DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XVI : Romansa Kala Hujan Part II


__ADS_3

Angin bulan November mulai melecut muka. Dingin menjilati kulit. Pengaruh muson barat mulai terasa mencabik-cabik bumi Surabaya. Awan hitam berarak-arak memenuhi angkasa di sore nan penat ini. Ibu-ibu panik berlarian menyelamatkan jemuran.


Sementara aku tak peduli, terpasung di sebuah halte kampus seorang diri. Dalam tempo sepersekian detik, air seperti ditumpahkan dari langit. Sesekali ditingkahi oleh kilatan cahaya, disambung suara bergemuruh nun jauh di sana.


Di saat seperti ini, aku merindukan payung Hello Kitty milik Lusi. Romansa kala hujan seakan menari di depan mataku. Lusi dengan rambutnya yang basah tampak begitu memukau, bagai Dewi Nawang Wulan yang kehilangan selendangnya. Sekuat tenaga menepis bayangan Lusi, sekuat itu pula bayangannya bercokol memenuhi cerebrum-ku.


Kebosanan mulai meraja, mengobrak-abrik kewarasanku. Kukunyah permen karet yang sudah terasa tak manis, kemudian mencoba membentuk balon kecil lewat mulut seperti Lupus di tahun 90-an. Kalau air hujan terus tertumpah, maka dapat dipastikan aku akan menua di halte sialan ini sampai magrib. Itu artinya rombongan nyamuk Anopheles akan berpesta-pora menikmati segarnya darahku. Tanpa ampun.


Duh. Semoga ada keajaiban.


Kuharap Dewa Penolong akan segera menculikku dari sini.


Sebuah mobil Honda Civic warna merah berhenti di depan halte. Kacanya gelap, tak dapat kupastikan siapa yang berada di dalamnya.


Beeeep! Beeeep!


Suara klakson dibunyikan dua kali. Apakah itu artinya aku dipersilahkan naik ke atas mobil? Aku masih seperti orang culun yang menoleh ke kiri dan ke kanan. Bingung dengan arti suara klakson itu. Pikiran buruk merayap. Jangan-jangan ini adalah seorang penculik yang akan berpura-pura memberi tumpangan, kemudian menyekap dalam ruang gelap untuk merampok ginjalku!


Pasti aku terlalu banyak menonton film horor!


Kaca mobil turun perlahan. Seraut wajah yang tak asing mengisyaratkan agar aku naik ke atas mobil.


Dia lagi!


Bagaimana dia tahu aku terjebak dalam halte sialan ini?


Tetapi rasanya saat ini bukan waktu yang tepat untuk memilih. Apalagi mengharap payung Hello Kitty milik Lusi. Bantuan sekecil apapun harus diterima. Aku memutuskan masuk ke dalam mobil yang beraroma lime itu.


Aromanya seperti toilet di mall. Aroma buah segar.


“Barengan aku saja....” sapa si Dewa Penolong yang tak lain adalah Dahlia Sukmawati. Bayangan Dewi Nawang Wulan yang kehilangan selendang seketika buyar!


Aku tidak pernah menyangka kalau Dahlia bisa mengendarai mobil sendiri. Agak canggung semobil berdua dengan dirinya. Sementara, suara musik alunan saxophone milik Kenny G membuat suasana semakin syahdu.


“Aku turun depan situ saja,” pintaku.


“Nggak apa-apa. Mampir ke rumahku dulu. Bajumu basah. Nanti kamu masuk angin,” kata Dahlia.


“Eh, nggak usah!” tolakku.


“Nggak apa-apa. Nanti kuantar lagi ke kontrakanmu. Tenang aja. Nggak bakalan kuapa-apain. Apalagi kusuruh naik bemo sendiri!”


Bemo. Mengingatkan pada kendaraan lawas beroda tiga yang beredar di Jakarta pada tahun 1960-an. Tetapi bemo juga dipakai warga Surabaya untuk menyebut ‘angkot’. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana bisa mereka mengadopsi kata itu.


“Tapi....”


“Sudahlah! Aman pokoknya!” tegas Dahlia.

__ADS_1


Mobil melaju menembus derasnya hujan. Petang mulai menyapa Kota Pahlawan. Kilauan lampu kota mulai berkelap-kelip di berbagai sudut. Aku masih meringkuk bagai tahanan di kursi belakang. Pasrah tak bersuara. Apapun yang akan dilakukan Dahlia kepadaku, aku tak peduli.


“Sore banget pulangmu?” tanya Dahlia memecah kebekuan.


“Aku tadi sekalian mengerjakan tugas gambar di Lab,” jawabku.


“Aku tadi mencari beberapa buku di perpustakaan untuk tugas mekanika fluida besok lusa.”


Nggak nanya! Batinku.


Duh!


Seharusnya aku tidak sekejam ini. Dia sudah tulus memberi tumpangan di antara derai hujan yang cetar membahana.


Okelah. Aku akan jadi anak baik.


Beberapa menit kemudian, aku mendengar Dahlia yang meracau tanpa henti. Ia berbicara dengan kecepatan puluhan megabyte per detik! Isi khutbahnya tentang betapa membosankan hari ini, tentang makan siang yang tak sesuai ekspektasi, dan tentang hujan yang mengguyur bumi tanpa diundang.


Karena rasa lelah mendera, kicauan Dahlia jadi serupa dongeng sebelum tidur. Aku terbuai dalam dinginnya air conditioner dalam mobil, sehingga tanpa tersadar sudah mengarungi alam mimpi.


Dalam mimpiku, aku bertemu Lusi dengan payung Hello Kitty. Ia berdiri menungguku di bawah derasnya hujan.


“Bangun Bi! Kita sudah sampai....”


Aku merasakan bahuku digoyang. Dengan setengah terkejut aku membuka mata. Mimpi-mimpi tentang Lusi menguap seketika.


Atau jangan-jangan ini masih mimpi?


Ini bukan mimpi.


Seorang wanita paruh baya berkacamata terlihat anggun menyambut kedatangan kami. Diciumnya kening Dahlia. Sudah dapat dipastikan wanita itu adalah ibunya.


“Mah, ini Abi yang pernah kuceritakan tempo hari,” ujar Dahlia.


Aku mengangguk dan tersenyum. Kucium punggung tangan wanita itu dengan takzim.


Apa yang diceritakan Dahlia tentangku?


“Oh, kasihan basah-basah. Segera ambilkan handuk dan kaos bersih, Nduk!” perintah wanita itu.


Segera saja aku dipersilahkan berganti baju kering di kamar mandi yang ukurannya setara dengan kamar tidur di kontrakanku. Bahkan mungkin lebih luas. Kamar mandi yang berdesain mewah. Lengkap dengan wastafel dan closet duduk. Aromanya, mirip aroma dalam mobil tadi. Aroma lime.


Jangan-jangan Dahlia menggunakan pengharum toilet sebagai pengharum mobil?


Hari itu, aku menjadi raja kecil. Setelah berganti baju, aku dijamu makan malam di ruang makannya yang bergaya klasik, dengan lampu mewah yang tergantung rendah.


“Makan dulu biar ndak masuk angin,” ujar mama Dahlia ramah.

__ADS_1


“Makan yang banyak, Bi. Biar agak gemuk kayak aku,” Dahlia menambahkan.


Huh!


Dahlia jujur sekali. Tahu saja kalau aku kebanyaka makan mi instant, makanya aku kurus kering begini.


“Seadanya saja ya!” Mama Dahlia mengulurkan piring berkilau kepadaku.


Seadanya?


Jiwa miskinku sontak meronta.


Agak gemetar menerima piring kristal itu. Mengingat aku terbiasa memakai piring plastik di kontrakan. Bagaimanpun, harus menjaga image di depan mereka. Jangan sampai reputasiku hancur gara-gara tak mengerti adab makan.


Mungkin aku bukan orang kaya, tetapi sopan-santun dan adab tetap ditanamkan oleh kedua orangtuaku sejak masih ingusan. Walau banyak makanan enak terhidang di meja, aku tetap dengan santun mengambil secukupnya. Tidak terkesan seperti orang yang tidak pernah makan enak.


“Terima kasih ya Mas Abi sudah membantu anak saya,” ucap wanita itu di sela-sela makan.


Aku hampir tersedak.


“Oh, nggak bantu apa-apa kok Bu,” jawabku.


“Dia itu memang suka merendah gitu, Ma....” sambung Dahlia.


Aku tertunduk malu.


“Ndak usah merendah. Saya senang kok Dahlia punya teman. Biasanya dia itu milih-milih teman. Ya Alhamdulillah dia cocok berteman dengan sampeyan.”


Aku tak memberi komentar apa-apa. Takut salah bicara.


Acara jamuan makan malam usai ketika jarum jam merapat di angka sembilan. Dahlia sudah bersiap mengantarku pulang ke kontrakan. Sementara gerimis masih riuh terdengar di luar sana.


“Nanti kaosnya kukembalikan di kampus saja ya,” ujarku.


“Nggak usah dikembalikan. Pakai saja!" jawab Dahlia.


Rasa penasaran mengusik hati. Kaos siapa ini sebenarnya? Ukurannya agak terlalu besar buatku.


“Ini kaos siapa?” kuberanikan diri untuk bertanya.


“Kaosku.”


What the....!!


Kutukan apa ini?


Mobil meluncur membawaku pulang ke kontrakan tercinta. Dalam rinai gerimis, aku berlari-lari kecil menuju kontrakan. Yah, rumah Dahlia memang indah. Sayangnya tak ada yang lebih indah daripada kamarku. Aroma pengap kamar ini jauh lebih harum dibanding aroma lime di toilet Dahlia!

__ADS_1


Dengan masih memakai kaos Dahlia, langsung kuhempaskan tubuhku di tempat tidur. Satu-satunya yang paling kuinginkan saat ini adalah tidur.


***


__ADS_2