
Kuah bakso panas yang mengepulkan asap, menemani perjumpaan kami secara tak sengaja di perpustakaan. Sebenarnya aku sudah kenyang, tetapi karena Dahlia mengajak makan, aku ladeni saja. Toh ini hanya bakso, bukan makanan berat. Semangkuk bakso tak akan menambah berat badan secara signifikan.
“Jadi rencanamu setelah ini gimana?” tanya Dahlia sambil menambahkan saus tomat ke dalam mangkok.
Kini kuah baksonya berwarna merah kehitaman. Dua sendok sambal juga telah bercampur menjadi satu. Melihatnya, aku kehilangan selera. Aku tidak terlalu suka makanan pedas. Kalaupun memaksa mencoba, lambung yang akan bermasalah. Ada penyakit mag yang kuderita, jadi agak sensitif dengan makanan pedas.
“Ya aku selesein tugas akhirku biar cepet wisuda,” jawabku enteng.
“Ninggalin aku dong habis itu! Aku loh nggak peduli dengan segala macam tugas akhir. Terserah orang mau bilang aku sesepuh kampus, dedengkot kampus atau apalah itu. Yang penting aku menikmati hidup di sini.”
Dahlia berbicara seolah tanpa beban. Dikunyahnya potongan-potongan daging bakso dengan nikmat. Sepertinya aku perlu belajar bagaimana cara menjalani hidup seolah tanpa beban seperti itu. Terkena masalah sedikit saja aku sudah galau sampai berhari-hari.
“Kamu nggak pengen kerja, gitu?” tanyaku lagi.
“Kerja? Aku sih pengen, Bi. Tapi Mamah ngelarang. Aku kan anak satu-satunya. Jadi mamah pengen aku bisa nerusin usaha kalau mamah udah nggak ada. Rencananya kami juga mau buka toko baru dekar Pasar Turi. Kebayang kan betapa repotnya!” terang Dahlia.
Begitu bakso habis, pandangannya beralih ke gelas panjang berisi jus alpukat. Entah berapa ribu kalori yang kami tumpuk hari ini. Aku tidak peduli, yang penting sehat-sehat saja.
“Lalu ngapain kamu cape-cape kuliah kalau akhirnya kamu nerusin usaha orangtua juga. Buang duit dan waktu aja menurutku,” sergahku.
Mangkuk baksoku juga mulai kosong. Giliran selanjutnya adalah jus sirsak yang terlihat menggemaskan, minta segera dieksekusi.
“Eh jangan salah loh! Pola pikir orang yang kuliah dan yang nggak kuliah itu beda. Kuliah itu bisa membuat wawasan kita bertambah. Kita jadi lebih bijak menyikapi keadaan, dan lingkungan juga pasti berbeda. Aku beruntung banget bisa mengecap dunia kuliah. Kalau aku nggak kuliah, nggak bisa kubayangkan deh....”
“Iya sih kamu bener juga. Kalau aku nggak kuliah maka sehari-hari aku akan bersihin kandang sapi!”
Dahlia tertawa. Aku menikmati jus sirsak yang terasa manis bercampur masam. Perpaduannya pas, sehingga membuat aku tidak berhenti menyedot.
“Eh, Bi. Kamu nggak pengen punya pacar ya?” tanya Dahlia kemudian.
Deg!
Seumur-umur aku berteman dengan dia, jarang dia menanyakan hal ini,atau nyaris tidak pernah. Pertanyaan ini membuat agak gugup. Mengapa dia menanyakan pertanyaan seperti itu? Apakah ini suatu kode? Aku tidak mau terlalu percaya diri. Walau aku yakin, Dahlia pasti tidak keberatan menjadi pacarku, tetapi lebih baik aku menahan diri. Aku yang sepertinya belum siap.
__ADS_1
“Eh, aku mau selesaikan kuliah dulu aja, Dahlia ....”
Sengaja aku memberikan jawaban klise. Aku tahu, itu adalah jawaban paling umum yang sering dipakai banyak orang untuk beralasan mengapa tidak punya pacar. Padahal aslinya adalah jomblo mengenaskan.
“Kamu sendiri?”
Aku mengirimkan serangan balasan. Rupanya pertanyaanku juga membuat ia tidak nyaman. Ia malah tersenyum malu-malu. Lucu juga melihat paras Dahlia yang seperti itu. Seumur-umur, ia hanya memasang ekspresi jutek.
“Aku? Emang adakah yang mau sama aku?” ucap Dahlia.
Aku tersenyum, tak tahu harus berkata apa. Tak mungkin aku menyodorkan diri begitu saja. Aku tahu ucapan Dahlia ini juga basa-basi saja. Bisa saja sebenarnya ia sudah dijodohkan dengan Sultan dari Brunei atau negeri antah-berantah, tak mungkin dengan pemuda biasa seperti aku.
Aku tak ingin menelisik lebih jauh masalah ini. Segera saja kami habiskan apa yang terhidang. Sebelum dia sempat mmbayar, aku sudah maju duluan untuk membayar. Tak enak kalau tiap kali makan Dahlia yang membayar. Uang yang kudapatkan dari Bu Roffi menurutku cukup lumayan, kalau hanya sekedar menraktir bakso bukan perkara sulit. Dahlia agak terkejut, mungkin karena dia selalu memandang bahwa aku adalah kaum miskin dhuafa yang jarang punya uang lebih.
Setelah membayar bakso, tak lupa pula kucicil utangku pada Dahlia. walau tak dibungkus amplop, karena tanpa persiapan, kubungkus saja dengan selembar kertas robekan buku tulis. Segera kusodorkan padanya.
“Apa ini?” tanya Dahlia heran.
“Halaaah! Nggak usah dipikir, Bi. Aku tau kamu masih kuliah. Ntar aja kalau gajimu udah gedhe, baru kamu bayar. Aku ikhlas ini. Sudah nggak usah!” tolak Dahlia.
“Eh, aku nggak mau Dahlia! Nggak boleh gitu. Kamu kan mahasiswa juga. Apa bedanya? Lagipula akad nya kan hutang. Kecuali kalau aku minta, kamu boleh nolak. Aku bilangnya hutang, jadi harus dibayar. Aku nggak mau nanti ditagih di akhirat!” ucapku.
Dahlia tertawa sambil berkata,” Udah jangan khawatir! Ntar aku nggak akan tagih di akhirat. Aku ikhlas!”
“Nggak mau aku Dahlia! Kalau kamu nggak mau terima, aku nggak mau utang kamu lagi. Mending utang renternir aja. Biarin aja bunga mencekik leher!” paksaku.
“Oke deh, Bi! Karena kamu maksa, aku terima loh ya. Terima kasih.” Dahlia menerima uang itu dengan ragu.
“Aku yang terima kasih, Dahlia. Besok-besok, jangan kapok kalau aku utang lagi ya!”
“Tenang!”
Setelah makan bakso, aku memutuskan untuk pulang ke kontrakan karena hari sudah mulai sore. Dahlia juga berencana pulang. Perasaanku berbunga-bunga setelah bertemu dengannya. Jujur saja, suasana kerja yang penuh tekanan membuatku agak stres. Kehadiran Dahlia juga memberikan sedikit warna dalam hidupku, sehingga senyumku lebih mengembang.
__ADS_1
Dahlia mengantarku sampai depan gang dengan menggunakan mobil, sebelum dia kembali melaju menuju rumahnya. Baru turun dari mobil, tiba-tiba kulihat sosok Doni yang sepertinya juga baru pulang dari kuliah. Ia tersenyum-senyum melihatku.
Firasatku mengatakan, Doni akan menghujani dengan pertanyaan-pertanyaan atau bahkan ejekan-ejekan yang menyakitkan. Jadi sebelum masuk kontrakan, aku berusaha menguatkan mental agar bisa tahan mendapat ujian kehidupan.
Sudah kuduga, kehadiranku disambut dengan senyuman Doni yang aneh, seolah mengolok.
“Cieee, yang pulangnya diantar sama Tante Dahlia!” sambut Doni.
Ha? Tante?
Sebenarnya aku tidak asing dengan sebutan ini. Mengingat Dahlia memang populer dengan sebutan ini, karena dia termasuk angkatan yang paling lawas di kampus. Aku tidak menanggapinya, hanya pura-pura tidak mendengar.
“Sejak kapan jadian sama Dahlia?” tanya Doni.
“Jadian? Nggak lah! Cuman teman aja kok!” kilahku.
“Teman? Masa sih teman? Sering loh aku ngeliat kamu mesra banget sama dia di perpustakaan. Cuman aku diem aja, nggak nyapa. Entar kamu malu lagi!”
“Dasar tukang ngintip!” keluhku.
“Eh, sori ya! Mata suciku ini akan hilang kesuciannya kalau ngintip kamu. Kamu aja yang pacaran nggak liat-liat. Udah tau di perpustakaan, malah mesra-mesraan!”
“Siapa sih yang pacaran? Orang cuma ngobrol doang!”
“Hmm.Yakin?”
“Udah ah, males. Orang dibilang cuman temenan nggak percaya. Terserah kamu mau mikir apa! Aku cape. Mau tidur!”
Nah kan?
Doni itu paling bisa kalau menyulut emosi. Karena malas berdebat, kuitinggalkan saja dia. Aku kembali ke kamar dengan perasaan tidak enak. Ingin memejamkan mata barang semenit atau dua menit.
****
__ADS_1