DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter V : Gadis Jadi-jadian


__ADS_3

Malam Minggu. Malam yang selalu dinantikan tiap pasangan. Tetapi mimpi buruk bagi para jomblo seperti aku. Tapi malam Minggu kali ini adalah malam Minggu yang tak terlupakan seumur hidupku.


Langit cerah bertabur bintang. Kota Surabaya terlihat berkilau, bagai gadis muda yang bersolek. Penduduknya mulai bertebaran melepas penat yang mengungkung sepanjang hari. Denyut metropolis mulai terasa di beberapa tempat. Kemacetan merayap di jalur-jalur utama.


Aku sudah terjebak di dalamnya. Sesuai janji Andre, hari ini akan diajak mencicipi sekeping kenikmatan dunia. Seperti apa?


Aku juga belum tahu.


Yang jelas saat ini ada rasa ingin tahu yang dalam bercampur rasa nervous. Hanya berharap semua ini akan berakhir baik.


Jujur, aku agak was-was. Jangan sampai Andre menenggelamkan dalam dunia malam yang kenikmatannya tiada bertepi. Sudah janji pada diriku, aku akan kabur bila nanti melihat sesuatu yang tidak beres. Entah itu narkoba atau minuman keras. Aku memang bukan orang yang terlalu fanatik dengan agama, tetapi untuk urusan merusak diri sendiri aku sangat menentang keras.


Satu jam sebelumnya, Andre benar-benar membuatku lain daripada yang lain. Aku dipinjami baju yang warnanya agak terang dan modelnya kekinian, tetapi tidak norak. Kutaksir harganya pasti ratusan ribu.


Demikian pula celana yang kupakai. Agak ketat, dan aku merasa seksi. Mungkin bapak akan marah kalau beliau tahu aku memakai celana seperti ini.


Rambutpun juga didandani, disisir model spike dan dibuat berkilau dengan olesan pomade yang mahal. Sepertinya aku tidak kuat beli pomade model begini. Karena mereknyapun susah kulafalkan dalam Bahasa Indonesia. Pasti Andre membeli secara online.


Tak hanya urusan pakaian dan rambut, Andre juga melihat alas kaki yang kupakai. Maklum, biasa ke sawah jadi aku nyaman saja saat memakai sandal jepit.


“Buang itu sandal jepit Swallowmu!” ujar Andre tegas.


“Enak aja buang! Gini-gini belinya pake duit!”


“Halah! Sandal begituan di rumahku cuman buat ganjal pintu!”


Alhasil, aku dipinjami sepatu yang luar biasa keren. Aku pernah melihat yang seperti ini di majalah. Sempat heran, uang Andre banyak sekali. Kuharap dia tidak mendapatkannya dengan cara ngepet!


Tapi wajar saja kalau uang Andre banyak. Andre dibesarkan dalam keluarga yang cukup berada. Aku pernah melihat ayahnya, saat menengok ke kontrakkan. Ayahnya terlihat begitu priyayi. Kulitnya putih bersih, bajunya mahal dan jelas sekali kalau beliau memang orang yang berkecukupan.


Setelah acara make over berakhir, aku berdiri di depan cermin. Sangat kaget dan hampir tak mengenali diriku sendiri. Andre benar. Sebenarnya aku ganteng, cuman selama ini kurang terawat.


Aku terlihat begitu bersinar. Rasa percaya diriku naik drastis hingga seribu persen. Bak model celana dalam pria, aku keluar kamar Andre dengan anggun. Tetapi sungguh bukan tanggapan yang positif yang kudapatkan.


Doni langsung ketawa ngakak, disambung dengan nyinyir panjang pendek. Farhan langsung beristighfar puluhan kali.


Dikiranya lihat setan apa yah?


“Mirip. Mirip...” ujar Doni.


“Mirip siapa?” tanyaku. Firasatku tidak enak.


Pasti mirip yang jelek-jelek!


“Mirip om-om kesepian!” tawa Doni meledak.


“Jiih ... !” mendadak rasa percaya diriku turun lagi.


“Aah! Udah nggak usah didengerin. Si Doni itu walau didandanin model apa juga nggak bisa keren. Tenang aja! Ganteng kok,” ujar Andre.


“Pulangnya jangan malam-malam lho! Kasian anak gadis...” pesan Farhan.


“Nggeeeh Pak Ustadz!” jawab Andre.


Anjiiir!


Kami pun berangkat dengan diiringi nyinyiran Doni yang bertubi-tubi.


Sungguh nggak ada akhlak si Doni!


***

__ADS_1


Motor kami memasuki area parkir yang cukup luas, di depan sebuah rumah mewah bergaya Mediterranian. Sayangnya hanya segelintir motor yang diparkir di situ. Yang lain hanya ada mobil-mobil mewah. Firasatku mulai menggeliat. Komunitas ini akan terasa asing buatku. Tetapi dengan percaya diri Andre menguatkan aku.


Ya udahlah ya! Wallahua’lam.


Kami masuk sebuah ruangan besar yang mewah. Banyak orang yang tidak kukenal di sana. Alunan musik terdengar berdentum. Kupikir ini lebih mirip diskotik. Aku sangat canggung masuk ke dalam ruangan itu. Andre banyak menyapa orang-orang di sana. Rupanya Andre begitu terkenal di kalangan itu. Pria-prianya berpakaian modis tiada tara. Sedangkan para wanitanya kebanyakan berpakaian seksi.


Duh! Sepertinya aku terjebak di tempat yang salah.


Aku tidak bisa membayangkan apabila nekat bersandal jepit masuk ke dalam ruangan ini. Pasti sudah ditendang keluar oleh security bertubuh gempal yang sedari tadi mondar-mandir.


Di tengah ruangan ada sofa melingkar. Ada beberapa orang duduk di situ. Andre menyuruhku duduk di sofa itu, sementara dia berkeliaran entah kemana. Beberapa orang gadis juga duduk di tempat itu. Pakaian mereka.


Ya Allah!


Aku tak tega menggambarkannya. Bahkan salah satu dari mereka ada yang merokok.


Astaghfirullah!


“Siapa namanya, Mas?” tanya salah seorang gadis yang berambut pendek.


Wajahnya cantik, tetapi kurasa bukan cantik alami seperti Dian Sastro. Wajahnya banyak didempul. Lapisan bedaknya begitu tebal, sehingga ia lebih mirip mayat hidup karena wajahnya sangat putih. Bibirnya dipoles dengan gincu berwarna merah terang. Bulu matanya panjang dan melengkung. Mungkin ini yang dinamakan bulu mata anti badai.


“Aku..aku Abi” jawabku agak gugup.


Sumpah suasananya horor banget!


“Temannya Mas Andre ya?”


“Iya”


“Baru pertama kali ke sini?”


“Iya”


Kok aku jadi deg-degan ya? Lebih nervous menghadapi Amel daripada Lusi.


Tiba-tiba Andre menghampiri dengan membawa segelas minuman berwarna merah seperti darah. Pikiranku sudah tidak karuan. Aku khawatir jangan-jangan dia memberi wine atau semacamnya. Aku menatap Andre dengan penuh selidik. Tetapi Andre hanya tersenyum.


“Jangan khawatir. Ini Fanta kok. Non alkohol. Ya aku taulah kalo kamu nggak minum alkohol”


Aku menerima gelas dari tangan Andre. Kuteguk pelan, membiarkan cairan bersoda membasahi kerongkongan yang kering. Terasa segar dan dingin. Ya, kurasa memang bukan minuman beralkohol.


“Minum yang banyak ya, Mas!” Amel menyemangati.


Aku mengangguk.


Sementara itu,musik yang diputar kian rancak. Pengetahuanku tentang musik-musik lumayan, karena senang mendengarkan radio. Tetapi tak tahu musik apa yang sedang diputar. Rasanya begitu asing dan aneh.


“Mau joged sama aku, Mas?” tawar Amel.


“Aku nunggu di sini saja, Mbak”


“Kok mbak sih? Panggil Amel saja ya Mas?”


“Oh iya maaf, Mbak. Eh, Mel!”


“Yuk kita joged!” tanpa ba-bi-bu Amel meraih tanganku dan menarikku ke tengah ruangan.


Di situ, banyak para pasangan berjoged sekenanya.


Sedangkan aku?

__ADS_1


Aku bingung mau joged seperti apa. Seumur hidup aku tidak pernah berjoged. Sungguh terlihat canggung dan bodoh di tengah ruangan itu. Malah merasa seperti Mr. Bean yang begitu memprihatinkan.


Dengan penuh percaya diri, Amel meliuk-liukkan tubuhnya yang indah di depanku. Aku sungguh terjebak dalam keadaan genting. Kalau boleh, ingin sekali kutelepon nomor 911 agar bisa terbebas dari keadaan ini.


Pada akhirnya aku lelah. Andre mangajak berkeliling lagi. Tidak hanya mengenalkan pada Amel, tetapi dia mengenalkan dengan selusin gadis yang namanya aneh-aneh. Aku tak ingat satupun nama mereka, kecuali Amel.


“Gimana Bi? Kamu senang nggak?” tanya Andre.


Aku tidak menjawab. Seharusnya Andre bisa membaca dari raut mukaku kalau tidak merasa nyaman di sini. Tetapi toh dia kurang peka dengan apa yang kurasakan.


“Sudah minta nomor telepon Amel?” tanya Andre lagi.


“Nggak usah saja Ndre!”


“Kenapa?”


“Nggak apa-apa.”


“Kurang cantik?”


“Nggak. Nggak usah!”


“Oke. Lain kali keukenalkan sama yang lebih cantik.”


“Nggak usah repot-repot!”


Pukul sebelas lebih limabelas menit, aku mulai gelisah. Biasanya jam segini aku sudah ngorok sambil mendengarkan siaran wayang kulit Ki Narto Sabdo di RRI.


“Yuk pulang! Kamu sudah ngantuk kayaknya,” kata Andre.


“Yuk!” aku segera mengiyakan.


Ketika melangkah pulang, sesampai di parkiran kulihat dua gadis berpakaian super seksi mendekati kami.


“Maas! Maas!” teriak mereka.


“Iya kenapa?” tanya Andre.


“Bisa anterin kami pulang nggak?” tanya salah seorang di antaranya.


“Waduh, nggak bisa mbak. Kami naik motor,” jawab Andre.


“Yaah” mereka terlihat kecewa.


“Nanti boleh pake kami gratis, Mas” salah satu gadis itu berujar.


“Maksudnya?” tanya Andre lagi.


Firasatku mulai tidak enak. Kulihat gadis-gadis ini juga tidak biasa. Kaki-kaki mereka agak besar untuk ukuran wanita. Berbulu pula!


Kemudian aku melihat lengannya. Agak berotot untuk ukuran wanita. Dan, terakhir kulihat jakun di lehernya...


Anjiiiiiirrr!!


Andre ternyata memahami kalau gadis-gadis yang kami hadapi adalah gadis jadi-jadian. Ia tersenyum, kemudian meninggalkan mereka.


“Cari yang lain saja ya, Mas!” kata Andre dengan tegas.


Mas?


Hahahaha.

__ADS_1


Digodain bencong kita!


***


__ADS_2