DUNIA ABIMANYU

DUNIA ABIMANYU
Chapter II : Memori Kala Hujan


__ADS_3

“Ah, hujan lagi. Mana mau berangkat kuliah!” keluhku.


Aku tidak punya jas hujan. Apalagi payung. Aku tidak suka memakai payung. Menurutku, payung itu identik dengan kaum perempuan.


Air hujan bagai ditumpahkan dari langit pagi itu. Maklumlah, hujan pertama di awal September. Hujan sebenarnya selalu membangkitkan semangat. Aroma tanah basah mengingatkan pada rumah kecil di pelosok Jombang sana. Aku biasa bermain hujan-hujanan bersama Pardi, keliling kampung dan main lempar-lemparan lumpur.


Selain itu, hujan juga membongkar memori-memori lawas di otak. Pernah suatu ketika aku tidak bisa pulang karena terjebak hujan di kampus. Sebenarnya tidak terlalu deras, tetapi tetap saja basah kuyup kalau mau nekat. Bersama beberapa teman, aku hanya duduk-duduk di koridor kampus sambil menunggu hujan reda. Kemudian masih teringat ketika Lusi mendekati sambil menawarkan payung warna-warninya.


“Barengan aku yuk!” tawarnya.


“Nggak usah. Ntar aja aku bareng sama Doni. Kusuruh dia mampir kesini kok.”


“Mungkin masih lama Doni. Udah barengan aku aja. Mumpung Diana juga nggak barengan sama aku hari ini.”


Aku tersenyum. Agak malu berjalan sepayung berdua dengan cewek manis seperti dia.


Ah, dasar kamu Abi! Harusnya kamu terima saja tawaran dia. Buang kemaluanmu! Eh..rasa malumu!


Hati kecilku menggeliat.


Rasa malu selalu saja menguasai hati. Rasa percaya diri selalu down berpuluh derajat jika berhadapan dengan makhluk Tuhan yang bernama perempuan. Aku hanya menunduk. Tak berani menatap matanya.


Tapi toh akhirnya aku temani juga Lusi berjalan di bawah derai air hujan. Aku kok merasa seperti pacarnya ya? Tapi aku lebih banyak diam mendengar celoteh Lusi tentang hari-harinya. Betapa Lusi adalah gadis yang sangat manis dan menyenangkan. Kami menyusuri jalan yang lumayan ramai siang itu. Rambut Lusi yang basah terlihat indah.


“Cieeee...!” Doni tiba-tiba lewat menderu bersama motornya.


Aku tertunduk malu, sedangkan Lusi cengar-cengir tanpa rasa berdosa.


“Kamu malu ya jalan sama aku?”


“Eh. Nggak kok!”


Kami berpisah. Lusi harus melanjutkan perjalanan dengan naik angkot menuju rumahnya yang ada di daerah Gubeng Kertajaya. Sedangkan aku harus berjalan kembali meneruskan langkah menuju kontrakan. Tapi Lusi sangat paham kalau aku akan basah kalau nekat menerobos hujan. Ia menyerahkan payung warna-warniya kepadaku.


“Pakai aja! Daripada kamu sakit nanti,” katanya.


“Nggak apa-apa kok! Sudah biasa juga kehujanan,” aku berbohong.


“Aku sih nggak masalah kamu kehujanan. Tapi gimana buku-bukumu? Itu yang lebih penting. ”


“Iya juga sih.... ”


“Udah pakai payungnya!”


Aku tidak bisa menolak. Sumpah! Kali ini aku merasa lebih malu lagi daripada berjalan sepayung berdua bersama Lusi. Payung ini, Oh My God! Aku merasa seperti sales kosmetik lagi keliling. Warna payungnya yang cerah bergambar Hello Kitty menarik beberapa mata untuk memandang. Sejak saat itu, makin paranoid melihat payung.


Mohon bersabar, ini ujian. Gumamku dalam hati.


Aku tersenyum sendiri ketika teringat kenangan itu.

__ADS_1


Hujan masih turun dengan deras. Sepertinya aku akan terlambat masuk kuliah.


“Yuk berangkat!” ajak Doni.


“Nekat?”


“Ya iyalah! Ndak usah manja!”


“Ya udah yuk!” Aku tidak punya pilihan lain.


Motor Doni melaju kencang menembus derai hujan. Bajuku basah. Dan alhasil, besoknya aku mulai terserang flu.


***


Kini memori kala hujan itu tinggal kenangan. Bayangan Lusi dan payung warna-warninya memudar terbawa angin. Aku sendiri sudah hampir melupakan gadis berlesung pipi itu. Hari-hariku dihajar dengan tugas-tugas kuliah yang menggunung. Jangankan memikirkan gadis. Memikirkan diriku sendiri saja kewalahan. Kadang mandi jarang. Apalagi kalau hari libur. Kadang makan juga kelupaan. Saking asyiknya mengerjakan tugas gambar, tidak terasa jarum jam sudah melaju. Kalau sudah seperti itu, asam klorida membanjiri lambung dan menggerus dinding-dindingnya. Stres dan lapar adalah perpaduan sempurna untuk menciptakan maag yang cukup akut. Kalau kambuh, aku merasa dunia ini sudah tidak lama lagi aku tinggalkan. Jadi hanya bisa berguling-guling di kamar menahan sakit sendirian.


“Bi! Bi!” terdengar suara Andre memanggil namaku.


Sementara aku merintih-rintih di kamar menahan sakit. Perutku rasanya seperti diiris-iris dengan sembilu.


“Lapo koen? ( Kenapa kamu?-Bahasa Jawa- )” tanya Andre. Ia melongok lewat jendela kamarku.


“Aku nggak kuat. Perutku sakit. Maag-ku kambuh!” rintihku.


“Heleeeh! Kok ada-ada saja. Padahal mau kuajak jalan cari wedang ronde di Kusuma Bangsa”


“Aduuuh! Nggak tau nih. Dadakan banget soalnya...."


“Udah nggak apa-apa. Aku ditinggal aja. Kamu berangkat sendiri ya?”


“ Aku juga nggak jadi saja kalau begitu. Aku punya Mylanta. Maukah?”


Tanpa pikir panjang aku mengangguk. Di saat seperti ini, tidak peduli dia membawa obat apa, yang jelas aku mau nyeri di perutku ini segera hilang.


Kalau pas di kampung dulu, emak selalu siaga kunyit di dapurnya. Kurasa, apapun penyakitnya emak selalu mengobati dengan parutan kunyit. Tapi terbukti, kami sehat-sehat saja setelah itu.


Walaupun terlihat sepele, aku selalu menghargai bantuan teman-temanku. Bagiku mereka adalah keluarga kedua. Kalau sedang sakit, tidak mungkin aku menelepon emak. Yang ada malah panik nanti beliaunya.


Teman-temanku cukup baik. Kami saling melengkapi obat-obatan di kamar masing-masing. Untung kami hanya menderita penyakit ringan. Hal terparah yang pernah kualami ketika Doni punya bisul di pahanya. Kami semua panik dibuatnya.


“Kamu punya dosa apa sih, Don? Sampai punya bisul segede ini!” ujar Farhan.


“Kalian ya! Tega banget menari di atas luka. Ini sakit beneran nih!”


“Lah terus mau gimana? Mau dipanggilin ambulans terus dibawa ke UGD?” tanya Farhan lagi.


“Ya cariin obat kek. Nggak usah ngeledekin coba!” Doni mulai merajuk.


Andre hanya senyum-senyum penuh bahagia melihat kondisi Doni. Aku sebenarnya tidak tega. Tetapi aku juga bukan dokter. Salah-salah malah bisa infeksi nanti luka Doni.

__ADS_1


“Terus gimana nih?” Doni bertanya lagi.


“Udah kita bawa ke puskesmas aja deh! Ntar mati anak orang kita jadi tersangka!” seloroh Andre.


“Yo wis. Anterin ke puskesmas Han! Pakai motormu aja!” kataku.


“Kamu kan emang ndak punya motor!”


Singkat kata, kami beriring-iringan menuju puskesmas mengawal Doni. Dalam hati, aku tertawa geli. Baru sakit bisul saja yang mengantar satu kampung!


Seorang perawat cantik tersenyum-senyum melihat kami. Apalagi ekspresi Doni yang lucu sedang menahan sakit.


“Yang sakit apanya, Mas?” tanya si perawat.


“Hatinya itu, Mbak!” timpal Farhan.


“Udah Mbak amputasi aja itu!” Andre menambahkan.


“Ini Mbak. Suakiit bangeeet!” jawab Doni seperti mau menangis.


Perawat itu tersenyum. Aku tidak bisa menahan tawa lagi.


“ Baik. Ini harus ada tindakan medis biar nggak infeksi. Yang lain tunggu di luar dan nggak boleh ribut kalau nggak mau disuntik” ujar perawat itu.


“Mau dong disuntik!” Andre mulai beraksi.


Doni dibawa ke sebuah ruangan. Kami menunggu di ruang tunggu sambil bercanda. Duh, di mana empati kami saat itu ya? Sudah tahu di Puskesmas, masih juga bercanda-canda.


“Udah lairan belum ya si Doni?” tanya Farhan.


“Bukaan enam paling...," jawab Farhan sekenanya.


Aku diam saja. Inilah aku. Sepertinya tidak punya rasa humor sekali. Kalaupun ada, pasti garing. Makanya kadang orang merasa bosan berlama-lama denganku. Padahal Bapak dulu selalu menasihati agar merubah sifat pemaluku. Masalahnya tidak semudah itu. Tapi sekali lagi aku bersyukur mempunyai teman-teman yang hebat seperti mereka.


Beberapa menit kemudian, Doni keluar ruang periksa sambil tersenyum-senyum.


“Gimana Don? Laki atau perempuan anaknya?” tanya Andre.


“Sembarangan! Sakit tahu!”


“Emang diapain kamu sama perawat itu?” bisik Farhan.


“Ada deeh. Mau tau aja!” Doni kembali senyum-senyum.


“Yuk pulang! Jam satu aku ada kuliah,” ujarku.


“Ya udah yuk kita pulang. Tuan Muda mau ada kuliah tuh!” kata Andre.


Tuan Muda?

__ADS_1


Aku jadi tidak enak. Ini juga salah satu sifat burukku. Aku mudah merasa tidak enak kepada orang lain. Sebenarnya bukan sifat buruk. Hanya saja tidak dapat mengelolanya dengan baik. Sehingga kadang membawa akibat yang kurang bagus buat aku. Ah! Yang penting tidak merugikan siapapun.


***


__ADS_2