
Sebelum kegiatan perkuliahan dimulai, tentu banyak yang harus disiapkan. Apalagi aku harus menentukan lokasi untuk kerja praktik.
Untuk mahasiswa teknik sepertiku, kerja praktik adalah salah satu syarat untuk penentu kelulusan. Kita diwajibkan terjun ke dunia kerja yang sesungguhnya, agar bisa beradaptasi di lingkungan kerja, merasakan pahit-getir dalam berkarya agar nanti tidak canggung saat terjun ke dunia nyata yang buas.
Homo homini lupus.
Istilah ini dicetuskan oleh Plautus yang artinya manusia adalah serigala bagi yang lainnya. Ibarat serigala, maka manusia akan saling memangsa. Kurasa ini benar. Manusia akan saling menikam untuk bertahan hidup.
Persaingan kerja yang tidak fair di luar sana, membuatku agak gentar terjun ke dalamnya. Hukum rimba berlaku, yang kuat akan bertahan sedang yang lemah akan tersingkir.
Begitulah hidup.
Setelah puas menikmati Surabaya beserta isinya, emak harus kembali ke habitatnya di Jombang. Keramahan keluarga Dahlia sungguh membuat terharu. Sebelum pulang, beliau mendapat oleh-oleh daster cantik spesial dari Mamah Dahlia. sebuah daster bermotif batik yang elegan, yang sebetulnya tidak cocok kalau dipakai di kampung!
Sedang Weni juga mendapat tambahan uang saku. Lumayan, buat beli alat sekolah.
“Nanti sampaikan salam emak buat Laras ya, Bi. Maaf, nggak bisa mampir karena harus buru-buru pulang. Pikiran emak nggak tenang,” kata emak sambil mengemasi pakaian.
“Beres, Mak. Nanti kalau pas ketemu Laras tak sampein,” jawabku.
Dahlia hanya senyum-senyum mendengar pesan emak. Aku tak bisa menebak apa yang bersarang di kepalanya. Kalau dilihat dari raut muka, tak ada secuil rasa cemburu. Baginya, Laras bukan saingan berat. Kalau dari faktor berat badan, tentu saja itu benar.
“Oya, hampir lupa!” Tiba-tiba emak membongkar tas lagi. Ia mengeluarkan sebuah bungkusan plastik. Mungkin berisi bahan makanan instant atau apa lah. Bukan urusanku untuk mengintip isi bungkusan itu.
“Apa itu Mak?”
“Aku lupa kalau dititipin ini sama ibunya Laras. Sampaikan ya?”
Waduh!
Ini artinya, aku akan bertemu Laras lagi dalam waktu dekat. Tetapi amanah emak tentu tak boleh diabaikan. Sekaligus melihat kondisi Laras pasca kunjungan ke Malang tempo hari. Apakah dia masih tidak enak hati, atau sudah mereda.
Emak dan Weni diantar oleh Dahlia di Stasiun Gubeng. Kulepas kepergian mereka dengan penuh haru. Kebersamaan yang hanya sekedipan mata itu menyisakan perasaan mendalam. Berharap agar lebih lama, namun apa daya kami mempunyai kewajiban masing-masing dalam dunia yang berbeda.
Surabaya ini adalah dunia kecilku. Dunia Abimanyu.
Sepeninggal emak, aku menghadapi dunia nyata yang terjal. Likuan hidup seputar kampus memaksa untuk memusatkan konsentrasi. Untuk persiapan kerja praktik, aku banyak mencari informasi tentang perusahaan manufaktur yang relevan dengan program studi yang kutempuh. Segala teman dan koneksi kuhubungi satu persatu, agar usaha kali ini tidak zonk. Sungguh, ini butuh pengorbanan tenaga, waktu dan tentu saja dana yang tidak sedikit.
Untuk itu, terpaksa agenda belajar mengemudi bersama Coach Dahlia harus ditunda sementara waktu. Dia paham akan hal itu.
Setelah berjuang kesana-kemari di Surabaya dan sekitarnya, proposal kerja praktik mendapat jawaban dari sebuah perusahaan manufaktur elektronik di kawasan Gresik.
Agak jauh dari kontrakan, tapi tak apa. Namanya perjuangan, tentunya harus dibarengi dengan usaha. Artinya, aku harus bangun lebih pagi untuk mengejar bus perusahaan yang sudah siap menjemput di beberapa titik di Surabaya.
__ADS_1
Sebelum benar-benar terjun, aku menyiapkan segala rupa dokumen, juga persiapan mental dan fisik. Dunia kerja adalah hal baru buatku. Walaupun hanya tiga bulan, aku berusaha untuk memaksimalkan waktu yang sempit itu untuk menggali ilmu dalam-dalam, agar tak sia-sia terjun ke kancah pekerjaan ini.
“Kamu jadi praktik di Gresik?” tanya Darwis, ketika aku menyusun dokumen-dokumen dalam sebuah map.
“Iya. Sudah di-acc kok. Tinggal action saja,” jawabku.
“Aku masih belum dapat tempat loh! Maunya di Madura saja. Tapi di Madura nggak ada perusahaan besar. Makanya aku bingung,” keluh Darwis.
Iba juga melihat Darwis yang manatap dengan sorot putus asa. Aku menarik napas dalam, bagaimana cara menyemangati dia? Salah dia juga. Kemarin-kemarin aku ajak survei ke beberapa perusahaan, dia tidak mau dengan alasan nanti saja. Sekarang waktu sudah dekat, dia masih belum dapat tempat praktik.
“Kamu tidak punya channel-kah Bi?” tanya Darwis.
“Channel? Kalau perusahaan aku tidak ada, Dar.”
“Coba dong tanya teman atau kenalanmu yang kerja di perusahaan atau punya punya perusahaan gitu. Aku siap kok mengabdi,” ucap Darwis pasrah.
“Kan harus sesuai juga dengan jurusan kita, nggak bisa asal perusahaan kita ambil,” terangku lagi.
“Iya, aku tahu. Tapi otakku sekarang ini kayak tersumbat. Nggak bisa mikir. Bikin nggak enak makan nggak enak tidur. Depresi aku. Kemarin aku nanya Dahlia, dia juga angkat tangan, malah nyalahin aku. Katanya aku terlalu berleha-leha sehingga nggak kebagian tempat praktik,” keluh Darwis.
“Emang! Dahlia bener kok. Kamu emang terlalu santai. Aku juga mau ngomong kaya gitu,” sungutku.
“Sama aja ya kamu dengan Dahlia!”
Melihat sahabatku bersedih, tentu tidak nyaman juga. Tiba-tiba terlintas satu nama pengusaha yang aku yakin bisa membantu kegalauan Darwis. Setahuku, orang ini adalah seorang pemilik perusahaan tekstil di Sidoarjo.
Ilham Ramadhan.
“Kamu akan kukabari sehari atau dua hari ini! Pasti ada jalan keluar. Kamu tinggal banyak berdoa saja, semoga berhasil!” ujarku girang.
“Serius kamu?” tanya Darwis seolah tak percaya.
“Berdoa saja!”
Sore yang terik mengiringi kepulanganku dari kampus setelah mengurusi segala kerumitan. Aku harus menghubungi Ilham Ramadhan yang notabene adalah suami Lusi! Nomor Lusi sudah kukantongi, tinggal eksekusi.
Canggung sekali, mengingat secara perasaan aku sudah tidak terkoneksi lagi. Harus menguatkan iman.
“Halo,” sapa ramah Lusi terdengar ketika kuberanikan diri menghubunginya.
“Halo Lusi, ini aku Abi. Apa kabar?”
“Abi? Senang sekali mendengar suaramu. Aku baik-baik saja, Bi. Apa kabar? Nggak nyangka kamu bakalan telepon aku!” girang Lusi.
__ADS_1
“Maaf mengganggu Lusi. Aku mau minta bantuan sedikit bisa?”
“Bantuan apa ya, Bi?” Nada bicara Lusi berubah. Apakah dia pikir aku akan minta bantuan uang?
Aku bukan seperti itu, Lusi!
Pelan-pelan, kusampaikan maksud dan tujuanku. Kujelaskan bahwa saat ini Darwis sangat butuh bantuan tempat untuk kerja praktik. Aku berharap Ilham Ramadhan, suami Lusi pemilik pabrik tekstil itu bisa membantu. Paling tidak, menyediakan tempat saja.
Nama Darwis tentu tak asing bagi Lusi, karena kami pernah belajar sama-sama di kampus yang sama. Lusi juga paham bahwa kerja praktik ini penting untuk penentuan kelulusan. Jadi aku tak perlu berpanjang-lebar menerangkan, apalagi membicarakan masalah pribadi. Tujuanku hanya satu.
Membantu Darwis.
Itu saja.
“Coba nanti aku tanyakan dulu sama Mas Ilham ya, Bi?” kata Lusi.
“Aku benar-benar minta tolong ya, Lus. Kasihan Darwis. Ntar dia frustasi trus nyebur ke laut kan jadi panjang urusan,” candaku.
“Hehe. Iya, aku usahain agar Darwis bisa praktik di tempat Mas Ilham. Nanti kuhubungi secepatnya,” kata Lusi.
“Terima kasih, Lusi!”
“Bi ...,” bisik Lusi.
“Iya Lus?”
“Kamu nggak kangen sama aku?”
Blaaar!
Sebuah bom hidrogen meledak membumi-hanguskan jantungku seketika itu juga.
Pertanyaan macam apa ini? Dia seharusnya tak boleh menanyakan itu, mengingat posisi dia sebagai istri orang lain. Aku tergagap.
Pertanyaan ini sungguh memporak-porandakan perasanku. Sekilas, muncul kenangan-kenangan yang telah mengendap di dasar hati.
“Lus, nanti kabari saja secepatnya. Mohon maaf, aku harus fokus kuliah dulu. Be a good wife, Lus!”
Aku menutup pembicaraan.
Sudah pasti, Lusi galau dalam perasaan yang ia ciptakan sendiri. Biarlah kuabaikan perasaan dia. Kukubur semua memori yang pernah mewarnai hidup. Toh, dia sendiri yang memilih meninggalkan aku. Ini murni tentang Darwis. Bukan ingin me-replay kisah-kisah omong-kosong di masa lalu.
Memangnya enak?
__ADS_1
***