
Semesta mulai meredup. Panggung sandiwara dunia beristirahat sejenak, melepas penat yang terakumulasi setelah seharian beraktivitas. Tabir gelap mulai menyingkap langit. Sekejap, angkasa penuh dengan manik-manik cahaya yang berserakan. Sementara, dewi malam tampak bersolek di langit timur dengan anggun. Hembusan angin mencengkeram sampai ke sumsum.
Semua peserta camp menghangatkan diri di tengah lapangan, mengitari kobaran api unggun yang membumbung tinggi. Lidah apinya menjilat-jilat berlenggak-lenggok seirama hembusan angin. Suara petikan gitar terdengar ramah di telinga, dibarengi suara acapella yang sedang melantunkan lagu Kemesraan.
“Who wants to share a story?” tawar Irawan. [ Siapa yang mau berbagi cerita?]
Petikan gitar terhenti. Angin malam berhembus kuat, mempermainkan rambut Irawan yang mirip artis Korea. Ia berkeliling mengitari api unggun dengan penuh kharisma, menatap mata setiap peserta camp.
Aku ingin jadi seperti dia.
“Come on, guys! Let’s rock the night!” kicaunya lagi. [ Ayolah kawan-kawan! Kita ramaikan malam ini! ]
Semua peserta masih terdiam. Sepertinya aku paham dengan apa yang mereka rasakan. Setiap individu yang ada di sini, pasti ingin tampil di depan, menceritakan sepenggal kisah hidupnya. Sayangnya, ada satu masalah yang menjadi momok sejak zaman pra sejarah.
Mereka tak percaya diri berbicara menggunakan Bahasa Inggris.
Ini adalah masalah klasik bagi setiap orang yang tidak sehari-hari menggunakan Bahasa Inggris. Bagi aku sendiri, jangankan Bahasa Inggris, menggunakan mother-tongue sendiri, aku mesih gemetaran.
“Mau maju nggak?” bisik Darwis yang duduk di sebelahku.
Aku agak kesal. Jelas-jelas Darwis menyalahi aturan karena berbahasa Indonesia. Jangan ditiru.
“No. It’s better to stay here!” jawabku. [ Tidak. Lebih baik aku di sini saja! ]
“Sok Inggris!” cibir Darwis.
Mungkin, ada lebih dari selusin peserta camp yang tipikalnya sama dengan Darwis. Mereka kurang termotivasi untuk berbahasa Inggris dengan alasan berbagai macam. Mereka lebih suka mengikuti kegiatan kemah, daripada melatih conversation skill yang amburadul. Padahal menurutku ini kesempatan yang bagus. Tidak semua kampus punya klub bahasa Inggris yang keren seperti ini. Dengan Dahlia sebagai pilot project-nya, aku yakin akan menyulap klub ini semakin berkilau.
“Mr. Abimanyu?”
Shit!
Irawan memanggil namaku. Semua pandangan mengarah kepadaku, seolah sedang dihakimi. Sungguh, ini mirip serangan yang dilakukan di waktu fajar. Aku tergagap.
“No. No....,” jawabku terbata-bata.
“Come on! I know that you have an interesting story,” lanjut Irawan [ Ayolah, aku tahu kamu mempunyai sebuah cerita yang menarik ]
“No. I am sorry. Maybe another else!” tegasku.
__ADS_1
Suasana hening sampai beberapa saat lamanya. Irawan tak bisa memaksa agar aku tampil di depan peserta lain.
“Let me share a story!” [ Biarkan aku yang bercerita! ]
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari barisan peserta belakang. Semua pandangan beralih ke sumber suara itu. Seseorang misterius di kegelapan, dengan gagah berani bak taruna berangkat ke medan perang, melangkah ke depan. Aura percaya diri, misterius dan dingin merebak seketika. Matanya menyapu ke setiap peserta, dan terhenti saat menatapku tajam.
Eh, menatapku atau Darwis ya? Aku tidak yakin. Kami duduk berdekatan soalnya.
“Okay. Let’s introduce yourself!” perintah Irawan. [ Baiklah. Kenalkan dirimu! ]
“I guess they’ve already known about me before,” ujarnya penuh percaya diri. [ Kurasa mereka semua telah mengenalku ]
Luar biasa!
Aku kagum dengannya. Ya, Dahlia Sukmawati.
Dengan menggunakan Bahasa Inggis yang benar-benar fluent, ia mengisahkan tentang perjalanan hidupnya yang dramatis. Kisah yang sama saat ia bercerita di hari ketika bapak meninggal. Betapa memilukan saat harus kehilangan ayah dan adik laki-lakinya dalam waktu bersamaan karena kecelakaan lalu-lintas.
Sungguh emosional.
Kegarangan singa betina yang kukenal memudar. Dahlia bak kucing jinak yang manis. Matanya berkaca-kaca, kemudian luruh setetes menuruni pipi. Semua peserta terhipnotis dengan setiap kata-katanya. Tak ada yang bersuara sedikit pun. Sayangnya, itu hanya berlaku bagi peserta yang mempunyai kemampuan listening jempolan. Bagi yang kurang mengerti, hanya bengong dan kadang menguap. Mungkin dalam hatinya mereka mengeluh ‘kapan acara membosankan ini berakhir?’
Termasuk Darwis. Matanya merah menahan kantuk. Beberapa kali ia menguap.
“Apa artinya itu?” tanya Darwis.
Embuh!
Aku jengkel dan tak lagi kuurusi dia. Kadang, orang-orang yang susah diajak maju begini menjadi penghambat bagi kemajuan karir. Otaknya sudah banyak terkontaminasi tayangan-tayangan tak bermoral.
Performa Dahlia ditutup dengan tepuk tangan panjang dar peserta camp. Ya, Dahlia telah berhasil menjadi bintang acara malam ini. Secara khusus, aku bertepuk tangan sambil berdiri untuk memberi penghargaan lebih kepadanya.
Nyatanya, penampilan Dahlia menjadi lokomotor bagi para penampil lain. Sebagian dari mereka terlecut motivasinya untuk turut menceritakan kisah hidup yang menarik.
Setelah selesai, Dahlia meninggalkan lingkaran menuju tenda panitia. Entah kenapa, aku seperti tertarik magnet, membuntutinya ke sana. Kutinggalkan Darwis yang masih terkantuk-kantuk. Siapa peduli?
“Congratulations. What a great performance!” pujiku.
“Thank You, Bro!” Dahlia tersenyum kecil. Gurat lelah tercetak di wajahnya, tetapi aku yakin dia menyukai pujianku.
__ADS_1
Perempuan mana yang tak suka pujian? Ini adalah ilmu asmara yang pernah kupelajari dari Andre.
“Kamu tahu, mengapa Cleopatra bisa jatuh di pelukan Julius Cesar? Karena dia memujinya,” terang Andre kala itu.
Awalnya aku tak sepenuhnya percaya. Sekarang, mungkin tak ada salahnya aku mulai menganut teori itu. Taklukkan wanita dengan pujian, kukira tak terlalu rumit.
Dahlia menuang teko berisi kopi panas ke dalam sebuah cangkir plastik. Di tenda panitia, ada beberapa panitia yang sedang duduk-duduk sambil menghirup kopi panas. Beberapa lagi ada yang tiduran sambil bermesraan dengan gawai.
“Mau nemeni aku minum kopi nggak?” tawar Dahlia.
Kok dia tidak pakai Bahasa Inggris? Oh ya, kami kan panitia. Panitia mah bebas!
“Boleh,” jawabku cepat. Kali ini aku tidak boleh menolak, agar dia tidak merubah pikiran.
“Ada tempat bagus di sana. Ayo!” ajak Dahlia.
Setelah menuang kopi, aku mengikuti langkah Dahlia menuju ke sebuah tempat yang agak mendaki. Kami melewati jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan di kanan-kiri. Gulita membutakan penglihatan, namun Dahlia membawa lampu senter. Kami sampai di bibir jurang, mirip sebuah balkon raksasa di atas hamparan kota yang begitu indah. Begitu takjubnya ketika aku melihat hamparan di bawah sana. Kerlap-kerlip Kota Batu begitu indah seolah membawaku berpetualang ke negeri fantasi.
“Kamu lihat itu ...,” ujar Dahlia.
Matanya tak lepas memandang ke hamparan di bawah sana. Begitu mempesona. Bahkan aku tak bisa berpaling. Aku merasa begitu kecil dibanding kemegahan semesta ini. Bayangan Gunung Arjuno bagai raksasa hitam yang menjulang menggapai langit. Tak terbayang, jika gunung-gunung itu runtuh menimpaku.
“Tempat ini membuatku ingat sesuatu ...,” suara Dahlia berubah parau.
Please, jangan mulai menangis Dahlia ....
Aku terdiam, tak ingin memberi kesempatan dia untuk bercerita lebih lanjut. Khawatir dia akan larut dalam emosinya.
“Dulu waktu aku kecil, ayah pernah mengajak aku dan adikku ke gunung ....” Dahlia memulai bercerita.
Kubilang juga apa. Padahal aku tak mengharapkan ini. Sabar ya Bi ....
“Aku lupa gunung apa, yang jelas sebuah gunung yang indah dengan banyak pohon pinus. Beliau mengajak kami melihat hamparan kota di malam hari dari atas gunung. Aku masih ingat, suatu waktu aku terperosok dan hendak masuk jurang. Dengan sigap, tangan ayah memegangiku. Kupikir aku akan mati masuk jurang. Tetapi ayah tak akan membiarkan putrinya celaka ....”
Dia terdiam. Cairan bening luruh juga menuruni pipi. Dihirupnya napas dalam. Sepertinya ada sesuatu yang sedang membebani pikiran, sampai kemudian air matanya membanjir.
Sungguh, aku tidak suka suasana ini. Air mata wanita adalah hal yang paling kutakuti. Namun aku sadar, itu adalah bahasa universal yang dimiliki oleh seorang wanita. Rasa canggung menyeruak, sekejap aku tak tahu harus berbuat apa.
Aku masih benar-benar mematung, ketika Dahlia tiba-tiba memelukku, menumpahkan segenap air mata ke bahuku. Sungguh, perasaanku tidak karuan. Gemuruh jantung berdegup lebih kencang. Tetesan air mata luruh membasahi dadaku.
__ADS_1
Aku harus bagaimana?
***