DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
PADA AKHIRNYA


__ADS_3

Semua orang langsung merasa tercengang mendengar perkataan dari Rain, yang sangat tegas dan juga dingin sekali kepada Abi Aasim.


Mereka semua tidak menyangka, terutama Faiha, jika Rain akan berani berbicara seperti itu kepada sang Abi.


Tapi tidak dengan Alzam maupun Syahlaa, karena mereka sudah sangat tahu sekali, bagaimana sifat dari Rain.


Selain tegas, kejam, dingin tidak tersentuh sama seperti sang bos, tapi Rain sangat setia sekali dengan wanita yang dia cintai.


Bahkan dengan harta yang dia miliki, Rain bisa saja bergonta ganti pasangan dengan mudah, tapi Rain tidak mau, karena dia hanya ingin mau memberikan hati dan tubuhnya, untuk satu wanita yang spesial yang nanti akan menjadi istrinya.


" Jika anda ingin menjadikan Faiha sebagai istrinya, kenapa anda berbicaranya tidak sopan begitu Tuan, kepada calon mertua anda, apa anda tidak takut jika di tolak olehnya?? ",, kata Abi Ghifar kepada Rain.


" Untuk apa sopan, jika yang tua saja tidak menghormati yang muda ",, jawab tenang dan dingin dari Rain kepada Abi Ghifar.


" Jika saya tidak di restui pun akan tetap menikahi Faiha, apapun yang terjadi ",, kata Rain lagi.


" Saya sudah bertemu dengan banyak orang, dari kalangan mafia, pembunuh, kolega bisnis yang kejam, orang-orang baik, hampir semuanya saya sudah bertemu dengan mereka ",, kata Rain lagi kepada Abi Ghifar, dengan Bahasa yang sedikit belum jelas, tapi masih bisa di mengerti.


" Dan ketahuilah Tuan, dari situ saya bisa membedakan mana orang munafik dan yang benar-benar baik, serta mana orang yang benar-benar pintar dan sok pintar ",, kata Rain lagi.


Sepertinya tepat sekali perkataan dari Rain untuk Abi Ghifar, karena Abi Ghifar langsung saja terdiam mendengar semua perkataan santai tapi menusuk dari Rain tadi.


" Tuan Aasim ",, kata Rain lagi kepada Abi Aasim.


" Pulang dari Prancis, melihat wanita yang saya cintai seperti ini keadaanya, membuat hati saya menjadi sangat sakit sekali, apakah anda yang sebagai Ayah kandungnya tidak merasa kasihan?? ",, tanya Rain kepada Abi Aasim.


" Sungguh terlalu sekali anda Tuan Aasim, Ayah macam apa anda,?? bisa tahan melihat anak sendiri bersedih seperti ini?? ",, kata Rain lagi kepada Abi Aasim.


Perkataan dari Rain, sangat menusuk sekali di relung hati Abi Aasim.


Faiha hanya bisa diam saja tidak bisa membantah perkataan dari Rain, bahkan Alzam dan yang lainnya pun sama halnya, tidak ada yang berani menyela perkataan dari Rain.


" Faiha ",, kata Abi Ghifar dengan tiba-tiba kepada Faiha.


Faiha langsung mengalihkan pandangannya ke arah Abi Ghifar.


" Apakah seperti itu laki-laki yang akan kamu jadikan sebagai suami Nak?? ",, tanya Abi Ghifar kepada Faiha.


" Sangat urakan dan tidak sopan sekali kepada orang tua, apakah dia tidak berpendidikan, apa pekerjaannya Faiha, apakah dia nanti bisa menghidupi kamu setelah menikah, atau cuma bisanya menyakiti kamu saja dengan semua perkataan pedasnya itu?? ",, kata Abi Ghifar kepada Faiha.


Faiha hanya diam, dia bingung mau menjawab bagaimana kepada Abi Ghifar.


Tapi Rain yang mendengar sendiri, dia langsung saja angkat bicara.


Untung saja Rain sudah cukup mengerti Bahasa Indonesia, karena sejak kemarin, Rain gencar belajar Bahasa Indonesia di dalam laptop dan juga ponselnya.


" Jika saya menyebutkan berapa gaji saya, mungkin anda akan tercengang ",, jawab Rain kepada Abi Ghifar.


" Jika saya menuliskan title pendidikan saya, mungkin satu halaman kertas pun tidak akan muat ",, kata Rain lagi kepada Abi Ghifar.


" Dan jika anda saya suruh mentotal seluruh kekayaan saya yang ada di Prancis, dalam satu minggu pun tidak akan selesai ",, lanjut lagi perkataan Rain.


" Oh ya satu hal lagi, saya akan berkata pedas seperti ini, hanya kepada orang-orang tertentu saja, dan saya jamin Faiha jika menikah dengan saya, dia tidak akan tersiksa lahir dan batin ",, kata Rain lagi.


Abi Ghifar seperti kebakaran jenggot, karena semua perkataannya bisa di bantah mulus oleh Rain.


Dan Rain yang sudah terbiasa menghadapi orang seperti Abi Ghifar, dia santai saja, bahkan Rain sudah pernah menghadapi orang yang lebih parah dari Abi Ghifar.


Contohnya orang yang sudah kita kenal, yaitu Papa Fransisco, karena dia memiliki sifat yang lebih parah dari Abi Ghifar.


" Maaf Abi Ghifar ",, kata Faiha ikut berbicara juga.


" Saya tahu hati saya berlabuh kepada siapa, saya tahu orang yang saya cintai bagaimana sifatnya, karena saya tidak akan sembarangan jatuh cinta kepada seorang laki-laki ",, kata Faiha kepada Abi Ghifar.


" Jadi walau Abi tidak menyetujui hubungan Fai dengan Kak Rain, Fai akan tetap menikah dengannya, dan ini keputusan Fai, jadi Fai akan menanggung semuanya sendiri ",, kata Faiha lagi dengan sangat mantap sekali.


" Apa kamu yakin Faiha?? ",, tanya Alzam kepada Faiha.


" Fai yakin Kak, jika Abi tidak mau menikahkan Fai, Fai mohon nikahkanlah Fai, jadi wali nikahnya Fai Kak ",, jawab Faiha kepada Alzam.


" Umi merestui hubungan kalian Fai, Umi setuju, menikahlah dengan laki-laki pilihanmu, karena apa yang menjadi pilihan hati, hidup akan lebih menyenangkan dan damai ",, kata Umi Anum dengan tiba-tiba.


Rain begitu terenyuh sekali mendengar restu dari Umi Anum, dan dia juga tidak menyangka jika Faiha akan tetap mempertahankan perasaannya, dikala banyak orang yang menentang hubungan mereka.


" Baiklah, demi kebahagiaan kamu, Kakak siap menjadi wali nikah kamu Faiha ",, jawab Alzam kepada Faiha.

__ADS_1


" Terimakasih Kak ",, kata Faiha sambil tersenyum.


Alzam pun hanya tersenyum dan mengangguk saja menanggapi Faiha.


Abi Aasim masih diam saja, karena dia seperti tidak bisa berkutik di serang oleh Keluarganya sendiri.


Sedangkan Uzair, dia hanya menampilkan senyum tipisnya, bahkan di dalam hati, Uzair sangat mendukung cinta Faiha dan Rain.


Karena Uzair bisa melihat sendiri, ada cinta yang begitu besar sekali di mata Faiha maupun Rain.


Jadi, Uzair merasa begitu bangga dengan dirinya sendiri, sudah mau berbesar hati dan mengalah demi kebahagiaan Faiha.


" Huh!! ",, kata Abi Ghifar dengan tiba-tiba.


" Ayo Uzair, Umi, Nura, kita kembali pulang ke rumah kita sendiri ",, kata Abi Ghifar kepada semua Keluarganya.


Setelahnya, Abi Ghifar langsung beranjak berdiri menuju ke dalam kamar tamu, untuk mengemasi semua barang-barangnya.


Dan apa yang di lakukan oleh Abi Ghifar, langsung di ikuti oleh semua anak dan sitrinya


Abi Aasim sendiri tidak bisa mencegah, apa yang sudah menjadi keputusan dari sang sahabat.


" Biarkan saja mereka, ayo kita bahas pernikahan kalian di pendopo belakang ",, ajak Umi Anum kepada Faiha dan Rain.


" Baik Umi ",, jawab Alzam dan Faiha secara bersamaan.


Sedangkan Rain, hanya mengangguk saja kepada Umi Anum.


Mereka semua lalu beranjak berdiri dari duduk mereka, meninggalkan Abi sendirian, menuju ke pendopo belakang yang selama ini menjadi tempat tinggal Syahlaa.


Sesampainya di pendopo belakang, mereka semua langsung saja duduk di ruang tamu yang ada di situ.


" Umi, apa tidak apa-apa kita berada di sini meninggalkan Abi, dan sedang di sana masih ada Pak Kyai Ghifar?? ",, tanya Syahlaa kepada Umi Anum.


" Tidak apa-apa Syahlaa, semua ini biar Umi saja yang menanggung, sudah kamu tenang saja ",, jawab Umi Anum kepada Syahlaa, dan masih di dengar oleh semua orang.


" Sekarang Umi mau tanya kepada Tuan Rain ",, kata Umi Anum kepada Rain.


" Nyonya Anum, bisakah anda memanggil saya Rain saja?? ",, tanya Rain kepada Umi Anum.


" Baiklah Umi ",, jawab Rain sambil mengangguk.


Umi Anum langsung tersenyum mendengar jawaban dari Rain tadi.


" Nak Rain, sebelumnya Umi mau bertanya, bagaimana kamu bisa menikahi Faiha sedang kamu sendiri berbeda keyakinan dengan kita?? ",, tanya Umi Anum kepada Rain.


" Sedangkan di dalam ajaran kami, menikah berbeda agama tidak di perbolehkan Nak ",, kata Umi Anum lagi kepada Rain.


Belum sempat Rain menjawab, tiba-tiba atensi mereka semua teralihkan dengan kedatangan dari Aaqil bersama Iffah.


Aaqil dan Iffah tadi yang mengetahui kepergian dari Faiha, mereka segera bersiap-siap untuk menyusul Faiha.


Dan sesampainya di pendopo utama, Aaqil dan Iffah hanya melihat Abi Aasim saja yang sedang duduk di ruang tamu.


Aaqil dan Iffah, langsung bertanya kepada Abi Aasim, di manakah Faiha dan Umi Anum berada, dan Abi Aasim pun langsung menjawab dengan jujur, jika mereka semua ada di pendopo belakang.


Di sinilah mereka semua, termasuk Aaqil serta Iffah, yang sudah ikut duduk bergabung dengan yang lainnya.


" Apakah kalian semua sedang membahas masalah yang cukup serius, hingga Abi tidak dilibatkan di dalam pembicaraan kalian semua?? ",, tanya Iffah kepada semua orang.


" Umi lagi bertanya kepada Nak Rain Iffah, yang katanya sebentar lagi akan menikahi Faiha ",, jawab Umi Anum kepada Iffah.


" Lalu bagaimana dengan Abi, Umi?? ",, tanya Iffah lagi.


" Biarkan saja, sekali-kali Abi memang harus diberi ketegasan dari Umi, karena Abi tidak bisa tegas dalam bertindak dan mengambil keputusan ",, jawab Umi Anum kepada Iffah.


" Umi sudah tidak tahan melihat Faiha dari kemarin bersedih karena sikap Abi kalian, jadi saat ini biar Umi saja yang bertindak ",, kata Umi Anum lagi kepada semua anak-anaknya.


" Jika Tuan Rain menikahi Faiha, dia kan tidak satu keyakinan dengan kita Umi?? ",, tanya Iffah lagi kepada Umi Anum.


" Tenang saja, saya sudah mualaf sejak kemarin, calon Kakak ipar ",, jawab Rain langsung kepada Iffah.


Iffah merasa sangat malu sekali ketika Rain bisa menjawab pertanyaannya, terlebih lagi Rain memanggilnya dengan panggilan Kakak Ipar.


Sedangkan beralih ke pendopo utama lagi, Abi Ghifar dan semua Keluarganya yang sudah selesai bersiap-siap, mereka semua langsung saja ke luar dari dalam kamar untuk berpamitan pulang kepada Abi Aasim.

__ADS_1


Dan ketika mereka semua tidak melihat orang lain selain Abi Aasim, Keluarga Abi Ghifar sebenarnya merasa sedikit terkejut.


Akan tetapi mereka tidak ada yang bertanya sama sekali kepada Abi Aasim, dan memilih langsung berpamitan pulang saja.


" Aasim, aku pulang, terimakasih atas sambutan hangat dari mu untuk kami sejak kemarin ",, kata Abi Ghifar kepada Abi Aasim.


" Iya sama-sama, dan maafkan aku yang tidak bisa mengabulkan kesepakatan kita dulu ",, kata Abi Aasim langsung memeluk Abi Ghifar.


" Iya mau bagaimana pun juga, jujur aku merasa kecewa dengan keadaan ini ",, jawab Abi Ghifar kepada Abi Aasim.


Abi Aasim hanya bisa tersenyum tipis sekali menanggapi perkataan dari Abi Ghifar.


Dan Abi Aasim lalu melangkahkan kakinya menuju ke Uzair.


" Abi doakan semoga kamu bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dari Faiha ya Nak, kamu anak baik dan juga tampan, pasti banyak para gadis yang mengantri ingin menjadi istri kamu ",, kata Abi Aasim kepada Uzair.


" Aamiin, terimakasih Abi ",, jawab Uzair kepada Abi Aasim.


Dan setelah acara berpamitan itu, Keluarga dari Abi Ghifar langsung saja berlalu ke luar menuju ke arah mobilnya.


Setelahnya, mereka semua langsung pergi meninggalkan Yayasan milik Abi Aasim, menuju ke kota tempat tinggal mereka sendiri.


Sepeninggal dari Keluarga Abi Ghifar, Abi Aasim langsung saja mencoba menyusul semua Keluarganya menuju ke pendopo ke dua.


Kedatangan dari Abi Aasim, membuat semua orang langsung saja terdiam dengan mulut yang langsung terkunci rapat.


Belum sempat rasa terkejut Umi Anum, Iffah dan juga Aaqil tentang keislamannya Rain, tiba-tiba rasa terkejut mereka semakin bertambah dengan kedatangan dari Abi Aasim.


" Apakah Abi menganggu kalian semua?? ",, tanya Abi Aasim kepada semua orang.


" Jika kedatangan dari Abi ingin mengacaukan suasana, lebih baik Abi tidak bergabung di sini saja ",, jawab Faiha dengan sangat berani sekali.


" Fai!! ",, tegur Alzam, Iffah dan juga Umi Anum kepada Faiha secara bersamaan.


Namun Abi Aasim yang di tegur seperti itu oleh Faiha, dia bukannya marah, malah langsung tersenyum sambil berjalan mendekati Faiha.


" Apakah sebegitu marahnya anak gadis Abi?? ",, tanya Abi Aasim kepada Faiha.


Bukannya menjawab, Faiha langsung saja meneteskan air matanya.


Dan Abi Aasim yang melihat Faiha menangis, dia langsung saja memeluk FAiha dengan sangat erat sekali.


" Maafkan Abi Nak, maafkan Abi ",, kata Abi Aasim sambil memeluk Faiha.


" Abi egois selama ini, Abi egois kepadamu ",, kata Abi Aasim lagi kepada Faiha.


Abi Aasim lalu melepaskan pelukan tubuh Faiha, dan langsung menangkup wajah Faiha menggunakan ke dua telapak tangannya.


" Sekarang Abi akan menurut dengan mu Nak, Abi akan merestui hubunganmu dengan Tuan Rain, yang terpenting kamu bahagia Nak, Abi janji Abi ikhlas, Abi ridho kamu dipersunting oleh dia Nak ",, kata Abi Aasim lagi kepada Faiha.


" Sungguh?? ",, tanya Faiha kepada Abi Aasim.


" Sungguh Nak, maafkan Abi ",, jawab Abi Aasim, sambil memeluk Faiha lagi.


Pemandangan antara Faiha dan Abi Aasim, membuat semua orang langsung merasa terharu sekali.


Yang selama beberapa hari ini keadaan sedang membeku, akhirnya mencair juga, dan Rain yang ikut melihat, dia langsung tersenyum dengan sangat manis sekali.


" Bolehkah Abi ikut duduk bersama kalian semua?? ",, tanya Abi Aasim lagi.


" Sini Abi, duduk sama Umi saja ",, kata Umi Anum sudah kembali ke mode perhatian.


Abi Aasim langsung saja duduk di samping sang istri, dan Abi Aasim juga langsung meminta maaf kepada sang istri, karena dari kemarin tidak pernah mendengarkan saran-saran dari Umi Anum.


Umi Anum pun dengan berlapang dada langsung memaafkan kekhilafan dari sang suami, hingga pada akhirnya malam itu Keluarga Abi Aasim di penuhi dengan suka cita untuk menyambut pesta pernikahan antara Rain dan Faiha.


Faiha sendiri sudah merasa sangat lega sekali, karena akhirnya hubungan percintaannya dengan Rain sudah direstui oleh sang Abi.


Walau harus melewati banyak rintangan dan cemoohan dari beberapa orang, tapi sekarang baik Rain dan Faiha bisa bernafas lega.


Sebab pernikahan mereka sudah berada di depan mata, dan senyum Faiha yang sejak kemarin pun akhirnya bisa terlihat lagi di wajah manisnya.


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...


...***TBC***...

__ADS_1


__ADS_2