
Pagi menyapa Kota Surabaya. Mentari menyembul dari balik awan dengan malu-malu. Selepas salat subuh, aku sudah siap mengenakan setelan baju terbaik. Bukan kelas diskonan dari pasar tumpah di lapangan kecamatan, atau baju bekas impor dari luar negeri. Rambut juga sudah disisir licin berpoles pomade pemberian Andre.
“Sudah bawa aja pomade itu. Nggak usah dikembalikan. Pomade adalah salah satu senjata ampuh untuk menghadapi cewek,” terang Andre.
Pelajaran pertama kudapat dari King of Love, yang terhormat Andre Dwi Yulianto. Pomade dapat menaikkan rasa percaya diri hingga beberapa level.
Aku manut.
Babak selanjutnya, aku sudah booking motor Farhan sedari pagi, sekaligus wanti-wanti agar jangan dipakai kemana-mana.
“Jangan lupa nanti diisikan bensinnya! Tinggal dikit aja tuh,” pesan Farhan sambil melempar kunci motor ke arahku. Dengan sigap kutangkap.
“Siap Bos!” jawabku percaya diri.
Posisi keuangan masih aman kalau hanya untuk membeli bensin. Paling cuma satu liter. Masih mahalan harga seporsi nasi padang lauk rendang.
Jarak antara Rungkut dan kampusku lumayan jauh. Apalagi jalanan di Surabaya agak ruwet. Belum lagi harus menjemput Laras di Terminal Joyoboyo. Mudah-mudahan jalanan tidak macet hari ini.
Sebelum pukul 07.00, aku sudah nangkring di atas motor pinjaman. Aku memarkir motor di depan para pedagang kaki lima yang pagi itu masih banyak yang tutup. Suasana terminal tidak terlalu ramai karena bukan hari kerja. Tak banyak orang berlalu-lalang. Padahal kalau pas jam-jam sibuk, terminal ini berubah barbar. Jumlah angkutan umum dan calon penumpang sungguh tidak berimbang, sehingga ketika mobil angkutan baru datang, puluhan calon penumpang sudah berjibaku demi mendapat satu kavling tempat duduk di angkutan kota yang tak nyaman.
Aku sudah berpengalaman dalam hal serobot-menyerobot. Apalagi kalau lawan mainnya ibu-ibu.
Kadang kondisi yang crowd ini membuat kita melupakan eksistensi kita sebagai manusia. Semua menjadi monster atau zombie yang tidak punya hati. Rasa kemanusiaan nyaris punah.
Sepuluh menit duduk, aku mulai tak nyaman. Pantat mulai terasa panas. Apalagi matahari juga mulai meninggi. Cahayanya yang lumayan panas mulai menciumi kulit. Gerah menyergap dari segala penjuru. Peluh sebesar biji jagung menetes di kening. Kulirik Seiko imitasi yang melingkar di lengan kanan. Sudah hampir setengah jam menunggu, namun Laras tak menampakkan batang hidungnya.
Atau mungkin tersesat?
Ada sedikit kekhawatiran, mengingat ini kali pertama Laras datang berkunjung ke Surabaya. Doktrin bahwa Surabaya bukanlah kota yang ramah buat pendatang baru sudah menjadi rahasia umum. Jangan sekali-kali bertampang innocent bila berkunjung ke kota ini kalau tidak ingin menjadi bulan-bulanan preman yang banyak berkeliaran di terminal.
Kurasa Laras tidak selugu yang aku kira. Dulu waktu kecil dia suka memanjat pohon mangga sambil meledekku karena tidak berani memanjat. Dalam memoriku, Laras dulu adalah seorang gadis kecil yang tomboy. Tak disangka, sekarang ia bermetamorfosis menjadi seorang gadis yang lembut dan anggun.
Empat puluh menit aku membusuk di atas motor Farhan yang butut ini. Tanda-tanda Laras datang juga belum ada. Kubuka telepon genggamku, siapa tahu ada notifikasi masuk dari Laras.
Zonk!
Malahan yang ada notifikasi pesan dari Dahlia yang bertumpuk-tumpuk karena tak kubalas. Bahkan ada lima kali panggilan tak terjawab.
Kubaca salah satu pesan Dahlia.
“Bi, tadi Mamah nyuruh aku ngantar sedikit makanan buatmu. Tapi kuketuk-ketuk kamarmu tidak ada yang jawab. Kugantung di pintu saja ya makanannya!”
Oh iya. Kemarin kan rumah keluarga Dahlia mengadakan pengajian. Sudah pasti banyak kue dan makanan. Dalam hati, terbersit rasa tidak nyaman. Keluarga Dahlia sudah terlampau baik kepadaku. Aku takut tak mampu membalas semua kebaikan itu.
Biarlah Allah yang membalas semuanya.
Laraaas, di mana kamu?
Mungkin bus-nya telat. Atau mungkin lain hal. Tetapi bukankah harusnya memberitahu?
Kuputuskan untuk menelepon Laras.
__ADS_1
Aku hendak menelepon Laras ketika seorang ibu dengan menenteng tas belanjaan yang sarat akan belanjaan datang mendekat. Rasa lelah terlukis di wajahnya. Kuurungkan niat menelepon.
“Pasar Turi berapa Mas?” tanya ibu itu.
Perlu mengumpulkan kesadaran untuk memahami pertanyaannya. Sejenak aku terdiam. Kulihat sepatu keren yang pagi ini kupakai. Lalu kemeja, celana dan potongan rambutku. Yang kudapat hanya kegantengan maksimal.
Maaf ya Bu, saya bukan tukang ojek! Batinku.
Bagian mana yang membuatku mirip tukang ojek? Aku tidak memakai jaket kulit imitasi. Kacamata hitam pun tidak. Sarung tangan apalagi.
Belum sempat kujawab, ibu ini tanpa permisi duduk di belakangku. Dengan tanpa berdosa ia menyandarkan keranjang belanjaan berisi dua kilo ikan bandeng di punggungku.
Silahkan bayangkan sendiri aromanya, saudara-saudara!
“Harga biasa aja ya! “ sambungnya lagi sambil melingkarkan lengannya yang berlemak ke pinggangku.
Apa yang harus kulakukan?
“Mohon maaf nggeh bu. Saya bukan tukang ojek,” ujarku dengan nada seramah mungkin.
“Mosok bukan? Kok motornya sama ya?” ucap si ibu setengah tak percaya. Matanya jelalatan melihat motor yang kutumpangi.
Busyet! Kok ngeyel sih?
Sepertinya aku salah pinjam motor hari ini. Harusnya aku meminjam motor Andre yang lebih berkelas. Motor Farhan sangat identik dengan motor butut yang dimiliki bapak di kampung!
“Nanti tak tambahi lima ribu wes....” si ibu mulai ngotot. Berasa memeluk pacar, kurasakan pelukannya semakin erat.
Golok! Mana golok!!
“Saya bukan tukang ojek, Bu. Mohon maaf sekali....” kesopananku mulai sirna.
“Kalau Ibu mau naik ojek di sana tempatnya. Itu lho, Bu. Yang banyak motor-motor berjajar di sana,” lanjutku sambil menunjuk ke arah sisi lain terminal yang memang menjadi pangkalan ojek.
“Wah kok jauh, Mas. Sampean saja ya yang ngantar saya?” pinta si ibu.
Aku mulai naik darah. Ibu mengerti bahasa manusia? Bagian mana dari kalimatku tadi yang mengatakan bahwa aku bukan tukang ojek?
Sayangnya, aku tak ingin berdebat. Hanya bisa menarik napas dalam-dalam sambil ber-istighfar.
Okelah. Aku cooling down.
“Aku lagi nunggu temenku, Bu. Nanti kalau temenku datang terus aku nggak ada, piye?” terangku.
Ibu itu terdiam. Mungkin mulai percaya kalau aku bukan tukang ojek. Matanya menatap tajam, seolah hendak menelanku bulat-bulat. Agak canggung aku dibuatnya. Pelan-pelan pelukannya merenggang.
“Sepurane yo Mas,” [ Maaf ya, Mas ] ucapnya malu-malu.
.
Wajahnya memerah. Dia sih enak main peluk perjaka ting-ting seperti aku.
__ADS_1
Lah aku?
Walaupun begitu aku mencoba tersenyum, mencoba memaklumi. Mungkin si ibu lelah hingga tidak bisa membedakan pria ganteng dengan tukang ojek.
Atau modus saja, Bu?
Drama tukang ojek itu berakhir. Si ibu melenggang pergi meninggalkanku. Sebelum pergi ia mengucap suatu kalimat yang membuat aku membumbung tinggi.
“Sampean ganteng Mas....” ujar si Ibu sambil senyum-senyum.
“Tolong Bu diulangi lagi....” aku merasa tak yakin dengan apa yang kudengar.
“Ganteeeng....” ulangnya sambil cengar-cengir.
Emang! Kok baru nyadar? Batinku.
Untuk memastikan apa yang diucapkan si ibu tadi benar, aku langsung mematut diri di kaca spion motor yang mulai memudar pantulannya. Apakah bayangan Leonardo di Caprio muncul lagi di sana?
Narsisme itu buyar seketika ketika teleponku berdering.
Oh, Laras menelepon.
“Laras? Sudah sampai mana?” jawabku cepat.
Sudah tak sabar ingin bertemu dengannya.
“Masih di Jombang, Mas. Mohon maaf ya Mas. Ternyata aku salah baca tanggal. Baru minggu depan aku ke Surabaya. Maaf banget aku nggak segera ngabarin karena kelupaan,” suara Laras terdengar datar.
Tanpa rasa bersalah.
“Nggak apa-apa Laras.....” kukatupkan geraham kuat-kuat.
“Jangan marah ya Mas Abi,” pintanya.
“Oh, ndak kok. Nyantai aja!”
“Makasih yo Mas,” tutupnya.
Sontak aku ingin berkata kasar, tetapi takut dosa. Belum jadi istri saja sudah merepotkan. Kuhirup napas dalam-dalam, kulepaskan perlahan.
Sabar ya, Bi. Perempuan mah gitu....
Untuk mengobati rasa kecewa, aku singgah di sebuah Cafe dan memesan makanan paling enak di tempat itu. Kuhabiskan saja uang pinjaman dari Dahlia.
Aku tak peduli!
Betapa apesnya diriku hari ini. Kasus pertama, disangka aku tukang ojek. Kasus kedua tiba-tiba Laras tidak jadi datang ke Surabaya. Padahal persiapanku sudah all out.
Mimpi apa ya aku semalam?
Minggu depan kalau Laras benar datang ke Surabaya, maka aku akan mengajukan permohonan hutang jilid dua kepada Dahlia!
__ADS_1
***