
Laura sangat terkejut mendengar percakapan manis sepasang suami-isteri tersebut, hatinya memanas amarahnya berkobar-kobar saat fakta yang mengejutkan ini terungkap.
" Dasar wanita jal**G, kalian rupanya menusukku dari belakang. Loe sungguh wanita murahan Ayla sampai melakukan hal serendah itu untuk mendapatkan kak Al, benar-benar gue enggak nyangka tampang doang sok suci tapi kelakuan loe bej*t!" suara Laura sungguh mengejutkan Al dan juga Ayla
" Laura?" Mata Ayla membulat sempurna saat melihat kemarahan di mata Laura saudara sepupunya itu
" Loe jahat Ay, bahkan loe tega menjual harga diri loe untuk mendapatkan mas Al!" cemoh Laura
" Tutup mulut mu Laura, asal kamu tahu aku lebih dulu mengenal Ayla sebelum aku bertemu denganmu dalam perjodohan bodoh itu dan Ayla tidak serendah apa yang kau pikirkan, dia isteriku dan kami sudah menikah sudah sah dimata hukum dan agama" tegas Al dengan turut emosi
" Karena Ayla aku tidak bisa mengambil keputusan untuk menerima perjodohan itu, aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk memutuskan tidak menerima perjodohan dengan mu, karena aku menjaga perasaan mama dan juga ibumu makanya aku mau bertemu dengan mu" Lanjut Al
" Enggak itu pasti bohong!" sanggah Laura
" Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya, aku dan Ayla sudah menikah beberapa bulan yang lalu karena itulah pengakuan mu di hotel tadi itu sangatlah mustahil aku lakukan karena selama beberapa hari ini aku selalu bersama isteri ku Ayla" ucap Al dengan bangga beberapa mengucap Ayla adalah isterinya
" Tidak ada yang berkhianat disini, aku tidak pernah menerima mu sebagai siapa pun disisiku, hanya kamu dan ibumu yang menganggap seperti itu, mamaku saja tidak memberi keputusan apapun tentang perjodohan itu, semua terserah dengan ku, kau tahu betapa sulitnya aku mendapatkan wanita ini setelah aku sedikit memaksa cinta wanita yang berharga ini barulah aku berani mengambil keputusan untuk membatalkan rencana perjodohan bodoh itu dan meyakinkan mamaku tentunya" Al menggenggam erat tangan Ayla lalu dikecupnya berkali-kali.
" Kalian benar-benar jahat, tega kalian terutama loe Ay!" ucap Laura yang tersirat penuh kebencian
" Maaf Laura bukankah dulu loe pernah bilang loe akan mundur jika Al yang mengejar gue bukan gue yang mengejarnya? jadi dimana jahatnya? Loe sendiri kan yang bilang kalau mana ada yang mau sama gue wanita miskin dan kampungan!"
" Apa loe udah ingat dengan kata-kata loe waktu itu?" kali ini Ayla tidak mau bersikap lemah di hadapan Laura terlebih saat ini dia sedang mengandung jadi jiwa memiliki Al itu lebih meningkat.
Laura diam sejenak dan kembali mengingat kata-katanya dulu saat pertama kali Al datang ke rumahnya dan tiba-tiba saja Al menghilang
" Diam loe, awas saja ya kalau loe sampai menggoda calon suami gue!" ancam Laura
" Lalu bagaimana kalau sebaliknya?" tanya Ayla sedikit menantang
" Maksud loe apa?"
" Ya bagaimana kalau seandainya bukan gue yang menggodanya tapi justru sebaliknya dia yang menggoda Ayla Khairani Putri?" tanya Ayla dengan percaya dirinya
" Ha.... ha...ha...!" Laura tertawa terbahak mendengar kata-kata yang Ayla ucapkan
"Apa loe baru bangun tidur hah?" Ayla menautkan alisnya
" Kalau mimpi itu sadar diri, mana mungkin Alveer mau sama cewek kayak loe" ejek Laura
__ADS_1
"Dia itu orang berkelas dan pastinya menyukai wanita yang berkelas pula!" lanjut Laura
" Benarkah?"
" Tentu saja"
" Lalu bagaimana jika seandainya dia yang mengejar-ngejar gue, apa yang harus gue lakukan? menolaknya dan memberikannya pada orang yang berkelas seperti loe atau gue boleh menerimanya?" tanya Ayla
" Jika gue mengalah berarti gue ini lebih berkelas karena bisa menolak seorang Alveer yang loe bilang orang berkelas itu dong" lanjutnya
" Gue yakin Alveer tidak akan menyukai gadis miskin, yatim piatu dan seceroboh loe jadi jika benar Alveer yang berusaha untuk mengejar-ngejar loe, dengan tegas gue akan mundur" ucapnya
" Baik gue pegang kata-kata loe dan kak Luky dengar kan apa kata-kata Laura barusan?"
Luky mengangguk, " Iya kakak dengar!"
Laura tersentak saat ingatan itu benar-benar muncul di kepalanya
" Tidak itu tidak benar, loe hanya mengada-ada" ucap Laura mengelak
" Benarkah? jadi loe beneran enggak ingat? kalau begitu gue akan menelpon kak Luky karena dia yang menjadi saksi ucapan loe itu" ucap Ayla
Untung saja saat Laura masuk para suster sudah pada keluar kalau tidak mungkin Laura sudah di suruh keluar secara paksa oleh mereka karena sudah membuat keributan.
" Kamu enggak apa-apa kan sayang?" Al merasa khawatir takut Ayla merasa tertekan dengan kehadiran Laura
" Aku enggak apa-apa kok mas, berurusan dengan Laura aku sudah biasa mas, dia memang seperti itu orangnya suka meledak-ledak" sahut Ayla seraya menyunggingkan senyumnya.
" Tapi mas khawatir sayang apalagi kamu kan sedang hamil, mas tidak mau sampai terjadi sesuatu sama kamu" Al mengecup tangan Ayla berkali-kali
" Mas, jangan terlalu khawatir ya, insyaallah aku bisa menjaga diri aku dengan baik kok mas" ucap Ayla mengusap punggung tangan Al yang menggenggam erat tangan kanannya.
" Iya sayang mas percaya, tapi tetap aja mas itu khawatir karena kamu itu prioritas utama mas sekarang" Al mengusap lembut perut Ayla yang masih rata
" Terima kasih ya mas"
" Terima kasih untuk apa?"
" Terima kasih karena mas selalu ada untuk ku" Ayla menatap Al dengan mata berkaca-kaca
__ADS_1
" Loh kok kamu malah nangis sih sayang?" Al cemas
" Aku merasa sangat bahagia mas, rasanya ini sungguh seperti mimpi bagiku mas, bisa menikah dengan mas dan mengandung anak mas" Ayla tak kuasa menahan air matanya untuk tidak menetes
" Iya sayang, mas juga sangat bahagia, kehamilan mu ini sangat membahagiakan dan mas juga yakin mama dan papa juga pasti sangat bahagia mendengar berita bahagia ini" ucap Al
" Kalau begitu kita pulang aja ya mas, aku enggak betah di sini ingin cepat-cepat pulang aja!" rengek Ayla manja
Melihat sikap manja Ayla membuat Al merasa gemas sendiri
" Iya sayang, nanti mas tanyakan dulu ya ke dokternya"
" Iya mas"
" Yaudah, kamu sekarang istirahat dulu mas mau menanyakannya dulu sama dokternya.
Al pergi menemui dokter yang menangani Ayla, beberapa menit kemudian Al sudah kembali lagi keruangan tersebut dan Ayla tengah duduk di tepi kasur dengan infus yang sudah terlepas
" Sayang kok enggak rebahan aja?" Al cemas
" Mas aku tuh enggak kenapa-kenapa, suster bilang juga aku sudah di perbolehkan pulang kok" Ayla tersenyum senang
" Iya dokter juga bilang begitu kamu sudah di izinkan pulang, tapi dengan syarat kamu harus banyak istirahat, jangan terlalu capek dan makan makanan yang bergizi" tutur Al
" Jadi sekarang kita pulang ke rumah mama aja ya, dengan begitu kamu juga kan ada yang jagain disana" ucap Al
" Aku sih terserah kamu aja mas, tapi aku masih diperbolehkan untuk ngelanjutin magang aku kan mas" pinta Ayla
" Iya sayang, tapi kamu pindah ke ruangan aku aja ya!" tawar Al
" Enggak ah mas, aku mau ditempat yang biasanya aja ya mas, aku udah nyaman di sana sama teman-teman aku, apalagi aku juga kan belum lama pindah ketempat itu lagi masa aku tiba-tiba dipindah ke ruangan mas sih bisa banyak gosip yang beredar nanti" tolak Ayla
" Tapi sayang mas khawatir dengan kondisi kamu"
" Iya mas aku ngerti, tapi tolong ya percaya sama aku insyaallah semoga semua akan baik-baik aja mas"
" Yaudah nanti aja kita bahas lagi ya di rumah, sekarang kita pulang bagaimana?" Ayla mengangguk
Al membantu Ayla berjalan walaupun kondisi Ayla baik-baik saja tapi sikap posesif Al mulai muncul. bahkan Al tidak membiarkan Ayla untuk berjalan ia menggendong Ayla ala bridal style, Ayla memekik karena kaget dengan sikap Al, berusaha untuk turun tapi Al tidak membiarkan hal terjadi, walaupun ada rasa malu menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar Ayla akhirnya pasrah dan membiarkan Al menggendongnya, Ayla yang merasa malu pun menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
__ADS_1