DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
Telpon dari Bibi


__ADS_3

Ayla terkejut saat ponselnya berdering dan terpampang nama bibinya.


" Ada apa ya bibi meneleponku? apa Laura sudah memberitahu bibi tentang pernikahan ku dengan mas Al?" gumam Ayla saat tengah duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu Al yang masih berada di dalam kamar mandi


Ayla tidak mengangkat panggilan telpon dari bibinya karena dia bingung akan menjawab apa jika bibinya bertanya perihal pernikahannya dengan Al


Ceklek


Al keluar dari dalam kamar mandi dan menghampiri Ayla seraya mengambil baju ganti yang sudah disiapkan oleh Ayla


Al memicingkan matanya menatap ke arah Ayla yang sepertinya sedang melamun


" Sayang ada apa?" tanya Al sambil memakai bajunya


Ayla menoleh lalu tersenyum " Tidak ada apa-apa mas" ucapnya berbohong


Setelah selesai menggunakan pakaiannya Al mendudukkan dirinya di samping Ayla dan secara kebetulan ponsel yang masih berada di tangan Ayla pun kembali berdering


" Siapa?" tanya Al


" Bukan siapa-siapa mas hanya orang iseng" Jawab Ayla asal lalu menjauhkan ponselnya


" Biar mas lihat" pinta Al


" Enggak usah mas, sebaiknya mas siap-siap aja ke kantor. kita sarapan dulu mas!" ucap Ayla mengalihkan perhatian Al


Al menatap curiga pada Ayla yang sudah beranjak dari duduknya dan tak berselang lama ponsel Ayla pun kembali berdering


" Kemarikan ponselnya!" Al menadahkan tangannya


Ayla bergeming lalu detik kemudian menyerahkan ponselnya pada Al dengan wajah tertunduk


Al melihat nama yang tertera di layar ponsel Ayla dan seketika keningnya berkerut.


Kenapa Ayla enggan menjawab telpon dari bibinya apa dia setakut itu pada bibinya padahal sudah ia katakan sudah tidak ada lagi yang perlu Ayla takutkan batin Al


" Kenapa tidak diangkat?" tanya Al datar


" Aku... aku bingung mas harus bicara apa dengan bibi, aku takut Laura sudah menceritakan tentang pernikahan kita dan aku bingung harus menjawab apa mas jika bibi bertanya soal itu" jawab Ayla


Al tersenyum lalu meraih tangan Ayla dan menariknya hingga jatuh kepangkuannya


" Kamu enggak usah takut lagi sayang, angkat dan bicaralah dengan bibi mu mas enggak akan tinggal diam kalau wanita itu sampai berani menyakiti mu sayang" ucap Al lembut


Ayla menatap Al lalu mengangguk pelan , calon ibu itu pun akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat telepon dari bibinya.


" Hallo bi... Assalamualaikum!"


..." Wa'alaikum salam"...


" Iya bi ada apa?"


..." Pulanglah, ada hal yang mau bibi bicarakan sama kamu"...


" Bicara tentang apa bi?"


..." Kamu pulang saja nanti juga tau"...


" I... Iya bi"


..."Tapi ingat pulanglah sendiri!"...


" Maksud bibi?"


..." Jangan ajak siapa pun, bibi ingin bicara dengan mu empat mata"...


Ayla langsung menatap ke arah suaminya dan Al yang juga mendengar pembicaraan keduanya sempat terkejut dengan permintaan bibinya yang hanya ingin bicara berdua dengan isterinya lalu mengangguk pelan.


" Iya bi"


Setelah itu sambungan telpon pun di matikan dan Ayla menghela nafasnya panjang


" Kamu tenang aja sayang, mas enggak mungkin membiarkan kamu sendirian" Al tahu saat ini Ayla takut dengan bibinya apalagi kondisinya sekarang sedang hamil ia pasti sangat mengkhawatirkan kandungannya


Al beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lemari kecil yang ada di kamarnya lalu membuka laci dan mengambil sesuatu dari dalam laci tersebut


" Gunakan ini sayang!" El meraih tangan Ayla lalu memakaikannya sebuah gelang


" Ini apa mas?" tanya Ayla


" Ini gelang khusus yang sengaja mas pesan dan mas hampir saja lupa memberikannya kepada mu" sahut Al sambil tersenyum


"Di gelang ini ada tombol kecil warnanya sedikit samar tapi jika disentuh maka gelang ini akan terhubung langsung dengan ponsel mas sebagai tanda panggilan darurat" Al menekan tombol kecil yang ada di gelang Ayla


" Lihat yang warna merah ini pertanda gelang ini sudah terhubung dengan ponsel mas dan jika lampu berubah warna hijau itu berarti mas sudah menerima sinyal yang kamu kirimkan sayang" ucap Al


" Dan jika kamu menekan tombol berwarna hitam ini maka mas akan dapat mendengar percakapan kalian nanti dan sebaiknya jika kamu bertemu dengan bibimu jangan lupa untuk menekan tombol hitam ini biar mas bisa mendengar apa yang bibi mu bicarakan, ingat mas tidak mau ada rahasia sekecil apapun itu "


" Sebaiknya kamu jangan pernah melepaskan gelang ini"

__ADS_1


Ayla mengangguk pelan, petanda ia mengerti dengan apa yang sudah dikatakan suaminya.


" Mas akan mengantarmu, jika ada apa-apa jangan lupa untuk menekan tombol digelang itu, mas akan memerintahkan beberapa pengawal untuk berjaga-jaga disekitar rumah bibi mu" ucap Al


" Tidak perlu mas, itu terlalu berlebihan" tolak Ayla


" Tidak ada bantahan sayang, sekecil apapun resiko yang ada tetap saja kita tidak boleh lengah apalagi kamu tidak sendiri ada calon bayi kita disini" Al mengusap lembut perut Keyra


" Mas hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian"


Ayla tersenyum hatinya merasa menghangat, mendapatkan perhatian dan cinta yang begitu besar dari suaminya sungguh sesuatu yang sangat membahagiakan dalam hidupnya.


" Terima kasih ya mas" Al menaikkan satu alisnya


" Terima kasih karena mas begitu perhatian" lanjut Ayla


Al menoel hidung Keyra " Itu sudah menjadi kewajiban mas sayang, karena sekarang prioritas utama mas adalah kamu dan calon anak kita"


Ayla sungguh merasa terharu dengan ucapan Al, dia tidak menyangka dari pertemuan yang tidak disengaja sampai terjadi kesalahpahaman dan kini mereka akhirnya dipersatukan juga dengan ikatan pernikahan yang tidak pernah sedikitpun terbesit di pikiran Ayla akan menikah dengan atasannya sendiri sekaligus calon tunangan dari sepupunya sendiri Laura


" Yaudah, yuk kita sarapan dulu mama sama papa pasti sudah menunggu kita sayang!" ucap Al merangkul bahu Ayla


" Iya mas"


Setelah selesai sarapan bersama papa dan mamanya, Al dan Ayla pun pamit untuk berangkat ke kantor dan sampai di kantor mereka seperti biasa akan berpisah di lift


" Jangan lupa sebelum jam makan siang kamu harus sudah ada di ruangan ku!" ucap Al


" Iya" jawab Ayla lalu masuk ke dalam lift begitu juga Al yang masuk kedalam lift khusus


Ayla masuk ke dalam ruangannya dan baru saja ia melangkah masuk suara cicitan Nola dan temannya Dira membuat kuping Ayla berdengung


" Assalamualaikum!" ucap Ayla mengabaikan kicauan Nola dan Dira melenggang masuk ke dalam ruangannya dan menghampiri dua sahabat baiknya Mina dan Sasa


"Wa'alaikum salam" jawab Mina dan Sasa


" Ay Loe mah kebiasaan ngilang mulu" kesal Mina dengan wajah cemberut


" Apa sih Mi, emang gue ngilang kemana sih, gue kan cuma ditahan di ruangan pak Al. dapat hukuman gue disuruh menyelesaikan tugas yang pak Al berikan sampai selesai" ucap Ayla


" Seriusan loe?" Ayla mengangguk


" Sumpah ya gue capek banget, dapat hukuman di kantor dari pak Al bikin gue kesal setengah mati rasanya tuh" ucap Ayla membuat Sasa yang mendengar ucapan Ayla menaikan satu alisnya


" Apa secapek itu Ay?" tanya Sasa seraya menaik turunkan alisnya dan tersenyum menyeringai


" Iya, capek banget tuh orang benar-benar keterlaluan, ngasih hukuman enggak kira-kira sampai pegel semua tulang-tulang gue" sahut Ayla


" Loe kenapa ketawa Sa?" tanya Mina dengan wajah bingungnya


" Ah enggak kenapa-napa, gue cuma lagi ngebayangin hukuman yang Ayla terima dari pak Al, sehari dihukum aja Ay udah kecapean gitu apalagi hukumannya setiap hari" ucap Sasa tersenyum penuh misteri pada Ayla


Ayla menepuk jidatnya sendiri mengerti arah jalan pikiran sahabatnya Sasa


" Makanya enggak usah loe pikirin Sa, entar yang ada loe pusing sendiri lagi" ucap Ayla


" Haha...., " Sasa malah kembali tertawa


" Asik dong ya yang kemarin habis kena hukum oleh pak Al?" sindir Nola sinis


" Enak dong La secara sampai sore gitu dihukumnya" sahut Dira


Tawa Sasa seketika pudar mendengar ocehan dua gadis yang selalu membuatnya naik darah


" Apaan si Loe nyamber aja jadi orang?" kesal Mina


" Udah si Mi enggak usah di ladenin" ucap Ayla yang kini sudah duduk di depan laptopnya


" Makanya kerja itu yang benar jangan sibuk ngegodain cowok-cowok di sini mulu!" ucap Nola namun Ayla hanya memutar bola matanya malas


" Ayla!" teriak mba Nia yang tau-tau sudah berdiri di ambang pintu


Ayla spontan berdiri dan menatap lurus ke depan


" Ada apa ya mbak?" tanya Ayla setelah wanita itu masuk


"Ada apa katamu, apa yang sudah kamu lakukan kemarin hah?" teriak mba Nia membentak Ayla


" Saya melakukan apa mbak?" tanya Ayla yang bingung dengan pertanyaan yang mba Nia lontarkan


" Jangan berlaga bodoh kamu, kemarin saya kesini dan kata mereka kamu pergi ke ruangan pak Al karena kamu sudah melakukan kesalahan fatal dan membuat pak Al sangat marah, iya kan?" Ayla melihat ke arah Nola yang nampak sedang tertawa kearahnya


" Kamu jangan mempermalukan bagian pemasaran dan penjualan dengan sikap bodohmu itu!" tegas mba Nia


" Iya bu, kemarin saya lupa untuk ke ruangan pak Al, sebelum jam makan siang pak Al meminta saya untuk ke ruangannya karena ada hal yang harus dibahas mengenai perkembangan kantor cabang yang sekarang di pimpin oleh pak Andi tapi karena sibuk saya jadi lupa"


" Dasar ceroboh!" bentak mba Nia


" Jangan kamu ulangi lagi, ingat pak Al adalah presiden direktur di perusahaan ini jadi jangan bersikap seenaknya kamu" ucap mba Nia memperingatkan Ayla

__ADS_1


" Iya mba" jawab Ayla


" Sekarang cepat kerjakan pekerjaan mu dengan baik aku tidak mau mendengar keluhan apapun lagi tentang kamu, kalau kamu sampai melakukan kesalahan lagi aku tidak segan-segan untuk mengembalikan kamu ke kampus" ancam mba Nia


Glek


Mina yang mendengar Ayla akan dikembalikan ke kampus terasa sulit menelan salivanya.


" Ayla yang diancam gue yang deg-degan" bisik Mina di telinga Sasa


" Loe tenang aja, enggak akan ada yang bisa mengembalikan Ayla ke kampus tanpa seizin pak Al" Bisik Sasa


" Dan gue yakin pak Al gak akan mungkin mengembalikan Ayla ke kampus, percaya sama gue yang ada tuh orang yang dipecat" lanjut Sasa yang masih berbisik


" Kok loe bisa bicara begitu?" Mina nampak bingung


" Ya bisa, mba Nia itu kerjanya marah-marah mulu, dan bisanya merintah ini itu, dia sendiri enggak ngerjain tugasnya" sahut Sasa dan Mina mengangguk mengerti


Selesai marah-marah mba Nia langsung pergi kembali ke ruangannya


Nola dan Dira senyum mengejek tapi Ayla tidak mempedulikannya


Waktu sudah hampir jam makan siang Ayla pamit kepada kedua sahabatnya untuk pergi ke ruangan Al


" Loe ke ruangan pak Al mau ngapain lagi Ay?" tanya Mina sedikit kepo


"Gue masih ada urusan dan kayaknya gue enggak balik lagi deh nanti, soalnya setelah jam makan siang gue dan pak Al mau keluar kantor" ucap Ayla


" Loe itu jangan-jangan sugar daddy-nya pak Al ya Ay?" tuduh Nola membuat Sasa yang mendengar ucapan Nola meradang dan hendak menghampiri Nola ingin sekali ia menampar dan menjambak rambutnya


" Udah Sa enggak usah di ladenin, biarin aja dia mau ngomong apa toh gue enggak seperti apa yang dia bilang kan" ucap Ayla menahan Sasa yang ingin menghampiri Nola


" Biarkan mereka mau mengoceh apa aja Sa terserah, karena semakin mereka banyak bicara semakin mereka menjerat lehernya sendiri, kata-kata yang mereka lontarkan nantinya akan menjadi bumerang yang dapat menghancurkan dirinya sendiri, jadi kita enggak usah tanggapi ucapannya itu dan capek-capek menimpalinya toh omongan baik akan membuahkan hasil yang baik untuk dirinya sendiri begitu pun sebaliknya omongan yang buruk akan mendapatkan ganjaran dari keburukan itu sendiri, karena apa yang kita tanam maka itulah yang kita tuai "


Ayla menepuk-nepuk bahu Sasa, dia tahu sahabatnya itu tidak terima jika ada yang menghinanya, Sasa adalah sahabat yang baik dan selalu menjadi pendengar setianya


" Nanti kalau pak Al sampai dengar apa yang mereka omongin tadi tentang pak Al wahhh siap-siap aja dia didepak dari sini!" ucap Mina


" Iya, kalian benar buat apa kita mengotori mulut kita dengan sesuatu yang tidak ada faedahnya." timpal Sasa


Ayla pun tersenyum sedangkan Nola dan Dira nampak meradang mendengar ocehan Ayla dan kedua sahabatnya


" Dasar jal*Ng ya tetap aja jal*Ng!" cibir Nola namun tidak di gubris oleh Ayla


Dengan langkah elegan dan senyum yang terus terukir di wajahnya Ayla melangkah meninggalkan ruangannya


Nola mengepalkan tangannya kuat, rasanya sungguh sulit untuk menjatuhkan Ayla apalagi ada dua sahabatnya yang selalu setia padanya


Sesampainya di depan ruangan Al, seperti biasa Ayla menghampiri Monik terlebih dahulu.


" Assalamualaikum mba Monik!" sapa Ayla


" Wa'alaikum salam" jawab Monik


" Mba, pak Al nya ada enggak di ruangannya?" tanya Ayla


" Ada, didalam sedang ada pak Arlan" sahut mba Monik


" Memangnya ada perlu apa kamu mencari pak Al?" tanyanya


" Pak Al tadi yang meminta ku untuk keruangannya" jawab Ayla


Ceklek


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Arlan keluar bersama Al


" Loh kamu udah datang sayang kok enggak langsung masuk aja?" ucap Al dengan santainya membuat Ayla terkejut begitu juga dengan Monik yang menatapnya tak percaya


" Sa... Sayang!" gumam Monik pelan tapi masih dapat didengar oleh Monik


Arlan menepuk keningnya sendiri lalu menoleh ke arah Al


" Loe terlalu bucin sampai tidak tau tempat dan situasi, Monik pasti bertanya-tanya loe panggil Ayla sayang!" bisik Arlan


Al malah terlihat cuek dan santai padahal jelas terlihat wajah panik Ayla karena bingung harus bicara apa, dia takut Monik akan menyebarkan apa yang dia dengar


" Monik apa yang kamu dengar barusan cukup berhenti sampai di telinga kamu saja, jangan sampai ada berita yang tersebar di perusahaan ini apalagi sampai ada berita buruk tentang isteriku" tegas Al


Deg


Monik terkejut mendengar kata isteri, dia pun menoleh ke arah Ayla


" Ya Ayla adalah isteriku asal kau tahu itu dan cukup hanya kamu yang tahu hal ini jika memang kamu masih betah bekerja di perusahaan ini maka jaga mulutmu dengan baik jika tidak maka aku pastikan pekerjaan mu akan berakhir di perusahaan ini dan tidak akan ada perusahaan manapun yang menerima mu bekerja, camkan itu!" ancam Al tegas


Ayla sedari tadi hanya diam merutuki kecerobohan sang suami tapi apa mau dikata semua sudah terlanjur terjadi, Ayla hanya bisa mendengus kesal apalagi dengan sikap arogan atasannya itu tapi jika tidak begitu gosip mengenai hubungannya dengan Al pasti akan cepat tersebar.


Selesai bicara Al pun langsung menarik tangan Ayla dan membawanya masuk ke dalam, Arlan langsung melengos pergi begitu saja tapi sebelum pergi ia pun kembali mengingatkan Monik


" Sebaiknya kamu tutup mata dan telinga tentang hubungan atasanmu itu jika masih sayang dengan pekerjaan mu dan jangan sampai apa yang keluar dari mulutmu merugikan dirimu sendiri!" ucap Arlan

__ADS_1


Monik terduduk lemas di tempatnya ancaman Al dan ucapan Arlan membuatnya begitu syok, fakta tentang Ayla yang ternyata adalah isteri dari atasannya sendiri begitu mengejutkannya.


Monik hanya bisa menatap ke arah pintu yang kini sudah tertutup rapat.


__ADS_2