DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
MENCOBA LEBIH BAIK


__ADS_3

Yuk kembali ke Ezio lagi.


Ezio menangis sangat pilu sekali setelah memecahkan barang-barang di dalam apartemennya.


Dia sudah sering berbuat jahat dan selalu mendapatkan balasannya.


Ezio juga sudah pernah mengalami yang namanya hinaan dari para koleganya, dan Ezio juga pernah mendapatkan hal yang paling menyakitkan di hidupnya.


Tapi ternyata, setelah bertemu dengan Zarina, semua hal menyakitkan yang dulu pernah Ezio alami, tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan rasa sakit karena ucapan polos Zarina, yang tidak mau bersamanya, terlebih Zarina malah terkesan takut kepadanya, yang notabennya adalah Ayah kandungnya sendiri.


Menangislah Ezio karena meratapi keadaannya, sungguh Ezio tidak merasa sungkan sama sekali menangis dengan sangat pilu meratapi nasibnya di hadapan Lionel.


Walau sekarang Ezio tidak mempunyai apa-apa, namun dia tidak memusingkan itu semua.


Yang Ezio pikirkan sekarang, cuma Zarina dan Zarina seorang.


" Zarina ",, kata Ezio sambil menangis dengan sangat pilu.


Lionel yang berdiri tidak jauh dari Ezio, dia juga ikut bersedih melihat sahabat baiknya menangis pilu seperti itu.


Lionel yang sudah tidak tahan melihat tangisan memilukan dari Ezio, dia lalu berjalan mendekati Ezio.


" Ezio, bangunlah kawan ",, kata Lionel sambil membangunkan Ezio, yang sedang bersimpu di lantai yang penuh dengan barang-barang berserakan.


" Zarina Lion, Zarina ..... ",, kata Ezio dengan bercucuran air mata.


" Dia takut kepadaku, bahkan dia tidak mau bersamaku dan Zarina juga masih memanggilku Paman ",, kata Ezio lagi kepada Lionel sambil menangis.


" Apa yang harus aku lakukan Lion, apa yang harus aku lakukan?? ",, kata Ezio masih sambil menangis.


" Rasanya hancur hatiku di benci dan di takuti oleh anak sendiri, sekarang aku menyesal, menyesal Lion, kenapa dulu aku malah mencampakkan Syahlaa dan menghinanya ",, kata Ezio masih dengan berlinang air mata.


" Tenanglah Ezio, jangan seperti ini ",, kata Lionel mencoba menenangkan Ezio.


" Tenang bagaimana hah,!! mana bisa aku tenang bila anak kandungku sendiri membenciku ",, kata Ezio kepada Lionel.


" Kamu tidak tahu rasanya Lion, karena kamu belum mempunyai anak, huhuhu Zarina ..... ",, kata Ezio lagi sambil memukul dadanya yang terasa sangat sesak sekali.


" Ezio, please, come on jangan seperti ini Ezio, sadarlah, ayo mari kita rebut kembali Zarina dari Isabella, aku akan membantumu sebisaku, setelah berhasil mengambil Zarina, kita bawa pergi dia dari Negara ini sejauh mungkin ",, kata Lionel kepada Ezio.


" Tidak!! ",, jawab super tegas dari Ezio kepada Lionel.


" Jika aku melakukan hal itu lagi, bukan cinta yang aku dapat dari Zarina, tapi penderitaan, karena aku harus melihat wajah dia yang bersedih setiap hari, karena di pisahkan dari Syahlaa ",, kata Ezio lagi kepada Lionel.

__ADS_1


" Lalu,?? apa yang ingin kamu lakukan Ezio?? ",, tanya Lionel kepada Ezio.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Lionel, Ezio berjalan ke arah jendela kaca besar yang ada di situ, sambil memasukkan ke dua tangannya di saku celananya.


" Aku menyerah, aku akan mengaku kalah, dan aku tidak akan mengusik lagi kebahagiaan mereka ",, jawab Ezio kepada Lionel ketika dia sudah berada di depan jendela.


" Apa kamu yakin Ezio?? ",, tanya Lionel lagi kepada Ezio.


" Iya aku yakin ",, jawab Ezio tanpa mengalihkan pandangannya.


" Lebih baik aku di rendahkan oleh orang lain, daripada harus di benci oleh anakku sendiri ",, kata Ezio lagi kepada Lionel.


" Jika memang ini jalannya untuk aku bisa melihat bahkan lebih dekat lagi dengan Zarina, akan aku lakukan, walau aku harus mengemis sekalipun di kakinya Syahlaa ",, lanjut lagi perkataan Ezio kepada Lionel.


" Jika itu keputusanmu, aku akan tetap mendukungmu Ezio, dan semoga pilihanmu ini bisa membawamu pada kebahagiaan yang kamu harapkan ",, kata Lionel kepada Ezio.


Ezio lalu berbalik badan sambil tersenyum super tipis sekali kepada Lionel.


Setelahnya, Ezio lalu berjalan melewati Lionel dan ingin keluar dari dalam kamar apartemennya.


" Kamu mau ke mana Ezio?? ",, tanya Lionel yang di tinggal oleh Ezio.


Ezio lalu menghentikan langkah kakinya, ketika di tanya oleh Lionel.


" Secepat inikah?? ",, tanya Lionel sambil mendekat ke arah Ezio.


" Iya, lebih cepat lebih baik, karena aku juga ingin segera memeluk anakku lagi ",, jawab Ezio kepada Lionel.


" Kalau begitu aku temani ",, kata Lionel kepada Ezio.


" Terserah ",, jawab Ezio kepada Lionel.


Lionel dan Ezio pun lalu benar-benar ke luar dari dalam kamar apartemen menuju ke parkiran mobil.


Dan sesampainya di parkiran mobil, mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil milik Ezio, untuk menuju ke rumah sakit tempat Zarina, Papa Fransisco dan juga Papa Ducan sedang di rawat.


Sepanjang perjalanan, Ezio terus memikirkan kejadian yang dia lihat di dalam ruang perawatan Zarina.


Di tambah Ezio selalu teringat dengan nasihat dari sang Mama, membuatnya semakin yakin dan mantap saja untuk meminta maaf kepada Syahlaa.


Ezio pasrah, jika seandainya dia meminta maaf namun masih tidak di percaya dan tidak di ijinkan bertemu dengan Zarina.


Tapi setidaknya, dia sudah mencoba berdamai dengan hati dan juga keadaan yang membuat dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Andai saja dari dulu Ezio tidak mengedepankan ego dan juga cinta butanya itu, pasti tidak akan seperti ini ceritanya, dan tidak akan ada kata menyesal untuknya.


Tapi semuanya sudah terlanjur, nasi sudah berubah menjadi bubur, dan bubur jika di rubah menjadi nasi kembali tentu saja tidak akan bisa.


Jadi, daripada Ezio menyesalinya berlarut-larut, lebih baik Ezio memperbaikinya supaya menjadi lebih baik lagi.


Di dalam mobil, Lionel dan Ezio tidak saling berbicara sama sekali, mereka diam karena sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Dan Ezio juga rasanya sangat malas sekali membuka mulutnya untuk berbicara.


Mengendarai mobil dengan sedikit melamun, akhirnya mobil yang di kendarainya sampai juga di rumah sakit tempat Zarina di rawat.


Baik Lionel maupun Ezio, langsung segera bergegas keluar dari dalam mobil, ketika mobil sudah terparkir dengan rapi.


Ezio melebarkan langkah kakinya, karena dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di ruang perawatan Zarina.


Dan sesampainya di ruang perawatan Zarina, Ezio maupun Lionel di buat cukup bingung, karena pasalnya tidak ada para bodyguard yang berjaga di depan ruangan sama seperti sebelumnya.


" Kenapa sepi sekali di sini?? ",, tanya Ezio pada dirinya sendiri, namun masih di dengar oleh Lionel.


" Atau jangan-jangan mereka ........?? ",, kata Lionel kepada Ezio.


Dan Ezio tidak mau menunggu lama lagi, dia langsung saja bergegas membuka pintu ruang perawatan tersebut secara kasar.


Ternyata........,?? apa yang mereka pikirkan adalah benar, jika Zarina dan Syahlaa, beserta Alzam sudah tidak berada di dalam ruang perawatan tersebut.


" Ke mana mereka pergi?? ",, kata Ezio sambil melihat ke seluruh ruangan.


" Ayo kita segera bertanya kepada perawat ",, kata Lionel kepada Ezio.


Ezio langsung segera ke luar dari dalam ruang perawatan Zarina di ikuti oleh Lionel.


Ketika sudah sampai di meja resepsionis yang tidak jauh dari situ, Ezio langsung saja bertanya kepada petugas resepsionisnya.


Dan petugas resepsionisnya mengatakan, jika Zarina sudah di bawa pulang oleh Syahlaa dan juga Alzam sejak beberapa menit yang lalu.


Terkejut dan tambah semakin bingung saja si Ezio, karena dia datang terlambat cuma beberapa menit saja.


Di waktu Ezio ingin benar-benar berubah, tapi keadaan dan Tuhan tidak merestuinya,


Mungkin ini juga hukuman untuk Ezio, supaya dia harus lebih berjuang lagi dalam mendapatkan kata maaf dari Syahlaa dan juga pelukan hangat dari Zarina lagi.


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2