DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LX : Breakfast


__ADS_3

Sambutan keluarga Dahlia yang begitu hangat, sungguh membuatku canggung. Mamah Dahlia menyambutku seolah pangeran dari Saudi Arabia yang berkunjung ke tanah air. Diusapnya rambutku dengan perasaan sayang. Bahkan emak juga terpana melihat keakraban kami, seolah keluarga jauh yang lama tak bertemu.


Rumah Dahlia yang megah cukup membuat emak dan Weni terkesima. Di kampung kami, jarang ada rumah sebesar ini. Interior dan pernak-pernik yang mewah tak lepas dari pujian emak. Selama ini beliau cukup akrab dengan interior sederhana di rumah kami di Jombang. Wayang kulit berbagai karakter terpajang di dinding, beserta gambar wali songo yang dibeli dari pasar malam. Sementara dinding bata merah masih terlihat telanjang karena belum diplester. Itulah kemewahan yang kami miliki.


Walaupun begitu, rumah itu adalah tempat ternyaman di dunia. Tak ada air conditioner seperti di ruang tengah rumah Dahlia. Ataupun vas-vas bunga antik yang berharga jutaan rupiah. Rumah kami hanya dihiasi pot berisi bunga kuping gajah dan beberapa pot tanaman sansaviera.


Karena hari sudah cukup larut, kami dipersilakan istirahat dalam kamar tamu yang mirip kamar hotel berbintang. Tidak berbintang lima, tetapi kurasa cukup membuat nyaman. Kamar mandi juga berada di dalam. Instingku tiba-tiba mengatakan harus memeriksa kamar mandi tersebut.


Syukurlah, toilet jongkok!


“Emak dan Weni tidur di atas saja, biar saya tidur di karpet bawah,” ujarku sambil menyusun bantal di atas karpet.


“Nanti kamu masuk angin?” tanya emak.


“ Ah, biasa! Kalau di kontrakan malah saya tidur di lantai nggak pakai baju kok, Mak!” kataku.


Menurutku, Surabaya adalah kota yang teramat panas. Di dalam kamar akan terasa seperti dipanggang apabila tidak menggunakan kipas angin. Kadang walau sudah memakai kipas angin, tetap saja aku tidur di lantai sambil bertelanjang dada!


“Eh, jangan sembarangan loh! Nanti kalau kamu sakit nanti emak juga yang repot. Kalau di Jombang kan ada yang ngerokin, lha kalau di sini, siapa yang mau ngerokin?” celoteh emak.


"Iya Mak, iya ....”


Malam kian menepi menuju pagi. Tak lama, emak dan Weni sudah dibuai mimpi. Dengkur emak terdengar jelas di telinga, sementara Weni juga sudah pulas terlelap di samping emak. Hanya aku yang tak dapat memejamkan mata. Padahal kamar ini terasa nyaman , tidak panas seperti di kontrakan.


Entah mengapa, aku lebih merindukan kamar di kontrakan. Di sana, aku bisa menggelinjang sepuasku tanpa seorang pun melarang. Bahkan sekali pun aku tidur tanpa sehelai benang, juga tak ada yang protes.


Kamar kontrakan adalah simbol kemerdekaan berekspresiku.


Pagi mengetuk kamar kami dengan sinar mentari keemasan menerobos dari jendela. Emak sudah bangun sejak pukul empat untuk melaksanakan salat tahajud, saat aku masih bercumbu dengan mimpi indah. Setelah semua siap, kami dipersilakan untuk sarapan di ruang makan yang lapang.


Mamah Dahlia dan emak cepat akrab. Begitulah, ketika dua perempuan yang sama generasi bertemu. Mereka kembali bernostalgia, mengingat kenangan masa muda yang manis walaupun tidak pernah saling bertemu. Kubiarkan mereka memuaskan hasrat ghibah-nya.


Tak lama acara sarapan dimulai, dengan lembar-lembar roti tawar, segelas susu dan telur rebus. Aku membantu emak mengoles selai, walaupun tidak tahu yang mana selera emak. Banyak sekali pilihan rasa selai yang disajikan, hingga membuatku agak bingung. Kurasa yang kuning adalah selai nanas, yang merah adalah selai stroberi, yang ungu mungkin blueberry, ada pula yang hijau. Mungkin selai pandan. Adapula selai kacang. Terlihat dari teksturnya yang lengket dan kasar.

__ADS_1


Agak canggung Weni melayani diri sendiri. Tetapi semua berjalan dengan baik. Emak terlihat menikmati setangkup roti isi selai, telur rebus dan segelas susu. Suasana sarapan cukup hangat dan akrab, diselingi obrolan-obrolan ringan.


“Mak, seminggu saja tinggal di sini,” pinta Dahlia sambil mengunyah porsi sarapan yang kedua. Maklum, sedang menerapkan program diet aneh.


“Waduh. Bukannya ndak mau Mbak Dahlia, tapi nanti ndak ada yang ngurus rumah dan sapi-sapi,” kata emak sambil meneguk susu.


“Padahal pengen belajar masak sama Emak loh,” kata Dahlia.


“Iya, nanti kapan-kapan Mbak Dahlia main di Jombang. Nanti kita belajar masak ya!” tawar emak.


“Serius nih, Mak!” Dahlia terlihat girang mendengar tawaran dari emak.


Aku menyimak pembicaraan itu dengan saksama.


“Iya. Monggo ibu juga diajak biar tahu rumah emak di Jombang. Tapi ya mohon maaf, mungkin nggak sebagus rumah Mbak Dahlia. Berantakan. Mbak Dahlia kan pernah berkunjung ke sana.”


“Ah, sama aja kok Mak!” celetuk Mamah Dahlia.


Seusai sarapan, Mamah Dahlia minta izin untuk berangkat menengok ke toko bangunannya. Hal itu memang kegiatan rutin Mamah Dahlia tiap hari. Toko bangunannya cukup sibuk, tak heran wanita paruh baya itu juga ikut tersita waktunya untuk mengurusnya..


“Kapan to Bi sarapannya?” celetuk emak tiba-tiba.


“Lah, tadi kan sudah makan roti.” Agak heran aku mendengar pertanyaan emak.


“Lho, tadi sarapan to?” tanya emak lagi.


Sekejap saja aku langsung paham maksud emak. Bagi emak, sarapan pasti identik dengan nasi. Jadi agak aneh rasanya sarapan hanya dengan menggunakan roti. Emak belum menganggap sarapan kalau belum ada nasi yang masuk ke perutnya.


Seperti kebanyakan perut orang Indonesia.


“Emak masih lapar?” tanyaku.


“Kupikir kita tadi akan makan nasi pecel . Perutku agak sakit, karena nggak cocok makan roti. Seperti ada yang kurang gitu ....”

__ADS_1


“Ya udah. Kubelikan pecel ya?”


Dasar emak!


Dengan geli, kuceritakan apa yang dirasakan emak pada Dahlia. Gadis itu justru merasa tidak enak. Dia tidak tahu kalau emak harus sarapan menggunakan nasi untuk sarapan.


“Aduh aku jadi nggak enak, Bi. Tadi harusnya kutanyain dulu ya emak mau sarapan apa. Kan kalian tamu. Atau tadi harusnya kumasakin nasi goreng,” sesal Dahlia.


“Emang kamu bisa masak nasi goreng?” cibirku.


“Taruhan kah? Ntar kalau nggak enak, kutraktir makanan apa pun yang kamu suka. Tapi kalau enak, kamu yang harus traktir aku. Gimana?” tantang Dahlia.


“Nggak usah!” tolakku.


“Bilang aja nggak berani!” Dahlia balas mencibir.


Dahlia menyuruh Bik Sari, perempuan yang biasa mencuci dan menyetrika di rumahnya, untuk membelikan nasi pecel wa bil khusus untuk emak. Sebenarnya agak malu, tetapi demi emak aku akan membuang kemaluanku.


Oh, maksudnya rasa maluku!


“Oya, aku pernah janjiin kamu buat belajar nyetir ya?” tanya Dahlia tiba-tiba.


“Iya sih, tapi aku nggak terlalu ingin sebenarnya. Kan nggak punya mobil,” jawabku.


“Nyetir itu penting, Bi. Nggak harus punya mobil dulu. Mumpung libur, besok belajar nyetir ya?”


“Gimana ya?” Aku masih menimbang-nimbang.


Aku membayangkan, pasti tidak nyaman bila belajar mengemudi dengan Dahlia. Dahlia bukan tipe yang telaten untuk menjadi instruktur. Karakter Dahlia sudah kuhapal di luar kepala. Agak seram apabila Dahlia yang menjadi instruktur.


“Udah! Pokoknya besok harus belajar nyetir!” sabda Dahlia.


Kalau Kanjeng Ratu Dahlia sudah bersabda, tak bisa mengelak sedikit pun. Sampai ke liang semut pun pasti akan dikejar.

__ADS_1


Selamat datang mimpi buruk!


***


__ADS_2