DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter I : Misteri Nama Abimanyu


__ADS_3

Namaku sebenarnya pendek saja. Prasetyo. Tetapi karena bapak adalah penggemar wayang kulit, dia menambahkan nama ‘Abimanyu’ di depannya. Sehingga namaku menjadi Abimanyu Prasetyo. Tak hanya namaku. Nama adik perempuanku pun juga unik. Dewi Mustokoweni. Aku tidak pernah tahu mengapa bapak memberi nama kami dengan nama-nama tokoh wayang yang diidolakannya. Untunglah, namaku bukan Sengkuni atau Duryudana.


Pada saat aku berumur delapan tahun, aku mencoba bertanya hal ini pada bapak.


“Mengapa harus Abimanyu, Pak? Kenapa ndak Arjuna atau Bima?" tanyaku di suatu sore yang syahdu.


Bapak sedang menyeruput kopinya sambil menikmati alunan gending dan suara emas Waldjinah. Asap mengepul dari mulutnya. Ia tengah menikmati rokok kretek yang dihisapnya dalam-dalam melalui pipa gading warna emas.


“Abimanyu itu tokoh besar pewayangan, putra dari Arjuna dan Dewi Sumbadra. Ia gagah berani dan tak kenal rasa takut. Ia juga dikenal setia terhadap keluarganya. Dalam Perang Bharatayuda ia banyak mengalahkan tokoh-tokoh besar. Bapak berharap, kamu akan memiliki karakter tangguh seperti Abimanyu kelak, ” ucap beliau.


Aku manggut-manggut.


Tetapi sayangnya aku tidak merasakan dampak apa-apa dari nama Abimanyu yang melekat di namaku. Seolah makna filosofisnya menguap begitu saja. Sebaliknya, aku tumbuh menjadi pribadi yang pemalu.


Aku selalu ragu-ragu untuk memulai pembicaraan dengan orang lain. Bapak sering mengajak ke sawah, mengenalkan dengan teman-teman sesama petani. Tetapi aku hanya terdiam, memandangi mereka yang tengah mengobrol asyik di bawah pohon Ficus benjamina. Kalau sudah begitu, aku juga menyibukkan diri mencari kumbang emas di dedaunan.


Di sekolah, aku juga tidak punya banyak teman. Mungkin hanya Pardi yang setia mengajak bermain. Pardi biasa mengajak mencari ikan cere di sungai dekat sawah. Ia pandai berenang, tetapi aku tidak. Aku hanya menunggui pakaiannya di pinggir sungai. Kadang khawatir kalau dia menyelam terlalu lama.


“Kamu jadi meneruskan sekolahmu di Kediri, Bi?” tanya Pardi.


Kami baru pulang dari sungai siang itu, menyusuri jalan setapak kecil yang dikepung pohon-pohon turi. Matahari memanggang kulit-kulit kami. Tubuh kurus Pardi tampak legam berkilat-kilat bermandi cahaya matahari.


“Bapak sih ngomongnya gitu....” jawabku.


Ya, bapak berencana memindahkanku bersekolah ke Kediri dan menitipkan pada Pakdhe Warsidi, kakak dari bapakku. Walaupun bapak orang desa, beliau ingin anak-anaknya mendapat pendidikan yang terbaik.


“Kamu nggak kangen?”


“Ya kangen. Sama bapak, sama emak, sama Weni....


“Sama aku?”


“Ya sama kamu juga, Di”


Pardi terdiam. Ia menendang kaleng kosong bekas susu. Siang itu mungkin adalah siang terakhir bertemu Pardi. Besoknya, Pardi dikabarkan meninggal karena tenggelam di sungai dekat sawah. Aku sendiri yang mengantarnya sampai ke pemakaman. Kepergiannya bagaikan mimpi di siang bolong. Diiringi isak tangis keluarganya, kerandanya digotong oleh para warga kampung. Dan lengkap sudah penderitaanku. Aku benar-benar sendiri tak ada kawan berbicara. Berhari-hari hanya mengurung diri di kamar. Emak berusaha menguatkan, tetapi rasanya sudah tak ada semangat untuk melanjutkan hidup.


“Heh! Ngelamun aja!” suara Doni mengagetkanku.

__ADS_1


Aku tersentak. Rupanya aku telah terseret dalam memori masa kecil yang kelabu.


“Mau sandwich nggak?” tawarnya. Ia membawa sepiring roti yang diisi keju dan sayuran.


“Siapa yang buat?” tanyaku.


“Akulah. Biasa. Awal bulan. Baru dapat kiriman dari ibuku.”


Aku tersenyum, mencomot sepotong sandwich dan kumasukkan utuh ke dalam mulut. Doni adalah teman satu kontrakan. Badannya agak gembul, karena salah satu hobinya adalah makan. Dia adalah anak juragan sapi di Pasuruan. Kini kami sama-sama kuliah di kampus yang sama, tetapi berbeda jurusan. Kami sama-sama kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Surabaya.


“Nanti malam ada acara nggak?” tanya Doni.


“Mau ngapain emang?”


“Jalan yuk! Sudah lama nggak cuci mata. Sambil lihat-lihat. Siapa tahu ada sale di Plaza Tunjungan.”


“Aduuh! Nggak bisa. Aku harus selesaikan tugas gambarku. Kalau nggak, aku dapat D lagi nanti. Aku nggak mau ngulang semester depan. Ajak aja Farhan atau Andre! ”


“Ooh ... jadi mau nginap di kampus lagi nanti malam?”


“Nggak sih. Aku mengerjakan di sini saja. ”


“Siapa? Monika? Gebetan barumu?”


“Anak Teknik Industri yang ngekos di belakang. Yang sering beli sayur tanpa nasi itu lho. Kita sering ketemu di Warung Bu Marni.”


“Ooh ... yang rambutnya kepangan itu ya?”


“Bukan! Itu mah Yuni. Memang mirip. Tapi bukan itu. Kalau Monika lebih putih anaknya. Itu lho ... Monika yang biasanya dipanggil Monik.”


“Yang mana sih?”


“Ntar kukasi tahu kalau ketemu!”


“Nggak usah juga nggak apa-apa. Nggak penasaran juga kok.”


“Eh gimana kabar Lusi? Masih sering kontak dengan dia?”

__ADS_1


Aku terdiam. Ya, Lusi Handayani. Gadis bermata lebar itu sempat menarik perhatianku di tahun pertama kuliah. Ia selalu membantuku memecahkan tugas Mekanika Teknik yang membuat otak serasa hampir pecah. Kehadiran Lusi bagai Dewa Penolong di saat-saat genting. Kini Lusi pindah kuliah ke Malang, karena ibunya sering sakit-sakitan. Sedangkan dia adalah anak tunggal. Mau tidak mau harus sering menengok ibunya.


“Laah! Ngelamun lagi!” Doni menepuk pundakku.


“Aku jarang komunikasi dengan Lusi. Udah beberapa bulan ini malah nggak ada kontak. Mungkin nomornya ganti.”


“Jangan-jangan udah nikah..., ” tebak Doni.


“Masa sih? Masih muda gitu, " kilahku.


Ada sedikit rasa tidak rela kalau Lusi menikah di usia muda.


“Eh ... jangan salah! Sekarang banyak masih kuliah udah nikah. Kamu tahu si Anton anak Teknik Mesin itu? Dia sudah punya anak loh. Asal bertanggung jawab kan nggak apa-apa. ”


“Terus kamu juga mau nikah muda, gitu?”


“Bapakku bilang sih, aku boleh nikah kalau sudah punya rumah. Padahal lho tanah bapakku banyak. Masa aku disuruh usaha sendiri membeli rumah?”


“Ya kamu enak, Don. Tanah keluargamu banyak. Lha aku? Anak petani. Bisa kuliah saja Alhamdulillah. Kamu itu harusnya banyak-banyak bersyukur.”


Doni terdiam. Mungkin dia mencoba mencerna perkataanku. Entahlah. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu suka mengobrol, kecuali kalau diajak ngobrol. Aku lebih suka berdiam diri di kamar. Mendengar gending-gending Jawa atau musik-musik klasik milik Beethoven. Mungkin satu-satunya yang kuwarisi dari bapak adalah kegemaranku mendengarkan alunan musik Jawa ini.


Kami di kontrakan ini tinggal berempat, karena memang ada empat kamar yang bisa kami pakai. Kamar paling depan kamarnya Doni, kemudian kamarku dan sisanya ditempati oleh Farhan dan Andre. Sebenarnya ada lima kamar, hanya saja satu kamar kosong karena penghuninya, Mas Dicky, sudah diwisuda tiga bulan lalu. Mas Dicky sudah kembali ke kota asalnya yaitu Jakarta.


Diantara keempat teman-temanku, akulah yang paling pendiam. Semua juga sudah maklum kalau aku orang tidak banyak ngomong. Tetapi Alhamdulillah, mereka semua baik kepadaku. Tidak ada seorangpun yang melakukan bullying kepadaku. Bahkan Andre bilang kalau aku adalah tipe cowok yang cool dan disukai banyak cewek. Pasti dia bercanda bicara seperti itu.


Pada kenyataannya, sampai saat ini belum ada seorangpun cewek yang mendekatiku. Entahlah. Lagipula aku belum memikirkan itu. Aku lebih fokus ke tugas-tugas kuliah yang menggunung.


Bedalah dengan Andre. Ia yang paling ganteng di antara kami. Kulitnya terawat, karena memang rajin facial di salon. Ia tak kalah dengan model-model yang terpampang di majalah atau bintang sinetron di televisi. Dari penampilannya ia sudah sangat modis. Bajunya banyak yang branded. Bedalah dengan bajuku kubeli ketika banyak diskon. Pokonya dia tipe metroseksual yang banyak diincar cewek-cewek. Andre memang mempunyai banyak teman cewek. Farhan yang selalu ngomel kalau Andre membawa teman perempuannya ke kontrakan. Kalau sudah begitu, mereka berantem dan tidak saling tegur.


Yah, Farhan memang terkenal relijius. Dia pernah belajar di pondok pesantren di Jombang. Sebelum dia tidur, pasti terdengar lantunan suaranya membaca ayat suci Al Quran. Tenang rasanya mendengarnya. Tetapi tak ada yang sempurna di dunia ini. Tak ada gading yang tak retak. Dia pun manusia biasa. Kadang dia bertingkah konyol juga. Ia yang paling pandai melucu di antara kami.


Kalau tidak banyak tugas, kadang-kadang kami jalan-jalan ke Mall, nonton film di Twenty One, atau mencoba resto baru yang lagi happening di kalangan mahasiswa. Tapi sayangnya aku tidak bisa sering-sering begitu. Aku kasihan sama bapak dan emakku di kampung yang membanting tulang untuk membiayai kuliah. Rasanya kok merasa bersalah kalau makan enak-enak, sedangkan keluargaku di kampung hanya makan nasi dengan tempe.


Kadang kalau teman-teman mengajak makan di resto siap saji asal Amerika, aku merasa mau menangis. Terbayang wajah Weni, adikku. Pasti dia senang sekali kalau diajak makan di tempat seperti ini.


Yah, itulah sepenggal kisah awalku. Aku tahu, kontrakan ini adalah awal perjuangan. Berbekal doa dan air mata dari keluargaku. Bismillah. Aku mulai melangkah.

__ADS_1


****


__ADS_2