DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
CERITA FAIHA


__ADS_3

Meninggalkan Ezio dan Syahlaa sejenak yang sedang pada tegang.


Kita beralih sebentar kepada Faiha.


Faiha yang mendapatkan balasan pesan dari Rain, dia tersenyum-senyum sendiri, dengan perasaan bahagia yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


" Calon istriku ",, kata Faiha, dengan senyum yang terus mengembang sempurna di bibirnya.


Rasanya Faiha ingin berteriak, berteriak karena sedang merasa senang, efek balasan pesan dari Rain yang sudah dia baca.


" Kak Rain ",, kata Faiha lagi sambil berbicara sendiri.


" Ok, akan Fai ganti namanya dengan Kak Rain ",, kata Faiha sambil menamai nomor telepon Rain di ponselnya.


" Dan sekarang Fai mau membalas pesannya dulu ",, kata Faiha lagi.


Ketika Faiha teringat, jika Rain sedang ingin berangkat bekerja, dia pun lalu mengurungkan niatnya tersebut.


" Eh, Kak Rain kan mau berangkat bekerja ya ",, kata Faiha masih berbicara sendiri.


" Baiklah aku balas begini saja ",, kata Faiha lagi.


" Iya Kak, di sini sudah malam, ini Fai mau tidur, Kak Rain hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan dan rejeki yang Kak Rain cari, semoga berkah dan di ridhoi oleh Allah ",,


Balas Faiha kepada Rain, serta jangan lupa emoticon senyum manis, juga Faiha sematkan di pesan itu.


Setelahnya, Faiha pun langsung mencoba memejamkan matanya untuk tidur.


Sepertinya baru saja tadi Faiha mencoba tidur, tapi tidak tahunya alarm jamnya pun tiba-tiba sudah berdering, dan itu artinya jika waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi.


Walau tidur cuma sebentar, tapi Faiha bangun dalam keadaan badan fit dan juga segar.


Itu semua, karena rasa bahagia yang di berikan oleh Rain melalui pesan singkat semalam.


Faiha yang sudah menunaikan sholat subuh di dalam kamarnya, dia pun langsung bergegas ke luar menuju ke dalam dapur untuk memasak seperti biasanya.


Namun sebelumnya, Faiha mengecek terlebih dahulu ke dalam ponselnya apakah ada balasan pesan dari Rain apa tidak.


Dan sayang sekali, Rain tidak membalas pesan yang di kirimkan oleh Faiha semalam, karena pagi itu Rain ada pekerjaan banyak, serta dia akan segera meeting dengan jajaran Direksi Perusahaan.


Walau pun sebenarnya Rain sudah tahu, jika Faiha sudah membalas pesannya, akan tetapi Rain belum tahu apa arti balasan pesan dari Faiha untuknya.


Faiha memasak dengan riang gembira, bibir dia terus menyunggingkan senyuman.


Akan tetapi ketika ada Umi Anum masuk ke dalam dapur, Faiha pun mencoba biasa saja ekspresinya.


Sebab Faiha, tidak mau ketahuan jika dia sedang bahagia karena Rain.


Yang namanya seorang ibu, walau sang anak tidak berbicara sekalipun, dia pasti akan tahu, karena sikap Faiha pagi itu menunjukkan ada yang berbeda.


" Sepertinya kamu sedang bahagia ya Fai,?? apakah kamu tidak mau membaginya sama Umi?? ",, tanya Umi Anum yang ikut memasak bersama Faiha.


" Fai biasa saja ko Umi ",, jawa Faiha sambil menyembunyikan senyumannya.

__ADS_1


" Hayo jujur, kenapa kamu senyum-senyum sendiri begitu?? ",, goda Umi Anum kepada Faiha.


" Apaan sih Umi, Fai tidak apa-apa ya ",, jawab Faiha lagi dengan malu-malu.


" Hmm, anak gadis Umi sudah besar, sudah mau menikah, dan sekarang juga sudah tidak mau jujur sama Uminya sendiri ",, kata Umi Anum berpura-pura merajuk.


" Umi, Fai tidak begitu ya, jangan marah dong ",, kata Faiha kepada Umi Anum.


" Umi tidak akan marah, jika Fai mau jujur kepada Umi ",, kata Umi Anum kepada Faiha.


" Ok akan Fai ceritakan ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.


Namun, sebelum Faiha bercerita, dia pun mencoba mengintip ke arah pintu penghubung, karena Faiha takut jika ada sang Abi di balik pintu tersebut.


" Kamu kenapa Fai,?? takut ada Abi ya?? ",, tanya Umi Anum kepada Faiha.


" Iya Umi ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.


" Tenang saja, Abi masih di masjid, dan biasanya Abi akan kembali ke rumah nanti, sekitar jam setengah enam ",, kata Umi Anum kepada Faiha.


" Sudah ayo cepat cerita kepada Umi, apa yang membuat anak gadis Umi seceria ini wajahnya, padahal kemarin terlihat sangat suntuk sekali ",, kata Umi Anum lagi kepada Faiha.


" Emm, semalam Kak Rain ..... ",, perkataan Faiha langsung terputus, ketika di sela oleh Umi Anum.


" Kak Rain,?? maksud kamu Tuan Rain Fai?? ",, tanya Umi Anum kepada Faiha.


" Iya Umi Tuan Rain, dan dia menyuruh Fai memanggilnya Kakak seperti Fai memanggil Kak Afnan ",, jawab Faiha kepada Umi Anum.


" Lalu, apa?? ",, tanya Umi Anum lagi kepada Faiha.


" Fai tahu ketika akan tidur malam tadi, ternyata ada pesan masuk dari Kak Rain, dan dia sepertinya serius dengan Fai Umi, bahkan Kak Rain memanggil Fai dengan panggilan calon istri dan akan segera menikahi Fai nanti, jika urusan Kak Afnan dan Kak Syahlaa sudah selesai di sana ",, lanjut lagi cerita dari Faiha kepada Umi Anum.


" Apakah sebelumnya Tuan Rain, sudah mengetahui nomor ponsel kamu Fai?? ",, tanya Umi Anum lagi kepada Faiha.


" Belum Umi, mungkin dia minta sama Kakak, atau Kakak sendiri yang sengaja memberikannya kepada Kak Rain ",, jawab Faiha sambil mengalihkan pandangannya ke arah Umi Anum.


" Karena sebelumnya, Faiha sengaja menelpon Kakak untuk curhat masalah hatinya Faiha kepada Abi ",, kata Faiha lagi kepada Umi Anum.


" Jadi, Kakak kamu Afnan sekarang sudah tahu, tentang kamu dan Tuan Rain?? ",, tanya Umi Anum kepada Faiha.


" Iya Umi, ada perasaan lega jika Kak Afnan mengetahui masalah ini, karena bagaimanapun juga Faiha tidak mau di jodohkan Abi dengan laki-laki yang tidak Fai sukai ",, jawab Faiha lagi kepada Umi Anum.


" Jika hatimu sudah tenang, berbicaralah pelan-pelan kepada Abi, siapa tahu Abi mau mendengarkan hati kamu, jodoh tidak akan lari ke mana walau kalian terpisah jarak dan waktu Faiha ",, kata Umi Anum kepada Faiha.


" Iya Umi, tapi untuk sekarang, rasanya Fai masih enggan untuk berbicara kepada Abi, karena menurut Fai, Abi sangat egois sekali ",, kata Faiha kepada Umi Anum.


" Menurut Abi itu yang terbaik untuk Fai, tapi apakah Abi tidak memikirkan bagaimana tersiksanya hati Fai nanti, jika di suruh menikah dengan laki-laki yang bukan Fai kehendaki, bukan kenyamanan Umi yang akan Fai dapatkan, tapi penderitaan ",, kata Faiha lagi sambil menangis.


Umi Anum yang melihat Faiha menangis, dia langsung saja mencoba untuk menenangkan Faiha.


" Ssusstt, istighfar Nak, mungkin kali ini Abi sedang tersesat di jalan, jadi kamu sebagai anaknya, jangan memarahinya, tapi tuntunlah jalannya supaya bisa kembali ke tujuan yang semestinya ",, nasihat Umi Anum kepada Faiha.


" Iya Umi, maafkan Fai ",, jawab Faiha sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


" Sudah yuk, kita lanjutkan lagi memasaknya, takut jika Abi nanti ke buru pulang dari masjid ",, kata Umi Anum kepada Faiha.


Faiha hanya mengangguk saja kepada Umi Anum, dan mereka berdua lalu melanjutkan acara memasak mereka untuk sarapan nanti.


Tidak tahukah Umi Anum dan Faiha, jika Abi Aasim mendengar semua apa yang mereka bicarakan tadi.


Abi Aasim yang biasanya pulang sedikit siang dari Masjid, entah kenapa hari itu dia ingin sekali buru-buru untuk pulang ke rumah.


Hati Abi Aasim telah di gerakkan oleh Allah, supaya dia bisa mendengar sendiri curhatan dari sang putri bungsunya yaitu Faiha.


Karena, jika tidak Allah sendiri yang membolak balikkan hati umatnya, dia pasti akan menjadi hamba yang tersesat, walau sudah mendapatkan banyak nasihat dari sana dan sini.


Ketika Abi Aasim sudah sampai rumah, dia melihat rumah masih sepi, seperti di saat dia tinggal ke Masjid tadi.


Namun Abi Aasim tahu, jika jam segitu, istri dan anak bungsunya pasti sedang berada di dalam dapur untuk memasak.


Dan benar saja, ketika Abi Aasim sudah sampai di dekat dapur, dia mendengar Umi Anum dan Faiha sedang berbincang.


Seperti sebelumnya, Abi Aasim mencoba menguping apa yang sedang di bicarakan oleh Faiha kepada Umi Anum.


Di saat Abi Aasim mendengar curhatan isi hati dari Faiha kepada Umi Anum, hatinya terasa sesak, sebab tidak menyangka jika Faiha menderita dengan keputusannya itu, untuk menjodohkannya dengan laki-laki lain.


Karena Abi Aasim tidak tahan dengan perkataan dari Faiha, Abi Aasim pun langsung saja masuk ke dalam ruang kerjanya untuk merenung.


" Apakah keputusan yang hamba ambil salah ya Allah ",, kata Abi Aasim berbicara sendiri di dalam hati.


" Hamba ingin laki-laki yang baik yang ingin menjadi imam Faiha, tapi sepertinya Faiha tidak suka akan hal itu ",, kata batin Abi Aasim lagi.


" Ampunilah hamba ya Allah, sudah membuat hati anak hamba terluka ",, kata Abi Aasim sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Abi Aasim lalu menundukkan kepalanya dengan tumpuan ke dua tangannya di atas meja.


Hingga tanpa Abi Aasim sadari, tiba-tiba ada yang mengejutkannya dengan mengetuk pintu ruang kerjanya.


" Astaghfirullah apa tadi aku ketiduran di sini?? ",, kata Abi Aasim berbicara sendiri, sambil menetralkan rasa keterkejutannya.


" Abiii, apakah Abi ada di dalam?? ",, kata orang yang mengetuk pintu.


Abi Aasim lalu mengalihkan pandangannya ke arah jam yang menggantung indah di dinding situ.


" Astaghfirullah, sudah jam setengah delapan,!! hamba ketiduran lagi, tapi tadi sepertinya ....... ",, kata Abi Aasim merasa heran sendiri.


" Jadi, yang tadi aku alami hanyalah mimpi ",, kata Abi Aasim lagi kepada dirinya sendiri.


Iya, karena tanpa Abi Aasim sadari, dia ternyata ketiduran lagi setelah merenung tadi, dan Abi Aasim seperti memimpikan sesuatu di dalam tidurnya.


" Abiiii ",, panggilan lagi dari luar ruang kerja.


" Iyaaa ",, teriak Abi Aasim untuk menyahuti panggilan.


Abi Aasim pun langsung saja segera beranjak bangun dari duduknya untuk ke luar dari dalam ruang kerjanya, dan melihat siapakah yang sudah memanggilnya daritadi.


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2