DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
UZAIR


__ADS_3

Masih membahas Alzam dan Syahlaa, dan kita tinggalkan Ezio sejenak, karena perannya kali ini sedang tidak di butuhkan di part ini.


Akhirnya, ketika sudah berjam-jam lamanya hampir sekitar dua puluh jam mengudara, pesawat yang di naiki oleh Alzam, Syahlaa, Rain dan juga Zarina, mendarat dengan sempurna di landasan salah satu Bandara yang ada di Indonesia.


Senyum kebahagiaan dan lega terpancar di wajah semua orang, karena pada akhirnya pesawat yang mereka naiki bisa tiba di tempat tujuan dengan selamat.


" Cuaca sepertinya sedang tidak mendukung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan ",, kata Syahlaa ketika melihat langit sedang mendung.


" Dan ini mengingatkan Ayah dengan pertemuan pertama kali dengan seorang wanita, ketika baru saja pulang dari Prancis ",, jawab Alzam sambil menggoda Syahlaa.


" Apa kita harus menginap di hotel itu juga Ayah, akan tetapi bedanya sekarang kita bisa bebas berada di dalam satu kamar yang sama ",, kata Syahlaa sambil tertawa.


" Kalian ini malah asik sendiri, hargai aku dong yang masih jomblo ",, kata Rain kepada Syahlaa dan Alzam.


" Makanya sana cepat nikahi Faiha, biar jika kita jalan bersama seperti ini, Kak Rain tidak sendirian seperti sekarang ",, jawab Syahlaa kepada Rain.


" Nanti setelah ini, Kakak akan segera menikahi dia Syahlaa ",, kata Rain kepada Syahlaa.


" Bagaimana jika Abi tidak merestui kalian Rain?? ",, kata Alzam kepada Rain.


" Akan aku hadapi, karena cintaku ini tulus dan murni ",, jawab Rain kepada Alzam.


" Sudah yuk kita masuk ke dalam taksi, takut nanti ke buru turun hujan ",, kata Rain kepada Alzam dan Syahlaa.


Alzam, Rain, Syahlaa dan Zarina, mereka berempat berada di dalam satu taksi yang sama.


Dan Rain yang duduk di depan bersama sang sopir, sedangkan Alzam bersama Syahlaa serta Zarina duduk di kursi belakang.


Ketika taksi yang mereka naiki sudah berjalan, Rain pun mencoba mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang di bawanya.


Rain mencoba menghidupkan ponselnya yang sejak kemarin sedang dia matikan.


Setelah beberapa menit menyala, banyak sekali pemberitahuan dari berbagai kolega dan teman, dari panggilan tidak terjawab serta juga pesan masuk.


Di antara itu semua hanya satu yang menarik pandangan dari Rain, yaitu pesan yang di kirimkan oleh Faiha.


Sebelum membahas Rain lebih lanjut lagi, kita bergeser sejenak ke Faiha lagi.


Abi Aasim yang di tinggal pergi oleh semua orang malam itu, dia lalu ikut beranjak pergi juga menuju ke dalam kamarnya.


Namun sebelum itu, Abi Aasim mencoba ke luar dari dalam rumah, untuk melihat apakah Faiha ada di depan.


Ternyata setelah di lihat-lihat oleh Abi Aasim, Faiha tidak ada di teras depan, dan hal itu membuat Abi Aasim sedikit khawatir, sebab Faiha pergi dalam keadaan marah.


Abi Aasim lalu melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju ke pesantren perempuan, untuk mencari keberadaannya Faiha.


Lagi dan lagi Abi Aasim tidak menemukan Faiha di sana, dan hal itu membuat Abi Aasim semakin merasa khawatir saja.


" Di mana kamu Nak, ini sudah malam, tidak biasanya kamu pergi dari rumah selarut ini ",, kata Abi Aasim berbicara sendiri.


Abi Aasim lalu mencari Faiha di tempat lain, namun masih berada di lingkup Yayasan miliknya, hingga pada akhirnya Abi Aasim mencoba bertanya kepada orang yang berjaga di pintu gerbang, apakah melihat Faiha ke luar.


" Iya Pak Kyai, Ning Faiha tadi ke luar ",, jawab sang penjaga pintu gerbang kepada Abi Aasim.


" Apa kamu tidak bertanya mau pergi ke mana anak saya Faiha malam-malam begini?? ",, tanya Abi Aasim lagi kepada sang penjaga pintu gerbang.


" Sudah Pak Kyai, tapi Ning Faiha tidak menjawab dan dia memilih langsung segera berlari menuju ke arah sana ",, jawab sang penjaga pintu gerbang sambil menunjuk ke arah rumah Aaqil.


" Baiklah, terimakasih ",, kata Abi Aasim lagi.


" Sama-sama Pak Kyai ",, jawab penjaga pintu gerbang kepada Abi Aasim.


Abi Aasim lalu melangkah kakinya menuju ke arah rumah Aaqil, karena Abi Aasim yakin jika Faiha berada di rumah Aaqil saat ini.


Dan benar saja ketika Abi Aasim mengetuk pintu rumah Aaqil, Abi Aasim langsung di tanya oleh Iffah.

__ADS_1


Karena kebetulan yang membuka pintu rumah adalah Iffah.


" Abi, silahkan masuk dulu Abi ",, kata Iffah kepada Abi Aasim.


Abi Aasim langsung saja masuk ke dalam ruang tamu rumah Iffah.


" Apa Abi ke sini ingin mencari Faiha?? ",, tanya Iffah kepada Abi Aasim.


" Iya, apa adik kamu ada di sini?? ",, jawab Abi Aasim kepada Iffah.


" Iya, Faiha ada di sini Abi, dan dia sedang beristirahat di dalam kamar tamu ",, jawab Iffah kepada Abi Aasim.


" Emm, lebih baik biarkan Fai di sini saja dulu Abi, supaya hati dia sedikit lebih tenang ",, kata Iffah lagi kepada Abi Aasim.


" Iffah sudah mendengar semuanya Abi dari Fai, dan Iffah hanya menyayangkan, kenapa Abi bisa bersikap seperti itu kepada Faiha?? ",, kata Iffah kepada Abi Aasim.


" Jika Iffah yang ada di posisi Fai, mungkin Iffah memilih kawin lari dengan laki-laki yang Iffah cintai, daripada tertekan batin dan menyiksa diri seumur hidup ",, lanjut lagi perkataan dari Iffah kepada Abi Aasim.


" Kamu benar Iffah, ini semua salah Abi ",, jawab Abi Aasim kepada Iffah.


" Kenapa dulu Abi bisa mempunyai pemikiran seperti itu yang ingin menjodohkan Faiha dengan Uzair ",, kata Abi Aasim lagi kepada Iffah.


" Sekarang semuanya sudah runyam, lalu apa yang harus Abi katakan kepada Keluarga Abi Ghifar, kalau Faiha sangat menolak perjodohan ini dan memilih Tuan Rain sebagai suaminya?? ",, tanya Iffah kepada Abi Aasim.


" Entahlah Iffah Abi juga bingung ",, jawab Abi Aasim kepada Iffah.


" Jika Abi masih sayang kepada Fai, tolak lamaran mereka, batalkan perjodohan ini Abi ",, kata Iffah kepada Abi Aasim.


" Akan Abi pikirkan kembali Iffah ",, jawab Abi Aasim kepada Iffah.


" Abi jangan egois seperti ini Abi, rumah tangga itu tidak satu minggu atau satu bulan saja, tapi seumur hidup, apa Abi tega melihat Fai menderita batin seumur hidupnya, bagaimana kalau Fai tidak kuat dan memilih mengakhiri hidupnya, semua itu tidak sepenuhnya salah Faiha Abi, tapi juga salah Abi yang sudah menyusahkan Fai dan membuat Fai menderita ",, kata Iffah kepada Abi Aasim.


" Sudah malam, kamu beristirahatlah, Abi pulang dulu ",,


Abi Aasim bukannya menjawab, dia memilih menghindar dari pembicaraan.


" Wa'alaikumussalam ",, jawab Iffah sambil menampilkan wajah sedihnya.


Sedih, karena sang Abi tidak mau mendengarkan perkataannya, malah memilih menghindar darinya.


Abi Aasim yang sudah sampai rumahnya, dia pun langsung saja masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di dalam kamar, dia melihat sang istri yaitu Umi Anum belum memejamkan matanya.


Dan Umi Anum yang melihat kedatangan dari Abi Aasim, biasanya akan menyambut dengan hangat, sekarang hanya wajah dingin yang sangat tidak enak sekali di lihat.


" Apakah Umi juga marah sama Abi?? ",, tanya Abi Aasim kepada Umi Anum.


Tidak menjawab, itulah yang sedang di lakukan oleh Umi Anum kepada Abi Aasim.


Umi Anum memilih memalingkan mukanya sambil berbalik badan membelakangi Abi Aasim untuk tidur.


Dan Abi Aasim sendiri yang melihat sikap dari Umi Anum, dia hanya bisa menghela nafasnya.


Hingga pada akhirnya, Abi Aasim memilih tidur, dengan banyak beban pikiran di otaknya.


Keesokan paginya, di kediaman Abi Aasim, Uzair yang sedang ikut sarapan bersama semua orang, dia mencuri pandang ke segala arah, karena dia tidak melihat Faiha sejak pagi tadi.


Ingin bertanya kepada Abi Aasim, rasanya Uzair sangat malu sekali, akan tetapi rasa penasaran Uzair terobati ketika Abi Ghifar mencoba bertanya kepada Abi Aasim di mana keberadaannya Faiha.


Mendengar jawaban dari Abi Aasim, yang mengatakan jika Faiha ada di rumah Aaqil dan Iffah, selesai sarapan Uzair meminta ijin kepada Abi Ghifar dan Abi Aasim, untuk jalan-jalan di sekitar Yayasan.


Untung saja para orang tua tidak menyadari kepergian dari Uzair, jadi Uzair bisa sedikit lebih tenang ketika akan pergi ke rumah Aaqil.


Yaps, Uzair memang pergi ke rumah Aaqil untuk menemui Faiha.

__ADS_1


Uzair yang sudah sampai di depan rumah Aaqil, dia langsung melihat Aaqil sedang menyiram tanaman.


Dan Uzair pun langsung menyapa Aaqil dengan salamnya.


" Assalamu'alaikum Kak Aaqil ",, salam Uzair kepada Aaqil.


" Wa'alaikumussalam, eh, Gus Uzair, mari-mari ayo silahkan masuk ",, kata Aaqil kepada Uzair.


Uzair dan Aaqil langsung saja masuk ke dalam ruang tamu.


Iffah yang akan ke luar rumah pun sedikit terkejut, ketika melihat kedatangan Uzair di rumahnya.


" Eh, ada Gus Uzair, sudah lama?? ",, tanya Iffah kepada Uzair.


" Baru saja datang Kak Iffah ",, jawab Uzair kepada Iffah sambil tersenyum.


" Kamu pasti mau mencari Fai ya?? ",, tanya Iffah kepada Uzair.


" Iya Kak ",, jawab Uzair masih sambil tersenyum.


" Fai masih berada di dalam kamar, dia tidak mau ke luar kamar sama sekali, bahkan dia belum sarapan juga, akan Kakak panggilkan dia untuk menemui kamu, lebih baik selesaikan permasalahan kalian dan Kakak akan memberi kalian privasi untuk berbicara berdua di sini, Kakak sama Kak Aaqil akan menunggu di dalam ",, kata Iffah kepada Uzair.


" Baik Kak ",, jawab Uzair kepada Iffah.


" Tunggu sebentar ",, kata Iffah kepada Uzair.


Dan Uzair hanya mengangguk saja kepada Iffah, setelahnya, Iffah langsung mencoba memanggil Faiha yang masih berada di dalam kamar.


Iffah yang sudah di bukakan pintu kamar Faiha, dia langsung segera masuk ke dalam kamar untuk berbicara kepada Faiha.


" Fai, di luar ada Gus Uzair, temuilah dia, bicarakan permasalahan kalian dengan baik-baik, karena jika kamu berlarut dalam kesedihanmu seperti ini, masalah kamu tidak akan cepat selesai ",, kata Iffah kepada Faiha.


" Baiklah Kak ",, jawab Faiha kepada Iffah.


Iffah dan Faiha pun akhirnya berlalu ke luar dari dalam kamar, untuk menemui Uzair yang sedang berbincang dengan Aaqil.


" Berbicaralah, Kakak akan menunggu di dalam ",, kata Iffah kepada Faiha dan Uzair.


Uzair dan Faiha hanya mengangguk saja kepada Iffah dan Aaqil.


Setelah itu, Aaqil dan Iffah langsung masuk ke dalam rumah, untuk memberikan ruang kepada Uzair dan Faiha yang sedang berbicara.


" Apa kamu sebegitu marahnya Fai, hingga semalam tidak mau pulang ke rumah Abi Aasim?? ",, tanya Uzair kepada Faiha.


" Maaf Gus, di sini Fai hanya kecewa dengan sikap Abi, bukan dari Keluarga Gus Uzair ",, jawab Faiha kepada Uzair.


" Jika kamu tidak mau di jodohkan denganku, aku tidak masalah, aku mengerti, karena aku juga seorang laki-laki yang pantang merebut milik laki-laki lain ",, kata Uzair kepada Faiha.


" Aku bisa membatalkan pernikahan ini ko Fai, dan sebenarnya jika aku mau, aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, nanti jika kita jadi menikah ",, kata Uzair lagi kepada Faiha.


" Tapi aku tidak mau, karena aku tidak mau melihat kesedihan di matamu selama menikah denganku ",, kata Uzair kepada Faiha.


" Terimakasih Gus atas pengertiannya, dan saya mohon secepatnya berbicaralah kepada Abi dan Abi Ghifar ",, kata Faiha kepada Uzair.


" Pasti, setelah ini aku akan berbicara kepada Abi-abi kita Faiha, kamu tenanglah ",, jawab Uzair kepada Faiha sambil tersenyum.


Faiha hanya menampilkan senyum tipisnya saja, ketika mendengar jawaban dari Uzair tadi.


Mau bagaimanapun juga hati Faiha tidak bisa di paksakan untuk menerima Uzair.


Selembut atau sebaik apapun sikap Uzair, yang namanya cinta, tidak akan bisa tumbuh begitu saja dari dalam hati.


Jika Uzair laki-laki sejati, pasti dia akan memilih kebahagiaan Faiha, walau itu bukan bersamanya sekalipun.


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...

__ADS_1


...***TBC***...


__ADS_2