senang hati, kami akan menginap, dan kebetulan kami juga sudah membawa beberapa pakaian milik kami ",, jawab bercanda dari Abi Ghifar kepada Abi Aasim.
Semua orang langsung saja tertawa mendengar candaan dari Abi Ghifar tadi.
__ADS_1
" Oh ya, apakah ini Uzair, sudah semakin besar dan juga semakin tampan sekali ",, kata Abi Aasim sambil menunjuk Uzair.
" Iya ",, jawab Uzair sambil tersenyum.
" Dan ini pasti Nura, tambah cantik ya ",, kata Abi Aasim juga kepada Nura.
Nura juga sama, dia hanya tersenyum sopan sambil mengangguk kepada Abi Aasim.
" Jangan lupakan Faiha juga semakin cantik saja Aasim ",, kata Abi Ghifar kepada Abi Aasim.
" Oh ya, di mana Faiha Umi?? ",, tanya Abi Aasim kepada Umi Anum.
" Sedang Umi suruh untuk membuatkan minum Abi ",, jawab Umi Anum kepada Abi Aasim.
Dan orang yang baru saja di bicarakan pun sudah datang, Faiha ke luar dari dalam rumah sambil membawa beberapa minuman di atas nampan.
Faiha dengan sopan menyuguhkan minuman beserta camilan yang di bawanya untuk sahabat sang Abi.
" Lihatlah, aku saja sampai pangling tadi ketika melihatnya ",, kata Abi Ghifar kepada Abi Aasim.
Abi Aasim hanya tersenyum saja kepada sang sahabat.
" Duduk dulu Nak, jangan masuk dulu ",, kata Abi Aasim kepada Faiha.
" Baik Abi ",, jawab lembut dari Faiha sambil mengangguk.
Faiha pun langsung duduk di sofa samping Nura, dan Nura begitu sangat senang sekali bisa melihat Faiha lagi, karena baik Nura dan Faiha mereka berdua adalah teman masa kecil, dan mereka berdua seumuran.
Uzair yang meliihat Faiha duduk bersebelahan dengan sang adik, dia terus mencuri pandang ke arah Faiha.
Karena tidak bisa di pungkiri wajah ayu nan manis milik Faiha, bisa mengalihkan pandangan dari para kaum adam.
" Oh ya Aasim, aku ke sini ingin menagih kesepakatan kita dulu, untuk menikahkan Uzair bersama Faiha, kamu tidak lupa akan hal itu kan?? ",, kata Abi Ghifar kepada Abi Aasim.
" Anak-anak kita juga sudah cukup umur, sesuai kesepakatan yang dulu pernah kita buat, aku harap kamu tidak akan lupa ",, kata Abi Ghifar lagi kepada Abi Aasim.
Senyum di bibir Abi Aasim, Umi Anum, langsung saja pudar ketika mendengar perkataan dari Abi Ghifar.
Sedangkan Faiha, dia langsung menatap tajam ke arah sang Abi, yang ternyata sedang menatap ke arahnya.
Abi Aasim lupa dengan kesepakatan yang dulu pernah dia buat dengan sang sahabat, di saat dia sudah mulai ingin merestui hubungan Faiha bersama Rain.
Faiha sungguh begitu sangat terkejut sekali mendengar perkataan dari Abi Ghifar, karena dia sendiri tidak mengetahui tentang kesepakatan itu.
Begitupun dengan Umi Anum, karena sang suami tidak pernah bercerita tentang kesepakatan tersebut kepadanya.
Permasalahan yang sedang Abi Aasim dan Faiha hadapi sepertinya semakin rumit, entahlah keputusan mana yang terbaik yang akan mereka ambil.
Dan bagaimana tanggapan Rain, ketika sudah mengetahui, jika ternyata dia mempunyai rival yang ilmu agamanya jauh di atasnya, dan jiwa mudanya jauh lebih muda darinya.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
__ADS_1
...***TBC***...