
Flashback on
Plak
Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi seorang wanita yang tengah hamil
" Pak!" Mira terkejut saat wanita hamil yang tidak lain adalah Laura mendapatkan tamparan yang cukup keras dari bapaknya sendiri
" Cepat katakan siapa ayah dari bayi yang kamu kandung itu, dasar memalukan?" bentak Paman Emir dengan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun
Laura terhenyak dan bergidik ketakutan saat mendengar suara bentakan dari bapaknya, air matanya pun sudah meluncur dengan bebasnya tanpa bisa dikendalikan
" A..aku_" Laura gugup dan lidahnya terasa kelut untuk mengatakan hal yang sebenarnya
" Aku apa, bicara yang jelas?" bentak paman Emir lagi
" Pak?" Mira sudah ketakutan melihat suaminya yang begitu marah pada putri mereka satu-satunya
" Ini hasil didikan kamu bu yang selalu memanjakannya dan selalu menutupi setiap kesalahannya" bentak Paman Emir kepada Mira
Mira terkejut dengan bentakan suaminya itu, selama ini suaminya tidak pernah sampai semarah itu kepadanya
Karena kesal dengan ulah putrinya yang membuat dia juga terkena bentakan sang suami, Mira pun lalu menoleh ke arah Laura yang nampak begitu ketakutan melihat kemarahan paman Emir yang begitu besar
" Sudahlah Laura cepat katakan saja pada kami siapa laki-laki itu, kenapa Ayla tadi mengatakan kalau orang itu adalah sosok yang cukup menakutkan?" ucap Mira
Laura menggeleng " Aku juga tidak tahu bu, aku dijebak oleh temanku bu dan bahkan dia sudah menjual ku bu" Isak tangis Laura pun semakin pecah
Plak
Untuk kedua kalinya Laura mendapatkan tamparan di pipi mulusnya itu, tapi kali ini bukan paman Emir yang menamparnya melainkan ibunya sendiri
" Bodoh, bagaimana bisa kamu bisa sebodoh itu Laura, bahkan kamu sampai dijual oleh temanmu sendiri, oh ya ampun Laura kenapa aku bisa mempunyai putri yang bodoh seperti mu" maki Mira dengan penuh kekecewaan
" Kamu sudah mengecewakan ibu Laura" Mira pun tak sanggup lagi menahan air matanya yang penuh dengan rasa kecewa kepada putrinya yang selama ini selalu ia bangga-banggakan.
" Maafkan aku bu, aku mohon maafkan aku" Laura meraih tangan Mira namun ditepisnya
" Apa kejadian itu terjadi saat kamu sering pulang malam? bahkan waktu itu kamu bilang menginap di rumah temanmu?" tanya Mira menerawang ke beberapa hari yang lalu saat Laura sering pulang malam bahkan terkadang sampai tidak pulang
" Maafkan aku bu" jawab Laura disela Isak tangisnya
" Percuma saja kamu meminta maaf karena semua yang sudah terjadi tidak akan mungkin bisa kembali seperti semula, sekarang kau jalani hidupmu itu dengan baik, jaga anakmu dan rawat dia dengan baik, dan mulai sekarang jangan lagi kamu menyalahkan dan terus mengusik ketenangan hidup orang lain, cari kebahagiaan mu sendiri dengan tidak mengganggu kebahagiaan saudari mu Ayla " ucap paman Emir mengingatkan putrinya
" Jika yang dikatakan Ayla benar adanya, laki-laki yang menghamili mu itu orang yang cukup berkuasa dan bisa saja membahayakan dirimu sendiri sebaiknya kau jaga baik-baik dirimu jangan sampai orang itu tahu tentang kehamilan mu" pesannya lagi
" Tapi pak bukannya itu hal yang bagus ya, jika orang itu tau tentang kehamilan putri kita, ya siapa tahu orang itu mau bertanggung jawab lalu kita jadi orang kaya pak lebih kaya dari tuan Alveer" ucap Mira dengan antusias
Plak
Entah berapa kali sudah terdengar suara tamparan di rumah itu membuat bi Atun yang berada di dapur menggelengkan kepalanya mendengar keributan keluarga itu
" Kamu belum juga belajar dari kesalahan mu ya bu, kamu sudah gagal mendidik anakmu dan sekarang kamu bisa-bisanya malah mikirin kekayaan, kamu itu tidak memikirkan bagaimana jika orang itu sampai menyakiti putri kita, kamu sadar bu harta itu bukan segalanya, apa kamu sudah mendapatkan kebahagiaan mu setelah apa yang kamu perbuat selama ini?" ucap paman Emir penuh dengan penekanan pada setiap kata-katanya
Mira terdiam sementara Laura masih menangis sesenggukan
Dia merasa begitu iri melihat kebahagiaan yang diperoleh oleh Ayla, sementara dirinya begitu mengenaskan.
" Bagaimana pun Laura itu putri kita bu, jangan kamu gadaikan kebahagiaan putri kita dengan harta yang melimpah tapi penderitaan yang didapatnya" geram paman Emir pada isterinya
" Kamu Laura, mulai sekarang perbaikilah sikap mu itu, jangan lagi kamu tiru sifat dan sikap buruk ibumu , ingat kebahagiaan itu bukan hanya karena adanya harta semata, ketulusan dan kebaikan lah yang bisa membawamu dalam meraih sebuah kebahagiaan. Seperti Ayla yang memiliki hati yang tulus dan begitu baik walaupun kalian sering menyakitinya dia tidak sekalipun dendam pada kalian, bisa saja dia memenjarakan kalian yang pernah berencana menggugurkan kandungannya tapi tidak dilakukannya bukan?"
__ADS_1
" Karena kebaikan dan ketulusan hatinyalah sekarang dia sudah mendapatkan kebahagiaannya, jadi cukup sampai disini Laura kamu mengganggu dan mengusik kehidupan rumah tangga sepupumu Ayla, ingat satu hal Laura apa yang kau tanam maka itulah yang akan kau tuai nantinya, jika kamu ingin mendapatkan kebahagiaan mu maka berubahlah menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi agar kelak anakmu pun terlahir menjadi pribadi yang baik pula" Laura tertegun dengan ucapan Paman Emir , selama ini dia hanya dekat dengan ibunya dan jarang berbicara dengan bapaknya jadilah akhirnya kepribadian Laura yang tidak jauh dari ibunya itu
Paman Emir berjalan menghampiri putrinya lalu tanpa diduga laki-laki paruh baya itu menarik Laura ke dalam pelukannya
Laura semakin terisak merasakan dekapan hangat pelukan sang ayah yang begitu sangat dia rindukan
" Sudah jangan menangis lagi, bapak juga salah dalam hal ini, karena bapak kurang memperhatikan mu sehingga ibumu lah yang memonopoli dirimu hingga sikap dan sifat mu tidak jauh darinya, bapak minta maaf ya sayang" ucap paman Emir disela pelukannya membuat tubuh Laura semakin bergetar
" Maafkan Laura pak!" ucap Laura setelah paman Emir mengurai pelukannya
" Sudahlah, sekarang istirahatlah jaga kesehatan dan juga kandungan mu" ucap paman Emir lalu beralih ke arah Mira
" Mulai sekarang jangan lagi kau kotori pikiran putriku dengan pola pikir mu itu bu, kau sudah tua bu jangan hanya memikirkan masalah dunia, harta tidak akan kau bawa mati"ucap tegas paman Emir yang kemudian pergi masuk ke dalam kamar
Laura pun pergi ke dalam kamarnya tepatnya untuk menenangkan diri
Ceklek
pintu kamar Laura dibuka dari luar, Mira masuk lalu mendekati Laura yang saat itu tengah duduk di tepi tempat tidur
" Sebenarnya siapa ayah dari anak yang kamu kandung Laura?" tanya Mira dengan suara yang pelan
" Maafkan aku bu, jujur aku juga tidak tahu tapi kak Alveer bilang orang itu adalah rekan bisnisnya. aku juga takut bu karena dari suara yang aku dengar saat kak Alveer menelponnya suaranya begitu menyeramkan bu" ucap Laura yang detik kemudian kembali menangis
Mira melihat kondisi putrinya yang tengah hamil tanpa didampingi seorang suami merasa sangat sedih, dia pun akhirnya menyuruh Laura untuk beristirahat dan dia pun memilih untuk pergi ke kamarnya sendiri.
Pada keesokan harinya Laura meminta izin kepada ibunya untuk pergi jalan-jalan ke mall, dan pada saat Laura tengah berjalan santai seorang diri tiba-tiba saja tangannya di tarik paksa oleh seseorang
" Lepas!" Sentak Laura yang berusaha untuk memberontak namun sia-sia
" Sebaiknya anda menurut saja nona, jangan membuat kami berbuat kasar" ucap salah satu dua orang pria yang kini berada di samping kanan dan kiri Laura
Deg
" Si... siapa kalian?" tanya Laura ketakutan
" Anda tidak perlu tahu siapa kami, ikut saja jika nona dan bayi yang ada di dalam perut itu ingin selamat" tegasnya.
Laura yang begitu ketakutan mendengar ancaman pria tersebut akhirnya mau tidak mau dia pun menurut karena dia tidak ingin laki-laki tersebut sampai menyakiti bayi yang ada di dalam kandungannya
Setelah 2 jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di sebuah villa yang terletak di pinggiran kota
" Ayo ikut!" paksanya sedikit mendorong Laura setelah mereka keluar dari dalam mobil
" Lepas, aku bisa jalan sendiri" tegas Laura berusaha untuk menutupi rasa takutnya
Kini Laura sudah berada di dalam villa yang cukup megah
Laura menatap ke seluruh ruangan terkesan mewah dan megah, jika dirinya adalah Laura yang dulu mungkin dia akan merasa sangat senang tapi Laura yang sekarang justru dia merasa sangat ketakutan
" Silahkan duduk nona, sebentar lagi tuan Diego akan segera turun" ucap pria tersebut membuyarkan lamunannya
Deg
Deg
Deg
Laura terkejut mendengar nama yang disebut oleh pria berjas hitam yang membawanya ke villa itu, sudah dapat di tebak mereka adalah anak buah tuan Diego. ingin rasanya Laura pergi detik itu juga dari tempat itu tapi bagaimana caranya pria suruhan tuan Diego pasti akan menangkapnya kembali
Dengan perasaan khawatir dan ketakutan akhirnya Laura memilih untuk pasrah
__ADS_1
5 menit berlalu Laura dikejutkan terdengar suara hentakan kaki yang berjalan menuruni anak tangga
Laura tidak berani menatap ke arah sumber suara, degup jantungnya semakin tidak karuan saja ketika langkah itu terdengar semakin lama semakin dekat ke arahnya
" Kau terlihat lebih cantik di saat hamil seperti ini" terdengar suara bariton yang cukup mengejutkan Laura
Laura masih tidak berani menatap ke depan, ia lebih memilih menundukkan wajahnya
" Apakah itu anakku?" tanya tuan Diego membuat Laura membeku di tempat
Deg
Laura nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan laki-laki itu
" Jawab!" sentaknya membuat jantung Laura semakin berpacu dengan sangat cepat
" Apa kau tuli hah!" Laura semakin bergidik ngeri dengan sosok laki-laki yang berada di hadapannya itu
" Bu... bukan tuan" jawab Laura dengan terbata-bata jangan ditanya lagi air mata Laura sudah terjun bebas begitu saja
" Benarkah?" tuan Diego berjalan menghampiri Laura lalu menarik dagunya dengan kencang hingga membuat Laura mendongak
" Katakan sekali lagi!" ucap tuan Diego dengan menekan setiap kata-katanya
" Be.. benar tuan, i..ini bu... bukan anak tuan, i..ini anak sa.. saya" jawab Laura dengan suara bergetar dan sangat gugup
" Ha....ha..." mendengar jawaban Laura tuan Diego malah tertawa dan tawanya terdengar sangat mengerikan bagi laura
" Pengawal!" teriak tuan Diego
" Iya tuan" jawab anak buahnya langsung menghampiri bosnya itu
" Bawa perempuan ini ke rumah sakit sekarang juga dan lakukan tes DNA, jika benar anak yang didalam perutnya itu adalah anakku dengan cepat kau langsung urus pernikahan ku dengannya tapi jika bukan buang wanita itu ke kota terpencil, asingkan dari keluarganya!" titah laki-laki itu membuat Laura semakin gemetar dan ketakutan.
Setelah dibawa ke rumah sakit dan Laura pun sudah menjalani tes DNA sesuai dengan yang diperintahkan tuan Diego, kini Laura tengah di kurung di villa milik tuan Diego seraya menunggu hasil tes DNA tersebut keluar
Laura tidak bisa menghubungi ibu dan bapaknya karena ponsel miliknya telah disita oleh tuan Diego
Sementara di rumah paman Emir dan Mira sangat mencemaskan keadaan Laura yang belum juga pulang, pesan terakhir yang Laura kirimkan kepada ibunya mengatakan kalau dia sedang berada di rumah temannya di luar kota.
Setelah hasil tes DNA keluar dan menyatakan kalau bayi yang tengah dikandung Laura adalah anak tuan Diego sesuai dengan apa yang diperintahkan keesokan harinya orang suruhan tuan Diego pun datang ke rumah paman Emir untuk menyiapkan pernikahan Laura dan tuan Diego.
Awalnya paman Emir menolak tapi dengan kekuasaan yang dimiliki tuan Diego akhirnya paman Emir pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Pernikahan pun sudah terjadi kata sah pun sudah menggema di rumah tersebut.
Namun sayangnya semua tidak sesuai dengan apa yang Laura impikan karena setelah ijab qobul selesai tuan Diego langsung pergi begitu saja meninggalkan Laura di rumah orangtuanya.
Sebelum ijab qobul berlangsung tuan Diego sempat mengatakan kalau pernikahan itu hanya akan berlangsung sampai anak itu lahir, jika anak yang lahir itu adalah anak laki-laki maka Laura tidak berhak atas anak itu, tuan Diego akan membawanya pergi menjadikannya sebagai pewarisnya nanti dan jika yang lahir adalah anak perempuan maka Laura tidak berhak menuntut tanggung jawab apapun lagi kepadanya dan anaknya sepenuhnya akan menjadi tanggung jawab Laura.
Air mata Laura tak henti berderai, rasanya begitu sangat menyakitkan, meskipun tuan Diego memberikannya uang yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhannya sehari hari, seperti beli susu hamil, makan makanan bergizi dan keperluan lainnya tetap saja hal itu tidak membuat Laura merasa bahagia, Laura mulai menyadari kalau harta bukanlah segalanya karena yang dibutuhkannya saat ini adalah kasih sayang dan juga perhatian.
Paman Emir hanya bisa memeluk putrinya, ia merasa sangat kasihan dengan nasib pernikahan putrinya itu
Luky sang kakak yang baru saja pulang dari luar kota pun sangat terkejut melihat pernikahan adiknya yang sangat mendadak itu, terlebih lagi adiknya dalam keadaan hamil.
Melihat adiknya ditinggalkan begitu saja oleh sang suami, Luky merasa begitu geram tapi mau bagaimana lagi, mau marah dia tidak memiliki keberanian apa-apa karena dia mengenal betul siapa laki-laki yang sudah menjadi adik iparnya itu.
Kini Laura hanya bisa menerima nasibnya yang begitu malang, tapi walau bagaimanapun dia harus tetap bertahan demi anak yang berada di dalam kandungannya. Di dalam hati Laura berharap anaknya yang akan lahir adalah bayi perempuan karena Laura tidak ingin berpisah dengan anaknya jika yang terlahir adalah bayi laki-laki.
Flashback off
__ADS_1