DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter LVIII : Gossip in the Car


__ADS_3

Pukul lima sore, tidak lebih tidak kurang, mobil Dahlia berhenti di depan gang kontrakan. Emak dan Weni sudah siap menenteng barang bawaannya. Matahari senja membiaskan sinar lembayung semburat di angkasa, bergelut dengan mega-mega merah di tepian cakrawala. Angin sore bertiup lembut, membelai jiwa-jiwa yang dirundung resah. Aku menggamit lengan emak, membantu menyeberang jalan yang cukup padat sore itu. Sementara Weni memegang erat baju emak.


Dahlia sudah menunggu di seberang dengan senyum tersungging. Diciumnya tangan emak dengan khidmat. Ada perasaan yang bergejolak di lubuk hati melihat pemandangan itu. Dahlia begitu hormat dengan emak, ini sepadan dengan yang kulakukan terhadap mamanya Dahlia.


Kami segera meluncur menjelajah Surabaya sore itu. Emak dipersilakan duduk di depan, sedangkan aku dan Weni duduk di kursi tengah.


“Temannya Abi ya Nak?” tanya emak.


“Iya Bu. Nama saya Dahlia, teman Mas Abi,” jawab Dahlia ramah.


“Kemarin pas bapak meninggal juga datang kok, Mak. Masa pangling?” celetukku.


“Wah, iya to? Maafkan emak ya Nduk, maklum orang tua jadi banyak lupanya. Terima kasih lho sudah mengajak nginap di rumahnya. Saya jadi ndak enak nanti ngrepoti keluargnaya Mbak ... siapa tadi namanya?”


“Dahlia, Bu.”


“Oh iya, Mbak Dahlia,” ucap emak.


“Ndak repot kok Bu. Kebetulan ada banyak kamar kosong di rumah. Malahan saya seneng, soalnya di rumah sepi. Saya tinggal sama mama saja,” cerita Dahlia.


Kemudian obrolan berlanjut hangat. Dua wanita kalau sudah bertemu pasti akan mengobrol tanpa terkendali. Aku dan Weni hanya menjadi pendengar setia. Bahkan dengan tanpa rasa berdosa, mereka cekikan. Aku khawatir, emak akan menceritakan kegilaanku saat mengobrol dengan sapi. Ini adalah aib yang harus disimpan baik-baik.


Nyatanya, emak memang menceritakannya!


Reputasiku langsung hancur berkeping-keping di depan Dahlia. Bahkan kulihat Dahlia tertawa tanpa henti mendengar kekonyolan yang aku perbuat. Tega nian emak membeberkan aib ini di depan Dahlia. Mereka seperti sepasang sahabat yang lama tidak bertemu. Bergosip sesuka mereka, mengobrol hal-hal tidak penting. Bahkan harga cabe keriting yang melambung belakangan ini juga jadi sasaran gosip. Setelah itu berlanjut ke gosip artis-artis India!


Baiklah!


Aku jadi obat nyamuk!


“Kalau Mas Abi ini sudah punya pacar belum, Mak?” tanya Dahlia.


Wah, sekarang mereka sudah menjadi akrab! Panggilan ‘Bu’ sudah berubah menjadi ‘Mak’.


Aku harap keakraban mereka tidak berlebihan. Sebab masalah baru akan muncul apabila mereka terlalu akrab. Dahlia sudah berani bertanya masalah pacar ke emak.


Mengapa tidak tanya langsung kepadaku?


“Owalaaah! Mana berani Abi itu sama yang namanya perempuan. Dari kecil dia itu pemalu. Kalau nggak emaknya yang nyuruh-nyuruh keluar, pasti kerjaannya semedi di kamar terus. Ndak tau ini. Beraninya cuma sama emaknya saja!” celoteh emak.


Bagus, Mak! Telanjangi saja aku sekalian di depan Dahlia!


Dahlia hanya senyum-senyum mendengar penuturan emak. Mungkin dalam hatinya dia menertawakanku.


Atau menertawakan emak karena telah dibohongi tampilan luguku?


“Mbok saya minta tolong Mbak Dahlia! Carikan jodoh buat anak saya!” pinta emak.

__ADS_1


Mamp*s!


Helloow ... emakku yang paling cantik sejagad raya! Please, anakmu ini tidak se-ngenes itu kaliii....


“Mas Abi kan ganteng Mak. Pasti bisalah cari sendiri. Iya kan Mas Abi?” Sambil cekikikan Dahlia melirik ke arahku. Rupanya dia tahu aku agak mendongkol gara-gara percakapan unfaedah ini. Dasar Dahlia, dia tidak berhenti, malah dia semakin bersemangat menginterogasi emak.


“Emak maunya dapat mantu yang gimana sih?” selidik Dahlia lagi.


Perasaanku makin tidak enak. Ada sedikit sesal, karena mempertemukan wanita ini dalam satu habitat. Bisa-bisa aib-aib akan dikupas habis oleh emak sampai akar-akarnya.


“Kalau emak sih maunya mantu yang sayang sama Abi. Terus sabar ngadepin Abi. Nggak perlu cantik-cantik, karena biasanya yang cantik banyak maunya,” tutur emak dengan wajah serius.


Senyum Dahlia semakin mengembang. Entah apa maksudnya. Mungkinkah dia akan ikut bersaing dalam bursa persaingan para calon mantu? Karena dia merasa kurang cantik?


“Sebenarnya ada sih gadis satu kampung yang cocok sama Abi. Emak juga suka. Tapi nggak tau Abi suka apa nggak?” kata emak lagi.


Deg!


Duh, emak semakin tak terkendali!


“Siapa namanya, Mak?” Dahlia makin ganas merangsak maju.


“Larasati.”


Jleb!


“Oh, Mbak Laras?” Dalam nada suaranya, terdengar suara Dahlia seperti menertawakanku.


“Mbak Dahlia kenal?” Emak balik bertanya.


“Nggak kok, Mak. Cuma Mas Abi pernah sebut namanya saja,” dusta Dahlia. Padahal aslinya, Dahlia dan Laras pernah bertemu, walau hanya sekilas.


“Nanti kalau mereka jadi nikah, saya kirimin undangan harus datang ya, Mbak?”


Lama-lama, aku merasa jengah mendengar obrolan yang semakin memanas. Mengapa topik yang dipilih mengenai kehidupan percintaanku? Tidak adakah tema lain? Please, kali bergosiplah tentang harga bawang merah yang juga meroket. Please ....


Atau obrolin Shahrukh Khan sono gih!


“Saya pasti akan datang kok, Mak.”


“Kalau Mbak Dahlia sudah punya pacar?”


Kali ini, ganti emak yang memegang kendali. Pertanyaan itu membuat Dahlia sedikit gelagapan, berusaha memilih kata pas untuk menjelaskan pada emak.


“Belum, Mak. Mana ada sih yang mau sama saya?”


“Lho, siapa bilang? Mbak Dahlia ini kan baik orangnya. Sepertinya juga penyayang pasangan. Pasti akan mendapat jodoh yang baik lah kelak,” ujar emak.

__ADS_1


“Aamiin. Terima kasih ya, Mak” Dahlia tampak tersipu malu.


“Mbak Dahlia maunya yang seperti apa?”


“Saya maunya yang baik seperti Mas Abi, Mak.”


Jleb!


Kembali ribuan tombak menusuk dada. Wajahku memerah karena tersipu malu. Kuharap Dahlia juga bercanda dengan urusan satu ini.


“Loh, Mbak Dahlia suka sama Abi? Lha kalau kalian mau bisa langsung nikah lho!” kata emak.


Priiit!


Kartu merah!


Kalau dalam pertandingan sepak bola, emak sudah kuberi hadiah kartu merah, agar segera meninggalkan lapangan. Entah apa yang ada di dalam pikiran emak, tiba-tiba membicarakan masalah pernikahan. Padahal tak secuil pun aku berpikir tentang hal sakral satu ini. Apakah emak sudah tak sabar ingin menggendong cucu?


Entahlah.


“Aku kan masih fokus kuliah, Mak. Masa membicarakan masalah nikah sih?” protesku.


“Ya kan berencana boleh, Bi. Lha kalau sudah jodoh kan nggak apa-apa disegerakan, daripada pacaran lama-lama, nggak baik dilihat orang banyak,” ujar emak.


“Ya, cepet nikah habis itu dikasi makan rumput ya, Mak!” rajukku.


“Lho ngomongnya tidak boleh begitu, Bi. Maksud baik ini harusnya diaminkan. Insya Allah rezeki sudah ditanggung sama Allah.”


“Iya Mak!”


Kapan sih mobil ini sampai? Mengapa perjalanan ini seolah memakan waktu sampai belasan tahun?


“Emak pengen jalan ke mana habis ini?” tawar Dahlia.


“Wah, saya tidak tahu. Manut saya ...,” kata emak polos.


“Gimana kalau kita ajakin ke Tunjungan saja, Bi?” tanya Dahlia. Sengaja ia meminta saran kepadaku juga.


“ Ya Boleh....” jawabku.


“Kita langsung ke TP saja ya? Soalnya kalau pulang duluan nanti jauh mutarnya. Nggak apa-apa ya, Mak?” kata Dahlia.


Kembali emak mengangguk tanda setuju.


Mobil meluncur menyibak keramaian jalanan, merayap di antara kepadatan lalu lintas Surabaya. Senja telah beranjak meninggalkan siang, menuju semarak malam yang sedikit berawan. Anak-anak manusia kembali bertebaran di muka bumi, mencari penawar letih yang mereka tempa sepanjang hari.


Mereka berdua pun melanjutkan acara perghibahan ....

__ADS_1


***


__ADS_2