
Di sisi lain, ada seorang laki-laki yang termenung sendiri sedang meratapi nasib, meratapi nasib karena merasa rindu dengan sang buah hati, siapa lagi jika bukan Ezio.
Ezio yang tidak bisa tidur, karena kepikiran dengan Zarina terus menerus seharian ini, dia hanya membolak-balikkan tubuhnya saja di atas ranjang empuk nan mewahnya.
Ezio lalu bangun, dia berjalan-jalan sebentar di dalam kamarnya, lalu mencoba merebahkan badannya lagi di atas ranjang, tapi tetap saja dia tidak merasa mengantuk sama sekali.
Akhirnya, karena sudah lelah sendiri, dan mata juga tidak mau terpejam sama sekali, Ezio pun memilih untuk duduk di kursi yang ada di atas balkon kamarnya, sambil melihat album fotonya Zarina yang sengaja sudah dia cetak.
Tidak cuma di album saja, melainkan Ezio juga memasangkan di figura kamarnya, untuk dia lihat ketika dia sedang ingin tidur.
Ezio tersenyum sendiri, tertawa sendiri, dan tanpa sadar menangis sendiri, jika teringat dengan setiap kejadian yang ada di dalam foto tersebut.
" Kamu sedang apa sayang di sana, Papi rindu ",, kata Ezio sambil mengusap fotonya Zarina.
" Apakah kamu tidak mau datang ke sini untuk mengunjungi Papi ",, kata Ezio lagi.
" Apakah kamu sendiri tidak merindukan Papi sayang?? ",, kata Ezio sambil meneteskan air matanya.
" Sekarang aku tahu, bagaimana rasanya berpisah dengan seorang anak, pasti ini yang di rasakan oleh Syahlaa kemarin, ketika aku mengambil paksa Zarina dari sisinya ",, kata Ezio berbicara sendiri.
" Maafkan aku Syahlaa ",, kata Ezio sambil memeluk album foto yang di pegangnya.
Sambil meluruskan kakinya di kursi yang satunya, Ezio mencoba memejamkan matanya sambil memeluk album tadi, dan hingga pada akhirnya, Ezio bisa tertidur juga ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari di atas kursi yang ada di balkon kamarnya.
Sedangkan kembali ke Indonesia, saat ini adalah pagi pertama bagi Faiha dan Rain.
Mereka berdua sudah bangun sejak pagi tadi sekitar jam empat subuh, karena mereka harus menunaikan mandi junub terlebih dahulu sebelum menunaikan sholat subuh.
Rain yang belum mengerti tata cara dan niat mandi junub, dengan sabar Faiha menuntun serta mengajari sang suami.
Begitupula dengan niat doa untuk melakukan hubungan 1nt1m semalam, Faiha pula yang mengajari Rain cara doanya.
Rain tidak malu dibimbing oleh Faiha, walau statusnya dia seorang imam rumah tangga, dan Faiha pun juga merasa senang, bisa berbagi ilmu kepada sang suami yang baru saja menjadi seorang mualaf.
Senyum merekah dan wajah Rain juga Faiha terlihat cerah sekali pagi itu, semakin segar lagi ketika mereka baru selesai mandi junub berdua.
" Jangan senyum-senyum begitu terus Kakak, Fai malu ",, kata Faiha kepada Rain.
Sambil mengeringkan rambutnya, Rain pun lalu berjalan mendekati Faiha yang sedang memakai baju.
" Tidak Kakak sangka ternyata menikah itu enak, dan terlebih lagi, Kakak menikah dengan wanita yang sudah beberapa tahun lamanya Kakak cintai ",, kata Rain kepada Faiha.
" Memangnya Kakak mencintai Fai sejak kapan?? ",, tanya Faiha kepada Rain.
__ADS_1
" Entahlah Kakak lupa, tapi seingat Kakak jika tidak lupa, sejak pertama Kakak berkunjung ke sini ",, jawab Rain kepada Faiha.
" Lama sekali Kak, tapi kenapa Fai tidak bisa merasakan cinta Kakak, apa karena Fai pada waktu itu masih kecil ya?? ",, kata Faiha kepada Rain.
" Iya, dan pada waktu itu Kakak juga tidak yakin, apakah Kakak mencintai kamu, karena Kakak masih mengira jika rasa cinta itu hanya sekedar rasa sayang sebatas adik dan Kakak, tapi tidak tahunya, berlanjut sampai sekarang ",, jawab Rain kepada Faiha.
" Sekarang, setidaknya, kita sudah resmi Kakak, dan ayo kita segera sholat subuh dulu Kak, nanti ke buru habis waktunya ",, kata Faiha kepada Rain.
Walau Rain baru saja mualaf, dia sudah belajar bersama Alzam, bagaimana menjadi imam yang baik ketika sholat berjamaah dengan sang istri.
Membicarakan Alzam, Alzam juga tidak mau kalah, dia semalam juga baru saja melakukan sunnah rosul bersama Syahlaa tentunya.
Semakin lama cinta Alzam semakin besar saja untuk Syahlaa, dan tidak pernah absen sebelum tidur, Alzam akan selalu membacakan doa-doa dan sholawat untuk sang calon buah hati.
Saat ini mereka berdua baru saja selesai sholat subuh berjamaah, dan Syahlaa sendiri juga sedang bersiap-siap mengecek barang bawaan yang akan mereka bawa pergi nanti.
" Ayah, pesawat kita akan berangkat jam delapan pagi, jadi kita harus berangkat dari sekarang dong ya ",, kata Syahlaa kepada Alzam.
" Iya Mama, makanya sekarang kita harus segera bersiap-siap ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
" Kalau begitu, bolehkah Mama minta tolong itu bangunin Zarina dan mandiin dia, biar nanti Mama yang gantiin bajunya, pinggang Mama rasanya sudah sangat pegal sekali Ayah ",, kata Syahlaa kepada Alzam.
" Ok siap Mama ",, jawab Alzam kepada Syahlaa.
Ketika semua orang sudah pada selesai bersiap-siapnya, dan mereka semua juga sudah pada berpamitan kepada Umi Anum dan Abi Aasim.
Alzam, Syahlaa, Zarina, dan juga Rain beserta Faiha, langsung saja berangkat menuju ke salah satu Bandara yang ada di Indonesia.
Mereka semua berangkat menggunakan dua mobil, dan diantar oleh Aaqil serta satunya adalah salah satu pengurus pondok Pesantren.
Alzam, Syahlaa, Zarina, Rain dan juga Faiha, mereka semua berada di dalam satu mobil yang sama, sedangkan Aaqil dan satu pengurus Pondok mereka berada di dalam satu mobil yang lainnya.
" Rain, ketika kita sudah sampai di Prancis, maukah kamu mengantarkanku dan Syahlaa untuk bertemu dengan Tuan Ezio?? ",, tanya Alzam kepada Rain yang sedang menyetir.
" Boleh, dan jika boleh tahu ada keperluan apa kamu ingin menemui Tuan Ezio Kakak ipar ",, jawab bercanda dari Rain.
" Ingin memberinya kejutan saja kepadanya, aku yakin pasti dia sangat merindukan Zarina, bahkan semalam Zarina tumben tidur mengigau memanggil nama Ezio " Paman baik ," ",, jawab Alzam kepada Rain dan masih di dengar Syahlaa maupun Faiha yang duduk di kursi belakang.
Dan Zarina memang memanggil Ezio dengan panggilan Paman baik.
" Iya, kamu benar Afnan, pasti Tuan Ezio sangat rindu sekali dengan Zarina, baiklah nanti aku akan mengantarkanmu ",, kata Rain kepada Alzam.
Alzam langsung saja mengucapkan terimakasih kepada Rain, dan sebelumnya di rumah tadi, Alzam sudah membicarakan perihal itu dengan Syahlaa terlebih dahulu.
__ADS_1
Syahlaa tidak merasa keberatan, karena mau bagaimanapun juga, Ezio tetaplah Ayah kandungnya Zarina.
Dan tidak terasa, mobil yang mereka tumpangi sampai juga di salah satu Bandara yang ada di Indonesia sekitar pukul setengah delapan pagi.
Semua orang termasuk Aaqil dan satu pengurus Pondok yang di ajak, mereka semua langsung saja masuk ke dalam Bandara.
" Semoga kalian semua selamat sampai tujuan dan kembali pulang ke sini lagi ",, kata Aaqil kepada semua Keluarganya.
" Iya, kamu juga, hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut di jalan ",, jawab Alzam juga kepada Aaqil.
Setelah menunggu sebentar, akhirnya sang petugas Bandara pun mengumumkan jika penerbangan Indonesia - Prancis akan segera lepas landas.
Setelah berpamitan dengan Aaqil dan satu pengurus pondok, Alzam, Syahlaa, Rain, Zarina dan juga Faiha, langsung bergegas masuk ke dalam pesawat.
Sedangkan Aaqil langsung saja bergegas kembali ke parkiran mobil bersama pengurus pondok yang diajaknya.
Ketika pesawat akan lepas landas, terjadi guncangan sedikit yang sudah terbiasa terjadi, dan hal itu membuat Faiha yang baru pertama kali naik pesawat, merasa sangat takut sekali.
Bahkan Faiha sampai berpegangan erat di tangan Rain, dengan mata yang terpejam dan mulut sambil berdoa.
Rain yang melihatnya, dia hanya tersenyum saja, sambil merangkul pundak Faiha untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan.
" Tenanglah sayang, tidak apa-apa, ini sudah hal biasa terjadi jika pesawat akan lepas landas, sebentar lagi pesawatnya juga akan tenang kembali ",, kata Rain kepada Faiha.
" Fai takut Kakak, ini pertama kalinya Fai naik pesawat ",, jawab Faiha sambil menyembunyikan wajahnya di dada Rain.
" Mulai sekarang, kamu akan lebih sering berpegian naik pesawat Fai, karena yang pasti, Kakak akan mengajak kamu pulang pergi Prancis - Indonesia, atau liburan ke luar Negeri ke manapun yang kamu mau ",, kata Rain kepada Faiha.
" Sungguh,?? Kakak mau mengajak Faiha pergi ke manapun yang Fai mau?? ",, tanya Faiha kepada Rain.
" Iya sayang ",, jawab Rain sambil mengangguk.
" Fai ingin umroh Kakak, maukah Kakak umroh bersama Fai ke tanah suci makkah?? ",, tanya Faiha kepada Rain.
" Mau, tentu saja Kakak mau sayang, masa di ajak beribadah sama istri sendiri tidak mau, nanti ya setelah kita sudah meresmikan pernikahan kita sayang ",, jawab Rain kepada Faiha.
" Iya, Fai setuju ",, jawab Faiha kepada Rain.
" Tidurlah jika merasa takut, perjalanan kita masih sangat panjang sekali ",, kata Rain kepada Faiha.
Faiha hanya mengangguk saja kepada Rain, dan Rain lalu membenarkan kursi yang di duduki Faiha, supaya kakinya bisa di luruskan dan mereka bisa berpelukan mesra di kursi yang mereka duduki.
...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...
__ADS_1
...***TBC***...