DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter XLI : Perburuan Alamat


__ADS_3

Fajar belum menyingsing. Gelap dan kabut masih menyelimuti lereng. Suhu udara turun hingga titik terendah. Di Surabaya, jelas tidak mungkin merasakan kebekuan seperti ini. Mungkin hanya hati saja yang membeku.


Di dalam tenda sempit, aku menggigil. Tangan terasa mati rasa. Kutenggelamkan tubuh dalam sarung legendaris peninggalan nenek moyang dari zaman purba untuk mencari kehangatan. Sayang sekali, hanya ada laki-laki dalam tenda ini.


Huh!


Walaupun begitu, aktivitas di luar tenda mulai ramai. Beberapa peserta camp sudah bersiap untuk salat subuh. Udara dingin memicu perut kembung. Suara kentut penghuni tenda sambung menyambung, membuat perasaan kecut. Aku paling tidak suka dengan orang buang angin sembarangan.


Kambing mereka!


Baiklah. Untuk kali ini aku memaafkan mereka. Urusan angin dalam perut memang tidak bisa ditunda di saat seperti ini. Bahkan, akhirnya aku pun mengikuti langkah setan itu.


Bruuttt!


Terasa agak lega perut ini. Kesimpulannya, aku juga kambing. Aku tak peduli.


Matahari mengintip tersipu-sipu dari balik gunung, menyapa semesta yang terlelap. Kabut yang menyelimuti mulai beranjak. Embun di dedaunan perlahan menguap. Suasana mulai menggeliat. Aku segera membersihkan diri. Dalam artian bukan mandi, tetapi mencuci muka dengan air mineral dan menggosok gigi. Di saat seperti ini, keberadaan air serupa dengan harta karun. Memang ada kampung agak ke bawah lereng gunung, tetapi aku malas turun.


Tiba-tiba, aroma surgawi menggelitik hidung. Ada dua aroma di dunia ini yang paling aku suka. Yang pertama adalah aroma bayi yang baru mandi, sedangkan yang kedua adalah aroma mi instan yang dimasak. Saat ini, aroma mi instan campur telur mencubit-cubit lambung. Banyak makanan super lezat di luar, tetapi menurutku, mi instan tetaplah makanan yang istimewa, tak peduli orang berkata apa. Apalagi bila disantap dalam cuaca beku seperti saat ini.


Setelah menyantap mi secara berjamaah, ada kegiatan materi yang diisi oleh para dedengkot dunia Bahasa Inggris. Dalam hal ini, aku memilih mundur teratur. Kulihat Dahlia sudah bersiap menenteng tas punggungnya yang imut. Sekilas dia mirip dengan Dora The Explorer.


“Jadi ikut nggak?” tanya Dahlia.


“Siapa saja yang ikut?”


“Ya kamu, aku, dan Mas Suroto,” kata Dahlia.


“Oke. Yuk!”


Setelah berganti kostum, kami menuruni lereng menuju tempat parkir mobil. Pagi ini, tak ada gurat lelah yang terukir di wajah Dahlia. Pipinya tersaput bedak tipis, lipstik transparan, tanpa eye-shadow dan blush-on. Semangatnya yang tak pernah padam menjadi semacam doping buatku. Andai ada seorang penulis yang menggarap buku Seratus Wanita Terkuat di Dunia, niscaya aku akan memasukkan Dahlia di nomor lima puluh sekian. Energinya seolah tak pernah habis, berbanding lurus dengan selera makannya.


Masih teringat peristiwa tadi malam, ketika tiba-tiba Dahlia menumpahkan air mata di bahuku. Beberapa saat lamanya, aku merasa seperti pahlawan yang masuk ke kehidupan Dahlia. Sayangnya, tak ada sepatah kata yang bisa membuatnya tenang. Kubiarkan saja dia menangis. Jujur, air mata wanita adalah salah satu kelemahanku.


Beberapa saat kemudian, Mas Suroto, sopir Dahlia, membawa mobil melaju menuju Kota Malang. Aku duduk di kursi tengah, sedangkan Dahlia berdampingan dengan Mas Suroto di bagian depan. Pagi itu, suasana jalanan lumayan ramai. Penghuni kota mulai bertebaran bak anai-anai mencari penghidupan. Matahari yang elok bersinar keemasan, sesekali beringsut malu-malu di balik awan. Ini adalah kunjungan pertamaku ke kota yang berjuluk Kota Apel. Aku melihat suasana kota yang semarak. Tak sepadat Surabaya, namun tak juga dikatakan sepi.


Beberapa teman mengatakan bahwa gadis asal Kota Malang rata-rata cantik. Mungkin pendapat ini tak sepenuhnya salah. Contohnya Lusi. Kecantikannya memang tidak glamour, namun aku melihat ada karakter kuat yang tersirat di wajahnya. Menurutku, itu adalah daya magis yang bisa menarik perhatian para pria.


Termasuk diriku.


“Jadi kamu mau diturunkan di mana?” tanya Dahlia.


Sengaja aku tidak banyak bicara, agar Dahlia tidak menginterogasiku lagi. Malah kalau bisa, aku ingin turun cepat-cepat dari mobil untuk melanjutkan perburuan sendiri.

__ADS_1


“Mmm, mana ya?” aku agak bingung. Suasana kota ini membuat agak blank. Jalan-jalan terlihat sama, penuh dengan kendaraan yang bersliweran.


“Mas Suroto tau daerah Malang nggak?” tanya Dahlia.


“Tau sedikit-sedikit sih Mbak. Jarang ke sini juga kok,” jawab Mas Suroto.


“Tau daerah Sawojajar nggak, Mas?” tanyaku.


“Wah, nggak hafal juga saya. Nanti saya turunkan saja di depan Stasiun Malang Kotabaru. Bisa nanya ojek atau tukang becak di sana,” saran Mas Suroto.


Aku segera menyetujuinya, karena memang tak punya pengetahuan apa pun mengenai kota ini. Setelah sampai di depan gedung stasiun, Dahlia melambaikan tangan ketika aku turun. Petualangan yang sebenarnya dimulai. Apa yang harus kulakukan pertama? Beberapa saat lamanya aku berdiri bengong di depan stasiun kereta api yang cukup megah itu.


“Naik becak, Mas?” tawar seorang abang becak di sekitar depan stasiun.


Memang, di depan stasiun banyak bertebaran tukang becak. Dengan sabar mereka menunggu calon penumpang sambil mengobrol, minum kopi, atau bermain kartu di bawah pohon.


Tanpa banyak bicara, kutunjukkan alamat yang tertera di secarik kertas. Abang becak hanya manggut-manggut.


“Boleh kalau mau diantar becak,” katanya.


“Berapa, Pak?”


“Lima puluh ribu.”


Apa aku tidak salah dengar? Di Surabaya saja, tarif becak hanya berkisar sepuluh sampai dua puluh ribu. Ini tarif becak atau pemalakan terselubung?


“Nggak ah, Pak!” tolakku cepat.


Aku bersiap berjalan menjauh. Ini adalah trik. Karena biasanya tukang becak akan menurunkan tarif yang mencekik leher ketika melihat mangsanya hendak kabur.


“Tiga puluh, Mas!” ujar si abang becak.


“Dua puluh!” ucapku acuh tak acuh.


“Tambahi lima ribu ya Mas. Buat penglaris pagi-pagi,” pinta si abang becak.


Sejujurnya, aku adalah orang yang paling tidak tegaan dalam hal tawar-menawar. Apalagi dalam kondisi seperti ini, muncul rasa iba melihat abang becak itu. Terbayang keluarganya yang sedang di rumah menanti abang becak ini. Atau mungkin anak-anaknya yang masih kecil. Runtuh sudah perasaanku.


“Ya sudah,” aku mengalah.


Wajah abang becak itu mendadak sumringah. Dengan bersemangat ia mempersilahkan aku duduk. Sepanjang perjalanan, dia banyak mengobrol tentang likuan dalam hidupnya. Ia adalah perantau dari Nganjuk, yang mengadu nasib di Kota Malang. Mungkin dari sini aku bisa belajar bersyukur, bahwa kondisiku jauh lebih baik daripada abang becak ini.


Ternyata, jarak stasiun dengan alamat yang kutuju lumayan jauh. Diam-diam aku merasa bersalah karena menawar dengan tarif minimal. Keringat sebesar bulir jagung mulai menetes di dahi si abang becak. Sungguh, aku merasa bersalah sekali.

__ADS_1


“Ini Pak ongkosnya,” aku menyerahkan dua lembar uang dua puluh ribuan kepadanya.


“Kembali lima belas ribu ya, Mas,” si abang becak mengeluarkan dompet usang dari kantong celana.


“Nggak usah, Pak. Ambil aja!” kataku cepat.


“Loh, gimana to?” Abang becak terlihat bingung.


“Nggak apa-apa,” tolakku.


Seraut wajah bahagia terpancar di wajah abang becak yang sudah tertempa kerasnya zaman. Momen seperti ini sungguh juga sangat membahagiakanku. Si abang becak banyak mengucapkan terima kasih sebelum kembali berjuang. Dengan penuh semangat, ia mengayuh becak mengarungi belantara Kota Malang yang mulai padat.


Good luck, Pak!


Aku berhenti di depan sebuah rumah yang lumayan megah, dengan pagar besi berwarna hitam. Bangunan minimalis, berlantai dua dengan eksterior rumah yang cantik. Halamannya menghijau, dipenuhi pot-pot bunga besar. Sayangnya tak kulihat seorang pun di sana. Agak ragu-ragu untuk memencet bel yang ada di dekat pagar. Jangan-jangan dikiranya aku pencari sumbangan!


Benarkah ini kediaman Lusi?


Tak jauh dari situ, ada seorang ibu yang terkantuk-kantuk menunggu kios bensin sambil mendengarkan musik dangdut di radio usang. Malu bertanya, sesat di jalan. Sepertinya aku harus mencari informasi dahulu daripada salah.


“Mohon maaf, Bu. Numpang tanya, apakah rumah ini benar rumahnya Mbak Lusi?” tanyaku pada ibu itu.


“Oh iya, Mas. Itu memang rumahnya Mbak Lusi. Tetapi sepertinya orangnya pada keluar. Saya lihat tadi mobilnya sudah keluar pagi-pagi ....,” terang sang ibu.


Aduh celaka! Masa jauh-jauh dari Surabaya gagal bertemu Lusi?


“Mas ini siapa?” tanya Ibu itu lagi.


“Sa-saya ... temannya, Bu.”


“Nanti aja balik lagi, Mas. Biasanya kalau sore ada kok. Belakangan ini memang agak sibuk Mbak Lusi-nya. Kan mau nikahan ....,” ucap ibu itu lagi.


Mendadak aku merasa ada sebuah godam besi puluhan ton dihantamkan ke dadaku. Terasa sesak hingga membuat sulit bernapas. Pandanganku berkunang-kunang.


“Nikah sama siapa ya, Bu?” kuberanikan juga bertanya lebih lanjut untuk memastikan.


“Ya sama calonnya yang punya pabrik tekstil di Sidoarjo itu ....”


Stop! Tidak usah bicara apa-apa lagi, Bu. Batinku.


Adakah sebotol desinfektan di sekitar sini?


***

__ADS_1


__ADS_2