
" Eh Dira loe lembur lagi?" tanya Mina yang sedang merapihkan meja kerjanya karena waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor
" Iya, masih ada sedikit lagi pekerjaan yang belum selesai, pak Arlan minta gue lembur sampai selesai" jawab Dira
" Kasihan banget si loe Dir" ucap Sasa
" Enggak apa-apa, emang udah tanggung jawab gue" Sahut Dira
" Sorry ya Dir, gue enggak bisa nemenin loe lembur, masih ada urusan sialnya" ucap Mina
" Iya, Dir loe enggak apa-apa lembur sendirian? mending buat besok aja daripada disini loe sendirian!" ucap Sasa menyarankan
" Enggak apa-apa, ini juga tinggal sedikit lagi kok, besok pagi ini laporan udah harus ada di meja kerjanya pak Arlan soalnya" Sahut Dira
" Oh ya udah kalau gitu, kita berdua duluan ya. loe kalau ada apa-apa telpon aja ya!" ucap Mina
" Iya, terima kasih ya udah care sama gue. kalian juga hati-hati dijalan!" Ucap Dira
" Iya, dadah Dira" ucap Mina
" Assalamualaikum" ucap Sasa
" Wa'alaikum salam" sahut Dira
Setelah kepergian Mina dan Sasa di ruangan itu kini hanya tinggal Dira yang tengah sibuk di depan layar laptopnya
Dengan cekatan Dira mengerjakan pekerjaannya, dia tidak ingin membuat kecewa orang yang sudah memberinya kepercayaan dan menjadi motivasi bagi dirinya untuk bekerja lebih giat dan lebih baik lagi
" Gue harus segera menyelesaikan pekerjaan ini" Gumam Dira
Karena terlalu fokus dengan pekerjaannya Dira sampai tidak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam
" Oh ya ampun udah jam 9, untung sudah kelar!" ucapnya seraya merapihkan meja kerjanya lalu menyimpan file yang baru saja selesai ia kerjakan
" Duh iseng juga ya jalan sendirian di kantor sebesar ini, sepi banget lagi. semoga aja pintunya belum di tutup" Ucap Dira
Sesampainya di lobi kantor Dira berjalan dengan takut-takut " Semoga masih ada penjaganya, gue bodoh banget sih saking seriusnya sampai enggak liat jam" gumam Dira
" Tuh kan benar sepi duh gimana ini? pintunya dikunci lagi masa gue sendirian di kantor segede gini, ya ampun gue merinding lagi!" Dira mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan begitu terkejut ketika tiba-tiba lampu dipadamkan
" Aaaa...!" Teriak Dira ketakutan dan dengan cepat ia meraih ponselnya lalu menyalakan senternya
Dira memilih kembali masuk ke dalam ruangannya, dengan terisak gadis itu berjalan gontai menuju ruangannya
Tanpa disadari saat yang bersamaan seorang pria tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri ketika sayup-sayup mendengar ada suara tangisan seorang wanita dari arah sebuah lorong
" Apa di kantor ini jangan-jangan ada jurignya ya, perasaan sudah bertahun-tahun gue kerja di sini baru pertama kali gue dengar suara serem begini" Gumam pria tersebut
__ADS_1
Suara tangisan itu terdengar semakin jelas membuat pria itu semakin gemetar karena rasa takut yang tiba-tiba membuat nyalinya seketika menciut
Tiba-tiba disaat yang bersamaan keduanya tanpa sengaja bertubrukan dengan posisi saling memunggungi
"Aaaaa....!" Keduanya berteriak bersamaan
Gubrak
Kedua-duanya terjatuh karena saking kaget dan juga takut membuat lututnya lemas seketika
" Setan!" teriak Arlan
" Hantuuuu...!" Teriak Dira
Dira dan Arlan yang sama-sama terjebak di dalam kantor pun sama-sama ngibrit ketakutan
" Si*Lan, hari gini masih aja ada setan gentayangan!" umpat Arlan dengan napas yang tersengal
" Duh gimana ini, gue takut ternyata kantor ini ada setannya" Dira bersembunyi di balik tembok seraya memeluk lututnya karena terasa lemas sudah tidak sanggup lagi untuk berlari apa lagi tiba-tiba ponsel kehabisan daya
" Ibu.. !" teriak Dira sambil menangis
" Bu... Dira takut, Dira mau pulang bu, Dira takut bu sendirian, disini juga gelap bu ada hantunya bu!" ucapnya lagi disela isak tangisnya
Deg
" Di .. Dira, apa jangan-jangan yang tadi itu Dira? tapi apa mungkin? buat apa dia masih ada di dalam kantor?" gumam Arlan
" Ahh... sial ponsel gue kenapa juga pakai acara mati segala sih" kesal Arlan
" Hiks....Hiks... Hikss... ibu ..!" Dira masih memeluk lututnya sambil terisak
Arlan memberanikan diri melangkah ke arah sumber suara
" Dira.... Dira...!" Panggil Arlan pelan memastikan apa yang tadi ditabraknya adalah Dira
" Aaaa.... ibu Dira takut!" teriaknya saat ada suara sayup-sayup memanggil namanya
Arlan yang sudah yakin kalau orang yang tadi di tabrak nya adalah Dira dengan cepat langsung menghampirinya
" Dira jangan takut ini aku Arlan, kau dimana Dira?" tanya Arlan
" Pak Arlan, apa benar itu anda?" tanya Dira sedikit lega karena merasa tidak sendirian berada di ruangan sebesar itu
" Iya ini saya, kenapa kamu masih ada di kantor jam segini?" tanya Arlan
" Saya lembur pak, tadi kan bapak sendiri yang menyuruh saya untuk menyelesaikan pekerjaan saya karena besok pagi harus sudah ada di meja bapak" sahutnya
__ADS_1
" Oh ya ampun Dira, tapi tidak sampai selarut ini juga , kan bisa kamu selesaikan besok pagi" Kesal Arlan
" Bapak menyalahkan saya? kalau saya tahu selesainya sampai selarut ini mana mungkin saya mau pak apalagi sampai terkunci di tempat segelap ini, hikss...hikss!" Dira kembali menangis
" Sudahlah Dira jangan menangis lagi, suara tangisanmu itu membuat bulu kuduk ku merinding tau tidak" ucap Arlan sedikit kesal
" Kenapa bapak malah marah-marah sama saya? hikss... hikss... saya juga kan takut pak" Keluh Dira
Arlan meraba-raba dinding, tidak biasanya lampu kantor dipadamkan seperti ini, ada apa sebenarnya yang membuat kantor jadi gelap seperti ini. entah kenapa tiba-tiba Arlan memiliki pirasat buruk
" Dira, aku tidak bisa melihat mu, kau dimana? tolong nyalakan ponselmu?" tanya Arlan
" Kalau bisa dinyalakan sudah dari tadi pak, masalahnya ponsel saya mati juga pak" ucap Dira
Arlan berjalan perlahan " Dira teruslah bicara kamu ada di mana biar saya yang akan menghampiri kamu, enggak tahu kenapa saya merasa ada yang aneh, tidak biasanya lampu kantor dipadamkan seperti ini" ucap Arlan
" Sa.. saya di sini pak, disini!" ucap Dira yang terus bicara dan Arlan berjalan mengikuti arah suara
Grep
" Aaambb...!" Dira yang hendak berteriak buru-buru dibekap mulutnya saat netra Arlan sekilas melihat ada cahaya dari arah kejauhan
" Jangan bersuara, sepertinya ada orang lain selain kita disini" bisik Arlan
" Ma.. maksud pak Arlan?" tanya Dira tidak mengerti
Arlan lalu mengarahkan kepala Dira pada arah cahaya yang dilihatnya
" I... itu, mungkin kita bisa meminta bantuan kepada orang itu pak" ucap Dira berbisik
" Jangan gegabah kamu, iya jika mereka berniat baik tapi kalau sebaliknya bagaimana. nyawa kamu melayang di tangannya mau?" Dira yang ketakutan setelah mendengar ucapan Arlan pun dengan gerakan cepat menggelengkan kepalanya
" Ti.. tidak mau pak, saya belum menikah jadi saya tidak mau mati dulu" ucapnya terdengar konyol dan menggelitik di telinga Arlan
" Disituasi seperti ini masih saja kamu memikirkan nikah" Dengus Arlan
" Ya enggak apa-apa pak, saya juga kan ingin merasakan apa yang namanya syurga dun_ oops!" Dengan cepat Dira membungkam mulutnya sendiri
" Apa kamu bilang barusan?" Tanya Arlan
" Pak jangan banyak bicara, nanti kita ketahuan" Dira meletakkan jarinya di bibir Arlan
Deg
Entah kenapa tiba-tiba ada desiran aneh yang Arlan rasakan saat jemari Dira tanpa sengaja bertengger dibibirnya
Dira yang merasakan ada benda kenyal nan tebal menempel di jemari tangannya seketika degup jantung berdetak tak karuan
__ADS_1
" Duh jantung gue, bisa enggak dikondisikan dulu sebentar. ini lagi dalam keadaan darurat kok jadi degdegan kayak gini sih" batin Dira