
Minggu pagi yang sedikit berawan di awal bulan Oktober, aku dan Darwis pergi menghadiri pertemuan pertama untuk para member Victory English Club. Awan cumolonimbus bergerombol di langit selatan membentuk jamur raksasa yang menakutkan.
Angin berhembus lembut membelai rambutku yang tak tersisir rapi. Pertemuan dimulai jam delapan pagi dan aku baru bangun pukul setengah delapan!
Sungguh disiplin, bukan?
Acara sengaja diadakan di ruang terbuka, tetapi masih di area kampus. Kebetulan di dekat GOR, terdapat sebuah lapangan rumput yang banyak ditumbuhi pohon ketapang di sekelilingnya. Kami duduk melingkar di bagian lapangan berumput yang teduh.
Bersama kami, ada juga beberapa mahasiswa dari jurusan lain yang belum pernah terlihat sebelumnya. Acara pada pagi hari ini adalah Welcome Party bagi para anggota baru. Artinya, akan ada sesi perkenalan.
Jujur, sesi berbicara di depan publik seperti ini membuatku nervous bukan kepalang. Jangankan di depan komunitas seperti ini, mengungkapkan perasaan saja aku tidak biasa. Tiba-tiba perut merasa mules, seperti serangan mag mendadak. Jantung berdetak tak karuan. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis. Kandung kemih tetiba penuh. Tetapi rasanya tidak bisa lari dari kenyataan pahit ini.
Yah, inilah sisi terlemahku. Berbagai pikiran buruk mulai meracuni otak. Yang utama, pasti takut salah bicara atau berbuat konyol. Apalagi sesi introduction ini diwajibkan untuk menggunakan Bahasa Inggris. Sedangkan memakai Bahasa Indonesia saja berlepotan. Ini akan menjadi tantangan berat.
Bismillah. Ini cobaan.
Satu persatu mereka memperkenalkan diri. Bahkan Darwis sudah mendapat giliran. Bahasa Inggrisnya memang jauh dari sempurna. Bukan British English yang dia pakai, tetapi Javanese English! Namun rasa percaya diri yang ia miliki patut mendapat acungan jempol. Dia mampu menyampaikan secara komunikatif dan cukup mencairkan kebekuan suasana.
“Next!” suara Dahlia Sukmawati, selaku moderator membuatku hampir terloncat dari tempat duduk.
Oh, ternyata sudah giliranku.
Ya Allah, tolonglah hamba-Mu ini!
Aku melangkah ragu-ragu ke tengah lingkaran. Beberapa pasang mata menatap bagai serigala liar. Kaki terasa bergetar hebat. Lidah terasa kelu. Otak tak dapat bekerja dengan benar. Kondisi ini mirip dengan terdakwa yang sedang menunggu vonis dari hakim. Degup jantungku berloncatan kemana-mana.
Bolehkah aku ngompol di sini? Sekarang, kalau boleh....
Semenit. Dua menit. Tiga menit. Mulutku masih terkatup rapat. Dalam kondisi seperti ini, ketenangan sangat dibutuhkan.
Anggap yang didepanmu itu semut.
Itu teorinya. Tapi sayangnya otakku langsung tersugesti.
Mereka bukan semut!
Baiklah.
Diam bukan solusi. Ini sama saja dengan menelanjangiku sendiri di depan publik. Menarik napas dalam-dalam mungkin akan membantu. Sambil berdoa dalam hati. Kurasa aku tidak boleh sedikitpun melirik ke arah Dahlia Sukmawati. Tatapan matanya menebar teror yang tak berkesudahan.
Aku mulai berbicara. Awalnya agak ragu-ragu, tetapi lama-lama mulai lancar. Nama lengkap, asal kota, jurusan, hobi sampai status kusebutkan dengan Bahasa Inggris. Darwis menatap tak percaya! Sungguh, awalnya aku menganggap ini adalah mimpi buruk.
Ternyata tak seburuk itu.
Alhamdulillah.
Setelah selesai berbicara, kulirik Dahlia Sukmawati. Senyum aneh tersungging di bibirnya. Siapa yang peduli dengan apa yang dipikirkannya? Aku hanya ingin cepat duduk.
Lima menit di depan, serupa dengan lima abad!
“Give applause to Mr.Abimanyu!” perintah Dahlia. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Sebenarnya dia cukup manis kalau mau tersenyum.
Semua bertepuk tangan.
Ada rasa sejuk memenuhi rongga dada seketika. Ini pertama kali dalam hidup, orang bertepuk tangan kepadaku. Dahulu, waktu masih SD walaupun sering mewakili lomba di tingkat kecamatan, tak ada yang bertepuk tangan. Aku hanya diberi permen dan sejumlah uang saku.
Sehabis acara, Dahlia mendekatiku. Aku mempunyai firasat buruk. Tetapi, sepertinya memang ada hal penting yang hendak ia bicarakan.
“Kamu duluan aja, Dar!” kataku pada Darwis.
Darwis mengangguk, sambil senyum-senyum. Aku tahu arti senyuman itu. Kurang lebih artinya ‘Selamat bersenang-senang!’
Awas nanti!
__ADS_1
“Boleh nggak minta waktunya sebentar?” tanya Dahlia.
“Boleh kok.... ” jawabku ragu-ragu.
Penyakit lamaku mendadak kambuh jika berhadapan dengan perempuan. Tak peduli seperti apa perempuan itu, detak jantung selalu menjadi tak beraturan. Tidak peduli perempuan itu secerdas Lusi atau selembut Laras.
Lebih-lebih model seperti Dahlia!
Kami duduk di sebuah bangku di bawah pohon. Tapi ingat, ini bukan kencan! Ini murni pembicaraan bisnis atau semacamnya. Aku berharap tak ada seorangpun melihatku duduk dengan Dahlia.
“Bahasa Inggrismu cukup bagus,” kata Dahlia.
“Terima kasih,” jawabku datar.
“Mau bantuin aku nggak?”
“Bantuin apa?”
“Mmmm. Translate sih. Ada waktu nggak? Kebetulan banyak temen yang minta bantu translate. Cuman karena terlalu banyak, aku nggak bisa kerjakan sendiri. Aku sudah tawarkan sih ke beberapa temen cuman mereka juga sibuk. Siapa tau kamu bisa. Lumayan. Per lembarnya Rp1300,00” terang Dahlia.
Aku? Nggak salah orang nih?
Awalnya seperti tidak percaya Dahlia memilihku untuk membantu dia. Sebenarnya tugas kuliahku juga banyak. Tetapi, tawaran Dahlia juga berarti peluang. Tidak semua orang diberi kehormatan ini oleh seseorang sekelas Dahlia.
Dahulu, waktu SMA aku suka menerjemahkan bacaan-bacaan berbahasa Inggris menjadi Bahasa Indonesia. Selain itu, banyak lagu-lagu asing milik Bryan Adams, Bon Jovi atau Westlife yang kuterjemahkan juga. Mungkin ini kesempatanku untuk menjadi translator.
Lagipula fee yang ditawarkan cukup menggiurkan. Kalau satu anak memberi job 50 halaman saja, sudah cukup lumayan. Uangnya bisa untuk menambah variasi makanan anak kost. Bukan sekedar mi instant yang bertabur monosodium glutamat.
Semoga aku bisa menyisihkan waktu untuk itu.
“Aku coba ya.... ” jawabku kemudian.
“Masalahnya aku tidak suka coba-coba! Kalau iya iya kalau tidak ya tidak!” tegas Dahlia.
“Baik. Aku mau bantu kamu!”
Secercah senyum kembali menghiasi wajahnya yang seangker Kuburan Tanah Kusir. Melihat senyum itu bagai melihat matahari yang muncul di tengah badai.
Dahlia memberiku nomor telepon genggamnya agar mudah berkomunikasi. Ini adalah murni hubungan bisnis. Bahkan untuk berteman dengan Dahlia, akan berpikir seribu kali.
Tetapi, di balik hubungan bisnis itu terselip sedikit rasa khawatir. Bagaimana kalau teman-temanku tahu aku dekat dengan Dahlia? Pasti aku akan mendapat serangan secara mental!
Terutama Doni.
Mulut Doni serupa kobra yang berbisa dan mematuk kapan saja. Rahasia ini harus kupegang rapat-rapat.
Peduli amat!
Toh aku tidak meminta uang kepada mereka. Ini murni bisnis. Tak ada pembicaraan pribadi antara aku dan Dahlia.
Benar saja.
Esoknya, Darwis mulai kepo. Ia menghujani dengan serentetan pertanyaan saat aku sedang khusyuk menghabiskan es kacang ijo seharga goceng.
“Kalian ngomongin apa sih? Serius banget kemarin?”
“Bisnis aja kok,” jawabku singkat.
“Bisnis? Bisnis apa? Jualan celana dalam online?”
“Sembarangan aja deh!”
“Terus apa dong!”
__ADS_1
“Udahlah nggak usah kepo!”
“Jangan-jangan kalian.... ”
“Apa?”
“Hayoo ... ngomongin apa hayooo!” ledek Darwis.
“Naudzubillah! Nggak kali.... " aku bisa membaca apa yang bercokol di otaknya.
“Aku penasaran tahu!”
“Beneran kamu pengen tahu?”
Darwis mengangguk.
“Ikut aku ketemu sama dia siang ini di perpustakaan pusat.”
Siang itu juga, aku dan Darwis menemui Dahlia di lantai tiga perpustakaan pusat.
Gadis itu tampak serius melalap bertumpuk buku yang ada di hadapannya. Kehadiran kami nyaris tak diperdulikan. Ia hanya melirik sekilas, kemudian memberiku setumpuk kertas.
“Empat puluh dua halaman. Waktunya seminggu saja. Sanggup?” nada suara Dahlia begitu tegas.
“Sanggup! " aku menjawab tak kalah tegas.
Darwis melongo. Bisnis apa pula ini?
Dipikirnya kami sedang berbinis narkoba.
“Oke. Deal. Temui aku lagi di sini minggu depan. Jam 12 siang. Tidak telat!”
Aku mengangguk.
Pertemuan bisnis itu berakhir. Darwis masih takjub seolah tak percaya. Tapi aku tidak peduli. Yang penting sekarang, aku harus fokus mengerjakan setumpuk kertas ini.
“Hebat kamu, Bi!” puji Darwis.
Aku tersenyum.
“Traktiran dong!”
“Helaaah. Dikerjakan saja belum sudah minta traktir!”
Darwis tertawa.
“Bi.... "
“Apa?”
“Bagaimana kalau Dahlia suka kamu?”
“Nggaklah! Tipenya bukan yang seperti aku,” jawabku.
“Bisa jadi loh!”
“Nggak!”
Sebenarnya, bukan tanpa alasan aku menerima tawaran Dahlia. Aku ingin tabung uangnya untuk biaya perjalanan ke Malang. Entah kenapa, rasa penasaran pada Lusi membuatku ingin sekali bertemu dengannya. Sekali mungkin cukup, hanya ingin memastikan bagaimana sebenarnya perasaannya padaku.
Itu saja.
Menurutku Dahlia adalah kesempatan sebagai batu loncatan!
__ADS_1
***