DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LIV : Interview with Pak Turonggo


__ADS_3

Pagi baru saja menyapa semesta ketika aku menyelesaikan suapan nasi pecel bertabur remahan rempeyek. Mumpung di kampung kelahiran, aku akan memanjakan diri sendiri. Mencoba segala jenis kuliner favorit yang jarang kujumpai di Surabaya. Selepas Subuh tadi, emak sudah mengantre di depan lapak Mbok Painem, penjual pecel legendaris di kampung kami. Terlambat sedikit, jangan harap akan kebagian.


Lapak dibuka mulai pukul lima, dan ditutup sebelum jam sembilan pagi. Sebenarnya bukan keinginan Mbok Painam untuk menutup lapak cepat-cepat, tetapi apa daya dagangannya sudah sold out. Mbok Painem berjualan pecel semenjak beliau masih muda. Rasa pecelnya tak pernah berubah. Pedas manisnya pas di lidah, menjadi semacam ectasy bagi penikmatnya. Sayurnya juga cukup lengkap. Ada kembang turi sampai bayam rebus, dipadu siraman bumbu kacang yang super gurih.


Setelah mengeksekusi pecel legendaris itu, hari ini aku akan berziarah ke makam bapak, sekaligus mampir ke makam Pardi. Areal pekuburan tak jauh dari rumah, sedikit tersembunyi di balik rerimbunan rumpun bambu. Deretan pohon kamboja juga sengaja ditanam warga. Bunganya yang mengering, luruh di atas tanah makam.


Bulu kudukku sedikit merinding ketika menginjakkan kaki di kompleks pemakaman itu. Jangan berpikir tempat ini tersusun rapi, dipenuhi rumput hijau seperti San Diego Hill, kompleks makam para artis dan orang kaya di Indonesia. Di sini, batu-batu nisan tersusun berserak. Harus hati-hati melangkah agar tak menginjak makam sembarangan. Ada beberapa tanah makam yang baru, tanahnya masih merah dengan taburan bunga-bunga mawar dan kembang kanthil.


Aku langsung menuju makam bapak, mendoakan beliau dengan khusyuk. Setelah itu barulah aku beranjak ke makam Pardi yang letaknya agak masuk ke dalam. Hening sekali suasana pekuburan, padahal hari masih pagi. Apalagi kalau malam? Mungkin hanya makhluk tak kasat mata yang bergentayangan di tempat ini!


“Lho, Bi. Kamu kok ada di rumah?” Tiba-tiba ada suara yang mengagetkanku.


Aku melihat sosok pria tegap berkumis melintang sedang berjalan di jalan setapak yang membelah areal pekuburan. Memang, pekuburan ini juga jalan pintas menuju sawah. Kadang ada saja yang berlalu-lantang melewati tempat ini.


“Pak Turonggo?” sapaku sambil menganggukan kepala.


“Lagi liburan?”


Segera aku menghambur, mencium telapak tangan Pak Turonggo, orang yang sangat kusegani.


“Iya. Liburan semester,” jawabku.


“Ini aku mau ke sawah. Yuk, ikut! Sambil ngobrol-ngobrol,” ajak beliau.


Sebenarnya ada rasa segan. Kadang aku kehilangan kata-kata di depan beliau. Apalagi dia adalah orangtua dari Larasati, pasti nanti akan banyak bertanya tentang kabar putrinya. Sayangnya, aku merasa tak sopan kalau menolak permintaan beliau. Mau tak mau, kuuikuti langkah kaki Pak Turonggo menuju sawah.


Kami tiba di sebuah gubuk kecil terbuat dari bambu, yang berdiri di tengah petakan sawah. Selain berfungsi sebagai tempat istirahat, gubuk ini juga terhubung dengan boneka sawah untuk mengusir burung-burung pipit yang sengaja mencuri bulir-bulir padi.


Angin sawah, adalah kiriman anugerah Allah yang dihembuskan dari surga. Semilirnya begitu nyaman, mampu menina-bobokan hingga mata terkatup. Jiwaku yang kering-kerontang sontak tersirami tetes-tetes air, sejuk bak oase di tengah Sahara. Beban-beban yang yang kupikul di pundak perlahan melebur di udara. Terasa ringan.


Kami berbasa-basi sebentar, sebelum Pak Turonggo menanyakan kabar Larasati, seperti yang telah kuduga sebelumnya.


“Bagaimana kabar Laras?” Pak Turonggo memulai sesi interview pagi ini.


“Alhamdulillah, baik-baik kok, Pak ...,” jawabku, sambil menatap sejauh mata memandang. Hamparan sawah menghijau mendinginkan mata yang selama terasa panas ini dijejali tugas-tugas kuliah.

__ADS_1


“Kamu sering main ke sana?” tanya Pak Turonggo.


Pertanyaan ini agak riskan kujawab, karena jawabannya agak susah dicari. Lebih baik menjawab pertanyaan Darwis tentang soal metalurgi.


“Ya kadang sih Pak, kalau tidak banyak tugas kuliah,” jawabku ragu-ragu.


Sejujurnya, baru dua kali aku bertandang ke kost Laras. Itu pun kesannya kurang baik.


“Kemarin Laras itu telepon ...,” Pak Turonggo mulai menyulut rokok kretek kegemarannya.


Deg!


Semoga tidak membicarakanku.


“Oh iyakah, Pak?”


“Iya, katanya kamu baru ngajak dia ke Malang. Sama si Jono dan istrinya juga.” Pak Turonggo menhembuskan asap penuh karbondioksida ke udara.


Mendadak detak jantungku tak stabil, berdegup lebih intens. Khawatir kalau-kalau dia bercerita bahwa perjalanan ke Malang suasananya tidak menyenangkan gara-gara aku. Lebih baik tidak kutanggapi beliau.


“Kamu masih lama lulusnya, Bi?” Pak Turonggo terus bertanya.


“Sekitar satu tahun lagi, Pak. Ini sudah mau kerja praktik dan tugas akhir,” jawabku.


“Rencana mau kerja dulu atau langsung nikah?” pertanyaan Pak Toronggo menyerbu bertubi-tubi.


Agak gelagapan menjawab pertanyaan itu. Sesuai dengan komitmen awal, aku tidak akan menikah sebelum membahagiakan keluarga. Pertanyaan Pak Turonggo bukan hal aneh, mengingat banyak pemuda seusiaku di kampung ini rata-rata sudah beranjak ke jenjang pernikahan.


“Saya pengennya kerja dulu, Pak!” tegasku.


“Hmm. Bagus. Sebelum bapakmu ndak ada, pernah pesan ke aku, untuk membantu mengarahkan kamu. Jadi, ya kamu sudah tak anggap anak sendiri, Bi. Jadi jangan sungkan-sungkan kalau sama aku,” tutur Pak Turonggo.


“Nggih, Pak.”


Entah ilmu pelet apa yang melekat di tubuhku. Mendadak orang-orang di sekitaku menganggap sebagai anaknya sendiri. Kemarin-kemarin mamanya Dahlia, sekarang bapaknya Laras. Besok-besok, jangan-jangan ibunya Lusi?

__ADS_1


“Belum punya pacar to?” tanya Pak Turonggo lagi.


“Belum, Pak. Masih mau fokus kuliah dulu.”


“Iya, nggak usah banyak terpengaruh sama pergaulan anak-anak Surabaya, Bi. Lebih baik, kalau cari jodoh cari saja yang sudah ada di kampung. Yang rajin masak, bisa menjahit, dan penurut. Nggak usah jauh-jauh,” saran beliau.


Sudah jelas aku tahu arah pembicaraannya. Entah, aku harus bagaimana. Apakah aku harus senang atau malah khawatir? Senang, karena tak perlu repot-repot menjemput jodoh, atau khawatir karena aku masih ingin bebas berkelana mencicipi setetes madu duniawi.


“Nggih, Pak.” Aku menjawab singkat.


Daun-daun kelapa melambai-lambai dipermainkan desir angin yang bertiup sepoi. Semesta tengah tersenyum padaku. Rasa nyaman bersemayam di hati. Kampungku adalah secuil kepingan surga yang jatuh dari langit.


“Nanti saja pulangnya, nunggu sekalian kiriman makan siang dari ibunya Laras,” tawar Pak Turonggo.


“Oh, tidak usah Pak. Saya makan siang di rumah saja,” tolakku.


“Ndak apa-apa. Kebetulan di rumah lagi panen gurami. Kamu suka nggak?”


Ikan gurami, adalah jenis ikan air tawar favoritku. Dagingnya begitu gurih, dipadu dengan rempah-rempah tentu akan meciptakan cita-rasa yang memanjakan lidah.


Siapa yang sanggup menolak ajakan itu?


Pak Turonggo juga dikenal sebagai juragan ikan air tawar. Beliau mempunyai banyak kolam ikan yang untuk budidaya ikan mas, lele dan mujair. Kalau sedang panen, pasti mengirim ikan juga ke rumah.


“Iya Pak, saya suka,” jawabku malu-malu.


Tidak boleh menolak rezeki, demikian pesan yang terngiang dari perempuan tua di atas kereta yang pernah kutemui beberapa waktu lalu.


Siang itu, kami berpesta gurami bakar. Seperti dugaanku, rasanya begitu gurih dan membuat ketagihan. Sebenarnya ingin aku menambah nasi, tetapi di depan Pak Turonggo aku menjaga diri agar kelihatan sopan.


“Ayo, nambah lagi!” ajak Pak Turonggo.


Tak menunggu komando dua kali, nasi dalam bakul bambu ludes masuk ke dalam lambung. Perut terasa penuh karena kekenyangan. Adakah yang lebih nikmat dari makan siang di tepi sawah? Pak Turonggo menutup makan siang dengan segelas kopi panas.


Sayangnya aku tak bisa seperti itu.

__ADS_1


Sejenak aku bertanya dalam hati, benarkah pria ini adalah calon bapak mertuaku?


***


__ADS_2