
Setelah puas berkeliling dan berada di rumah milik Rain, yang akan Rain dan Faiha tinggali nanti, saat ini mereka semua sudah sampai di apartemen milik Rain.
Syahlaa dan Alzam tidak langsung masuk ke dalam kamar mereka, begitupun dengan Rain dan juga Faiha, mereka ikut duduk bersama Syahlaa dan Alzam di ruang keluarga.
" Ayah, telepon Tuan Ezio dong, ini sudah jam delapan malam Ayah, dia akan mengembalikan Zarina kepada kita kapan?? ",, kata Syahlaa merengek kepada Alzam.
" Iya baiklah, sebentar akan Ayah telepon sekarang ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
Syahlaa hanya mengangguk saja, dan Rain, serta Faiha, juga ikut memperhatikan Alzam yang sedang mencoba menghubungi Ezio.
Ezio yang saat ini sedang menimang-nimang Zarina, karena tiba-tiba badannya panas, mungkin karena efek kecapekan seharian bersenang-senang dengan sang Papi, jadi membuat Ezio sampai mengabaikan sambungan telepon dari Alzam.
" Tidak diangkat Ma ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
Hal itu justru membuat Syahlaa menjadi tidak karuan pikirannya, dan dia menjadi bersu'udzon kepada Ezio.
" Coba telepon lagi Ayah ",, kata Syahlaa kepada Alzam.
Alzam hanya mengangguk saja, dan dia mencoba untuk menghubungi Ezio kembali.
Panggilan ke dua dan ke tiga, juga tidak diangkat oleh Ezio, karena Ezio benar-benar sedang sangat sibuk menimang-nimang Zarina yang sedang mode manja minta dia gendong olehnya.
" Tidak diangkat lagi Ma ",, kata Alzam lagi kepada Syahlaa.
" Tuh kan, ini yang Mama takutkan, jika Tuan Ezio tidak akan menepati janjinya, ayo antarkan Mama ke rumah Tuan Ezio sekarang Ayah, Mama ingin mengambil Zarina saat ini juga ",, kata Syahlaa kepada Alzam.
" Tunggu dulu Ma, siapa tahu Tuan Ezio memang benar-benar sedang sibuk, jadi dia tidak sempat mengangkat sambungan telepon dari Ayah ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
" Iya Kak, jangan bersu'udzon dulu sama Tuan Ezio, nanti jatuhnya fitnah ",, kata Faiha juga kepada Syahlaa.
" Tapi ini sudah malam, besok kita akan kembali ke Indonesia, dan dari kemarin juga jika sedang dihubungi langsung diangkat, kenapa sekarang Tuan Ezio tidak mau mengangkat sambungan telepon dari kita ",, jawab Syahlaa kepada Faiha dan Alzam.
" Sebentar, biar Kakak teleponkan kepada anak buah yang ada di sana ",, kata Rain kepada Syahlaa dan yang lainnya.
Semua orang langsung mengangguk, dan Rain langsung mencoba menghubungi salah satu anak buah yang menjaga rumah mewah milik Ezio.
" Ok, baik, terimakasih ",, begitu kata Rain untuk mengakhiri sambungan teleponnya.
Syahlaa yang melihat Rain sudah selesai menelpon, dia langsung segera mencerca Rain dengan banyak pertanyaan.
" Bagaimana Kak, apa kata anak buah tadi?? ",, tanya Syahlaa kepada Rain.
__ADS_1
" Katanya, setelah pulang dari kebun binatang tadi, Tuan Ezio daritadi berada di rumah dan berada di dalam kamar bersama Zarina, belum ke luar sama sekali ",, jawab Rain kepada Syahlaa.
" Mungkin mereka kecapekan, dan sedang tidur Syahlaa ",, kata Rain lagi kepada Syahlaa.
" Benar kata Faiha, kamu jangan bersu'udzon dulu dengan Tuan Ezio, karena saya yakin Tuan Ezio bukan orang yang suka ingkar janji ",, kata Rain menasihati Syahlaa.
" Syahlaa cuma takut Kak, Syahlaa tidak ingin di pisahkan dengan Zarina, anak yang sudah susah payah Syahlaa kandung dan lahirkan ",, jawab Syahlaa sambil menampilkan wajah sedihnya.
Alzam yang melihat sang istri bersedih, dia sangat tahu sekali apa yang sedang Syahlaa rasakan, dan dia lalu memberikan pelukan hangat supaya Syahlaa merasa lebih baik.
Sedangkan bergeser ke rumah mewah milik Ezio.
Ezio saat ini sudah mulai sedikit lebih lega, karena badan Zarina sudah tidak sepanas tadi, sudah lebih mendingan, setelah dia berikan sirup paracetamol.
Walau pegal karena daritadi harus menggendong Zarina terus, akan tetapi Ezio tidak mau mengeluh sama sekali, justru dia sedang menikmati momen Zarina yang sedang sakit seperti saat ini, sebab membuat Zarina ingin di manja terus olehnya.
" Cepat sehat ya anak Papi ",, kata Ezio sambil mencium kepala Zarina.
Melihat Zarina sudah tidur di dalam gendongannya, Ezio mencoba menidurkan Zarina kembali ke atas ranjang miliknya.
Ezio lalu menyelimuti Zarina dengan selimut yang ada, lalu dia mengecilkan suhu ac yang ada di dalam kamarnya, supaya Zarina tidak kedinginan.
" Kamu membuat Papi khawatir saja sayang ",, kata Ezio kepada Zarina.
Setelah menyelimuti Zarina, Ezio mencoba mengambil ponselnya, karena ketika dia sedang menimang Zarina tadi, dia mendengar ponselnya sedang berdering terus menerus.
Melihat panggilan tidak terjawab dari Alzam, Ezio langsung mencoba menelpon balik.
Dan untungnya baik Alzam, Syahlaa, Rain serta Faiha, masih pada duduk di ruang Keluarga.
Atensi semua orang langsung teralihkan ke arah ponsel Alzam yang sedang berbunyi.
Melihat nama Ezio yang sedang menelponnya, Alzam pun langsung saja mengangkatnya.
" Halo Tuan Ezio?? ",, sapa Alzam kepada Ezio.
Mendengar Alzam memanggil nama Ezio, semua orang semakin menajamkan telinga mereka, terutama Syahlaa.
" Halo juga Tuan Alzam Chafik ",, sapa balik dari Ezio.
" Maafkan saya jika tadi tidak bisa mengangkat sambungan telepon dari anda, karena saya sedang menimang Zarina yang sedang rewel, karena badannya sedikit panas ",, kata Ezio kepada Alzam.
__ADS_1
Alzam langsung menegakkan duduknya ketika mendengar sang putri sedang sakit.
Begitupun dengan Syahlaa maupun Rain dan Faiha, mereka menjadi khawatir dengan keadaannya Zarina, ketika mendengar Zarina sedang sakit malam itu.
" Lalu bagaimana dengan Zarina sekarang Tuan Ezio?? ",, tanya Alzam dengan suara yang terdengar khawatir.
" Anda tenang saja Tuan Alzam Chafik, Zarina sudah lebih baik ",, jawa Ezio kepada Alzam.
" Tadi sore sebenarnya saya ingin mengantarkan Zarina kepada anda, akan tetapi dia malah ketiduran ketika saya tinggal mandi ",, cerita Ezio kepada Alzam.
" Saya tunggu-tunggu sampai sekarang, Zarina masih belum bangun juga, dan ketika bangun dia langsung rewel, ternyata pas saya pegang tubuhnya, ternyata cukup panas, mungkin karena kecapekan seharian bermain dan bersenang-senang dengan saya Tuan Alzam Chafik ",, Ezio lanjut bercerita lagi, dan Alzam masih setia mendengarkan.
" Maafkan saya, akan saya pulangkan Zarina besok, anda besok akan pulang ke Indonesia jam berapa Tuan?? ",, tanya Ezio.
" Tidak apa-apa Tuan Ezio, besok pesawatnya akan lepas landas sekitar jam sebelas siang Tuan ",, jawab Alzam kepada Ezio.
" Baiklah, kalian tunggu saja, besok akan saya antarkan Zarina ke sana, malam ini Zarina biar tidur lagi bersama saya, sekalian saya mau belajar merawat Zarina yang sedang sakit seperti sekarang ",, kata Ezio kepada Alzam.
" Baiklah Tuan Ezio, saya mengerti, dan saya yakin anda bisa merawat Zarina dengan baik ",, jawab Alzam kepada Ezio.
" Terimakasih banyak Tuan, kalau begitu, selamat malam dan selamat istirahat Tuan Alzam Chafik ",, kata Ezio kepada Alzam.
" Iya sama-sama, selamat malam juga Tuan Ezio ",, jawab Alzam, dan sambungan mereka pun lalu terputus.
Ketika melihat Alzam sudah selesai menerima telepon dari Ezio, Syahlaa langsung saja segera bertanya tentang Zarina.
" Zarina tidak apa-apa Ma, dia cuma kecapekan saja seperti biasanya ",, kata Alzam kepada Syahlaa.
" Tuan Ezio besok akan mengantarkan Zarina ke sini sebelum kita pergi ke Bandara ",, kata Alzam lagi.
" Dan besok lagi Mama jangan su'udzon dulu sama orang, nanti Mama sendiri yang berdosa ",, nasihat Alzam kepada Syahlaa.
" Kita boleh waspada kepada orang, apalagi kita pernah disakiti oleh orang itu, tapi jika dia sudah mulai ingin berubah menjadi lebih baik, berikanlah dia kepercayaan ",, nasihat dari Alzam lagi.
" Karena kepercayaan dari kita, akan mendorong dia untuk benar-benar berubah menjadi lebih baik lagi ",, kata Alzam.
" Iya Ayah, maafkan Mama ",, jawab Syahlaa kepada Alzam.
Bukan salah Syahlaa juga bersikap seperti itu kepada Ezio, karena menghilangkan luka yang diberikan Ezio kepadanya tidaklah mudah, walaupun bisa hilang, tapi pasti ada bekasnya.
Sedangkan Ezio tadi yang sudah selesai menghubungi Alzam, dia langsung ikut merebahkan badannya di samping Zarina, untuk ikut tidur juga sekaligus menjaga Zarina.
__ADS_1
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...