
Rain semalaman dia sangat gelisah sekali, tidurpun tidak bisa tenang, pikirannya melayang nan jauh di sana, memikirkan Faiha yang sedang menghadapi masalah hati sendirian.
Sedang sibuk melamunkan hatinya, tiba-tiba ada notifikasi masuk dari ponselnya yang berbunyi.
Dan ketika di buka oleh Rain, ternyata Alzam baru saja mengirimkan nomor ponsel milik Faiha.
Hati Rain langsung saja berdebar-debar rasanya, ketika dia sudah mendapatkan nomor teleponnya Faiha
" Afnan benar-benar mengirimkan nomor ponselnya Faiha ",, kata Rain berbicara sendiri.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang?? ",, kata Rain malah kebingungan sendiri.
" Kenapa aku seperti anak muda saja sih, ingat Rain, kamu sudah tua, umur kamu tidak pantas untuk menjadi bucin seperti cinta monyet ",, kata Rain menasihati dirinya sendiri.
" Ok tenang, rilax ",, kata Rain sambil menarik nafasnya dengan panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.
" Sekarang aku mau mencoba menghubungi Faiha, tapi bagaimana caranya?? ",, kata Rain lagi masih berbicara sendiri.
Rain terus berpikir dan berpikir, bagaimana caranya dia bisa berkomunikasi dengan Faiha yang sedang galau di sana.
" Ahaa,!! aku cari lewat translate saja di google ",, kata Rain, akhirnya bisa menemukan jalan ke luarnya.
" Assalamu'alaikum Faiha, ini saya Rain, senang rasanya bisa menghubungi kamu lewat pesan, dan ini saya sedang berusaha mentraslatekannya lewat google, supaya bisa berhubungan dengan kamu ",, kata Rain mengirimkan pesan kepada Faiha.
Rain begitu sangat berdebar-debar sekali, ketika sudah berhasil mengirimkan pesan itu kepada Faiha.
Rain terus melihat ke arah ponselnya, karena siapa tahu Faiha sudah membalas tapi dia tidak mendengar notifikasinya.
Rain terus menunggu dan menunggu, hingga tanpa dia sadari waktu sudah menunjukkan pukul satu malam waktu Prancis.
" Kenapa sudah sekitar dua jam lewat, Faiha tidak membalas pesanku, apa yang sedang dia lakukan di sana?? ",, kata Rain dengan lesu.
" Sudah jam satu pagi ternyata, lebih baik aku tidur dulu, karena besok aku harus berangkat ke kantor dan menghandle kantor milik Tuan Ezio yang sudah aku ambil alih, supaya tidak bankrut ",, kata Rain sambil bersiap-siap untuk tidur.
Dan membiasakan yang baik seperti kata Alzam, Rain mencoba mengambil air wudhu terlebih dahulu sebelum tidur.
Setelah itu, Rain langsung mencoba mengistirahatkan badannya untuk menyongsong hari esok.
Wajar saja jika Faiha tidak membalas pesannya, karena tadi setelah berbincang sebentar dengan Umi Anum yang menyuruhnya untuk makan siang.
Faiha memilih untuk duduk termenung lagi di atas ranjang empuknya.
Faiha termenung sambil mengusap gelang pemberiannya Rain, hingga tanpa sadar dia mengantuk dan tertidur dengan sendirinya.
Itulah mengapa dia tidak tahu jika ada pesan masuk yang di kirimkan oleh Rain kepadanya.
__ADS_1
Sekitar pukul lima sore, sudah kurang lebih dua jam Faiha tidur, dia akhirnya terbangun juga.
Setelah bangun tanpa mengecek pesannya sama sekali, Faiha langsung saja beranjak turun dari atas ranjang, menuju ke dalam kamar mandi untuk mandi dan menunaikan sholat ashar.
Walau waktu sudah sore, Faiha masih belum merasakan rasa lapar sama sekali, dan ketika Faiha sudah selesai menunaikan sholat ashar, dia memutuskan untuk ke luar dari dalam kamar, untuk ikut bantu-bantu santriwati putri yang sedang menyiapkan masakan untuk makan malam nanti di pesantren putri.
Faiha masih tidak mengecek ponselnya sama sekali, hingga sampai waktu malam pun tiba.
Faiha walau bersimpangan beberapa kali dengan sang Abi ketika berada di dalam rumah, dia hanya diam sambil berjalan dengan menunduk tanpa mau menyapa Abi Aasim sama sekali.
Dan Faiha berusaha menyibukkan diri, supaya dia tidak terpuruk dengan hatinya yang sedang terluka.
Dan Abi Aasim yang melihat sikap Faiha yang hanya menunduk saja kepadanya, tanpa mau menyapanya, dia merasa sedih, tapi Abi Aasim belum tahu mau berbuat apa kepada sang putri.
Bahkan ketika waktu makan malam pun tiba tepat pukul tujuh malam, Faiha mencoba meminta ijin ke kepada sang Umi, untuk ikut makan bersama para santri putri, dan itu membuat Umi Anum langsung saja bertanya kepada Faiha.
" Kenapa mau makan malam di pesantren putri Nak, kenapa tidak makan malam di rumah seperti biasanya, bersama Umi dan Abi?? ",, tanya Umi Anum kepada Faiha.
" Tidak apa-apa Umi, Umi pasti sudah tahu sendiri, tanpa Fai jelaskan, kalau begitu Faiha permisi dulu Umi, Assalamu'alaikum ",, jawab Faiha kepada sang Umi, sambil menyalami tangan Umi Anum.
" Iya sudah Nak kalau begitu, Wa'alaikumussalam ",, jawab Umi Anum kepada Faiha.
Umi Anum tidak bisa mencegah langkah kaki Faiha, karena dia sangat tahu sekali, apa yang membuat sang putri menghindar dari dalam rumah, dan daritadi memilih lebih menyibukkan diri di pesantren putri, tanpa mau membantunya seperti biasanya.
Setelah selesai makan malam, Faiha lalu menyibukkan diri lagi dengan ikut tadarusan bersama para santri putri tanpa teringat dengan ponselnya sama sekali.
Karena Faiha, memang bukan tipe orang yang ketergantungan dengan ponsel, sejak kecil dia sudah di ajarkan dengan mengaji dan hal-hal yang bermanfaat untuk sekitar.
Jadi, ketika dia sedang galau seperti sekarang, Faiha akan lebih memilih menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat yang ada di Pondok.
Hingga ketika waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Faiha baru kembali ke rumahnya, karena dia baru selesai mengaji, tadarus bersama dan murojaah bersama para santri putri lainnya.
Sebelum tidur, Faiha bersih-bersih badannya terlebih dahulu, dan ketika sudah selesai, Faiha pun memutuskan untuk tidur.
Dan barulah Faiha memegang ponselnya yang sejak tadi siang setelah menghubungi sang Kakak dia tidak pedulikan.
" Baterainya tinggal lima belas persen saja, aku harus segera mengisi baterainya ",, kata Faiha berbicara sendiri.
Sambil mengisi baterai ponselnya, Faiha mencoba membuka semua pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Sungguh alangkah terkejutnya Faiha, ketika dia melihat ada nomor baru yang katanya itu dari Rain.
" Astaghfirullah, ini benar dari Tuan Rain?? ",, kata Faiha berbicara sendiri dengan nada yang benar-benar terkejut.
" Apakah ini benar Tuan Rain,?? kenapa jantungku seperti ini ya Allah rasanya, padahal cuma mendapatkan pesan dari Tuan Rain ",, kata Faiha lagi berbicara sendiri.
__ADS_1
" Coba aku balas pesannya, bismillah ",, kata Faiha lagi mencoba membalas pesannya Rain.
Berbeda tempat dan Negara, dengan waktu yang selisih sangat banyak sekali.
Rain sendiri sudah terbangun sejak jam lima pagi tadi. untuk menunaikan sholat subuh di dalam kamarnya.
Tapi sayang, ketika sudah bangun dan mengecek ponselnya, Rain belum mendapatkan balasan pesan sama sekali dari Faiha.
Akhirnya, dengan langkah lemas Rain memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke kantor.
Setelah selesai bersiap-siap, sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya, Rain melihat dulu ke arah ponselnya.
Melihat ada notifikasi pesan, Rain langsung mencoba membuka dan membacanya.
Di antara banyak pesan, ada satu pesan yang sejak semalam sudah dia tunggu, dan pesan itu tentu saja dari Faiha.
" Wa'alaikumussalam Tuan Rain, maaf saya baru balas pesan dari Tuan Rain, karena saya sengaja tidak memegang ponsel sejak siang, semoga hari Tuan Rain menyenangkan di sana, dari Faiha ",,
Begitulah bunyi pesan yang Faiha kirimkan ke pada Rain, sambil di tambah emoticon senyum manis.
Rain sangat bingung sekali, apa arti kata pesan yang di kirimkan oleh Faiha kepadanya.
Dan untuk mengurangi rasa penasarannya, Rain langsung saja mencari artinya di dalam google.
Ketika sudah mengartikannya lewat google, dan dia sudah tahu apa artinya, Rain begitu sangat senang sekali dengan balasan pesan dari Faiha.
Senyum Rain langsung mengembang dengan sangat cerah sekali, secerah pagi itu.
" Sebentar akan aku balas dulu sebelum berangkat ke kantor, dan sekarang pukul setengah delapan pagi, itu artinya di Indonesia sudah pukul setengah dua dini hari ",, kata Rain berbicara sendiri.
" Di sana pasti sudah malam ya Faiha, tolong dong jangan memanggilku Tuan lagi, panggil saja Kakak sama seperti kamu memanggil Kakak kamu Afnan, dan selamat malam Faiha, mimpi indah calon istriku, Kakak mau kerja dulu, karena di sini sudah jam setengah delapan pagi, waktunya Kakak mencari nafkah untuk melamar kamu jika pulang nanti ",,
Balas Rain kepada Faiha, dan tidak lupa dengan emoticon tersenyum manisnya.
Sungguh balasan pesan dari Rain membuat Faiha menjadi baper sendiri, dan senyum yang seharian pudar karena sedang bersedih.
Ketika Faiha membaca balasan pesan dari Rain, senyum cerahnya terbit lagi, dan hatinya merasa sangat senang kembali.
Mungkin lama kelamaan Rain akan terbiasa sendiri dan paham dengan Bahasa Indonesia, jika dia sering mentranslatekannya begitu melalui google.
Dan setelah mengirimkan balasan pesan untuk Faiha, Rain langsung saja bergegas ke luar dari dalam kamar dengan perasaan mood yang sangat baik sekali pagi ini.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
...***TBC***...
__ADS_1