
Satu tahun berlalu
Jodoh sungguh tidak ada yang tahu, jika sudah waktunya ia akan datang dengan sendirinya, jodohpun tidak mengenal jarak dan waktu jika sudah takdirnya sejauh apapun berada tetap akan selalu bersama sampai waktu menutup mata
Jodoh pun tidak dapat dipaksakan, jika tidak berjodoh meskipun sudah terikat dengan tali pernikahan tetap saja akan ada sebuah perceraian yang membuat keduanya terpisahkan
Seperti jodoh seorang Ayla Khairani Putri kini ia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri, ia tidak pernah menduga bahkan bermimpi pun dia tidak berani, seorang gadis yatim piatu seperti dirinya bisa bersuamikan CEO tampan dan baik hati sungguh bagaikan sebuah mimpi dengan posisinya sekarang ini yang berstatus sebagai nyonya Alveer Erlangga Kusuma
Bukan hanya Ayla para sahabatnya pun kini sudah menemukan kebahagiaannya masing-masing.
Dira menikah dengan Arlan bahkan keduanya kini tengah berada di pulau Bali, mereka sedang melakukan babymoon, diusia kehamilan Dira yang sudah memasuki usia 5 bulan. Arlan adalah sosok suami idaman dan juga romantis sama seperti halnya sang atasan yang selalu bisa menyenangkan hati sang isteri.
Bahkan bukan hanya Dira sahabatnya Mina pun kini sudah hidup bahagia bersama laki-laki yang dicintainya
Setelah kesalahpahaman itu terungkap Andi tidak ingin membuang-buang waktu lagi, apalagi setelah ia tahu kalau gadis yang selama ini dia cintai ternyata memiliki perasaan yang sama, Mina Adzkia sang pujaan hati telah mencintai dirinya, oleh karena itu Andi pun langsung melamarnya dan beberapa hari kemudian mereka pun menikah
Kini tinggal Sasa yang belum menikah karena gadis yang sudah dilamar oleh rekan kerjanya itu masih belum siap untuk menikah, mungkin karena nasib pernikahan orang tuanya yang membuat gadis itu trauma, ia takut nasib pernikahan kedua orangtuanya menimpa juga pada dirinya, ibunya dicerai setelah melahirkannya dengan alasan yang cukup tidak masuk di akal hanya gara-gara melahirkan dirinya yang seorang anak perempuan ayahnya dengan tega menalak ibunya dan bahkan belum seminggu bercerai ayahnya sudah menikah lagi
Pernah suatu hari Sasa dan ibunya pergi menemui ayahnya, karena rasa rindu akan kasih sayang seorang ayah, ibunya yang merasa tidak tega pada Sasa putri kesayangannya itu yang terus-terusan menanyakan tentang keberadaan ayahnya, akhirnya pada saat Sasa berusia 7 tahun ibunya terpaksa mengajak Sasa menemui ayahnya yang merupakan seorang pengusaha sembako
Ayahnya Sasa ternyata menikah dengan pegawainya sendiri, pada saat ibunya Sasa hamil mereka sudah berselingkuh maka dari itu belum seminggu bercerai ayahnya sudah menikah lagi dengan selingkuhannya itu
Pada saat menemui ayahnya bukan kasih sayang yang Sasa dapatkan tapi justru hal yang sebaliknya, hinaan dan cacian lah yang ayahnya berikan hingga membuat Sasa trauma apalagi dengan mata kepalanya sendiri ia melihat ayahnya dengan kasar mengusir ibunya bahkan menghinanya dengan tidak berperasaan
Meskipun demikian hal itu tidak menjadikan Sasa anak yang pendendam dan memiliki perangai jahat, ibunya selalu mengajarkannya untuk selalu tersenyum untuk membahagiakan dirinya sendiri, kesedihan dan rasa sakit hatinya harus diobati dengan senyuman dan berbuat baik
Sasa selama ini tidak pernah menceritakan tentang kehidupannya pada sahabat-sahabatnya, semua kesedihan hatinya selalu ia tutupi dengan senyumnya. barulah setelah menolak untuk menikah ia berani menceritakan alasannya kepada ketiga sahabatnya
Awalnya Ayla, Mina dan Dira begitu terkejut tapi melihat senyum yang terukir di wajah Sasa membuat mereka yakin Sasa pasti bisa melewatinya dengan baik dan kelak akan bisa berdamai dengan masa lalunya itu dan bisa menerima Hendrik tanpa dibayangi sisi gelap ayah kandungnya lagi
Hendrik memang sudah berusaha untuk meyakinkan Sasa kalau apa yang terjadi pada kedua orang tuanya tidak akan terjadi pada dirinya, Hendrik sudah meyakinkan Sasa tentang cinta dan kasih sayangnya yang tulus dan dia pun berjanji tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang ayahnya lakukan pada ibunya, namun sayangnya rasa trauma itu terlalu kuat hingga ia belum sepenuhnya yakin pada Hendrik membuat Hendrik harus lebih bersabar lagi untuk meyakinkan Sasa
" Ada apa sayang kenapa terlihat sedih gitu?" tanya Alveer yang melihat wajah sendu sang isteri
Ayla yang saat ini tengah duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya dengan tatapan lurus kedepan lalu menghela nafasnya berat
" Aku sedang kepikiran tentang Sasa mas" jawab Ayla
__ADS_1
" Sasa? memangnya ada apa dengan Sasa?" tanya Al yang kini sudah mendudukan dirinya di samping Ayla
" Sasa selama ini ternyata tidak seperti apa yang kita lihat mas" sahut Ayla
" Maksudnya?" tanya Al seraya dahi yang mengkerut
" Sasa memendam perasaannya sendiri, ia terlihat selalu baik-baik saja mas tapi sebenarnya justru dia mempunyai trauma yang cukup serius mas"
Al semakin dibuat bingung dengan jawaban Ayla
" Sasa menolak lamaran Hendrik mas" ucap Ayla
Al cukup terkejut karena setahunya Sasa dan Hendrik memang menjalin hubungan yang cukup serius bahkan hubungan keduanya pun terlihat baik-baik saja, lalu apa yang menyebabkan Sasa menolak lamaran Hedrik pikir Al
" Karena masa lalu yang terjadi pada pernikahan orang tuanya membuat Sasa tidak berani melangkah ke jenjang yang lebih serius mas" tutur Ayla
Al diam tapi tetap menyimak apa yang Ayla ceritakan
" Sasa takut mas, takut Hendrik seperti ayahnya Sasa yang menalak ibunya disaat ibunya baru saja melahirkan dirinya"
" Alasannya sungguh sangat tidak masuk di akal mas hanya karena melahirkan anak perempuan ayahnya tega menalak ibunya tanpa perasaan" Ayla tidak kuasa lagi menahan rasa sedihnya mengingat tentang kehidupan Sasa sahabatnya
Al yang melihat Ayla menangis langsung menarik Ayla kedalam pelukannya
" Sudah jangan menangis, Sasa pasti bisa melewatinya dengan baik, hanya waktu yang Sasa butuhkan untuk meyakinkan perasaannya sendiri, dan Hendrik pun jangan menyerah begitu saja jika memang dia mencintai Sasa dengan tulus dia pun harus berjuang lebih keras lagi untuk meyakinkan Sasa" ucap Al berusaha menenangkan hati isterinya
" Iya, mas benar" Ayla pun mengangguk masih dalam dekapan sang suami
" Kamu dan teman-teman yang lainnya juga harus bisa meyakinkan Sasa kalau tidak semua pernikahan berujung seperti yang menimpa kedua orangtuanya, contohnya kita, Arlan dan Dira juga, Mina dan Andi. kalian sebagai para sahabat harus bisa meyakinkan Sasa untuk berani menghadapi traumanya itu" tutur Al
" Udah jangan sedih lagi, besok ajaklah Sasa bicara dari hati ke hati biar urusan Hendrik mas yang akan bicara dengannya". lanjut Al
" Iya mas, Terima kasih ya mas" ucap Ayla dan semakin mengeratkan pelukannya
Udara yang semakin dingin membuat pasangan suami isteri itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar
" Sayang!" panggil Al
__ADS_1
" Iya mas ada apa?" tanya Ayla yang baru saja memejamkan mata
" Emmm... apa kamu belum merasakan ada tanda-tanda adiknya Aliza di sini sayang?" tanya Al seraya mengusap perut Ayla yang nampak rata
" Belum kayaknya mas" jawab Ayla
" Apa tidak sebaiknya kita periksa saja ke dokter sayang?" tanya Al
" Ke dokter? kenapa memangnya mas? apa mas Al sudah tidak sabar ingin aku cepat-cepat hamil?"
" Bukan itu, mas khawatir aja takut seperti pada saat kamu hamil Aliza, kamu sendiri saat itu tidak tahu kan kalau ternyata kamu sedang hamil?"
Ayla berpikir sejenak benar juga apa yang dikatakan Al tapi untuk periksa ke dokter rasanya Ayla belum siap ia takut membuat Al kecewa jika hasilnya ternyata negatif
" Maaf ya mas, aku belum siap mas kalau harus periksa ke dokter, aku takut hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan" jawab Ayla dengan sendu
Al pun yang melihat raut kesedihan di mata Ayla merasa sangat bersalah
" Maafkan mas ya sayang, mas enggak akan memaksa kamu kok, ya dibuat senyaman kamu aja, jika nanti tiba-tiba ingin periksa kamu tinggal bilang aja ya sama mas?" ucap Al
" Iya, terima kasih ya mas. Semoga aja ya mas Aliza segera di beri adik " doa Ayla
" Amin!"
" Emm.... sayang bagaimana kalau sekarang kita ikhtiar lagi untuk membuatkan Aliza adik bayi, semoga aja kali ini terkabul " Al menaik turunkan alisnya membuat Ayla seketika tergelak
" Modus kamu mah mas" ucap Ayla
" Ha... ha...!" Al pun tergelak
" Tapi mau ya, ya... ya... ya.. mau ya?" pinta Al dengan penuh damba
" Apa aku bisa menolak mas?" tanya Ayla seraya tersenyum
" Tentu tidak" jawab Al penuh semangat dan langsung menyerang Ayla tanpa ampun
Dan terjadilah yang memang harus terjadi, dengan semangat 45 keduanya begitu semangat membuatkan Aliza adik bayi.
__ADS_1