DIA JODOHKU

DIA JODOHKU
SEMUA PEMAIN


__ADS_3

Setelah Abi Aasim membuka pintunya, ternyata yang memanggilnya daritadi adalah Umi Anum.


" Abi, Umi sudah mencari Abi daritadi, tidak tahunya Abi ada di sini ",, kata Umi Anum kepada Abi Aasim.


" Dan tadi Umi juga sudah mencari Abi ke Masjid, dan kata pengurus Pondok, Abi sudah pulang daritadi, Abi membuat Umi khawatir saja ",, kata Umi Anum lagi kepada Abi Aasim.


" Maaf Umi, Abi tadi ketiduran lagi di dalam ",, jawab Abi Aasim kepada Umi Anum.


" Ayo Abi cuci muka dulu, dan setelah itu mari sarapan bersama ",, kata Umi Anum kepada Abi Aasim.


Abi Aasim pun hanya mengangguk saja kepada Umi Anum, dan mereka lalu berjalan ke arah ruang makan.


Namun sebelumnya, Abi Aasim berjalan ke arah kamar mandi terlebih dahulu untuk cuci muka.


Abi Aasim yang sudah mencuci muka, dia langsung saja menuju ke ruang makan, dan melihat hanya ada Umi Anum saja yang sedang menyiapkan makanan untuknya.


" Ko cuma ada Umi, di mana Faiha?? ",, tanya Abi Aasim sambil langsung duduk di kursi makan.


" Faiha sudah sarapan sejak tadi Abi, dia katanya ingin ikut kegiatan di Pesantren putri ",, jawab Umi Anum kepada Abi Aasim.


" Benar ingin ikut kegiatan, apa sengaja masih menghindari Abi?? ",, tanya Abi Aasim lagi kepada Umi Anum.


Kegiatan Umi Anum yang sedang mengambil nasi pun langsung terhenti, ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Abi Aasim.


" Untuk lebih jelasnya sendiri, Abi lebih baik bertanya langsung kepada Faiha ",, jawab Umi Anum kepada Abi Aasim.


" Baiklah, nanti akan coba Abi tanyakan kepadanya ",, jawab Abi Aasim kepada Umi Anum.


Umi Anum hanya mengangguk pelan, dan dia tidak mau menjawab perkataan dari Abi Aasim lagi.


Umi Anum langsung memilih untuk menikmati sarapannya, dengan tenang tanpa mau membahas permasalahan tentang Faiha kepada Abi Aasim.


Sedangkan Abi Aasim sendiri, dia menikmati sarapannya sambil teringat dengan semua mimpi yang baru saja dia mimpikan, ketika ketiduran di ruang kerjanya tadi.


Setelah sarapan, karena berhubung Abi Aasim tidak ada kegiatan di luar untuk ceramah, seharian penuh dia isi untuk membaca dan mengaji di dalam rumah, sambil menunggu Faiha pulang ke rumah.


Namun Faiha yang di tunggu-tunggu olehnya, tidak kunjung pulang ke rumah sama sekali, walau waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.


" Apakah Faiha tidak mau makan siang di rumah, apakah dia sengaja makan di Pondok lagi ",, kata batin Abi Aasim sambil memandang ke arah pondok pesantren putri.


" Sepertinya Faiha memang benar-benar marah kepadaku, dan mimpi yang tadi aku mimpikan adalah teguran dari Allah untukku, karena sudah mencoba memaksakan kehendakku ini kepadanya ",, kata batin Abi Aasim lagi.


" Ya Allah ya Rabbi, apa yang harus hamba lakukan sekarang, tunjukkan caranya bagaimana hamba bisa bertemu dan berbicara dengan putri hamba?? ",, doa Abi Aasim di dalam hatinya.


" Lebih baik, aku beristirahat saja, untuk menenangkan pikiran dan otakku ini ",, kata batin Abi Aasim lagi.


Dan setelahnya, Abi Aasim pun langsung berlalu masuk ke dalam kamarnya, untuk istirahat siang walau sejenak.


Sedangkan di beda Negara, setelah meeting dengan Jajaran Direksi Perusahaan, Rain pun langsung buru-buru untuk kembali ke ruang kerjanya.


Pada waktu itu, waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, dan Rain bukannya merasa lapar, tapi dia malah merasa sudah tidak sabar ingin segera mengartikan balasan pesan yang di kirimkan oleh Faiha tadi.


Rain yang sudah sampai di meja kerjanya, dia langsung membuka google translate, untuk mengartikan pesan yang di kirimkan oleh Faiha kepadanya.


Dan ketika Rain sudah tahu apa arti balasan dari Faiha, senyum dia semakin lebar saja mengembangnya.

__ADS_1


" Kalau begini ceritanya, aku sudah tidak sabar ingin segera meminang Faiha untuk menjadi istriku ",, kata Rain berbicara sendiri.


" Apapun rintangan yang akan aku hadapi nanti, dengan sekuat tenaga akan aku hadapi, walau harus berhadapan dengan Pak Kyai sekalipun ",, kata mantap Rain dari dalam lubuk hatinya.


" Demi kamu Faiha, demi kamu aku rela melakukan semua ini, dan semoga aku selalu istiqomah, walau takdir tidak menyatukan kita ",, kata Rain lagi.


Ingin sekali Rain membalas pesan dari Faiha, tapi dia harus segera menyelesaikan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya, sebab sang punya Perusahaan sedang tidak berada di kantor.


Dan Rain begitu sangat serius sekali dalam bekerja, hingga sampai terlupa dengan pesan dari Faiha.


Terlebih lagi, setelah jam pulang kantor, dia langsung menyusul Syahlaa dan Alzam di rumahnya yang lama, serta ada kejadian dengan Ezio pula di dalam rumah tersebut.


Membuat Rain, semakin lupa saja dengan permasalahan hatinya untuk sementara waktu.


Di tambah, ketika mereka semua sudah berada di rumah sakit untuk menjenguk Papa Fransisco, mereka semua termasuk Rain di kejutkan dengan keadaan dari Papa Fransisco yang tiba-tiba anfal lagi.


Ezio yang terkejut, dia langsung segera memencet tombol darurat yang ada di situ untuk memanggil Dokter yang berjaga.


Semua orang langsung saja menyingkir sejenak, untuk memberikan ruang kepada para tim medis yang sudah datang dan ingin memeriksa keadaan dari Papa Fransisco.


" Ezio, Papa Ezio ",, kata Mama Ingrid kepada Ezio sambil menangis.


" Tenanglah Ma, Papa tidak akan kenapa-kenapa ",, jawab Ezio mencoba menenangkan sang Mama.


Syahlaa, Alzam, Rain, Lionel dan juga Zarina, yang masih ada di situ, mereka semua hanya bisa diam dengan pikiran mereka masing-masing.


Dan di saat mereka semua sedang pada tegang, tiba-tiba saja Zarina yang sedang di gandeng Alzam, berjalan mendekati Ezio.


" Paman ",, panggil Zarina kepada Ezio.


Ezio langsung saja mengalihkan pandangannya ke arah Zarina.


" Kakek kenapa Paman,?? kenapa kalian semua pada belcedih?? ",, tanya Zarina kepada Ezio.


Ezio langsung saja menggendong Zarina ke dalam gendongannya.


" Kakek tidak apa-apa ko sayang, Kakek sedikit kurang sehat saja, doakan Kakek ya semoga cepat sehat seperti semula ",, jawab Ezio kepada Zarina.


Zarina langsung saja mengangguk kepada Ezio.


Selang beberapa menit, akhirnya para tim medis sudah selesai mengecek kondisi dari Papa Fransisco.


Semua orang terutama Ezio dan Mama Ingrid, langsung segera bertanya kepada sang Dokter.


" Bagaimana Dokter dengan keadaan dari Papa saya?? ",, tanya Ezio kepada sang Dokter.


" Tuan Fransisco sebenarnya sudah cukup membaik keadaannya, hanya saja dia tidak bisa mendengar kabar yang cukup mengejutkan untuk jantungnya, karena itu bisa berakibat fatal untuk kesehatannya ",, jawab sang Dokter kepada Ezio.


" Jadi, saya sarankan, jika ada informasi mendadak atau kabar yang cukup mengejutkannya, jangan langsung kalian sampaikan dulu, sebelum keadaan Tuan Fransisco benar-benar membaik ",, kata sang Dokter lagi kepada Ezio dan masih di dengar oleh semua orang.


" Baik Dokter, kami mengerti, dan terimakasih atas waktunya ",, kata Ezio lagi kepada sang Dokter.


Dan setelahnya, Dokter bersama asistennya langsung berpamitan pergi untuk melanjutkan lagi pekerjaan mereka.


Sepeninggal dari Dokter, Syahlaa mencoba mengatakan sesuatu.

__ADS_1


" Maafkan saya Tuan Ezio, mungkin karena perkataan saya tadi yang membuat Tuan Fransisco menjadi terkejut ",, kata Syahlaa kepada Ezio.


" Tidak apa-apa Syahlaa, tidak salah kamu juga ",, jawab Ezio kepada Syahlaa.


" Emm, sepertinya ini sudah cukup larut malam, kami ijin mau pulang dulu Tuan Ezio, Nyonya ",, pamit Alzam kepada Ezio dan Mama Ingrid.


" Dan saya juga ingin menyampaikan, jika kami besok ingin kembali pulang ke Indonesia ",, lanjut lagi perkataan Alzam kepada Ezio dan yang lainnya.


Ezio begitu sangat terkejut sekali mendengar perkataan Alzam, karena dia masih belum puas bermain bersama Zarina.


" Tidak bisakah, kalian semua memundurkan jadwal kepulangan kalian?? ",, tanya Ezio dengan wajah yang terlihat bersedih.


Alzam reflek langsung saja menggelengkan kepalanya kepada Ezio.


" Berjanjilah kepada saya, sebelum kalian pulang nanti, temui saya dulu di sini, karena saya ingin mengantarkan kalian semua sampai ke Bandara ",, kata Ezio kepada Alzam.


" Cucu Nenek ",, kata Mama Ingrid dengan tiba-tiba kepada Zarina.


Karena Mama Ingrid juga rasanya tidak rela berpisah dengan Zarina yang lucu dan menggemaskan itu.


Mama Ingrid langsung membawa Zarina ke dalam pelukannya sambil meneteskan air matanya.


" Baiklah, saya berjanji kepada anda Tuan Ezio, sebelum penerbangan, kami akan ke sini untuk menjenguk Tuan Fransisco terlebih dahulu ",, jawab Alzam kepada Ezio.


" Terimakasih Tuan Alzam Chafik, anda orang yang sungguh sangat baik sekali ",, kata Ezio sambil mengajak berjabat tangan.


Dan jabat tangan Ezio langsung di sambut hangat oleh Alzam.


Setelahnya, Ezio pun mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi tubuh Zarina.


Lalu, tiba-tiba Ezio langsung membawa Zarina ke dalam pelukannya lagi.


" Maafkan Papi ya sayang, berjanjilah jangan pernah membenci Papi, apapun yang sudah terjadi ",, kata Ezio sambil memeluk Zarina.


Perkataan Ezio di dengar jelas oleh semua orang yang ada di situ.


" Jadi anak yang penurut ya sayang, selalu mendengarkan apa kata Mama dan Ayah, ok Princess ",, kata Ezio kepada Zarina.


" Ok Paman, dan jangan menangis lagi ",, jawab Zarina sambil mengusap air mata Ezio.


Walau hati masih merasa sedih, karena Zarina masih memanggil Paman kepadanya, tapi setidaknya kesedihan itu sudah sedikit berkurang, sebab Zarina sudah tidak takut lagi dengannya.


Ezio lalu mengantarkan mereka semua sampai ke depan ruang perawatan Papa Fransisco.


Dengan berat hati mengijinkan Zarina pergi, Ezio tetap melambaikan tangannya ke arah Zarina, Alzam, Syahlaa dan juga Rain.


Ketika mereka semua sedikit menjauh, Lionel langsung saja merangkul pundak sang sahabat dengan begitu bangganya.


Ezio malam itu sangat merendahkan dirinya serendah-rendahnya di hadapan Syahlaa, namun di mata Lionel, Ezio tidak rendah harga dirinya, justru bagi Lionel, Ezio adalah laki-laki sejati yang harus dia contoh.


Dan Lionel akui, dia banyak belajar dari Ezio malam ini, banyak pelajaran hidup yang bisa dia ambil dari kisah Ezio bersama Syahlaa dan Zarina.


Ezio yang di rangkul pundaknya oleh Lionel, dia hanya tersenyum tipis saja, tanpa mau mengatakan perkataan apapun kepada sang sahabat.


Karena hati masih tertahan kepada Zarina yang malam itu harus berpisah dengannya, membuat mulutnya enggan untuk berbicara.

__ADS_1


...❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️❇️...


...***TBC***...


__ADS_2