
Membicarakan Keluarga Dwayn, perkembangan kesehatan dari Papa Fransisco, semakin lama semakin membaik saja.
Mama Ingrid merasa sangat senang sekali dengan perkembangan sang suami yang semakin hari semakin kian signifikan.
Cara berbicaranya sudah cukup lancar, kaki Papa Fransisco juga sudah sedikit bisa di gerakan, dan Papa Fransisco satu dua langkah sudah bisa berjalan, walau harus dengan bantuan tongkat atau orang lain.
" Ayo Papa, Mama yakin Papa pasti bisa, demi Zarina, demi Mama dan kita semua ",, semangat dari Mama Ingrid ketika Papa Fransisco melakukan terapi di dalam mansion.
Pola hidup Papa Fransisco juga sangat teratur sekali, sangat sehat dan sesuai anjuran dari Dokter yang merawatnya semalam ini.
Papa Fransisco masih ingin mempunyai umur yang panjang, karena dia masih ingin melihat Zarina tumbuh kembang, sebab Papa Fransisco ingin menebus kesalahannya yang dulu kepada Syahlaa maupun Zarina.
Dokter yang merawat Papa Fransisco pun juga ikut menyemangati Papa Fransisco, jika Papa Fransisco pasti bisa sembuh dan kembali sehat lagi seperti sedia kala.
Semua yang Papa Fransisco lakukan, hanya satu tujuan, untuk Zarina seorang.
Ezio sendiri yang semalam tidak bisa tidur, akhirnya dia terbangun sedikit kesiangan, dan karena dia tertidur tidak di tempat yang semestinya, badan dia terasa sangat pegal-pegal sekali.
Berpindah masuk ke dalam kamar, dan duduk di pinggir ranjang, Ezio pun mencoba menghubungi Barry.
" Halo Tuan Ezio?? ",, sapa sopan dari Barry.
" Barry, apakah hari ini saya ada jadwal penting?? ",, tanya Ezio kepada Barry.
" Tidak ada Tuan, hari ini anda hanya meeting sebentar di luar, dengan Perusahaan batu bara yang kemarin itu Tuan ",, jawab Barry kepada Ezio.
" Kamu saja yang menghandle, hari ini saya tidak berangkat ke kantor, karena saya sedikit tidak enak badan, dan semua berkas yang ada di atas meja kerja saya, selesaikan kamu saja ",, kata Ezio kepada Barry.
" Baik Tuan Ezio ",, jawab Barry kepada Ezio.
Ezio yang sudah mendengar jawaban dari Barry, dia langsung saja mematikan sambungan teleponnya.
Ezio yang sudah menghubungi Barry, dia memilih melanjutkan tidurnya lagi di atas ranjang empuk miliknya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Ezio tertidur selama dua jama lamanya, dan sekitar jam sebelas siang, akhirnya dia terbangun juga.
Ezio yang sudah terbangun, dia langsung saja beranjak menuju ke dalam kamar mandi untuk mandi dan bersih-bersih badannya.
Selesai mandi, Ezio berganti baju, dan setelahnya, Ezio langsung saja ke luar dari dalam kamar menuju ke mobil super mewahnya
Ezio ingin mencari makan di Cafe milik Emmy, karena dia ingin menikmati makanan yang dia sukai selama beberapa tahun belakangan ini.
Ezio yang sudah sampai di Cafe milik Emmy, dia tidak sengaja melihat sebuah Keluarga dengan satu orang anak yang berjenis kelamin perempuan dan Ezio perkirakan anak itu seumuran dengan Zarina, hal itu membuat hatinya semakin rindu saja dengan Zarina.
Karena tidak tahan dengan rasa rindu yang dirasakannya, Ezio pun memilih membuka galeri ponselnya untuk melihat wajah cantik sang anak.
Ezio yang sudah mengisi perutnya, sebelum kembali ke rumah super mewahnya, dia pun memilih berkunjung ke mansion sang Papa terlebih dahulu untuk melihat perkembangan Papa Fransisco.
Ezio yang mendengar penjelasan dari Mama Ingrid tentang perkembangan dari Papa Fransisco, dan melihat sendiri jika sang Papa sudah cukup lancar berbicara dan sudah mencoba tidak memakai kursi roda, Ezio pun juga merasa senang melihatnya.
Ketika malam tiba, Ezio baru saja pulang dari mansion sang Papa, dan sesampainya di rumah super mewahnya, setelah selesai bersih-bersih badannya, Ezio memilih untuk mengerjakan pekerjaannya sebentar di depan laptopnya.
Sedangkan Alzam, Rain, Syahlaa, Faiha dan juga Zarina, malam itu mereka semua akhirnya sampai juga di salah satu Bandara yang ada di Negara Prancis, ketika waktu hampir menunjukkan tengah malam.
__ADS_1
" Kita menginap di apartemenku saja ",, kata Rain kepada semua orang.
" Kakak punya apartemen,?? apakah Kakak juga mempunyai rumah pribadi sendiri?? ",, tanya Faiha kepada Rain.
" Punya, tapi tidak pernah Kakak tempati, karena Kakak rencananya ingin tinggal di situ nanti ketika sudah menikah, dan sekarang Kakak sudah menikah, jadi jika kita berdua sedang ada di Prancis, bisa menginap di sana ",, jawab Rain kepada Faiha.
" Kenapa kita tidak menginap di rumah Kakak saja, sekalian Syahlaa ingin tahu di mana rumah Kakak?? ",, tanya Syahlaa kepada Rain.
" Di sana masih kosong, belum ada isinya Syahlaa ",, jawab Rain kepada Syahlaa.
" Sudah yuk, mau di mana saja kita menginap, yang penting nyaman ",, kata Alzam ikut berbicara.
Akhirnya, mereka semua langsung saja masuk ke dalam mobil milik Rain, yang sudah menunggu mereka sejak tadi, karena sebelumnya Rain sudah menghubungi anak buahnya terlebih dahulu.
" Ini mobil siapa Kakak?? ",, tanya Faiha kepada Rain.
" Mobil kita sayang, mobil Kakak ya mobil kita berdua ",, jawab Rain kepada Faiha.
Faiha hanya diam saja, karena dia tidak menyangka, jika suaminya ternyata kaya, tidak seperti yang dia bayangkan, yang hanya pekerja kantoran biasa.
Sesampainya di apartemen milik Rain, masih sama seperti sebelumnya, Faiha merasa takjub, karena baru pertama kali masuk ke dalam apartemen mewah, dan Rain yang melihat sikap sang istri yang seperti itu, dia hanya tersenyum saja.
" Alzam, Syahlaa, kamar kalian ada di sana, jika mau tidur di sebelah kamarku juga tidak apa-apa, ada di lantai dua ",, kata Rain kepada Alzam dan Syahlaa.
" Kami tidur di kamar bawah saja Rain, kasihan Syahlaa sudah hamil besar ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
" Iya terserah kalian saja ",, kata Rain kepada Alzam.
Alzam dan Syahlaa hanya mengangguk saja kepada Rain, dan Rain sendiri langsung mengajak Faiha untuk beristirahat di dalam kamar pribadinya.
" Apapun yang Kakak miliki, semuanya untuk kamu sayang ",, jawab Rain kepada Faiha sambil tiba-tiba menerjang Faiha.
" Apa Kakak tidak capek?? ",, tanya Faiha kepada Rain.
" Tidak ada kata capek jika melakukan hal nikmat denganmu sayang ",, jawab Rain kepada Faiha.
" Kamu di sini bebas jika ingin mend354h dan berteriak, karena tidak ada yang bisa mendengar, sebab dinding ini semuanya kedap suara dari luar ",, kata Rain lagi kepada Faiha.
" Ok, mari kita buktikan ",, jawab Faiha menantang Rain.
Tentu saja Rain merasa senang sekali di tantang seperti itu oleh Faiha, dan dia pun langsung saja melancarkan aksinya untuk memberikan kepuasan terhadap sang istri yang baru dinikahinya dua hari yang lalu.
Tidak di sangka, sepertinya baru saja mereka semua mengistirahatkan tubuh, tahu-tahu, pagi pun menjelang, dan semua umat muslim pasti sudah bangun sejak tadi, karena mereka harus menunaikan sholat subuh terlebih dahulu sebelum menyongsong kegiatan hari itu.
Alzam yang sudah selesai sholat subuh bersama Syahlaa, dia lalu ke luar dari dalam kamar untuk menuju kamar Rain.
" Rain, Faiha, apakah kalian masih tidur?? ",, kata Alzam sambil mengetuk pintu kamar.
Tidak lama pintu kamar pun terbuka dari dalam.
" Tidak Kakak ipar, kami baru saja selesai sholat subuh, ada apa?? ",, tanya Rain kepada Alzam.
" Ayo antarkan aku, Syahlaa dan juga Zarina ke rumah Tuan Ezio sekarang ",, jawab Alzam kepada Rain.
__ADS_1
" Hah,?? sepagi ini,?? Tuan Ezio juga pasti belum bangun Afnan ",, kata Rain kepada Alzam.
" Justru itu yang aku inginkan, biar Tuan Ezio terkejut ",, kata Alzam kepada Rain.
" Iya terserah kamu saja, aku mau bersiap-siap dulu ",, kata Rain kepada Alzam.
Mereka semua lalu bersiap-siap, dan ketika sudah siap, sekitar pukul setengah enam pagi, mereka semua termasuk Faiha, langsung meluncur ke rumah super mewah milik Ezio.
Sama seperti yang sudah-sudah, ketika mereka semua sudah sampai di rumah super mewah milik Ezio, sekitar pukul enam pagi lebih lima belas menit, Faiha merasa takjub dengan bangunan yang ada di depannya, karena itu baru pertama kalinya Faiha melihat rumah semewah dan semegah itu di hadapannya langsung, tidak di televisi.
" Ayo masuk ",, kata Rain kepada Alzam, Syahlaa, dan juga Faiha.
Mereka semua hanya mengangguk saja menanggapi Rain, dan mereka semua langsung saja melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke dalam rumah super mewah milik Ezio.
Semua anak buah dan para pekerja yang ada di rumah super mewah milik Ezio, sudah pada tahu siapa itu Rain, jadi mereka semua tidak ada yang banyak bertanya maupun mencegah langkah kaki mereka.
Zarina sendiri tidak banyak bertanya juga, karena dia sebelumnya sudah diberitahu oleh Alzam akan pergi ke mana.
Dan sesampainya di dalam rumah super mewah milik Ezio, Syahlaa dan Faiha di suruh untuk menunggu sebentar di ruang tamu terlebih dahulu, sedangkan Rain dan Alzam bersama Zarina ingin membangunkan Ezio yang masih tidur di dalam kamar.
" Ingat apa yang Ayah katakan tadi sayang?? ",, tanya Alzam kepada Zarina.
Zarina kecil, hanya mengangguk saja menanggapi perkataan dari sang Ayah.
" Ini kamarnya, aku akan menunggu kalian berdua di ruang tamu, temuilah Tuan Ezio ",, kata Rain kepada Alzam.
" Iya ",, jawab singkat dari Alzam, sambil mengangguk.
Rain langsung berlalu pergi meninggalkan Alzam untuk kembali ke ruang tamu, dan sepeninggal dari Rain, Alzam langsung saja mengetuk pintu kamar Ezio.
Ezio yang masih bergulung nyaman dengan selimut tebalnya, dia sedikit merasa terganggu ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Dengan mata yang mengantuk, Ezio pun beranjak turun dari atas ranjang untuk berjalan ke arah pintu, dan ketika pintu sudah dia buka, Ezio dibuat langsung mengucek matanya, karena dia takut jika hanya bermimpi saja, sebab di depan matanya ada sang buah hati yang sangat di rindukannya.
" Papi ",, panggil Zarina kepada Ezio.
Yaps, itulah panggilan yang Alzam ajarkan kepada Zarina, untuk mencoba memanggil Ezio dengan panggilan Papi.
" Zarina,?? inikah kamu Nak,?? apakah Papi tidak bermimpi,?? dan tadi kamu memanggil Papi Nak?? ",, kata Ezio langsung mensejajarkan tubuhnya dengan Zarina.
" Iya Papi, ini Zalina ",, jawab Zarina dengan suara lucunya.
Ezio yang merasa tidak bermimpi, dia langsung saja memeluk erat Zarina dengan mata yang berkaca-kaca.
" Zarina anak Papi, coba sekali lagi panggil Papi sayang ",, kata Ezio kepada Zarina.
" Papi ",, jawab Zarina kepada Ezio.
Mendengar panggilan Papi lagi dari Zarina, membuat Ezio langsung memeluk erat lagi tubuh kecil sang putri.
Alzam yang melihat pertemuan Ezio dan Zarina, dia hanya tersenyum terharu saja, sambil membiarkan Ezio meluapkan kerinduannya dengan Zarina, sang buah hati yang sudah beberapa saat tidak bertemu, karena jarak dan waktu.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
__ADS_1
...***TBC***...