DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XCIX : Gantung


__ADS_3

Siang hampir menjelang ketika mobil yang kami tumpangi bergumul dengan kemacetan mengular di kawasan selatan kota Surabaya. Seperti biasa, jalan utama sudah dipadati berbagai kendaraan bermotor saling berjejal. Suara klakson sahut-menyahut, bagai alunan musik tak berirama. Dahlia menyetir mobil dengan santai, tanpa terburu-buru sambil mendengarkan nada-nada indah milik Kris Dayanti. Aku mencium aroma tetumbuhan segar dalam mobil, tak seperti aroma toilet di mal.


Mobil berbelok ke arah SPBU, menyusup di antara mobil-mobil lain yang hendak membeli bensin. Lumayan panjang antrean siang itu, padahal bukan hari libur. Perbedaan antara hari kerja dan hari libur nyaris tak kentara di kota ini. Semua manusia nyaris tenggelam dengan segala aktivitas hedonis. Mereka membanting tulang, tak peduli dengan waktu yang bergulir. Tak ada yang dapat menghentikan, kecuali sepetak tanah dengan batu nisan di bagian atas dan bawah.


Aku bukan tipe orang penghamba kekayaan, atau seorang yang materialistis. Mungkin karena didikan orang tua yang membiasakan diri dengan kehidupan sederhana dan tidak neko-neko. Bapak senantiasa mengajarkan unuk bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki, tanpa hasrat yang muluk-muluk. Belakangan emak pernah mengatakan kepadaku bahwa sesungguhnya mempunyai tabungan di bank yang senilai dengan harga mobil baru. Tabungan itu sedianya dipakai untuk biaya kuliahku dan biaya sekolah Weni.


Keluar dari SPBU, mobil kembali meluncur ke arah pusat kota. Sudah lama aku tidak melihat keramaian kota seperti ini. Buku-buku dan ketikan tugas akhir membuat otak ini terasa buntu dan membutakan diri terhadap keindahan sekitar. Padahal, dunia luar begitu indah penuh dengan warna-warni yang menyegarkan pemandangan. Rutinitas menyebalkan telah menenggelamkan ke dalam samudra tanpa sepercik kemolekan dunia. Kadang, aku perlu menyelam lebih dalam.


“Mau makan apa, Bi?” tanya Dahlia tanpa menoleh. Ia masih fokus dengan kondisi jalan raya yang lumayan padat hari itu.


“Apa aja deh. Aku nurut aja ....”


“Kok pasrah? Nggak biasanya seperti itu. Ayo dong! Kasi masukkan. Aku juga bingung mau makan apa. Setelah makan kita nonton ya, Bi. Sepertinya si ganteng Tom Cruise udah release film baru,” kata Dahlia lagi.


“Mission Impossible?”


“Iya. Udah lama nggak nonton, kok jadi kangen. Mumpung ada film keren ya sekalian aja.”


“Okelah!” jawabku bersemangat.


Sebenarnya aku juga penggemar nonton, tetapi apa daya kesibukan luar biasa memasung untuk tetap berkutat dengan tugas-tugas kuliah yang menggunung. Jangankan nonton bioskop, nonton televisi di kontrakan saja sudah sangat jarang. Di samping karena program televisi tidak ada yang menarik, kecuali acara berita.


Karena deadlock di kepala, kami akhirnya memutuskan makan di sebuah depot sederhana, tetapi cukup terkenal di Kota Surabaya. Sebuah depot legendaris sejak zaman baheula, di kawasan Stasiun Gubeng lama. Kuliner yng ditawarkan memang sangat memanjakan lidah. Tak heran, ruangan depot yang mungil itu dijejali manusia di luar kapasitas yang seharusnya. Perlu perjuangan untuk mencari tempat di sana.


Selepas mengisi perut, kami melanjutkan perjuangan menuju ke sebuah mal terbesar di Surabaya. Untunglah, suasana tak seberapa ramai karena masih masuk di hari-hari kerja. Jangan ditanya kalau menjelang weekend. Lautan manusia akan memenuhi sudut-sudut mal, nyaris tiada tempat bersisa untuk sebuah privasi. Padahal, kebanyakan dari mereka tidak ada yang niat berbelanja, hanya bermodal dengkul untuk melihat-lihat berbagai barang yang dipajang begitu indah di outlet-outlet mal.

__ADS_1


Waktu masih cukup lama untuk menunggu film diputar. Setelah membeli tiket, kami berkeliling dulu untuk bersantai. Sambil berjalan meyusuri deretan pertokoan, Dahlia banya berceloteh mengenai hari-harinya. Seperti biasa, aku mendengarkan dengan setia. Tanpa niat untuk menyela.


“Sebentar lagi kamu lulus dong, Bi?” tanya Dahlia.


“Insya Allah, Dahlia. Semoga saja tidak ada aral melintang, sehingga ujian tugas akhir bisa berjalan lancar, terus dapat wisuda dan mendapat kerjaan bagus,” jawabku.


Dahlia terdiam. Kulihat raut muka muram terpancar di wajahnya. Bukannya dia seharusnya berbahagia dengan segala apa yang kuraih?


“Kok kamu sedih?” tanyaku penasaran.


“Nggak sih. Aku senang kamu akan lulus tahun ini. Tapi aku ya sedih karena mungkin kamu akan mendapat pekerjaan di luar Surabaya, sehingga kita nggak akan ketemu lagi. Aku belum siap kehilanganmu, Bi,” lirih Dahlia.


Oh, so sweet!


“Kehilangan? Ya nggak lah kalau kehilangan, Dahlia. Walau aku kerja di Papua atau bahkan di luar negeri ya tetap kita masih saling terhubung. Apalagi sekarang adalah zaman internet. Banyak fasilitas chatting yang bisa kita pakai. Nggak usah risau dengan masalah itu,” jawabku.


Pura-pura tak berdosa? Sialan juga Dahlia ini. Memang pada dasarnya aku lugu, dibilang pula aku sok culun dan pura-pura tak berdosa. Padahal ini sudah tercetak semenjak aku brojol di muka bumi ini. Aku tak berniat menanggapi kalimatnya lebih jauh. Sayangnya ada sesuatu yang menggelitik, yang selama ini memang ingin sekali kutanyakan. Pengalaman bersama Lusi adalah guru yang berharga, jadi aku tak mau mengulangnya dua kali.


“Lia....”


“Kenapa, Bi?”


“Mmm. Kita kan sering banget ya menghabiskan waktu berdua, entah itu ngobrol, makan bareng atau jalan. Bahkan keluarga kita juga saling mengenal dekat. Sebelumnya, maaf ya kalau lancang nanyain ini....”


Kalimatku terhenti. Mengapa dada ini bergemuruh? Lidah juga terasa kelu, sulit untuk berucap. Aku menarik napas dalam-dalam, menenangakan diri. Penyakit lama ini kambuh. Segala bahasa seolah musnah begitu saja.

__ADS_1


“Nanyain apa, Bi? Yuk naik! Sebentar lagi film dimulai lho!” tanya Dahlia cepat.


“O ya udah, nanti aja kalau begitu!” jawabku.


“Halah! Bikin penasaran aja kamu. Ya udah kita nggak usah nonton film aja kalau begitu. Kamu nanya apa? Biar aku nggak penasaran!” desak Dahlia.


“Aku susah sih cara ngomongnya ...,” elakku.


Dahlia menghela napas. Raut wajahnya tampak penasaran. Ia menghentikan langkah, menatapku dalam. Aku gugup membalas tatapan itu. Mengapa aku sebodoh ini, ya Tuhan?


“Kamu mau nanya apa sih, Bi? Aku tunggu pertanyaanmu itu.”


“Mmm. Begini Dahlia ... aku ... aku hanya ingin tanya. Kita kan dekat. Sebenarnya bagaimana sih perasaanmu kepadaku? Maaf banget ya sebelumnya.”


Mukaku memerah menahan malu. Dahlia rupanya juga terkejut mendengar pertanyaan itu. Mendadak parasnya berubah. Dalam hati, aku menyesal melontarkan pertanyaan itu. Dahlia nyatanya tak segera menjawab pertanyaanku. Ia malah bungkam sambil menggeleng. Sungguh, aku merasa berdosa.


“Maafkan aku ya, Dahlia,” pintaku.


“Aku ... aku nggak bisa jawab sekarang, Bi. Nanti saja ya habis nonton Tom Cruise,” jawab Dahlia.


Nah kan?


Kini giliran Dahlia yang sengaja menggantungku dalam rasa bimbang. Perasaanku sontak tak tenang. Jawaban itu menghempaskan aku ke dalam samudra kegalauan. Agak bingung dengan pilihannya. Mengapa dia lebih memilih nonton Tom Cruise dulu daripada menjawab pertanyaanku?


Tentu saja, karena aku bukan siapa-siapa dibanding suami Katie Holmes itu!

__ADS_1


***


__ADS_2