DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Hari Kesedihan Dira


__ADS_3

Dira masih merasa canggung dengan gelar yang baru saja disandangnya saat ini sebagai seorang isteri dari Arlan Saputra, Dira harus banyak belajar lagi tentang tugas dan kewajibannya dalam menyenangi dan melayani sang suami.


Selain masih magang di perusahaan bersama sang suami, Dira yang memang tugas magangnya seharusnya sudah selesai dari beberapa bulan yang lalu namun atas permintaan perusahaan Dira hingga kini masih bekerja di perusahaan EK grup sambil menyelesaikan kuliahnya yang kebetulan sebentar lagi akan wisuda.


Bukan hanya Dira tapi Sasa dan Mina pun demikian karena pekerjaan mereka yang sangat membantu dalam menyelesaikan pekerjaan kantor jadi keduanya pun kini masih dipekerjakan di perusahaan EK grup sambil menyelesaikan kuliah mereka


Pernikahan Dira dan Arlan memang masih belum banyak yang tahu, terutama Sasa dan Mina yang memang masih belum sempat Dira kabari.


Dira saat ini masih fokus dengan kesembuhan sang kakek yang setelah menikahkan cucu kesayangannya itu tiba-tiba saja kembali drop.


Dira tidak tau harus bahagia atau bersedih dengan situasinya saat ini, bahagia karena akhirnya menikah dengan laki-laki yang sangat dia cintai tapi hatinya sedih ketika melihat sang kakek yang sangat disayangi kembali tergolek lemah di ruang ICU.


" Kamu yang sabar ya sayang, kakek pasti sembuh kita berdoa saja ya untuk kesembuhan kakek" ucap Arlan berusaha menghibur sang isteri yang masih saja menitikkan air matanya


Mereka kini berada di depan ruang ICU, keadaan kakek yang sempat memburuk membuat pria renta itu harus dilarikan ke ruangan tersebut


" Aku takut mas...." ucap Dira disela isak tangisnya yang kini terlihat begitu terpuruk melihat kondisi sang kakek


" Jangan berpikir yang tidak-tidak, kakek pasti bisa melewati ini semua kita doakan saja yang terbaik untuk kakek" Arlan memeluk Dira yang semakin terisak


" Dira!" panggil neneknya yang kini tengah duduk di kursi roda karena keadaan kakek yang kembali ngdrop membuat si nenek sempat jatuh pingsan dan kini tubuhnya yang masih lemah mengharuskannya menggunakan kursi roda


" Iya nek, apa nenek membutuhkan sesuatu?" tanya Dira setelah melepaskan pelukannya dari Arlan dan langsung menghampiri neneknya


" Kamu jangan bersedih lagi nak, apapun yang terjadi dengan kakek atau pun nenek kelak, kamu jangan larut dalam kesedihan terus menerus nak, karena kakek maupun nenek kini sudah merasa lega dan tenang karena kamu kini sudah ada yang menjaga" tutur nenek membuat Dira kembali menitikkan air matanya


" Nek.... kenapa nenek bicara seperti itu, hiks....hiks...?" Dira yang kini berjongkok di depan nenek meraih tangan keriput itu lalu digenggamnya


" Kakek dan nenek harus sehat terus agar bisa mendampingi Dira dan menemani Dira, apa nenek tidak mau melihat cicit nenek?" ucap Dira dengan air mata yang enggan berhenti


" Dira" nenek mengusap pucuk kepala cucu kesayangannya itu


" Nenek dan kakek mu akan baik-baik saja sayang, kami juga sangat ingin melihat cicit kami lahir dan bermain dengannya tapi jika masa itu kami tidak lagi dapat melihatnya tumbuh dan berkembang kamu sampaikan saja kepada mereka kalau cicit nenek harus tumbuh menjadi anak-anak yang hebat dan mandiri dan sayang kepada orang tua" ucap nenek dengan senyum yang mengembang


" Nenek... hiks.. hiks... jangan bicara seperti itu nek, nenek pasti bisa menemani kami nek dan nenek bisa bermain dengan cicit-cicit nenek" ucap Dira sambil menangis


Nenek mengangkat tangannya yang sudah keriput itu lalu mengusap air mata Dira yang masih saja mengalir dengan derasnya


" Jangan menangis Dira, kamu sekarang sudah memiliki tugas baru sebagai seorang isteri, sebaiknya kamu pulanglah dulu dan layani suami kamu biar kakek nenek yang menunggui". ucap nenek


" Tidak nek, Dira ingin tetap disini, bagaimana mungkin Dira pulang dan meninggalkan nenek disini sendirian" ucap Dira


" Mas kamu enggak apa-apakan kalau aku disini menemani nenek, kamu enggak keberatan kan mas?" tanya Dira yang kini mendongak beralih menatap Arlan


" Iya sayang enggak apa-apa, aku juga akan menemani kamu dan nenek disini" ucap Arlan seraya mengusap pucuk kepala Dira dengan penuh kasih sayang


" Terima kasih mas" ucap Dira


" Itu sudah menjadi kewajiban aku sayang" sahut Arlan


" Nek, nenek pasti capek sebaiknya istirahat aja dulu ya nek dikamar sebelah biar nanti Arlan yang berjaga" ucap Arlan


" Nenek masih ingin disini!" jawab sang nenek


" Nenek ingin melihat kakek kamu disini, nenek tidak mau meninggalkannya sendirian kami akan selalu bersama-sama" ucap nenek


" Iya nek nanti kita akan kembali berkumpul bersama-sama dengan kakek" ucap Dira


Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan beberapa tim medis yang masuk ke dalam ruang ICU dengan tergesa-gesa


" Ada apa ya mas?" tanya Dira seraya berdiri


" Tidak tahu sayang" Arlan menggeleng


" Apa terjadi sesuatu dengan kakek mas?" degup jantung Dira sudah tidak karuan


" Kakek kamu pasti akan baik-baik saja, nenek percaya dengan kakek dia tidak mungkin pergi meninggalkan nenek begitu saja" ucap nenek


" Iya nek, kakek pasti akan baik-baik saja!" ucap Dira berusaha untuk tersenyum pada neneknya


Saat ini beberapa tim medis sedang menangani kakek yang tiba-tiba kondisinya semakin memburuk, Dira dan Arlan terus menyematkan doa untuk kesembuhan sang kakek.


Dira menoleh ke arah sang nenek yang terlihat begitu tegar dan sangat tenang. ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar dalam hati Dira


" Nek" panggil Dira


Nenek Dira menoleh dan mengulas senyumnya membuat Dira semakin merasa aneh dengan sikap sang nenek

__ADS_1


" Nenek tidak apa-apa?" tanya Dira dan dijawab dengan gelengan kepala oleh sang nenek


" Kakek kamu pasti sudah bahagia sekarang Dira karena sudah memenuhi kewajibannya untuk menikahkan kamu, apalagi kini laki-laki yang menjadi suami kamu adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab" ucap nenek


" Nak Arlan" kini nenek beralih pada Arlan


" Iya nek" Arlan mendekat dan berjongkok di depan nenek


" Tolong kamu jaga dan lindungilah cucu nenek dengan segenap cinta yang kamu miliki nak, bahagiakan Dira sayangi dan cintai dia dengan setulus hatimu nak, dan jangan pernah sakiti Dira kami karena Dira adalah satu-satunya harta yang paling berharga yang kami miliki" tutur nenek menatap lekat Arlan


" Iya nek, Arlan berjanji akan berusaha untuk membahagiakan Dira dan menjaganya dengan segenap jiwa dan raga" ucap Arlan


" Terima kasih nak Arlan, nenek lega mendengarnya" ucap nenek tersenyum


Ceklek


Atensi Dira dan Arlan beralih pada pintu yang baru saja terbuka dari dalam


Seorang dokter yang masih menggunakan pakaian khusus keluar dari ruangan tersebut


Dira langsung bergegas menghampiri sang dokter lalu disusul Arlan yang tengah mendorong kursi roda nenek


" Dokter bagaimana keadaan kakek saya?" tanya Dira dengan debaran jantung yang tidak biasa


Dokter yang baru saja menangani kakek menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Dira


" Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi maafkan kami karena takdir ternyata berkehendak lain dan kini kakek Nirin kini sudah pergi dengan tenang" ucap dokter dengan berat hati


" Kakek.... hiks... hiks..." kaki Dira terasa lemas dan tubuhnya merosot ke lantai


" Sayang!" Arlan menopang tubuh lemas Dira agar tetap berdiri


Dira langsung memeluk Arlan dan meluapkan kesedihannya


"Ikhlaskan sayang, ikhlaskan kakek. sekarang kakek sudah tenang tidak merasakan sakit lagi, kamu harus ikhlas harus kuat" ucap Arlan seraya mengusap punggung Dira yang bergetar karena Isak tangisnya


" Kakek mas .... kakek sudah pergi, hiks.... hiks..."


" Iya, kakek sudah tenang sayang"


Cukup lama Dira menangis dalam pelukan Arlan dan setelah sudah mulai tenang mereka baru teringat dengan sang nenek


" Ya Allah sayang, kita sampai lupa dengan nenek" ucap Arlan yang juga terkejut setelah ingat nenek Dira


" Kemana nenek mas?" tanya Dira yang tidak melihat keberadaan neneknya


" Nenek kalian ada di dalam!" ucap dokter yang tadi membantu mendorong kursi rodanya karena nenek ingin melihat sang suami yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya


Dira terhenyak mendengar ucapan sang dokter lalu berjalan dengan gontai memasuki ruangan dimana Kakek dan neneknya berada


Dira menatap sang nenek yang terlihat begitu tegar tanpa ada tangisan sedikit pun diwajahnya, bibirnya tersenyum sambil memegang tangan sang suami yang sangat dicintainya.


" Nek!"


" Kakekmu kini sudah tenang Dira, dia sudah bahagia tidak merasakan sakit lagi" ucap nenek


" Iya nek, kakek sudah tidak merasakan sakit lagi"


" Terima kasih kek, terima kasih karena kakek sudah menemani nenek sampai akhir hayat Kakek, tugas kakek pun sudah selesai menikahkan cucu kita Dira, kakek sudah tenang meninggalkan Dira pada laki-laki yang tepat seperti nak Arlan"


" Kakek kita sudah berjanji kan kek, hingga maut menjemput kita akan terus bersama-sama kakek tidak lupa dengan janji kakek kan?" Nenek menggenggam tangan Kakek yang terasa dingin


Deg


Perasaan Dira terasa tidak enak entah apa tapi begitu terasa aneh


" Nek!" Dira tidak sanggup lagi menahan air matanya, tubuhnya kembali bergetar dengan isak tangis yang sebisanya ia tahan


" Dira!"


" Iya nek"


" Jangan menangis nak!"


" I..iya nek" Dengan sekuat hati Dira berusaha untuk menahan tangisnya sampai ia membekap mulutnya sendiri agar tidak terdengar suara tangisnya


" Kakek sudah bahagia Dira"

__ADS_1


" Iya nek"


" Kamu pun harus bahagia, jangan mengecewakan kakek dan juga nenek"


" I... iya nek"


" Berjanjilah, kamu harus hidup bahagia nak!"


" Hiks... hiks.... I... iya nek!"


" Nenek bisa tenang sekarang" ucapnya menoleh sekilas ke Dira dengan tersenyum


" Kek, tunggu nenek ya" ucapnya dengan suara yang sangat pelan seperti sebuah bisikkan


" Laila haillallah Muhammad Darasulullah" samar-samar Dira seperti mendengar sang nenek mengucapkan kalimat syahadat


Dira tidak sanggup lagi menahan sesak di dadanya, rasanya begitu menyakitkan dan begitu memilukan.


Rasa takut kehilangan dua orang yang sangat berarti di dalam hidupnya begitu menghantui pikiran dan hatinya, jantungnya kembali berdegup kencang kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya


Dira sudah memberingsut ke lantai tubuhnya terasa begitu lemas.


Arlan yang baru saja masuk setelah mengabari papa Kusuma dan mama Ambar terkejut melihat Dira yang terduduk di lantai dengan tubuh yang bergetar di dekat pintu


" Sayang!" Dira berjongkok di depan Dira menarik tubuh ringkihnya kedalam dekapannya


" Hiks... hiks..." suara isak tangis Dira terdengar begitu memilukan


" Kakek.... Nenek... hiks... hiks... jangan tinggalkan Dira sendirian nek, Dira mohon jangan tinggalkan Dira" Rancau Dira dengan tangisnya yang semakin pecah


" Nenek!" Arlan tidak mengerti kenapa Dira menyebut neneknya jangan meninggalkannya


" Maksud kamu apa sayang?" tanya Arlan


" Nenek baik-baik saja sayang" ucap Arlan berusaha untuk menenangkan wanita yang kini sudah berstatus isterinya itu


Dira tidak berkata apa-apa lagi hanya isak tangisnya yang semakin pecah


" Maaf pak, Bu... nenek anda_!" ucap dokter yang sempat memeriksa sang nenek karena melihat ada yang janggal pada waktu renta itu yang tengah duduk di kursi rodanya


" Sudah meninggal dunia" sambungnya


Mata Arlan membulat sempurna saat mendengar nenek Dira pun kita sudah meninggal dunia


" Innalilahi wa innailaihi rojiun" Arlan pun tidak kuasa menitikkan air matanya melihat tubuh isterinya yang nampak begitu terguncang dengan kenyataan pahit yang harus dia hadapi


Arlan semakin dibuat terkejut saat tubuh Dira sudah tidak lagi bergerak di dalam dekapannya


"Sayang bangun sayang .. Dira!" Arlan menepuk-nepuk pipi Dira tapi gadis itu tak bergeming


Arlan yang panik langsung berdiri dan membawa Dira ke ruang pemeriksaan


Arlan menghubungi Al meminta bantuannya untuk mengurus jenazah kakek dan neneknya Dira


Semua keluarga Al terkejut bukan main saat Arlan mengabari kalau kakek dan neneknya Dira sudah meninggalkan dunia.


Al dan kedua orang tuanya langsung bergegas pergi ke rumah sakit sedangkan Ayla pergi ke rumah Dira bersama Mina dan Sasa yang sempat ia hubungi sebelumnya


Sebelum pergi Ayla pun menyempatkan diri menyetok ASI-nya terlebih dahulu,


" Bi saya pergi dulu ya bi, kalau Aliza rewel langsung hubungi saya ya bi. tadi saya juga sudah menyetok asi buat Aliza bi!" pesan Ayla sebelum pergi


" Iya neng, bibi juga turut berdukacita ya neng semoga neng Dira diberi kekuatan dan kesabaran ya neng" ucap bi Nani yang tidak kuasa menahan tangisnya merasa sangat kasihan dengan nasib Dira


" Amin, iya bi semoga Dira kuat menghadapi semua ini bi" ucap Ayla


Ayla pun keluar rumah setelah mendengar suara mobil Mina


Mereka bertiga langsung pergi ke rumah Dira untuk mengurus keperluan di sana karena selain mereka memang tidak ada keluarga lain yang mereka punya


Ayla, Mina dan Sasa dibantu warga setempat mengurus semua yang diperlukan dalam pengurusan jenazah kakek dan nenek Dira


Para tetangga pun nampak syok saat mendengar kabar duka cita itu, mereka tidak menyangka jika kakek dan neneknya Dira meninggal dunia di waktu yang bersamaan


Mereka sungguh merasa sangat kasihan dengan nasib Dira yang memang mereka tahu tidak memiliki keluarga lain selain kakek dan neneknya


Rumah Dira pun kini sudah ramai dengan para pelayat yang datang meskipun jenazah keduanya belum sampai di kediaman karena harus diurus terlebih dahulu.

__ADS_1


Dira kini sudah siuman tapi tubuhnya masih sangat lemas, Arlan sungguh merasa teriris hatinya melihat kondisi Dira yang terlihat begitu rapuh


__ADS_2