DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LVII : Dewa Penolong


__ADS_3

Terik matahari membakar permukaan bumi, ketika kami sampai di Surabaya. Panasnya menggigit-gigit kulit, memeras peluh di sekujur tubuh. Kami turun di Stasiun Wonokromo, kemudian melanjutkan perjalanan ke kontrakan dengan menggunakan taksi.


Sengaja aku tidak memilih angkutan kota agar bisa lebih nyaman menikmati perjalanan. Angkutan kota di Surabaya identik dengan suasana pengap dan penuh sesak. Tak tega rasanya melihat emak menderita lahir batin dalam kendaraan seperti itu.


Setelah sampai di kontrakan, aku sudah dikejutkan dengan kondisi kamar yang mirip kapal pecah!


Pintunya terbuka dan terlihat kasur yang acak-acakan seperti habis digeledah. Beberapa barang berserak tidak pada tempatnya. Sayangnya aku tak dapat bertanya pada siapa pun, karena kondisi kontrakan yang sepi. Farhan dan Doni masih pulang kampung, sedang Andre sudah pasti kelayapan. Lagipula, ia juga jarang tidur di kontrakan. Seperti biasa ia melanglang-buana ke segala penjuru kehidupan malam.


Dengan perasaan was-was, aku melangkah ke dalam kamar. Aku teringat, uang tabungan hasil mandi keringat selama beberapa pekan terakhir, kusimpan dalam bekas kaleng biskuit. Langsung aku cari kaleng biskuit ke seluruh pelosok kamar.


Nihil.


“Kok kamarmu berantakan, Bi?” tanya emak tanpa curiga sedikit pun.


Aku tak menjawab.


Demikianlah, emak selalu berpikir positif dengan apa pun yang terjadi. Pikiranku sudah mengembara ke mana-mana. Aku merasa seluruh tulangku bagai dilucuti, tanpa daya upaya untuk bisa kembali berdiri. Di depan emak, aku pura-pura tak terjadi apa-apa. Takutnya beliau cemas. Padahal aku yakin, kamarku telah dibobol maling.


Uang tabunganku raib tak berbekas!


Sebenarnya ini salahku juga karena kurang cermat dalam menyimpan uang. Ketika teman-teman lain menggunakan jasa bank untuk menyimpan uang, aku lebih suka menggunakan cara kuno. Kaleng bekas biskuit kututup mati dengan selotip, kemudian kulubangi tutupnya menjadi semacam celengan. Sangat konvesional dan anti mainstream.


Setelah mengatur napas, aku mulai merapikan kamar yang berantakan, sambil mengecek barang lain yang mungkin digondol maling tak bermoral itu. Kipas angin tua tetap berdiri angkuh di meja, tak terjamah. Walaupun dibuang di tempat sampah, aku yakin tak seorang pun mau mengambil kipas angin tua ini. Sementara, radio usang warisan bapak juga masih di tempatnya. Maling itu tak berminat menngambil barang-barang lainnya.


“Kamarku habis dibuat tidur temanku, Mak,” ujarku memberi alasan.


“Lah, katanya pada libur?”


“Ada yang nggak pulang kok, Mak.”


Aku mengecek semua kamar di kontrakan, ternyata kamar yang lain aman sentausa tak berkurang suatu apa. Hanya kamarku yang dibobol maling. Tega nian maling itu membobol mahasiswa miskin seperti aku. Padahal di kamar Andre atau Doni ada barang-barang lain yang cukup menggiurkan.


Ah, apes!


Uang tabungan yang sedianya akan kupakai untuk mengajak emak dan Weni jalan-jalan kini lenyap. Pikiranku buntu, dan tak tahu harus berbuat apa. Aku lebih banyak diam, sambil memikirkan cara untuk mendapat uang.


Mungkin karena lelah, emak tertidur di kasurku, sementara Weni menonton TV. Ini kesempatan untuk keluar sebentar. Di teras, aku menelepon Dahlia. Persetan mau dicap memanfaatkan kebaikan Dahlia atau apa pun.


Terserah.


Saat ini yang ada dalam pikiran adalah bagaimana cara berbakti dan membahagiakan orang tua dan adikku.

__ADS_1


Dahlia adalah nama pertama yang muncul di ingatan. Paling tidak di situasi darurat seperti ini, aku bisa minta tolong dia. Tidak mungkin aku meminta bantuan Laras yang baru saja merintis kerja. Mungkin dia sama melaratnya dengan diriku. Siapa lagi yang kukenal? Mas Jono? Tentu tidak. Aku juga sudah banyak merepotkan keluarganya.


Satu-satunya harapanku adalah Dahlia Sukmawati.


Tuuut!


Tuuut!


Nada panggilan masuk, lalu terdengar bunyi seorang wanita yang sangat akrab di telinga.


“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan area bla..bla...”


Aku mendesah kecewa. Kalau tidak tersambung dengan Dahlia, maka tamat riwayatku. Padahal uang di dompet hanya cukup untuk membeli makan malam saja.


Apa yang harus kulakukan?


Dengan pikiran kalut, aku duduk di kursi teras sambil memutar otak bagaimana caranya agar mendapatkan bantuan dana segar. Jauh-jauh emak dari Jombang, tak mungkin hanya kusuruh rebahan di kamar dan menonton TV. Apalagi kalau kulihat wajah Weni yang sendu. Bisa-bisa air mataku ini luruh!


Maafkan kemiskinanku ya, Mak!


“Nanti malam kita jalan-jalan kan, Mas?” tanya Weni yang muncul tiba-tiba muncul di belakangku.


“Ke mall ya, Mas. Aku pengen beli boneka beruang yang besar itu lho. Di Jombang tidak ada. Anaknya Pak Lurah punya, katanya beli di Surabaya. Nanti belikan ya, Mas!” pinta Weni.


“Teddy Bear?”


“Iya Mas.”


Aku mengangguk, sambil memaksakan seulas senyum tersungging di pangkal bibir.


Tak ada yang salah dengan permintaan polos Weni. Dia juga berhak bahagia. Batin ini teriris ketika melihat dia tak bisa memperoleh mainan yang disukainya. Aku bersumpah akan membelikan boneka itu.


Bagaimanapun caranya!


Setelah Weni masuk ke kamar, kembali aku mencoba menelepon Dahlia. Sepertinya kali ini dewi fortuna lagi sayang kepadaku. Baru satu nada panggilan, telepon sudah diangkat. Sayangnya aku tidak memulai dengan berbasa-basi. Langsung saja kuceritakan kemalangan yang menimpaku dengan kalimat berbata-bata. Semua kuceritakan dengan apa adanya, tanpa rekayasa. Tidak seperti acara reality show yang diputar di televisi yang ditaburi air mata palsu. Kuceritakan pula kronologisnya dengan detail, termasuk kedatangan emak dan Weni.


“Ya Allah, Bi ...,” sesal Dahlia.


“Aku bingung sekali, Dahlia. Simpananku semua lenyap. Padahal aku ingin sekali ngajak emak dan Weni jalan mumpung di Surabaya. Cuman dua hari saja mereka di sini. Kapan lagi? Kalau hari-hari kuliah aku juga sibuk,” tuturku dengan sedih.


“ Ya udah nggak usah bingung. Ikhlaskan saja uangmu yang hilang itu, Insya Allah akan diganti dengan rezeki yang lebih baik. Masalah emak dan Weni nggak usah khawatir,” ujar Dahlia.

__ADS_1


Alhamdulillah!


Setitik pijar lentera langsung menyinari hati yang gulita ini. Ingin kucium punggung tangan Dahlia untuk berterimakasih, sayangnya kami hanya mengobrol lewat telepon.


“Terima kasih Dahlia. Entah apa jadinya kalau nggak ada kamu,” ucapku.


“Terus emak dan adikmu rencana mau nginap di mana?”


“Ya di kamar kontrakanku,” jawabku.


“Ya Allah, kamar kontrakanmu sempit dan bau gitu lho!”


Aku tidak marah dengan perkataan Dahlia. Memang faktanya kamarku sempit dan bau. Malu sebenarnya mengajak emak tidur di kamar yang tak layak seperti itu. Kami memang orang kampung, tetapi untuk urusan tidur, tidak bisa sembarangan juga.


“Udah habis ini aku jemput! Suruh tidur di rumah saja. Banyak kamar kosong kok! Nanti jalan-jalannya biar aku yang antar, nggak usah naik angkot. Ntar emak disleding preman lagi!” ajak Dahlia.


“Jangan Dahlia! Nanti malah ngrepotin ...,” pintaku.


“Nggak repot! Tambah repot ntar kalo emak sampai sakit gara-gara terkontaminasi hawa beracun di kamarmu!”


“Udah biasa, Dahlia!”


“Nggak! Pokoknya setengah jam lagi kujemput. Udah siap-siap sana!”


Sabda Kanjeng Ratu Dahlia adalah perintah yang nggak bisa ditolak. Mau tak mau, dengan segera kukemasi lagi baju emak yang sudah terlanjur di keluarkan. Emak menatap dengan heran.


“Kok dimasukkan lagi, Bi?” tanya emak.


“Kita mau tidur di rumah temanku, Mak.”


“Loh, siapa? Nanti malah repot ...,” cemas emak.


“Nggak kok, Mak. Dia sudah kayak saudara. Dia yang maksa agar emak dan Weni bisa tidur sana,” terangku.


“Padahal aku mau jenguk Laras,” kata emak.


Aku tak menjawab. Pikiranku tak karu-karuan. Urusan Laras kutepis jauh-jauh. Jangan sampai suasana liburan rusak lagi gara-gara hubungan kusut ini. Yang jelas, satu masalah sudah teratasi. Emak dan Weni tidak akan terlantar dan bisa menikmati kota Surabaya.


Dahlia Sukmawati, my real Dewa Penolong!


***

__ADS_1


__ADS_2