
"Kenapa begitu terburu-buru ingin pergi, apa kamu sudah tidak merindukan ku lagi?"
Deg
Mina tidak ingin baper, ucapan Andi sungguh mengganggu hati dan pikirannya saat ini. tanpa kata Mina lalu melangkah pergi begitu saja
" Tunggu!"
Mina membulatkan matanya sempurna saat tiba-tiba tangannya ditarik hingga tubuhnya terhempas dan membentur dada bidang Andi
Deg
Deg
Deg
Tubuh Mina membeku seketika saat netra keduanya saling bersirobok, jarak mereka begitu dekat hingga deru napas keduanya pun begitu terasa
" Apa kau merindukan ku?"
" Apa kau masih menungguku?"
" Apa masih ada tempat untuk ku di hatimu?"
" Apa kau masih mencintaiku Mina Adzkia?"
Andi memberondong Mina dengan pertanyaan-pertanyaannya dan sontak hal itu seketika membuat lutut Mina terasa lemas seperti tak bertulang jika tidak dengan cepat tangan Andi memeluk pinggangnya mungkin Mina sudah memberingsut ke lantai
" Ke... kenapa kau bertanya seperti itu mas?" tanya Mina dengan degup jantung yang entah sudah secepat apa, sementara Andi tersenyum saat mendengar Mina memanggilnya mas
" A... aku, aku sudah melupakan kamu mas" ucap Mina berbohong lalu mendorong dada Andi hingga pegangan tangan Andi yang masih bertengger di pinggang Mina itu pun terlepas
" Jangan membohongi diri mu sendiri Mina!" tekan Andi seraya memeluk Mina dari belakang membuat Mina membeku di tempat dengan napas yang tersengal karena tidak kuasa menahan gejolak perasaannya yang kini sudah tidak karuan
Mina yang hampir terlena dengan perasaannya kini tersadar kalau Andi sudah menjadi milik orang lain
Dengan kasar Mina melepaskan tangan Andi yang tengah memeluknya
" Jaga sikapmu mas, kau ini sekarang sudah menjadi seorang ayah, bagaimana kalau Mutia dan mamanya melihat perbuatan mu ini, kau akan melukai banyak hati mas" tegas Mina
" Tapi kenapa kamu harus membohongi perasaanmu sendiri? aku sudah mendengarnya sendiri kalau kamu masih mencintaiku dan selalu menunggu kehadiran ku tapi kenapa setelah aku berada di dekat mu kau selalu menghindar dari ku?" tanya Andi menatap Mina dengan tatapan tak terbaca
Mina tersenyum getir " Karena sekarang kondisinya sudah berbeda mas" sahut Mina lirih
" Apanya yang berbeda?" Andi menautkan kedua alisnya
" Yang aku tahu kamu masih mencintai ku tapi kenapa kamu malah terus menghindari ku?" tanyanya lagi
" Ya karena aku tidak mau perasaan yang aku miliki merusak kebahagiaan orang lain mas, cukup hati ini saja yang terluka mas tapi tidak dengan hati Mutia dan juga ibunya terlebih hatimu mas" terang Mina dengan suara parau
" Maksudmu? Apa hubungannya perasaan mu dengan perasaan Mutia dan ibunya ?" Andi mengerutkan dahinya
" Sudahlah mas, aku tidak ingin membahasnya lagi, aku capek mas aku mau pulang , aku takut mbak Wulan semakin salah paham karena kita sudah terlalu lama bicara berdua, jadi sebaiknya aku pergi sekarang mas dan soal perasaan ku terhadap mu sebaiknya lupakan saja anggap saja mas tidak pernah mendengar apa-apa!" Mina hendak pergi tapi lagi-lagi Andi membuat langkah Mina terhenti
" Mana mungkin aku bisa menganggap tidak pernah mendengar apa-apa, sementara aku juga sangat merindukan mu !" Dada Mina seakan terhantam batu besar sungguh menyesakkan kata rindu itu terucap dari laki-laki yang setahunya sudah tidak sendiri lagi tapi kenapa? kenapa laki-laki itu mengatakan kata-kata yang seharusnya membuat hati setiap wanita berbunga-bunga tapi tidak dengan nya, Mina justru merasa begitu sakit
Mina akhirnya kembali melangkahkan kakinya, dan saking terlukanya Mina sampai tak kuasa lagi menahan air matanya
Dan Andi lagi-lagi mengatakan sesuatu yang hampir saja membuat Mina tak mampu lagi menyeimbangkan bobot tubuhnya, ia hampir saja terjatuh jika tidak berpegangan pada daun pintu
__ADS_1
" Aku mencintaimu Mina Adzkia!" ucap Andi seraya melangkahkan kakinya mendekati Mina yang berdiri mematung di ambang pintu
" Hiks.... Hiks...!" Mina terisak saat mendengar Andi mengungkapkan cintanya
Mina merasa sengat kecewa kenapa Andi malah menyatakan cinta disaat ia kini sudah memiliki Wulan dan Mutia
Seketika Mina mengingat kembali saat-saat ia belum berani memberikan jawaban pada Andi yang menyatakan perasaannya dan berniat ingin melamarnya
Bukannya sengaja atau dia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Andi tapi saat itu Andi mengatakannya bertepatan dengan dirinya yang akan dimutasi ke kota B, Mina yang tidak mempercayai hubungan jarak jauh lebih memilih biar waktu yang menjawab bagaimana jodoh menyatukan mereka atau justru sebaliknya.
Mina tidak ingin menjalin hubungan jarak jauh karena takut sama-sama tidak bisa menjaga kepercayaan masing-masing lalu berakibat menyakiti keduanya.
Andi pun akhirnya memaklumi perasaan Mina saat itu tapi sebelum dia benar-benar pergi Andi pernah mengatakan pada Mina kalau kelak dia akan kembali lagi dan akan menjemputnya
Mina tidak berani berharap tapi hatinya telah berkhianat karena setelah Andi pergi Mina benar-benar menutup hatinya untuk laki-laki lain bahkan iapun memberi jarak dengan semua rekan kerjanya yang laki-laki
Andi menarik bahu Mina hingga membuat gadis itu kini menghadap ke arahnya
Mina tidak sanggup menatap wajah Andi, ia menundukkan wajahnya dan menahan rasa sesak yang semakin menghantam dadanya
" Kenapa kamu malah mengatakan itu mas? aku sedang berusaha untuk menata hatiku kembali mas, tapi kenapa mas malah membuat hatiku hancur kembali, kenapa mas, kenapa?" ucap Mina disela isak tangisnya
" A... aku, aku tidak mau menjadi perusak hubungan orang mas, meskipun aku akui kalau aku memang masih mencintaimu tapi aku tau diri mas, akupun tidak mau egois mas dan aku tidak mau disebut pelakor" ucap Mina seraya menghapus air matanya dengan kasar
Andi tertegun dengan kata-kata Mina, pelakor? maksudnya apa Mina mengatakan dirinya sendiri pelakor
" Maksud kamu apa mengatakan dirimu sendiri sebagai pelakor?" tanya Andi
Mina menghela napasnya kasar lalu menatap Andi dengan sorot mata yang sulit diartikan
" Jika aku berdekatan dengan laki-laki yang sudah beristri apakah itu tidak dinamakan pelakor mas?" tanya Mina dengan sorot mata sendu
" Ya itu memang benar, tapi kamu tidak sedang dekat dengan laki-laki yang sudah beristeri kan?" tanya Andi dengan menaikkan satu alisnya
" Sudahlah mas, sebaiknya kamu temui mbak Wulan, aku tidak mau dia salah paham hingga membuat kalian bertengkar nantinya" ucap Mina
" Salah paham? salah paham apa maksud mu dan apa yang membuat aku dan Wulan bertengkar? " tanya Andi
" Mas, walau bagaimanapun mbak Wulan itu adalah perempuan dan aku juga perempuan jadi sebagai sesama perempuan aku tidak ingin menyakiti hatinya mas" ucap Mina
" Menyakitinya? bagaimana maksudmu Mina sayang aku enggak ngerti ?" tanya Andi
Jlep
Kata sayang yang Andi ucapkan lagi-lagi membuat Mina membeku
" Cukup mas, jangan mengatakan sesuatu yang hanya akan menyakiti perasaan ku dan juga perasaan mba Wulan jika dia mendengar kata-kata mas Andi barusan!" geram Mina
Andi menaikan satu alisnya, menyakiti perasaan Wulan apa maksudnya kenapa sedari tadi Mina selalu menyebut nama Wulan. Andi sejenak berpikir lalu detik berikutnya dia pun mulai paham ternyata wanita yang ada di hadapannya saat ini sudah salah paham, dia yang sejak tadi berkata tidak ingin terjadi kesalahpahaman tapi kenyataannya justru dia sendiri yang sudah salah paham
Andi geleng-geleng kepala seraya tersenyum membuat Mina mengerutkan keningnya
" Kenapa mas Andi malah tersenyum?" tanya Mina dengan polosnya dan terlihat lucu dimata Andi
" Karena kamu lucu dan ngegemesin" sahut Andi dengan cueknya
" Mas kamu jangan giL_!" ucapan Mina tiba-tiba terpotong
" Pak Andi maaf sebelumnya kalau aku ganggu waktu kalian, aku hanya mau bilang aku dan Mutia pamit mau kembali ke hotel !" ucap Wulan
__ADS_1
Mina tercengang mendengar ucapan Wulan yang hendak pergi ke hotel apalagi barusan Wulan memanggil Andi dengan sebutan pak
" Ke hotel?" gumam Mina
Wulan yang masih mendengar gumaman Mina pun tersenyum " Iya, aku dan Mutia ingin kembali ke hotel kami disini karena semalam pak Andi meminta aku dan Mutia datang untuk menemani mu yang pingsan, pak Andi tidak ingin terjadi salah paham apalagi menimbulkan fitnah jika kalian hanya berdua saja di rumah ini" tutur Wulan menjelaskan membuat Mina semakin dibuat bingung
"Dan sekarang karena kamu juga ingin pergi maka kami pun harus kembali ke hotel, takut juga menjadi fitnah" lanjutnya
" Ta... tapi bukankah kalian itu_ ?" Mina menunjuk ke arah Wulan dan Andi secara bergantian dengan wajah yang terlihat lugu
" Kalian apa?" selak Andi
" Dari tadi ngomong takut orang salah paham tapi kenyataannya dia sendiri malah yang sudah salah paham" lanjutnya membuat Mina tercengang dan menatap Andi dengan penuh tanda tanya besar di otaknya
" Saya dan pak Andi tidak memiliki hubungan apa-apa, kami murni cuma sebatas atasan dan bawahan saja, kalau kamu salah paham karena Mutia memanggilnya papa itu karena memang kebiasaan Mutia yang selalu memanggil siapapun yang dia suka dengan panggilan papa seperti ke pak Andi, ayah ke pak Alveer dan bunda ke Bu Ayla" terang Wulan
" Saya sudah memperingatkan Mutia tapi dasar anak itu tetap aja ngeyelan" tambahnya lagi
Mina terdiam wajahnya seketika merah, rasanya sungguh malu karena sudah salah paham
" Udah enggak usah malu gitu, makanya kalau ada apa-apa ditanyakan dulu dan cari tahu dulu kebenarannya jangan main ambil kesimpulan sendiri jadi salah paham kan?" ucap Andi seraya tersenyum
Mina menundukkan wajahnya merasa sangat malu
" Ya udah kalau gitu aku pamit ya, Mutia juga sudah menunggu di bawah" pamit Wulan
" Iya hati-hati di jalan dan kalau ada apa-apa jangan lupa telpon" pesan Andi
" Baik pak!"
Kini Wulan beralih pada Mina " Mina aku pamit ya!"
" Eh? i.. iya mbak!" ucap Mina sedikit gugup karena salah tingkah
Kini tinggal Mina dan Andi, keduanya saling diam sampai akhirnya Andi menarik tangan Mina dan membawanya duduk sofa yang ada di kamar tersebut
" Diam disini!" titah Andi
Tidak berapa lama Andi sudah kembali lagi dengan membawa semangkuk bubur yang tadi ia buat sendiri
" Sudah tidak salah paham lagi kan, berarti sudah bisa makan bubur buatan aku dong?" ucap Andi seraya duduk di samping Mina
" Aku suapin ya?" Andi menyodorkan sesendok bubur ke bibir Mina
" Biar aku makan sendiri aja mas!" tolak Mina dengan halus
" Aku enggak terima penolakan jadi cepat Aakk...!" tegas Andi
Mina memutar bola matanya malas tapi tetap membuka mulutnya
" Anak pintar!" ucap Andi lalu mengacak-acak rambut Mina gemas
" Ishh .. mas ih ngeselin" Mina merapihkan rambutnya yang dibuat berantakan oleh Andi
Andi tertawa melihat Mina yang tengah mengerucutkan bibirnya
" Ngeselin apa ngangenin?" goda Andi menaik turunkan alisnya
" Ih mas Andi kok jadi genit gini sih!" Mina memicingkan matanya
__ADS_1
" Genit sama calon isteri sendiri sih enggak apa-apa dong yang penting enggak genit ke calon isteri orang" sahut Andi lalu tergelak
Keduanya pun akhirnya saling melempar canda dan tawa sebagai pelepas rasa rindu mereka yang selama ini saling merindukan namun terhalang oleh jarak dan waktu