
Kembali ke Surabaya, kembali ke dunia nyata yang penuh tantangan. Derai tawa dan kegembiraan bersama sahabat sudah berakhir. Aku kembali dihadapkan dengan serentetan rutinitas yang padat. Pagi-pagi setelah selesai sarapan selembar roti tawar dan olesan selai blueberry, aku segera tancap gas ke kampus untuk menguji logam di laboratorium pengujian logam.
Mengerjakan tugas akhir seperti ini, aku benar-benar merasa sendirian. Bukan karena tidak ada teman yang membantu, tetapi karena pada saat-saat seperti ini mereka berjuang sendiri-sendiri. Aku jarang bertemu dengan teman satu kampus. Pokoknya kegiatan tugas akhir ini benar-benar menyita waktu.
Sesampai di kontrakan, aku kembali berkencan dengan layar komputer, menyelesaikan ketikan. Besoknya kembali ke kampus untuk praktik, kemudian janjian dengan Pak Kusumo. Demikian alur yang kulakukan setiap hari, sehingga rasa bosan benar-benar bercokol tak terhindarkan. Ruang untuk urusan pribadi nyaris tak ada. Dalam kepalaku terasa penuh dengan logam, logam dan logam.
Hal yang paling menyedihkan saat ketikan sudah dapat berlembar-lembar, tiba-tiba listrik mati! Entah umpatan apa yang harus kulontarkan, karena ketikan itu raib karena belum sempat di-save. Alamat aku harus lembur sampai dini hari. Sebab, kalau hal itu kutunda maka jadwal yang lain juga ikut tergeser.
Lembur malam sebenarnya juga sudah sering kujalani. Bahkan aku sudah menyiapkan kopi dalam jumlah lumayan. Kafein yang terkandung di dalamnya, benar-benar efektif untuk menjaga mata ini tetap terbuka.
Dalam sebuah perjuangan, tak afdol rasanya bila tak ada rintangan yang menghadang. Sebenarnya tantangan yang terbesar datang bukan dari faktor eksternal, melainkan faktor dari dalam. Rasa malas kadang bersemayam, seolah menjadi kanker yang menggerogoti pelan-pelan. Kalau rasa malas sudah melanda, mau dipaksa dengan cara apa pun, tentu tak berjalan maksimal. Ketikan jadi berantakan karena bertabur typo dan kesalahan.
Untuk mengembalikan mood, bukanlah perkara gampang. Kalau punya pacar, mungkin bisa saja bertelepon ria atau memajang fotonya sebagai penyemangat. Sayangnya aku tidak punya siapa pun. Bertelepon dengan siapa? Nyaris tak ada yang menyenangkan untuk diajak bercengkrama dalam telepon. Dahlia? Dia bukan tipe romantis untuk diajak bermanja-manja lewat telepon. Jawabannya pendek-pendek dan membosankan. Lebih baik mengobrol langsung kalau berbicara dengan dia.
Membicarakan Dahlia, bagai menyusuri sebuah jalan berliku tiada berujung. Tak habis-habis, tak ada ujung pangkal. Sampai dengan detik ini, aku masih berusaha menyingkap misteri besar dalam hidupnya. Ketika banyak yang memilih menghindari, aku malah terseret masuk ke dalam hidupnya yang penuh tanda tanya. Kehilangan adik dan ayah sekaligus dalam suatu kecelakaan bukanlah hal mudah untuk dilewati. Tak heran ia menutup diri seperti itu.
Kusudahi memikirkan Dahlia. Tak berani aku melambungkan perasaan terlalu tinggi, sebab aku paham apabila jatuh akan babak belur. Cukup sudah aku menaruh harapan pada Lusi, yang kuharap akan membalas rasaku. Namun ternyata kisah yang tertulis tak sesuai harapan. Aku tersingkir dari arena perang, tanpa tanding yang sepadan. Lusi, si putri cantik itu seolah diculik kstaria dari lembah kegelapan yang berkuda garang, bertopeng iblis.
__ADS_1
Cukup sudah berhalusinasi!
Siang itu, seperti biasa terik sang surya menjilat permukaan bumi Surabaya. Tak ada naungan awan seperti biasanya. Langit bagai hamparan permadani biru luas membentang. Aku berencana pulang lebih awal, karena mendadak kepala terasa mau pecah. Bukan pusing, tetapi seperti berdenyut-denyut. Mungkin ini efek kurang tidur, jadi kepala terasa sakit sebelah. Aku rasa sedikit berbaring akan meredakan rasa sakit. Ada sebenarnya obat pereda nyeri, tetapi lebih baik istirahat saja.
Aku sudah hendak memasuki kontrakan, ketika tiba-tiba seorang pria berdiri menunggu di depan pintu. Dilihat dari parasnya, aku seperti pernah bertemu, tetapi lupa di mana. Aku mencoba mengumpulkan memori-memori yang sempat berserak, mencari potongan peristiwa yang mungkin tercecer entah kemana.
“Mas Abi?” tanya pria itu.
“Iya Mas. Mencari saya?” Aku balik bertanya.
“Iya Mas Abi. Masih ingat saya nggak? Saya Arbie, kakaknya Inneke.”
“Oh. Tentu saja Mas Arbie. Saya masih ingat sekali. Mas Arbie kan ikut nolongin saya malam itu. Saya bener-bener nggak nyangka Mas Arbie ada di di sini. Pasti ada sesuatu yang penting atau bagaimana nih?” tanyaku penasaran.
“Bener Mas. Untung sampeyan masih ingat. Saya kesini mau minta tolong Mas Abi. Karena saya bingung mau minta tolong mau minta tolong siapa,” ujat Mas Arbie dengan wajah cemas.
“Oh, iya Mas. Minta tolong apa ya?”
__ADS_1
“Gini Mas, saat ini kondisi Andre lagi tak sadarkan diri. Dia kecelakaan motor tadi pagi di daerah Ahmad Yani dekat Graha Pena. Cuma karena belum sadar, saya bingung mau hubungi siapa. Inneke sudah nangis-nangis dari pagi. Mungkin Mas Abi tahu nomor telepon orangtuanya atau keluarga yang bisa dihubungi? Untuk saat ini kami yang mengurus semuanya, Mas.”
Ucapan Mas Arbie sungguh mengagetkanku. Bagaimana tidak? Baru kemarin kami bersenda-gurau di pesta pernikahan Farhan dan Dina, sekarang malah ia kecelakaan. Sontak berita itu membuatku gugup. Pikiraan buruk langsung berkecamuk dalam otak.
“Hah? Aduh gimana ini, Mas? Sekarang Andre di mana?” tanyaku dengan gugup.
Mendadak aku tak merasakan rasa sakit di kepala. Berita yang baru kuterima ini luar biasa mengejutkan. Andre, adalah salah satu sahabat terdekatku. Bahkan aku banyak belajar masalah cinta dan cara menghadapi perempuan kepadanya. Mendengar hal buruk tentangnya tentu sangat memukul perasaanku.
“Tenang Mas. Andre kondisinya masih stabil, walau belum sepenuhnya sadar. Dia sekarang dirawat di UGD Rumah Sakit Bhayangkara. Kalau Mas Abi punya nomor keluarganya saya minta, soalnya saya tidak bisa tanya ke Andre,” ucap Mas Arbie.
Tanpa menunggu perintah dua kali, segera kucari nomor telepon ayah Andre. Sebenarnya aku tidak pernah menyimpan nomor itu, tetapi untunglah di kontrakan kami sudah menerapkan hal bagus, yaitu menulis nomor yang bisa dihubungi apabila dalam kondisi darurat. Nomor itu ditulis, dan ditempel dekat TV agar semua orang leluasa membaca.
Segera kusalin nomor ayah Andre dan kuberikan pada Mas Arbie. Perasaanku masih tak karuan. Di kontrakan hanya tinggal aku seorang. Doni masih sibuk berberes di kampung halamannya, Farhan juga sedang menikmati menit-menit awal sebagai pengantin baru. Praktis hanya tinggal aku, karena Andre sudah pasti akan menjalani rawat inap di Rumah Sakit.
“Mas, saya minta nomor ruangannya ya. Nanti saya mau jenguk!” pintaku.
“Oh, iya. Nanti saya kasi lewat SMS saja ya.”
__ADS_1
Aku mengangguk. Mas Arbie segera berpamitan pulang. Niat untuk berbaring kuurungkan. Pikiranku masih terpaku pada Andre yang kini terbaring tak berdaya di rumah sakit. Padahal setahuku, beberapa hari lagi ia akan mengadakan prosesi ijab kabul dengan Inneke. Namun malang tak ditolak, untung tak dapat diraih. Semoga dia segera pulih kembali sehingga bisa mewariskan ilmu cintanya kepadaku.
***