
Tujuh buah tenda berwarna-warni telah berdiri tegak menjelang siang. Kawasan perkemahan ini dinamakan Latar Ombo atau kalau diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah ‘halaman luas’. Mengapa demikian? Kupikir karena kondisi geografis wilayah ini berupa padang rumput luas, dibingkai pepohonan yang rimbun di sana-sini. Sementara di kejauhan berdiri dengan gagah Gunung Welirang dan Gunung Arjuno, melengkapi eksotisnya lukisan alam Yang Maha Kuasa.
Aku terduduk di hamparan rumput, terengah-engah menyesap oksigen yang berlimpah. Menetralkan isi paru-paru yang terkontaminasi udara Surabaya. Beberapa mahasiswa laki-laki tampak lelah karena baru selesai mendirikan tenda, membuat pagar dan saluran air. Kubaringkan raga di atas permadani hijau, menatap langit yang biru cerah dengan awan-awan tipis serupa kapas yang dihamburkan. Damai terasa di hati, mendengar cuitan aneka burung di pepohonan. Sudah lama aku tak mendengar orkestra makhluk-makhluk penghuni rimba ini. Angin sepoi membelai lembut rambutku.
“Minum dulu ....,” Dahlia tiba-tiba menghampiri sambil membawa sebotol air mineral.
“Sudah kok,” aku mengangkat botol air yang memang sudah kusiapkan sejak pagi.
“Nanti habis salat dhuhur aturan mulai berlaku loh ....” kata Dahlia.
Ia mengambil tempat duduk di sampingku. Di kejauhan sana, pemandangan Kota Batu tampak begitu kecil, mirip mainan bongkar pasang yang tersusun rapi.
“Beres! Aku paham kok. Speak in English,right?” ujarku.
“Yes, Sir!”
Sehabis melaksanakan salat dhuhur berjamaah, para peserta camp makan siang di hamparan rumput, di bawah naungan kanopi-kanopi alam. Khusus untuk makan siang pertama, mereka mendapat jatah nasi bungkus yang sudah dipesan sebelumnya.
Sungguh, terasa nikmat makan di alam terbuka beratap langit seperti ini. Kebersamaan dan senda-gurau mewarnai di sela-sela suapan. Rasa lelah yang bersemayam terbayar lunas dengan keindahan alam yang eksotis. Melalui TOA, Irawan membacakan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh peserta. Intinya, semua kegiatan akan dilaksanakan dengan pengantar Bahasa Inggris.
Mengapa tidak memakai Bahasa Indonesia saja agar mudah tersampaikan?
Ada satu pertanyaan terlontar dari seorang peserta junior yang baru bergabung sekitar satu minggu.
“Karena ini nama kegiatan kita adalah English Camp. Bukan Indonesia Camp. Apalagi Jowo Camp!” agak kesal Irawan menjawab pertanyaan itu.
Jawaban cerdas!
Menjelang sore, ada beberapa kontes bahasa yang dilaksanakan untuk mengasah kemampuan speaking para peserta. Salah satunya adalah stoy-telling contest. Tiap kelompok mengirimkan wakilnya untuk kegiatan story-telling contest. Sorak-sorai riuh terdengar dari para peserta yang membentuk formasi lingkaran di tengah padang rumput. Aku bersyukur, acara ini benar-benar menyenangkan sehingga bisa dikatakan amanahku sebagai ketua panitia telah sukses. Banyak pelajaran kupetik dari kegiatan ini.
Saat mereka larut dalam euforia kemeriahan, diam-diam aku menyelinap ke tempat yang agak sepi, di antara lebatnya tanaman perdu, memandang pemandangan di kejauhan. Ini adalah ritual pengembaraan khayalku. Membayangkan mempunyai sayap khayalan, terbang di antara awan menjelajah semesta hanya untuk memburu sepercik cinta yang hilang.
Cinta Lusi.
Ingatanku terhempas pada dua hari sebelum keberangkatan ke Malang. Sengaja aku menemui Diana di tempat parkir kampus. Diana adalah gadis Batak yang menjadi sahabat Lusi selama di perkuliahan. Mereka begitu akrab, walau secara fisik bagai surga dan neraka. Tentu saja Lusi adalah posisi surga. Darwis pernah menyukainya, tetapi tertolak mentah-mentah.
Saat itu, Diana sedang bersiap menaiki sepeda motor ketika aku menyapa. Ia sedang memasang helm.
“Diana, bisa minta waktu sebentar nggak?” tanyaku.
“Tumben? Biasanya hanya kalau ada Lusi saja kau mau ngobrol sama aku?” sewot Diana. Ia menatapku nanar. Seperti biasa, tampangnya masam apabila bertemu.
Apa salahku?
Dari dulu, Diana memang kurang merestui hubunganku dengan Lusi. Gadis Batak itu selalu memasang tampang tak ramah tiap kali aku mengobrol dengan Lusi. Sayangnya semua itu kuanggap angin lalu. Mungkin, ada sedikit rasa iri ketika lebih memilih Lusi daripada dia. Mungkin-ingat sekali lagi ini mungkin-aku tidak tahu benar atau tidaknya, Diana berpikir mengapa bukan aku saja yang disukai Abimanyu?
Ya, mungkin saja. Aku cukup layak untuk itu.
Semoga bukan perasaanku yang over percaya diri.
“Aku mau minta tolong nih, Di ...,” pintaku dengan sedikit memelas. Berbekal wajah polos nan innocent, ini adalah jurus ampuh ketika meminta pertolongan pada perempuan.
__ADS_1
“Hmm. Bagus sekali kelakuan kau! Kalau ada butuhnya saja dekat-dekat ....,” cibir Diana. Logat Batak masih terdengar kental dalam kalimatnya.
“Please, Di. Aku bener-bener butuh pertolonganmu kali ini,” aku memasang tampang memelas level sembilan belas.
“Minta tolong apa kau?”
Gotcha! Akhirnya Diana luluh juga!
“Begini Di. Kamu kan sahabat dekatnya Lusi. Nah, kamu pasti tahu dong alamat Lusi di Malang. Aku mau telepon dia, nomor lamanya nggak aktif. Kalau boleh, aku minta alamat Lusi di Malang ya?”
Sengaja aku merangkai kalimat sehalus mungkin, agar Diana tak berubah pikiran.
“Nggak boleh!” jawabnya spontan.
Hatiku sebenarnya hancur mendengar penolakan itu. Tapi aku akan berusaha lagi.
Bismillah.
“Aku bener-bener minta tolong, Diana. Karena ini penting banget buat aku,” rengekku.
“Sepenting apa sih?”
“Ini hidup dan matiku, Diana.”
Diana terdiam. Mungkin dia takjub dengan keseriusanku. Di saat ikan besar sudah masuk jerat seperti ini, aku harus menjaga sikap agar Diana tidak balik kanan maju jalan. Rayuan maut mulai kutebar.
“Kerjakan tugas-tugas Fisika Dasar-ku!” sabda Diana. Matanya memicing menebar ancaman.
“Beres!” langsung saja kusetujui syarat yang diajukan Diana, walaupun aku sadar bahwa ilmu fisikaku tak terlalu bagus. Tetapi ini harus kulakukan.
“Jangan pernah beritahu siapa pun,” Diana mewanti-wanti.
“Terima kasih, Diana!” mataku berbinar penuh suka-cita menerima kertas dari tangan Diana. Entah kalimat apa yang pantas untuk menggambarkan perasaanku kala itu.
“Tunggu!”
“Iya, Di?”
“Kamu masih suka ya sama Lusi?” tanya Diana begitu menohok, bingung harus menjawab apa.
“Kalau memang iya, kusarankan kamu harus cepat ....” lanjut Diana.
“Cepat? Emang kenapa, Di?” mendadak perasaan tidak enak merayapi hatiku.
“Aku nggak bisa jelaskan. Bye!” Diana men-starter motornya dan pergi begitu saja menyisakan satu pertanyaan yang tak terjawab.
Harus cepat? Apa maksudnya ini?
“Kiiiiiiiikkk!!”
Suara jeritan monyet di kedalaman hutan membuat lamunanku buyar. Aku masih mereka-reka jawaban pertanyaan itu sambil memandang megahnya Gunung Arjuno yang sore itu tersaput awan tipis. Bias cahaya matahari menyepuh warna emas di punggung gunung.
__ADS_1
“Eh, ngapain kamu ngumpet di sini? Aku dari tadi nyariin kamu,” tiba-tiba Dahlia muncul di belakangku.
Heran. Kemana pun aku menyembunyikan diri selalu tak lepas dari pengamatan Dahlia. Huh!
“Lagi jalan-jalan aja sih Dahlia,” kataku.
“Jangan jauh-jauh! Teman aku yang pernah ke sini mengatakan bahwa lokasi perkemahan kita ini dekat dengan pasar setan. Pernah dengar nggak? Ntar takutnya kamu kesurupan,” terang Dahlia.
Pasar Setan?
Aku merinding. Siapa yang tidak pernah dengar kisah mistis itu? Sama sekali tak menyangka kalau aku sedang berada di satu lokasi dengan cerita yang menegakkan bulu kuduk itu.
“Eh, besok kamu mau ke Malang ya, Dahlia?” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Iya. Besok aku dan supirku mau mencari air mineral buat peserta, serta beli kue-kue juga untuk mereka.”
“Aku ikut boleh nggak? Besok kegiatan peserta sudah ditangani Irawan kan?”
“Mau ngapain emang?”
“Aku lagi mencari alamat teman satu kampungku dahulu. Katanya dia pindah ke Malang. Bertahun-tahun kami nggak ketemu,” akal bulusku mulai beraksi. Kali ini Dahlia tidak boleh tahu informasi sekecil apa pun mengenai Lusi.
“Teman masa kecil?” selidiknya.
Seperti biasa.
“Iya.”
“Perempuan?”
“Iya.”
Dahlia mengernyitkan kening seperti memikirkan sesuatu. Aku jadi ingat saat dia mengantar mencari alamat kost Laras. Sepanjang perjalanan dia mencecar dengan pertanyaan yang menyudutkan. Untuk kali ini, aku tak mau hal sama berulang kembali. Ini bukan de ja vu.
“Bukan aku nggak mau, Bi. Tapi takutnya ntar kesorean. Air minumnya kan segera dibutuhkan peserta. Jangan sampai mereka kehausan,” ujar Dahlia.
“Nanti tinggal saja aku nggak apa-apa kok. Turunkan saja aku di terminal atau di mana. Biar kucari sendiri alamatnya,” kataku kemudian.
“Terus kalau kamu nggak ada, siapa yang bertanggungjawab kalau ada apa-apa dengan peserta?”
“Kamu ...,”jawabku enteng. Kali ini aku memasang tampang memelas level dua puluh dua.
“Aku?” Dahlia mendelik. Sepasang mata bulatnya nyaris loncat dari kelopaknya.
“Sebentar saja kok, Dahlia. Sebelum malam aku janji sudah balik ke sini lagi. Ya, ya,ya?” jurus rayuan maut mulai kurapal. Bukan Dahlia namanya kalau dia menolak permintaanku.
“Terserahlah ....”
“Kok terserah?”
“Iya, iya ....” kata Dahlia kemudian.
__ADS_1
Yess! Kamu memang cantik, Dahlia! gumamku.
***